Monday, November 23, 2015

[IDVolunteering] Dimana ada kemauan, disitu ada jalan



Pernahkah tiba-tiba terpikir, bahwa hidup yang dijalani sangat monoton dan membosankan? Pernahkah tiba-tiba bangun di pagi hari dan bertanya apakah cukup untuk hidup memikirkan diri sendiri saja? Atau pernahkah tersadar bahwa  sudah saatnya untuk melakukan hal yang lebih dari ini, yang bisa bermanfaat bagi orang lain, atau bahkan bisa mengubah dunia?

Pada saya, pikiran itu datang terlambat, setelah saya menikah dan memiliki dua orang anak balita. Di suatu pagi, saya merasa bahwa semua yang saya inginkan dalam hidup sudah terpenuhi. Betapa membosankannya memikirkan diri sendiri setiap hari. Dan saat itulah saya terpikir untuk mengajar anak-anak sekitar rumah.

Dimulai dari mengajak beberapa anak bermain di rumah sambil belajar bahasa Inggris, keesokan harinya rumah saya dipenuhi oleh 10 orang anak yang meminta diajarkan hal yang sama. Tak beberapa lama kemudian, tak kurang dari 50 anak berdesak-desakan untuk sekedar melihat-lihat, ikut bermain, diajarkan kosakata bahasa Inggris baru, minta dibantu mengerjakan tugas sekolah atau sekedar mebaca-baca koleksi buku anak-anak saya.

Kami menamakan rumah kecil kami ‘Fun House’. Sebuah rumah yang tadinya sepi, tiba-tiba menjadi ramai dan menyenangkan. Setiap sore, akhirnya saya dan dua anak saya sibuk meladeni keinginan belajar puluhan anak yang beragam. Dari membuat kue, belajar komputer,  mengenal keindahan negara lain dari video yang kami ambil di youtube, membuat prakarya dari bahan bekas, apa saja yang membuat mereka sibuk.

Dari situ, akhirnya terbukalah jalan saya bertemu dengan teman-teman relawan dari berbagai komunitas yang menawarkan diri untuk ikut mengajar di waktu luang mereka. Hingga akhirnya saya bertemu dengan Kyra, teman dari Zack Petersen yang saat itu sedang mengumpulkan boneka-boneka untuk pasien kanker anak di hari ulang tahunnya.

Luar biasa!, pikir saya. Suatu ide sederhana yang menjadi viral hingga ribuan boneka terkumpul dan membuat banyak pasien kanker anak bahagia. Langsung terpikir untuk merayakan ulang tahun anak kedua saya yang kebetulan jatuh di bulan yang sama. Saya pun dihubungkan oleh Kyra dengan Bu Yeni Dewi Mulyaningsih, atau lebih akrab dipanggil Bu Yanie.

Dalam pertemuan dengan Bu Yanie lah saya belajar tentang keikhlasan paripurna. Betapa seorang ibu yang baru kehilangan anaknya karena Leukemia, mengikhlaskan kepergian buah hatinya. Menguji rasa sabarnya dengan kembali ke rumah sakit untuk mendampingi teman-teman sesama orangtua penderita kanker anak yang masih berjuang dan butuh bantuan. Mengabaikan perih hatinya melintasi kembali masa-masa berat di rumah sakit, demi menemani rekan seperjuangannya agar tetap semangat dan terus kuat agar buah hati mereka tidak gugur seperti anaknya dulu. Mencari donatur sendirian, mmberikan semua informasi yang dia tahu untuk orangtua pasien lain agar tidak tersesat di rimba rumah sakit yang begitu rumit.

Hati saya langsung tertambat pada keikhlasan Bu Yanie. Saya berjanji pada diri sendiri untuk membantu apa yang saya bisa agar perjuangan beliau tidak sendirian. Saya ingin menjadi relawan, kalau bisa selamanya.

Keinginan saya pun akhirnya terbalas dengan ajakan Bu Yanie untuk mendirikan sebuah komunitas untuk menjembatani pasien dengan relawan dan donatur yang bisa membantu. Tanpa pikir panjang, kami menyematkan nama Taufan pada komunitas baru tersebut.

Bermodal sosial media, satu persatu relawan datang untuk membantu. Meluangkan waktu untuk membahagiakan pasien di rumah sakit, dengan cara apapun mereka bisa. Hingga kini, Komunitas Taufan berkembang dengan lebih banyak relawan yang solid dan kompak. Mendampingi lebih dari 400 pasien dari berbagai kota yang dirujuk ke ibukota.

Kebanggaan kami sebagai relawan adalah ketika pasien membalas rasa sayang yang mereka rasakan. dengan rasa sayang yang lebih besar. Sebuah kepuasan yang tiada tara. Perasaan yang luar biasa unik dan menyenangkan.

Menjadi seorang relawan bagi saya adalah sebuah kebanggaan dan kenikmatan tiada dua. Berada dalam komunitas yang cocok adalah sebuah 'priviledge' yang jarang dimiliki orang lain, dan bersyukur saya telah menemukannya.


‘Relawan tidak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai’.

Tuesday, September 8, 2015

TravelIndonesia #7 - Pulau Pari, Kepulauan Seribu

Jeda trip terakhir dengan yang kali ini lumayan jauh, hingga 3 bulan. Pantas saja anak-anak sudah ribut setiap minggu menanyakan jadwal trip berikutnya. Dan ketika dapat trip yang waktunya pas, rasanya sayang sekali kalau tidak mengajak mereka berdua. Nasib baik, Pak Hussain pun setuju untuk ikut. Pulau pari...here we go!!

Ajakan trip kali ini berawal dari Broadcast Message WA dari OB-nya BarberSiBos. Setelah mengecek kesahihan website dan akun twitternya, saya memutuskan untuk langsung membooking tripnya. Pilihannya dua: Pulau Tidung atau Pulau Pari dengan perbedaan harga Rp. 50.000. Mendengar dan merujuk banyak referensi kalau Pulau Pari lebih bagus, saya pun langsung menetapkan pilihan.

Setelah terkumpul 15 orang teman dan temannya teman di Watsapp Group, kami pun siap berangkat. Meeting pointnya adalah di Dermaga Kali Adem, Muara Angke pukul 06.00. Taxi kami sampai di pintu depan Muara Angke sekitar pukul 06.05 dan kemacetan pun bermula. Antrian kendaraan masuk mengular jauh dari jalan utama sampai ke dalam. Para tukang ojek terlihat berduyung-duyung mengetok kaca jendela taxi-taxi wisatawan menawarkan jasa ojek menuju ke dermaga. Menurut penduduk sekitar, hal ini sudah biasa. Dikondisikan agar semua dapat jatah. Sempat urung beberapa menit, sampai kami tak tahan lagi karena waktu makin berjalan. Kalau ketinggalan kapal, lebih mahal lagi konsekwensinya, pikir saya.

Karena kami berlima, tiga ojek pun berhasil mengurangi budget jalan-jalan kami. Total ongkos menuju dermaga sukses menghabiskan Rp. 180.000. 

Ternyata seperti sebelumnya, jadwal kapal mundur sampai 1 jam dari yang seharusnya pukul 07.00. Saya mengalami hal yang sama ketika ke Pulau Harapan tahun lalu. Tapi entah mengapa, rasa takut ketinggalan kapal tetap ada. Jadi catatan untuk trip ke Pulau Seribu selanjutnya: Pilih busway atau naik GoJek dan ga usah takut terlambat.

Kapal ferry akhirnya bertolak setelah penumpang penuh. Rasa pengap di dalam kapal mulai membuat anak-anak gelisah. Keluarga lain dalam grup kami yang memiliki 2 anak pun sudah mulai menggerutu. Beruntung, Pak Hussain sudah sedia dengan laptop berisi rangkaian film anak-anak. Jangan lupa membawa snack dan persediaan air yang cukup. Perjalanan ke Pulau Pari memakan waktu 1,5 jam. Persediaan snack dan permen sangat membantu menenangkan anak-anak yang gelisah kegerahan.


Dermaga Pulau Pari

Dermaga Pulau Pari terasa lebih menyenangkan daripada Pulau Harapan. Pantainya masih terlihat, bukan hanya batu karang. Suasana pulaunya pun terasa jauh lebih santai, tidak hiruk pikuk seperti pulau lain. Senyum saya langsung mengembang melihat anak-anak yang kegirangan turun dari kapal.


Suasana Pulau Pari
Pulau Pari terkenal sebagai pulau wisata, yang juga diminati wisatawan untuk berbulan madu. Saya menyukai pulau ini karena fasilitasnya cukup lengkap. Homestay dengan kondisi baik dan bersih, 2 kamar lengkap dengan AC, 2 kamar mandi, extra bed di ruang tengah, ruang makan, jemuran, dan sepeda sewaan untuk setiap pengunjung. Di depan hampir setiap homestay terdapat warung kecil dengan kulkas berisi minuman dingin. 

Penduduk Pulau Pari cukup sedikit karena pulaunya ditujukan untuk wisata. Jarang sekali terlihat pengendara motor di jalannya. Wisatawan bersepeda kemana-mana, dan pengurus homestay sibuk bolak-balik dengan gerobak mengantar makanan dan keperluan wisatawan lainnya.

Kami punya waktu sekitar 3 jam untuk beristirahat hingga jadwal snorkeling di pukul 13.00. Saya memilih untuk mengajak anak-anak berkeliling pulau. Karena guide masih mencarikan sepeda berbonceng, kami pun berjalan kaki. Ternyata Pulau Pari cukup besar untuk dikelilingi berjalan kaki. Saya pun akhirnya berhenti di sudut pulau bermain pasir dengan Mikail, sementara Pak Hussain dan Naznin yang berjalan lebih cepat sudah sampai ke ujung pulau dengan spot pantai terbaik.

Sudut pantai yang sepi pengunjung karena terlalu banyak karang

Setelah makan siang dan sholat dzuhur, guide kami sudah siap menunggu dengan life jacket dan masker snorkeling. Ukuran life jacket yang standard tidak menyurutkan keceriaan anak-anak kami untuk saling berpose di kamera dan bergaya sambil berjalan ke kapal. 

Bergaya sebelum snorkeling

Serunya di kapal

Pak Hussain sibuk memegangi 2 anak yang tidak mau lepas dari main air ini

Kapal berhenti di spot snorkeling yang lokasinya sekitar 15 menit dari pulau. Setelah peralatan snorkeling terpakai, kami pun mulai melompat dari kapal. Belajar dari trip ke Pulau Pahawang di TravelIndonesia #4, Naznin langsung ingat untuk memakai life-vestnya terbalik karena dia lebih suka berenang menikmati laut. Sementara Mikail langsung mendekati guide untuk diajarkan snorkeling. 


Life jacket dipasang terbalik dan voila!


Mikail naik turun tangga perahu setelah pede untuk snorkeling sendiri


Teman saya memilih memancing sambil menunggu yang lain

Ikan suka roti, ya!

Underwater fotografer siap mengabadikan momen-momen kenarsisan
Puas bermain air, perahu pun mengantar kami kembali ke Pulau Pari. Langsung kami menyerbu warung terdekat sesampainya di dermaga. Otak-otak, gorengan dan minuman dingin lahap direbuti anak-anak. 

Guide meminta kami untuk bergegas karena jadwal selanjutnya adalah menyaksikan sunset dari Pantai Kresek di sebelah barat pulau. Sayang, sore itu matahari tertutup awan sampai hampir maghrib. Tak habis akal, guide mengajak anak-anak untuk balapan sepeda bersama agar mereka tetap ceria. 


Malam harinya kami menyewa gitar dari warga setempat seharga Rp. 25.000 untuk menghilangkan rasa lelah sambil menunggu barbeque. Guide yang sudah menunggu di pantai, menyiapkan makanan panggang berlimpah lengkap dengan sambal kecap yang legit. Serunya makan bersama di tepi pantai beratap langit diiringi alunan musik dan suara tawa pengunjung lain.

Kami juga sempat mengagumi para pekerja yang mulai membersihkan dan menyapu pantai agar esok hari dapat kembali dinikmati pengunjung yang datang. Sigap sekali ya!

------

Hari kedua kami bangun pagi-pagi untuk menyaksikan sunrise di ujung paling timur pulau. Matahari yang merah bulat sempurna terasa lebih istimewa bila disaksikan bersama teman. Sesi foto-foto pun dimulai hingga tak terasa matahari sudah mulai meninggi.


Bersepeda kemana-mana

Sunrise yang seperti sunset

Guide mengajak kami untuk bermain air di Pantai Perawan, spot main air paling terkenal di pulau ini. Ada perahu dan kano yang bisa disewa pengunjung. Sayang, air sedang surut hingga hanya selutut saja. Otomatis berperahu atau berkano pun menjadi lebih sulit.

Matahari semakin meninggi dan saat itu sudah pukul 09.30. Guide mengingatkan kami untuk bergegas karena kami harus sudah check out jam 10.00. Tapi dua anak saya masih kekeuh tidak mau beranjak dari dalam air.

Guide yang baik kemudian mengajak mereka ke satu spot terakhir asal mereka berjanji untuk mandi setelahnya. Setuju, dua anak ini pun kembali mengajak sang guide untuk balapan sepeda. Kami dibawa ke LIPI, tempat para ilmuwan meneliti keanekaragaman hayati dan biota laut di Pulau Pari. 


LIPI di Pantai Kresek, sebelah barat Pulau Pari

Yaaahh! Ini kan tempat kita lihat sunset kemarin, pikir saya. Tapi guide terus mengajak kami ke bagian pantai paling ujung, menunjukkan segerombolan bintang laut yang memenuhi pantai dengan air yang sedang surut. Bukan cuma itu, ada banyak sekali keong kecil, kerang, dan umang-umang disana. Waaahh, serunyaaa!

Bintang laut di LIPI
Alhamdulillaaah, perjalanan kami seru sekali. Dua hari rasanya tak cukup untuk menikmati indahnya Pulau Pari. Kami pasti kembali lagi!

-----------------

Tour yang kami pakai:
http://www.adventure-solution.com/
Wempy Malindo: 0811-9859-591

Paket Pulau Pari: Rp. 350.000
http://www.adventure-solution.com/package/pulau-pari/
Include:
• Tiket Kapal dari Pelabuhan Kaliadem ke Pulau Pari (PP).
• Makan 3x
• Welcome drink
• Barbeque ikan bakar
• Air mineral
• Penginapan AC di Pulau Pari (Tidak di gabung dengan grup lain).
• Kapal untuk jelajah pulau
• Alat Snorkeling lengkap
• Sepeda selama di Pulau Pari.
• Tiket masuk Pantai Pasir Perawan 1 hari.
• Tiket masuk spot wisata.
• Tour Guide asli Pulau Pari.
• Tour Leader A.S (Adventure Solution)
• Dokumentasi selama wisata (Underwater & Upwater)
• Bonus CD hasil dokumentasi






Tuesday, June 16, 2015

Little girl finally got her ears pierced - Cerita anting Nazneen


Pagi tadi, Nazneen tiba-tiba meminta telinganya ditindik. Bukan besok, bukan nanti...sekarang.

Kami memang tidak menindik telinganya dari bayi. Kami ingin mereka memilih ditindik atas keputusan sendiri, bukan paksaan siapapun, dan bukan tanpa alasan.

Dan Nazneen merasa hari ini adalah saatnya. Di perjalanan saya menjelaskan tata cara pelaksanaannya, menunjukkan gambar alat yang akan digunakan dokter, bahkan menunjukkannya video anak yang sedang ditindik di youtube. Dan keputusannya tetap bulat...sekarang!

Setelah googling, kami memutuskan untuk melakukannya di rumah sakit. Yang terdekat dengan kami saat ini adalah Hermina Arcamanik. Yes, kami masih berlibur di Bandung :D

Setelah pendaftaran, kami diajak ke IGD untuk diterangkan mengenai prosedur penindikan. Nazneen dengan tenang memilih warna antingnya sendiri. Ruangan yang sangat dingin membuat saya sedikit gugup, tapi tidak dengan Nazneen.

Nazneen mendengarkan penjelasan perawat

pilihan antingnya warna biru, seperti Frozen

Dokter jaganya sangat ramah dan sabar  meski dia sedang sendirian di ruang IGD. Kebetulan di sebelah kami ada seorang ibu yang akan dijahit kakinya karena luka menganga cukup parah. Bergidik saya dibuatnya.

Si dokter ramah masih bolak balik mengecek pasien gawat darurat dari satu kasur ke kasur lain. Nazneen menunggu dengan sabar. Rasa gugup mulai terlihat di wajahnya, mungkin karena AC yang terlalu dingin juga.

Setelah akhirnya dokter ramah itu datang, Nazneen dengan bangga menunjukkan warna anting pilihannya. Si dokter menyapanya dengan senyum lebar, membuatnya merasa nyaman.

Nazneen memilih untuk dipangku dan dipegangi saya. Dokter memintanya merebahkan kepala ke pundak saya, dan...POP! Anting biru pun menempel di daun telinga kanannya.

Kaget, sakit, si anak pun langsung langsung menjerit dan mulai menangis. Percaya dirinya hilang, keberaniannya langsung ciut terbawa air mata derasnya.

Saya mengajak Nazneen berfoto selfie untuk melihat aksesoris barunya. Adik saya dan suaminya membawakan hadiah permen untuk menghibur hatinya. Tapi isak tangis belum habis menghilangkan rasa sakitnya.

Dokter ramah yang sibuk memutuskan untuk mengecek pasien-pasien lain di IGD sembari sesekali menanyakan kesiapan Nazneen untuk menindik telinga sebelah kirinya. Nazneen kembali menangis, meski sebatang permen cukup menenangkannya beberapa saat sebelumnya.

Setelah beberapa kali ditanya tetap tidak mau, saya memutuskan untuk mengajaknya pulang. Menyerahkan keputusan di tangan anak kecil ini.

'Aku mau dua anting, mama. Tapi sakit banget,' ucapnya masih terisak. Ok, kalau begitu kita datang lagi lain kali? saya bertanya. Dia pun mengangguk.

Dan begitulah. Nazneen sudah ditindik...satu telinga :)

Cewek beranting sebelah hehehe

Sesampainya di rumah dan mematut diri di cermin, sekali lagi dia meminta kembali ke rumah sakit untuk ditindik.

Next time, Nazneen...next time :)

Sunday, May 24, 2015

TravelIndonesia #6 - Historical Island Adventure ke Pula Edam, Pulau Kelor dan Pulau Onrust

Saya sudah pernah mendengar mengenai Komunitas Historia Indonesia dari teman-teman relawan Komunitas Taufan dan Berbagi Nasi. Konon, mereka sering ikut kegiatan KHI di museum-museum yang sepertinya seru sekali.
 
Ketika 2 minggu yang lalu saya like Facebook page KHI, mata saya berbinar-binar melihat event terbaru yang mereka promosikan: Historical Island Adventure yang ke-14! Event ini pun hanya dilakukan sekali dalam setahun. Dipandu oleh pendiri KHI sendiri, Kang Asep Kambali dan arkeolog kenamaan Indonesia, Pak Candrian Attahiyat. Alhamdulillaah saya dan Mikail dapat tempat di petualangan seru yang langka ini :)
 
Dan di hari Sabtu tanggal 23 Mei, kami pun sudah berangkat dari rumah jam 05.00 setelah sholat subuh. Meeting point Muara Kamal ternyata kurang dikenal, meski kami pergi dengan taxi. Sayang sekali, organizer event pun kurang paham daerah tersebut. Kami berputar-putar dari Muara Angke, Muara Baru sampai akhirnya dengan susah payah bertanya kanan kiri, kamipun menemukan tempat tersebut meski terlambat 10 menit dari jadwal keberangkatan perahu.
 
Grup kami yang ber-20 pun beranjak dari dermaga Pelelangan Ikan Muara Kamal dengan perahu kayu, mirip dengan yang dipakai untuk island hopping di Pulau Harapan. Tujuan pertama kami adalah Pulau Edam, dan perjalanan kesana memerlukan waktu 2 jam.

 
Pemandangan sunrise dalam perjalanan ke Pulau Edam

 
Pak Can dan Kang Asep bergantian menjelaskan tentang riwayat Pulau Seribu yang ternyata jumlah pulaunya hanya 114 buah. Pak Can bercerita tentang rencana pembangunan waduk raksasa yang memakan habis laut hingga 6 km dari garis pantai Jakarta. Belum lagi rencana reklamasi teluk Jakarta yang dampaknya yang bisa membahayakan pulau-pulau berisi situs bersejarah di sekitarnya. Meski begitu, menurut Pak Can, pembangunan dan pelestarian harus berjalanan berdampingan dan disikapi dengan baik. Semoga Pak Gubernur yang terhormat dapat mengambil jalan tengah yang bijak dan bermanfaat bagi semua pihak.


Rencana reklamasi untuk pembangunan apartment dan mall Pluit City di Teluk Jakarta










PULAU EDAM
Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Edam, yang juga dikenal dengan sebutan Pulau Damar besar atau Pulau Monyet. Pulau ini berdiri di atas koral dan karang yang terus bergerak. Oleh karena itu, pulau Edam terus berubah bentuk seiring dengan pergerakan koral. 
 
Di pulau yang diberi nama seperti kota penghasil keju di Belanda ini, terdapat mercu suar terbesar kedua setelah mercu suar Anyer. Bangunan putih setinggi 65 meter ini dibangun pada tahun 1879 atas perintah Z.M. Willem III. Hingga kini, bangunan yang memiliki 16 lantai itu masih memiliki peranan penting untuk menerangi jalan para pelaut dan dirawat oleh Departemen Perhubungan.
 
Mercu suar Edam dengan pemandangan yang indah
 
 

Pengunjung diperbolehkan naik dengan melepas alas kaki. Garam di alas kaki bisa merusak tangga besi bangunan
 
 
Pulau Edam dipenuhi dengan pepohonan rindang yang tumbuh cepat. Pak Can mengajak kami berkeliling pulau sambil melarang kami menyentuh batu atau tulang yang kami temukan. Menurutnya, pulau ini juga merupakan tempat pengasingan warga pesakitan korban wabah Lepra, hingga virusnya bias membahayakan pengunjung bila menyentuh barang yang terkontaminasi. 
 
Konon menurut sejarah, Pulau Edam merupakan tempat dikuburnya Abel Tasman, penemu Tasmania dan Australia. Namun sampai sekarang makamnya belum ditemukan. 
 
Yang pasti, di pulau ini terdapat makam Ratu Banten Syarifah Fatimah yang dibuang VOC setelah pemberontakan besar-besaran terjadi di masa pemerintahannya. Ratu Syarifah merebut kekuasaan dari suaminya sendiri, Sultan Zainul Arifin yang akhirnya dibuang VOC ke Ambon. Ratu Syarifah mengangkat keponakannya, Syarif Abdullah yang saat itu berusia 4 tahun, untuk dijadikan sebagai putra mahkota. Syarif Abdullah muda pun diasingkan ke Banda Naira, Ambon karena ditolak oleh pemberontak. Namun beliau hidup mewah dibiayai oleh VOC hingga 39 tahun.
 
Tidak diketahui pasti yang mana makam sang Ratu di kompleks pemakaman yang direnovasi warga ini
 
Yang seru lagi, di pulau ini banyak terdapat bunker milik penjajah Jepang. Bunker-bunker ini merupakan tempat bersembunyi dan menyimpan senjata yang dibangun di bawah tanah.  
 
Bunker bawah Tanah
 
 

PULAU KELOR
Puas berkeliling di Pulau Edam, kami meneruskan perjalanan berjarak 2 jam lagi ke Pulau Kelor. Pulau kecil yang memiliki sejarah cukup pilu ini tadinya akan dijadikan pulau untuk bertahan dari serangan Inggris di abad ke-17. Sebuah benteng bundar pun dibangun dengan arsitektur cukup baik dengan bak penampungan air di tengahnya dan bentuk bundar agar dapat melihat musuh dari view 360 derajat. Menurut Pak Can, di abad ke-17, VOC masih belum mengenal sistem pengecoran. Bangunan ini pun dibangun dengan bahan batu bata merah dengan ukuran besar yang diproduksi di Tangerang.
 
Sayang, tak lama setelah dibangun, benteng dan segala isi pulau ini hancur lebur diterpa tsunami dan hempasan abu vulkanik gunung Krakatau yang meletus di tahun 1883. Bangunan yang belum sempat digunakan ini pun kini menyisakan keindahan sunyi yang masih dinikmati banyak orang.
 
Menurut penduduk lokal, situs cantik ini sering dipakai sebagai lokasi pemotretan 'nude pictures' :D
 
Oh dan ternyata, Pak Can adalah sang pemberi nama Benteng Martello, yang tadinya tanpa nama itu loh!

Benteng Martello


Pak Can menjawab pertanyaan para pengunjung yang penasaran
 
Perjalanan kami diliput Kompas TV loh :)

PULAU ONRUST
Pulau terakhir yang kami kunjungi adalah Pulau Onrust. Pulau yang arti namanya adalah 'Tanpa istirahat' ini memang adalah pulau yang sangat sibuk. Di pulau ini, pekerja-pekerja terus sibuk membongkar muat barang komoditi dan banyak juga terjadi perbaikan kapal setiap harinya pada abad ke-17.
 
Onrust yang juga dikenal dengan nama Pulau Kapal adalah pulau pertama tempat penjajah Belanda menginjakkan kaki dari Banda Naira, Ambon untuk menaklukkan kerajaan Jayakarta. Kapal-kapal VOC berlabuh kesini dari Belanda dengan membawa batu bata dari Belgia agar kapal tidak kosong, dan kembali dengan palawija dan kekayaan bumi negri Jawa.
 
Pulau sebesar 14 hektar ini merupakan  pulau yang penting bagi VOC saat itu. Pulau yang tadinya direncanakan menjadi pulau koloni, akhirnya digunakan menjadi pulau pertahanan menghadapi serangan Inggris. Seluruh bangunan di pulau ini sempat porak-poranda diserang Inggris, dibangun lagi dan dihancurkan lagi dengan serangan lain oleh Inggris dari tahun 1800 sampai 1816.
 
 
Di tahun 1911, pulau ini kemudian diubah fungsikan menjadi sanatorium TBC dan rumah sakit haji untuk mengkarantina calon haji sebelum dan sesudah keberangkatannya. Rumah sakit besar dua lantai yang dibangun terburu-buru itu memiliki struktur bangunan yang kurang kuat. Terdapat 1500-an barak-barak yang dibuat permanen dengan lubang hingga tempat tidur bisa digeser di atasnya.
 
Barak-barak yang kokoh
 
Tahun 1933-1940 pulau ini menjadi penjara bagi tahanan pemberontak kapan Zeven Provincien. Pemberontak yang merupakan warga Indonesia tersebut mengambil alih kemudi kapal yang akhirnya dikalahkan oleh serangan udara VOC. Para tahanan yang masih hidup ditahan dan dikuburkan di sudut Barat pulau ini.
 
Di tahun 1942, penjajah Jepang menjadikan pulau ini sebagai penjara tahanan kriminal berat. Penjara tersebut kini direnovasi dan dijadikan museum, meski sayangnya dibuat terlalu modern hingga mengurangi estetikanya.
 
Setelah Indonesia merdeka, pulau ini dijadikan tempat pengasingan gelandangan dan pengemis, serta Rumah Sakit Karantina penyakit menular. Saat itu Jakarta dijangkiti Leptospirosis yang dibawa oleh kencing tikus dari pengiriman beras. Saking takutnya, di sekeliling pulau ini pun dibangun sebuah pagar besi untuk menghindari datangnya tikus.
 
Setelah tahun 1965 pulau ini terbengkalai, hingga di jaman Soeharto, bahan-bahan dari seluruh bangunan di pulau ini yang hamper seluruhya hancur diperbolehkan untuk diambil dan dimanfaatkan untuk membangun rumah warga.
 
Seluruh bangunan di pulau Onrust hancur dan bahan bangunannya diambili warga sekitar
 
Pulau Onrust akhirnya dinyatakan sebagai pulau bersejarah dan mulai direstorasi tahun 1972. Pulau ini pun mengalami abrasi yang cukup signifikan hingga luasnya berkurang setiap tahunnya.
 
Pulau yang diberi nama seperti nama kota di Belanda itu memiliki rahasia lain. Konon katanya, tanah pulau ini mengandung Blue Clay atau Tanah liat biru yang ternyata tidak baik untuk kesehatan bangsa Eropa, hingga bangsa Belanda yang tinggal disini tak ada yang berumur panjang.
 
 
Ayunan di pohon Pulau Onrust
 
 

Bersama Pak Candrian Attahiyat yang luar biasa


Mikail yang kecapekan digendong Kang Asep, pendiri KHI dan sejarawan Indonesia. Hebat euuuy!

Terimakasih Komunitas Historia Indonesia, Pak Candrian, dan Kang Asep atas ilmunya. Semoga makin membuat kami mencintai Indonesia. Sejarah adalah memori yang membuat kita mencintai Negara kita. Jangan pernah lupakan sejarah!
 
 

 
-----------
 

Komunitas Historia Indonesia
www.komunitashistoria.com/
FB Page: Komunitas HISTORIA INDONESIA Community
Youtube Channel: Komunitas Historia Indonesia
Video Historical Island Adventure: Youtube 

Bahan bacaan:
Kisah Ratu Banten
Sejarah Pulau Edam, Jakarta.go.id
Sejarah Pulau Onrust, Jakarta.go.id

 


Tuesday, April 28, 2015

RESEP - Nugget Ayam Oatmeal Gurih



Hampir jam 11 malam, masih main di dapur demi anak perempuan yang minta dibawain nugget buat bekal sekolah. Ternyata ngiri dia teman-temannya bawa nugget dan sosis terus, sementara biasanya cuma dibawain lauk teri balado, tempe, atau telur yang cepat dibuat. Paling mewah nasi goreng atau bihun goreng lah :D

Kali ini, nuggetnya sudah disiapkan dari malam. Disimpan di kulkas dulu, dan besok pagi tinggal digoreng sebelum pergi ke sekolah. 

Sayang, setelah keluarin ayam dari freezer ternyata ada bahan yang kurang. Lupa minggu kemarin udah menghabiskan tepung roti dan lupa beli lagi. Untung saja, masih ada sebungkus Oatmeal biru di laci. Yuk kita modifikasi resep nuggetnya.

BAHAN:
2 buah dada ayam utuh tanpa tulang dan kulit
10 siung bawang putih dihaluskan (banyak ya, karena saya suka wangi bawang putih)
3 sendok makan oatmeal
2 butir telur (pisahkan kuning dan putihnya)
Garam
Lada

CARA MEMBUAT:
1. Giling ayam dengan food processor. Karena saya tidak punya, terpaksa dihaluskan dengan ulekan. Repot banget. Beliin food processor doooong, Pak Hussain :D
2. Campurkan daging ayam yang sudah halus dengan bawang putih yang sudah dihaluskan juga
3. Masukkan oatmeal untuk bahan campuran agar nugget padat
4. Masukkan 2 butir telur kuning
5. Tambahkan garam dan lada
6. Aduk hingga rata. Atur di pinggan tahan panas hingga mencapai ketebalan yang diinginkan. Pilih pinggan yang muat di kukusan ya
7. Kukus 20 menit hingga matang 
8. Keluarkan adonan nugget matang, pindahkan ke piring dan tunggu hingga dingin
9. Potong-potong atau bentuk potongan nugget sesuai keinginan. Baluri dengan telur putih dan gulingkan ke oatmeal
10. Goreng dengan api kecil hingga kecoklatan

Ternyata pakai oatmeal lebih renyah dan enyaaakkk daripada tepung roti. Lebih sehat loh buat jantung, kayanya ya sebab digoreng juga sih :D

Selamat mencoba!

Sunday, April 26, 2015

Serunya main kucing di Kafe Kucing Cutie Cats Cafe

Akhirnyaaaa sampai juga ke Cutie Cats Cafe​. Kafe dengan konsep unik pertama di Indonesia yang berlokasi di Jl. Kemang 1 No, 12F ini dimiliki  Lia Ramadiani-Kurtz​, kawan sesama MT dulu di kantor 'Sarang Burung'. Bangga euy punya teman sukses.

Cutie Cats Cafe

Di kafe yang berada di atas toko tas Sparkling Society milik Lia juga, kita bisa ngopi-ngopi cantik sambil main dengan belasan kucing peliharaan disana. Kucing-kucing dengan ras berbeda terlihat menggemaskan dengan bulu bersih lebat yang terawat dan kejinakan mereka yang nampak nyaman bermain bersama manusia.

Untuk datang ke kafe yang selalu penuh antrian ini, pengunjung harus menelpon untuk reservasi dulu. Pengunjung harus membeli tiket untuk bermain selama 1 jam (Kami bertiga membayar Rp. 270.000). Datanglah tepat waktu agar bisa main dengan puas, karena 1 jam berlalu begitu cepat, menurut anak-anak saya.

Interior cantik nan unik

Karena kami datang terlambat 30 menit dari jadwal reservasi, mbak resepsionis meminta kami menunggu sampai jadwal yang jam 14.00 supaya mainnya sejam pas. Setelah makan siang, kami pun masuk bersama sekitar 10 pengunjung lain yang langsung menyerbu kucing-kucing super lucu disana.

Sayang kami datang ketika jam tidur siang, hingga beberapa kucing memilih tidur daripada main. Meski begitu, mereka rela dibelai-belai dan dipeluk sambil merem. Kedua anak saya mencoba memegang semua kucing yang semuanya menggemaskan. Disana disediakan sekeranjang alat untuk bermain bersama kucing, termasuk bola, boneka, bantal-bantal yang bisa dimainkan.

Meski ngantuk, tetap mau main bareng

Tempatnya cozy dengan perabotan rumah-rumah kucing yang unik. Pengunjung bisa memesan cake dan minuman. Saya memilih carrot cake dan ice chocolate sambil menikmati keseruan kafe. Semua kucingnya baik dan jinak. Kesayangan Naznin adalah Usagi, si kucing berkuping kecil yang pengertian, mau dipeluk dan ga marah diuwel-uwel anak kecil.

Katalog nama-nama kucing dan sifat-sifatnya

Setelah keluar, disediakan Hand Sanitizer dan roller untuk membersihkan baju dari bulu kucing bagi pengunjung.

Masuk lepas sepatu dulu. Keluarnya disediakan hand sanitizer dan roller

Sejam ga puasssss rasanya. Naznin minta datang kesini tiap minggu hahaha.

Sukses yaaa Cutie Cats Cafe.

======================

Cutie Cats Cafe
Jl. Kemang I No. 12F
Lantai atas Sparkling Society
Depan Food Garden
Jakarta Selatan

Reservasi: 0811-1004-560

IG: @CutieCatsCafe

Tuesday, April 14, 2015

TravelIndonesia #5 - Pengalaman pertama hiking di Gunung Papandayan, Garut

Saya memang lebih suka gunung daripada laut. Tapi, kalau disuruh manjat gunung saya lebih memilih untuk main air di pulau hingga terbakar matahari. 

Berhubung trip naik gunung kali ini diadakan oleh grup Lazy Traveler yang tak diragukan kenyamanannya, saya pun mendaftar dan dengan pede membawa Mikail serta untuk melakukan TravelIndonesia yang kelima. Dan benar saja, trip dikemas bersama seapik dan senyaman mungkin hingga kami tinggal membawa perlengkapan pribadi dan melenggang naik gunung dengan santai. 

Perjalanan dimulai hari Sabtu tanggal 11 April 2015 pukul 06.00. Grup kami yang terdiri dari 9 orang memulai perjalanan dari pelataran parkir RS. UKI ke kota Garut dengan Elf sewaan. Perjalanan kami hingga ke Camp David, awal pendakian Papandayan memakan waktu kurang lebih 7 jam.

Selain mobil sewaan, pendaki juga bisa menaiki bus Jakarta-Garut dari Terminal Cililitan seharga Rp. 45.000, kemudian melanjutkan dengan angkot seharga Rp. 20.000/per orang hingga desa Cisurupan, dan menyewa mobil bak hingga ke Camp David untuk memulai pendakian. Tiket masuk untuk camping seharga Rp. 7.500/orang.

Di Camp David tersedia musholla dan toilet. Tersedia juga beberapa warung yang menyediakan makan bagi grup pendaki. Terlihat banyak warung-warung yang rusak di area parkir ketika kami datang. Kemungkinan besar dirusak warga yang tidak suka kompetisi.

Kami menikmati makan siang yang sudah disiapkan untuk tim kami di sebuah warung kecil. Setelah sholat dan bersitirahat sejenak, kami pun memulai perjalanan.

Camp David, tempat memulai pendakian
Gunung Papandayan terletak di desa Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2665 mdpl ini tercatat sudah meletus setidaknya 4 kali. Letusan terakhirnya adalah di tahun 2004. Gunung ini memiliki beberapa kawah yang hingga kini masih mengeluarkan asap tebal. Kawah yang terkenal adalah Kawah Gunung Nangklak, yang juga jalur alternatif pendaki senior melewati Hutan Mati.

Kami didampingi oleh 3 orang pemandu, dan 1 pemandu yang membantu memasang tenda di lokasi camping. Sementara barang-barang berat dititipkan ke porter untuk dibawa ke atas.

Lebih dari setengah pendakian kami adalah kawah. Asap yang tebal dan bau belerang yang khas tak mengurangi indahnya pemandangan gunung berapi strato ini. Medan pendakian di kawah sangat berbatu, hingga cukup melelahkan bagi saya. Namun tidak untuk Mikail, yang terlihat semangat dan antusias mendaki hingga ke puncak.


Jalur pendakian kawah yang berbatu

Kepulan asap kawah dengan bau menyengat

Pendaki-pendaki yang beristirahat sambil menikmati pemandangan kawah

Untunglah saya bawa anak laki yang mudah melepas hajatnya dimana saja :D
Selesai dari kawah, jalur pendakian mulai terasa lebih curam dan menantang. Hampir setiap 5 meter, saya memilih untuk bersandar pada batu besar dan mengatur debaran jantung yang tak keruan. Pendamping kami dengan sabar menunggu hingga kami siap meneruskan perjalanan. Kesehatan yang utama. Pemandu yang lebih senior yang melihat semangat Mikail langsung mengajaknya mendaki jalur pintas dengan medan curam agar tiba di atas lebih dulu. Spontan, anak kecil ini langsung berlari mengikutinya, sementara saya hanya melambaikan tangan sambil terengah-engah.

Jalur pegunungan yang berliku dan melelahkan

Melewati sungai

Tim kami mulai terpisah meski para pendamping menemani di barisan depan, tengah dan belakang. Akhirnya kami tiba di pos pertama untuk beristirahat. Sempat kaget melihat banyak sekali motor parkir disini. Ternyata motor trail ini bisa naik dari Camp David hingga pos pertama loh. Pantas saja di beberapa trek pendakian terlihat jalur sempit seperti parit yang ternyata jalur motor. 

Di pos ini juga terlihat beberapa pendaki yang mendirikan tenda. Ada penjual jajanan yang ramai diserbu pendaki kelaparan. Banyak juga yang mengisi perbekalan air untuk meneruskan perjalanan. Waktu istirahat kami terpaksa dipercepat karena cuaca berubah mendung, padahal perjalanan kami masih cukup jauh.

Kak Heny berpose dengan motor trail

Gerimis mulai turun ketika kami tiba di area camping, Pondok Saladah. Tenda kami sudah disiapkan oleh pemandu yang menunggu di atas. Berdiri rapih dengan alasnya, hingga kami langsung berebutan masuk diiringi geluduk dan hujan deras. Perjalanan kami menempuh waktu 5 jam!

Hujan semakin deras hingga maghrib. Sementara tas saya yang berisi pakaian bersama perbekalan makanan masih belum tiba. Saya dan Mikail meringkuk berpelukan dengan jaket seadanya. Sleeping bag yang dijadikan selimut tetap tak mengurangi rasa dingin yang menusuk. 

Hujan mulai reda pukul 8 malam. Kehujanan, kedinginan, dan terlambat makan ternyata membuat maag saya kambuh. Alhamdulillaah, pemandu yang baik membuatkan satu tenda kecil lagi untuk saya dan Mikail, lebih kering dan lebih hangat. Porter akhirnya datang membawa barang-barang kami dan makan malam. Mikail dengan sigap berkenalan dengan teman-teman pendaki lain yang menyalakan api unggun, mencari obat maag dan meminta tolong membuatkan teh panas untuk saya. Terharu...

Pondok Saladah, area berkemah
Pemandangan malam hari setelah hujan luar biasa indah. Bulan separuh dan taburan bintang terlihat lebih dekat dari malam-malam yang lain. Saya masih meringkuk di tenda sementara suara Mikail masih terdengar bersenda gurau bersama rekan pendaki lain yang menghangatkan diri.

Sarapan di dalam tenda

Pukul 03.00 dini hari, area kemah sudah ramai lagi dengan riuh rendah suara-suara pendaki yang ingin mendaki Tegal Alun, puncak tertinggi Gunung Papandayan, untuk menyaksikan matahari terbit. Saya memilih untuk tinggal di tenda karena udara dingin yang menusuk.


Kini, di Pondok Saladah sudah ada WC dan tempat mencuci. Pendaki yang ingin menggunakan WC harus rela antri panjang berjam-jam. Pendaki senior pasti lebih memilih untuk 'go natural'. Di banyak spot juga terdapat warung dan jajanan. Menurut para pendaki senior, gunung ini sudah jadi 'mall', tidak asri lagi karena terlalu ramai orang.

WC dan tempat mencuci yang selalu ramai dan antri panjang

Warung dan jajanan
Mas Yasin, pendamping utama tim kami

Hari beranjak siang dan matahari sudah di atas kepala kami, meski angin sejuk masih membuat kami betah berada di tenda. Pengalaman naik gunung pertama saya cukup mengesankan, dan Mikail pun merasakan hal yang sama.

Kami beranjak turun di siang yang terik, namun saya sudah lebih dahulu menyiapkan jas hujan di tas kecil dan menutup backpack dengan rain cover. Jalan turun ternyata lebih cepat daripada naik gunung. Terbukti kami hanya perlu waktu 1,5 jam untuk sampai ke area parkir mobil. Mikail berkali-kali terjatuh karena jalur turun yang berbatu. Alhamdulillaah banyak pendaki yang datang membantu dengan menyemprotkan antiseptik, menawarkan band-aid sampai menyorakinya dengan kata-kata semangat. Saya langsung cinta gunung dan segala isinya.

Cuaca di Gunung Papandayan berubah sangat cepat. Awan mendung mulai terlihat ketika kami menuruni jalur kawah, Tiba-tiba titik-titik hujan langsung berubah menjadi deras ketika kami mencapai kawah. Air turun dengan deras dari puncak gunung membuat jalur turun kami berubah menjadi sungai yang deras. Saya mulai panik, sementara Mikail berlarian kegirangan di aliran sungai dadakan itu. Luar biasa energi anak ini!

Jalur turun

Pemandangan ketika turun terasa berbeda daripada ketika menaikinya. Mungkin karena rasa letihnya juga berbeda ya. Menurut pendaki senior yang sudah ratusan kali menaiki gunung ini, tiap pendakian mereka merasakan sensasi yang berbeda. Setiap kali mendaki pun, alam memberikan pelajaran hidup yang berbeda-beda, menempa jiwa hingga makin dekat dengan penciptanya.

Pengalaman yang luar biasa. Sepertinya saya ketagihan...

Pemandangan dari puncak yang membuat ingin kembali lagi

 -----------------------

Sewa Elf 2 hari Jakarta - Gunung Papandayan
Rp. 2.600.000

HTM camping Rp. 7.500

Pemandu Rp. 500.000
Mas Yasin: 0812-9642-1123

Porter Rp. 200.000/trip

Sewa perlengkapan
Tenda besar Rp. 40.000/hari
Tenda kecil Rp. 30.000/hari
Matras Rp. 10.000
Sleeping bag Rp. 10.000/hari

Reference blog:
Janu jalan-jalan
Winny
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget