Wednesday, March 11, 2015

TravelIndonesia #3 - Semarang | Umbul Sidomukti, Ambarawa, Goa Kreo, dan Kota Lama

Travel Indonesia kali ini adalah giliran Mikail. Sempat bingung karena ketika browsing, wisata Semarang kebanyakan adalah wisata kota tua yang lebih dinikmati oleh pecinta seni foto. Untungnya, teman saya, Teja menyarankan beberapa tempat wisata baru yang letaknya tak berapa jauh dari kota Semarang.

Ini kali pertama saya berkunjung ke Semarang. Kota kecil ini sangat bersih dan apik. Spot kota kesukaan saya adalah Taman Sri Gunting. Persis seperti di taman Ulu Cami, Turki. Cantik dan unik. Yang paling menyenangkan lagi adalah kota ini memiliki trotoar lebar dan bersih dari penjual kaki lima. Jadi mau pindah ke Semaraaaang :D

Trotoar lebar di kota Semarang

Kami memilih hotel Pandanaran karena dekat dengan Simpang Lima, dan pusat kota. Hotel yang kami pikir kecil, ternyata luas dengan 3 hall besar yang biasa dijadikan aula pernikahan. Kolam renang, gym dan spanya pun cukup bagus. Di hotel juga tersedia club dan karaoke bagi peminat night-lifestyle. Uniknya, telepon di lobi hotel bermodel lama. Mikail sampai terpesona sambil bersungut karena tidak bisa memencet tombolnya.

Telepon model jadul di lobi hotel

Umbul Sidomukti

Kami memulai hari pertama dengan mengunjungi objek wisata yang jauh dahulu. Pilihan pertama adalah Umbul Sidomukti. Objek wisata yang terbilang baru ini terletak di daerah Bandungan, Desa Sidomukti. Kenapa dinamakan Bandungan? Menurut Pak Heri, supir mobil sewaan kami, karena tempat yang terletak di pegunungan ini mirip Bandung :)

Perjalanan dari kota Semarang menuju Bandungan memakan waktu 1,5 jam dengan mobil. Jalanan menuju Umbul Sidomukti seperti di Puncak. Jalan masuk ke lokasi cukup kecil namun masih bisa dilalui mobil. Tempat parkir pun cukup memadai.

Umbul Sidomukti bagi wisatawan lokal dikenal dengan kolam mata air yang indah dan jernih. Selain itu, terdapat juga Flying Fox dan jembatan gantung yang cukup menantang, ATV, camping ground, dan penginapan.

Tempat mandi ada banyak mesti terletak cukup jauh dari kolam. Restaurant dan mushola juga dalam kondisi baik. Ada dua pilihan kolam, kolam anak dan dewasa.

Tiket masuk dan tiket permainan di Umbul Sidomukti cukup murah

Setelah flying fox, kita harus meniti jembatan gantung untuk kembali

The famous kolam renang mata air. Airnya jernih dan dingin




ATV, mainan pilihan pertama Mikail. Rp. 30.000 dua putaran

Kampoeng Rawa, Ambarawa
Dari Umbul Sidomukti, kami bergerak menuju Kampoeng Rawa. Salah satu destinasi wisata lokal yang cukup terkenal, menurut Pak Heri, supir kami. Perjalanan dari Umbul Sidomukti ke Ambarawa memakan waktu 45 menit.

Kampoeng Rawa cukup sepi menurut saya, meski suasana rawa di kaki gunung terlihat asri dan menyejukkan. Jenis permainan yang ditawarkan disana cukup banyak, meski kurang menantang menurut Mikail. 

Permainan yang ada di Kampoeng Rawa

Pemandangan cantik di Kampoeng Rawa

Lagi-lagi Mikail main ATV
Menurut saya yang paling seru adalah menaiki odong-odong ke Benteng Pendem Ambarawa seharga 50 ribu/rombongan. Benteng yang hanya terlihat dari jauh ini terlihat misterius sekali. 
Benteng Williem atau sekarang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem, adalah benteng peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1840 untuk membangun hubungan dengan kerajaan Mataram semasa masa kekuasaan King Williem I di Jawa Tengah. Ambarawa sendiri dahulu merupakan jalur perdagangan antara Semarang dan Surakarta.

Benteng masih bisa dikunjungi sebagai obyek wisata yang diminati fotografer. Sedangkan LaPas Ambarawa yang terkenal itu masih berfungsi sebagai LaPas hingga saat ini.
Benteng pendem dan Penjara Ambarawa

Keliling kota Semarang
Puas berkeliling, kami pun kembali ke kota Semarang pukul 16.00. Satu jam setibanya di Kota Lama, kami melihat bus double decker merah yang langsung menarik perhatian kami. Otomatis kami langsung mencari parkir dan mencari informasi mengenai bus ini.

Semar Jawi - Semarang Jelajah Wisata
Bus ini bernama Semar Jawi. Beroperasi dari hari Selasa - Minggu. Bus hibah dari Telkomsel ini baru beroperasi tahun ini. Berada diatasnya seperti di luar negeri deh. Cukup dengan Rp. 10.000 saja, dan kita dapat menikmati 30 menit berkeliling Kota Lama dan mendengarkan sejarah kota Semarang yang kaya dari travel guide. Keren sekali!

Tamasya sambil menikmati sosis bakar
Kota Lama, Semarang bisa jadi merupakan tempat favorit fotografer. Di sore hari, sekitaran Kota Lama sangat teduh, ramai, dan suasananya amat menyenangkan. Taman Sri Gunting pun tertata rapih, bersih dan rindang. Berada di samping Gereja Blendhuk, membuat taman ini makin menawan.

Taman Sri Gunting tempat Bus Semar Jawi parkir
Setiap Minggu ke-2 setiap bulannya, di Kota Lama digelar pasar barang antik. Banyak juga dijual kaos-kaos bertulisan nyeleneh ala guyonan kuno dengan harga terjangkau. Rasanya ingin berlama-lama disana.

Pasar barang antik di samping taman Sri Gunting, Kota Lama
Lawang Sewu
Keesokan harinya, kami memulai perjalanan agak lambat, karena Mikail ingin berlama-lama menikmati kolam renang di hotel. 

Perjalanan kami dimulai dari Lawang Sewu karena dekat dari hotel. Tiket masuknya hanya Rp. 10.000. Sepertinya semua tempat wisata memiliki tiket masuk dengan harga yang sama :)
Saya sempat enggan memasuki tempat wisata yang satu ini karena banyak yang bilang angker. Namun menurut Pak Heri, kini Lawang Sewu sudah tidak angker lagi dan bebas didatangi kapan saja. Mungkin sudah direnovasi dan dipercantik ya.

Cantik dan megah
Lawang Sewu ini sebelumnya merupakan kantor NIS, perusahaan kereta api milik Belanda. Ternyata Semarang adalah kota pertama dimana kereta api mulai beroperasi di tahun 1904. Wow! Gula adalah komoditas termahal dari Semarang yang diekspor kemana-mana. Saking berharganya, gula ini dihargai lebih mahal dari emas di jaman dahulu. Hingga, tanjung tempat kapal-kapal berlabuh untuk mengekspor gula disebut sebagai Tanjung Emas.




Sam Po Kong
Menurut sejarah Klenteng Sam Po Kong merupakan bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksmana Tiongkok beragama Islam bernama Cheng Ho. Tempat ini biasa disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu.

Sayang sekali tempat ini adalah sebuah klenteng, padahal Laksmana yang patungnya berada disana pun sebenarnya beragama Islam.

Meski begitu, klenteng ini pun dilengkapi sebuah mushola yang cukup besar. Sebuah toleransi beragama yang luar biasa!





Mushola di Klenteng Sam Po Kong

Gua Kreo
Meski sudah berangkat agak lambat, menyetok oleh-oleh Lumpia kesukaan Mikail, dan mengunjungi 2 tempat wisata, tetap saja waktu masih terlalu awal untuk menunggu di airport. Pak supir pun menyarankan kami untuk menempuh 30 menit perjalanan ke Desa Wisata Gua Kreo. 

Gua Kreo, menurut sejarah merupakan tempat Sunan Kalijaga mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Tempat ini terkenal dengan banyaknya monyet yang berkeliaran. Perjalanan menuju ke gua cukup jauh, kami pun urung untuk turun karena waktu terbatas untuk kembali ke Bandara.

Di lokasi yang sama, sedang dibangun Waduk Jatibarang yang fungsinya sebagai tempat penyimpanan air kota Semarang, pencegah banjir, dan sebagai PLTA. Di masa depan, ketika waduk ini sudah berfungsi, Goa Kreo akan menjadi tempat wisata yang mumpuni karena akan juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas wisata di waduk yang besarnya hingga 46,50 hektar tersebut.

Bercengkrama sambil diliatin kawanan monyet. Seru mungkin ya?

Waduk Jatibarang yang belum selesai dibangun sejak 2009

Perjalanan panjang menuju Gua Kreo
Kami menikmati kota Semarang, sampai ingin pindah ke kota tenang dan bersih ini. See you next time, old town!

--------

Hotel Pandanaran
http://www.pandanaransemarang.com/

Informasi wisata Kota Semarang
http://seputarsemarang.com/

Umbul Sidomukti
http://www.umbulsidomukti.com/

Kampoeng Rawa
http://www.kampoengrawa.com/

Bus Semar Jawi
Twitter: @semarjawi
FB: Semar Jawi


Sunday, March 1, 2015

Eco-wisata - Wisata Ciliwung sambil belajar sejarah Jakarta

Hari ini saya berkesempatan untuk ikut menyusuri sungai Ciliwung. Kegiatan ini diprakarsai oleh Wisata Ciliwung bekerjasama dengan Ciliwung Institute dan KPC (Kelompok Peduli Ciliwung) Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Minggu, 1 Maret ini adalah soft-launch Wisata CIliwung yang nantinya akan diadakan rutin. Menurut Sudirman Asun, dari Ciliwung Institute, wisata ciliwung adalah sebuah cara untuk melestarikan Ciliwung. Diharapkan, dengan ramainya kegiatan di Ciliwung, warga sekitar bantaran kali akan segan mengotorinya.

Jakarta menurut Asun, memiliki 13 sungai, dimana Ciliwung adalah sungai terbesarnya. Sepantasnya, anak-anak kita sekarang mengenal Ciliwung lebih dekat lagi. Ciliwung saat ini hanya dikenal karena kekumuhan dan sumber sampah. Padahal Ciliwung adalah sungai purba yang sudah terkenal sebagai jalan kedatangan tamu-tamu kerajaan jaman dahulu kala.

'Untuk menyelamatkan Ciliwung, kita harus mengupdate potensi sekitar Ciliwung. Pemberdayaan masyarakat sekitar Daerah Aliran Sungai sangat penting agar mereka juga merasa bahwa sungai ini penting dan bukan tempat sampah raksasa. Kita mau anak cucu kita tahu akar budayanya itu bermula dari Ciliwung', kata Bang Kodir, penggiat Ciliwung dan ketua KPC Munggang.

Pak Lurah Cililitan pun membuka kegiatan Wisata Ciliwung hari ini. Menurutnya, saat ini membersihkan CIliwung merupakan salah satu fokus pemerintah, dimana komunitas yang peduli dengan Ciliwung harus dibina dan dirangkul agar dapat bekerja berdampingan.

Pak Lurah Cililitan membuka kegiatan Wisata Ciliwung
Menurut Pak Lurah, saat ini TNI juga rutin turun ke Ciliwung. Membuat penyekat dan menjaring sampah di anak sungai agar sampah tidak masuk ke Ciliwung.

Selain itu, pemerintah saat ini juga sedang giat mengembalikan hak-hak yang hilang. Wilayah pejalan kaki dikembalikan fungsinya untuk pejalan kaki, wilayah jalur air dikembalikan ke fungsinya sebagai jalur air. Hingga rumah dan bangunan yang berdiri di jalan air satu persatu mulai dibongkar untuk menghindari banjir. Penertiban pun sudah mulai di Jakarta Selatan. Warga yang tertangkap buang sampah akan didenda minimum Rp. 500.000 atau penjara. Jakarta Timur pun akan diberlakukan perlahan. Yang penting adalah penegakan hukum yang tegas dan efek jera yang ditimbulkan.

Memang mengatasi masalah sampah sangat sulit, karena setiap rumah tangga memproduksi sampah, namun tidak ada yg suka dengan sampah. Diharapkan KPC bisa bekerjasama dengan lebih banyak pihak untuk melatih warga melakukan pemilahan sampah, composting, dan mengurangi penggunaan plastik.

Pak Bachtiar, Pembina KPC Buluh adalah salah satu warga yang peduli lingkungan. Beliau menghibahkan tanah keluarga untuk dijadikan taman dan daerah resapan air. Menurutnya, kini semakin banyak rumah dengan pompa air yang dalam dan torent yang besar. Sementara daerah resapan airnya sedikit. Semua rumah mengambil air tanah, sementara air tanah semakin berkurang. Akibatnya tanah semakin amblas dan Jakarta semakin tenggelam.

Pak Bachtiar (kiri) dan Bang Kodir (baju kotak2 menjelaskan visi misi KPC pada pengunjung
Kami pun menyusuri Ciliwung, melawan arus yang cukup deras. Hujan semalaman di Bogor, ternyata membuat air sungai naik dan alirannya cukup deras. Motor perahu karet kami beberapa kali tersangkut sampah plastik dan karung yang berjalan cepat di sungai yang meluap.

Serunya menyusuri Ciliwung
Sepanjang sungai, kami melihat pemandangan unik yang membuat kami tergelak. Salah satunya adalah papan peringatan ‘Dilarang buang sampah di sungai ini’ dan ‘Dilarang mendirikan bangunan di sepanjang kali’ yang semuanya menghadap ke arah sungai, dan bukan sebaliknya. 

Siapa yang akan baca kalau papan peringatannya menghadap ke kali?
Sampah plastik juga merupakan pemandangan dominan yang sangat mengganggu keindahan. Menurut Asun, plastik yang berlapis-lapis sudah tertimbun di sedimen tanah hingga mengganggu pertumbuhan pohon. Akar pohon tunjang pun tak dapat menembus plastik hingga pertumbuhannya terganggu.

Sedimen tanah dilapisi sampah plastik
Kami juga melihat tanah yang bolong-bolong di dinding sungai. Menurut Asun, ikan sapu-sapu membuat lobang-lobang di dinding sungai sebagai sarang. Ikan sapu-sapu adalah parameter kebersihan sungai. Semakin kotor sungai, ikan sapu-sapu makin banyak populasinya. Semakin banyak lobang yang mereka buat untuk sarang, samakin rapuh lah tanah hingga sering terjadi longsor. Untuk mengatasinya, penggiat KPC sering menebar benih ikan agar populasi ikan sapu-sapu dapat dibatasi.

Perahu karet kami pun berhenti di KPC Gema Bersuci asuhan H. Royani. Disana terdapat pabrik pembuatan dodol, pemancingan warga dan saung-saung yang nyaman. H. Royani menceritakan sejarah Jakarta hingga kami ternganga. Betapa miskinnya ilmu sejarah kami mengenai tempat dimana kami lahir, berkegiatan, dan hidup di dalamnya.

Pengrajin dodol
Ciliwung jaman dahulu merupakan jalan kedatangan tamu, sedangkan Cisadane adalah jalur perjalanan raja, jelas H. Royani sambil menikmati makan siang bersama pengunjung. Cisadane dan Ciliwung di hulu letaknya berjajar, oleh karena itu daerah hulu tersebut dinamakan Pajajaran.

Pak H. Royani (jaket merah) bercerita tentang sejarah Ciliwung
'Di Ciliwung dulu banyak pasirnya', lanjut H. Royani. Jaman dahulu, orang yang dibilang kaya di Jakarta adalah yang paling banyak perahunya. Perahu-perahu tersebut digunakan sebagai pengangkut pasir yang dibawa untuk pembangunan Gelora Bung Karno.

Dodol dibungkus-bungkusi untuk dibawa pulang pengunjung. Dodol duren Betawi! Yuuuumm!
Dan tahukah Anda?
  • Asal kata Ragunan adalah dari nama Pangeran Wiraguna, seorang karyawan VOC yang diambil oleh Pangeran Fatahillah sebagai ahli pembuat irigasi dan jembatan.
  • Asal kata Balekambang adalah ketika jaman dahulu Pangeran Wiraguna naik kuda putih dari rumahnya ke Kedung Eran, beliau sering mandi di sebuah bale-bale yang mengambang di sungai.  
  • Asal kata Batuampar adalah ketika Pangeran Wiraguna menaiki kuda ke condet, beliau melewati daerah yang dibangun dengan batu yang diamparkan.
  • Kata Pasar Minggu bukan karena pasar tersebut buka hanya hari Minggu. Nama Minggu diambil dari Ki Minggu yang mewakafkan tanahnya untuk pasar. Sebelumnya, nama pasar itu adalah Pasar Sawo.
  • Setelah Belanda kalah oleh Jepang, mereka mencoba masuk lagi bersama sekutu. Banyak dari orang-orang Belanda tersebut yang bersembunyi di Depok yang dijadikan villa pengungsian. Hingga kini, sering ada sebutan Belanda Depok
  • Daerah Pejaten berasal dari kata Pejatian, karena daerah tersebut dulunya banyak kayu jati. Pejaten pun dahulu merupakan daerah Condet.
  • Sebagian besar wilayah Jakarta dulunya adalah rawa-rawa, termasuk juga Pancoran dan sekitarnya. Hingga nama daerah Rawa Belong, Rawa Jati dll memang betul daerah rawa yang diuruk menjadi perumahan.

Dari saung KPC Gema bersuci, kami bergerak ke pemberhentian terakhir yaitu KPC Munggang asuhan Bang Kodir. KPC ini sudah banyak dijadikan percontohan karena sudah memiliki fasilitas Eco-wisata yang sangat mendukung seperti Outbound track, taman baca, dan aula yang cukup besar.

Disana saya berjumpa dengan Bunda Arifah Handayani, pemilik Smart Parenting Group yang inspiratif.

Luar biasa pengalaman saya hari ini. Semoga Allah berikan saya jalan untuk berkarya bersama orang-orang hebat ini.


Lets save our Ciliwung, together!

Saturday, February 28, 2015

Serunya #KelasDongeng bersama Ayo Dongeng Indonesia

Akhirnyaaa hari ini saya bisa ikutan #KelasDongeng kak Ariyo bersama Ayo Dongeng Indonesia.

Sudah lama saya mengikuti kiprah Kak Ariyo di media sosial. Awalnya dikenalkan oleh Irine, salah satu relawan Komunitas Taufan. Kemudian datang langsung melihat kak Ariyo mendongeng di Asean Literature Festival, yang ternyata seru banget. Ternyata kak Ariyo juga sering mendongeng untuk pasien anak di RSCM dan RS Fatmawati. Waahh keren banget yaaa.

Dan hari ini, adalah salah satu dari #KelasDongeng yang dibuat dengan tujuan mengenalkan ilmu Dongeng ke lebih banyak orang karena menurut Kak Ariyo, 'Semua orang pasti bisa mendongeng!'. Kenapaaaa? 'Karena semua orang pasti bisa curhat!', lanjutnya.

Ilmu mendongeng itu mirip dengan ilmu curhat. Dongeng juga merupakan hypnosis. Itulah sebabnya, ceritanya selalu positif dan happy ending.

Yang perlu diperhatikan dari mendongeng, yang pertama adalah Kontak Mata. Awalilah dengan membagi penonton dengan 3 bagian. Pastikan pendongeng memiliki kontak mata ke 3 bagian penonton, yang kanan, tengah dan kiri.

Kedua adalah penguasaan cerita. Pilih cerita yang kita sendiri suka, karena bahasa tubuh kita jadi mengikuti karena kita pun suka. Pilih juga cerita yang sesuai usia anak. Karena attention span anak-anak berbeda mengikuti usianya. Menurut Kak Ariyo, anak usia prasekolah biasanya hanya dapat fokus untuk mendengarkan 3-5 menit cerita. Untuk anak SD kelas 4-6, sudah bisa fokus hingga 20 menit, sedangkan siswa SMP hingga 30 menit.

Yang ketiga adalah suara dan facial expression. Ekspresi kita sangat menentukan cerita yang kita ceritakan.

Terakhir adalah gesture. Meski kita bebas bergerak sesuai dengan cerita yang kita bawakan, hindari bergerak terlalu banyak. Bedakan mendongeng dengan teater. Mendongeng adalah kerja imajinasi, dimana anak dibiarkan berpikir bebas. Tak perlulah kita mengotakkan imajinasi anak dengan berakting seperti cerita yang didongengkan.

Ada 3 kunci dalam mendongeng:
1. Calm
2. Confidence
3. Care

Calm
Menurut Kak Ariyo, anak2 itu belajar dari mendengar dan melihat. Buat mereka merasa nyaman dan tertarik dengan kita hingga mereka mau mendengar dongeng kita.

Bicara dengan suaranya yang cukup, dan dengan tempo yang cukup. Percaya dengan apa yang kita ceritakan, karena anak-anak percaya dengan apa yang kita katakan. Cerita bisa berbelok-belok, atau diselingi dengan kegiatan lain. Namun harus kembali ke alurnya lagi.

Confidence
Menurut kak Ariyo, untuk menjadi pede dalam mendongeng, kita harus perhatikan panca indera.
Siapkan diri kita menjadi nyaman menarik, mengikuti panca indera. Penampilan yang rapih dan bersih agar enak dilihat, wangi, bersuara cukup tidak terlalu kuat atau terlalu pelan.

Care
Selalu perhatikan audience kita. Caranya, perhatikan selalu mata penonton untuk memulai komunikasi. Dari mata turun ke hidung. Kita bisa melihat tingkat ketertarikan penonton dari hidungnya. Kalau hidung didepan badannya kebelakang, berarti anak mulai tertarik. Maksudnya anak sangat suka cerita kita hingga kepalanya maju. Kalau hidungnya sudah mulai mundur, anak sudah mulai bosan.

Dari hidung turun ke mulut. Kunci sukses dongeng kita adalah ketika anak mulai membuka mulutnya terbuka hingga tertawa. Tapi hati-hati bila mulut terbuka berlebihan. Artinya penonton mungkin mulai mengantuk. Dari mulut turun ke dagu. Menopang dagu dengan satu tangan itu berarti tertarik.

Tips yang lain adalah:
1. Berhati-hati dengan pertanyaan
'Siapa yg mau denger dongeng?' atau
'Gimana tadi ceritanya?'. Karena bisa jadi bumerang untuk kita kalau jawabannya tidak sesuai dengan ekspektasi.
2. Hindari cerita yang isi ceritanya bisa ditebak dari judulnya. Contoh: Kelinci pembohong, Monyet yang jahat, dll.
Cerita jadi tidak menarik karena sudah ketahuan dari awalnya.
3. Jangan pernah menyimpulkan cerita atau mendikte Moral of the story pada anak. Setiap anak menangkap cerita dengan persepsinya masing-masing, dan mendikte moral dari cerita sama dengan membodohi anak.
Gunakan kalimat tanya terbuka bila ingin membahas cerita di akhir dengan anak-anak.
4. Mendongeng juga bisa dilakukan dengan cara Read-aloud atau bercerita dgn buku. Perlihatkan dan perkenalkan buku yang akan dibaca pada audience. Gunakan gesture yang baik dan pronounciation yang tepat. Buka mulut lebar-lebar agar tdk salah mengucapkan kalimat. Anak-anak pun belajar dengan melihat gerak bibir dan gesture kita.

Banyak sekali ilmu yang saya dapat hari ini. Rasanya ingin cepat-cepat mempraktikkannya didepan pasien-pasien cilik dampingan Komunitas Taufan.

Setelahnya, tak lupa berfoto untuk #NandaKamuBisa, sebuah kompilasi video berisi foto-foto semangat buat Nanda, pasien Leukimia berusia 14 tahun yang kondisinya sedang drop. Ikutan yuk! Info lengkapnya bisa dilihat di http://www.komunitastaufan.org/nandakamubisa

Terimakasih Kak Ariyo dan teman-temaaan. Sampai ketemu tanggal 4 Maret di #PopUpStoryTelling yaaa

Monday, February 2, 2015

TravelIndonesia #2 Yogyakarta - Borobudur Sunrise trip, Merapi Lava Tour, and around the city



Trip kedua ini adalah giliran Naznin. Karena itinerary terdengar lebih adventurous, saya sudah mempersiapkan sepatu yang lebih kuat, tas backpack multi-fungsi dan tentunya kain gendong jarik super! :D

Kami tiba di Yogya pada siang hari. Untuk kemudahan berjalan-jalan, kami memilih hotel di daerah Malioboro. Dan untuk kesenangan Naznin, kami memilih hotel yang ada kolam renangnya. Pilihan kami jatuh pada Dafam Fortuna hotel, seharga Rp. 360.000/malam. Kamar yang lumayan luas, twin bed, makanan super murah mulai dari Rp. 15.000, kamar mandi dengan rain shower kesukaan Naznin, toilet dengan selang siraman dan bukan pancuran, kolam renang outdoor dengan atap hingga bisa tetap berenang meski hujan. Perfect! Dan Naznin pun menghabiskan hari pertama hanya di kolam renang.


Borobudur Sunrise Trip
Kami tidur awal malam harinya dan memasang alarm pukul 03.00. Pak Supir sudah menunggu kami di lobi pukul 04.00, and off we go to Sunrise trip. Melihat Borobudur ketika sunrise adalah trip favorit wisatawan domestik maupun mancanegara. 

Ada 2 tempat untuk menyaksikan keindahan sunrise dengan harga yang jauh berbeda.

Pertama: Manohara Resort. 
Hotel mewah yang terletak tepat di samping Borobudur ini menawarkan sunrise trip seharga Rp. 250.000 untuk wisatawan domestik dan Rp. 380.000 untuk wisatawan mancanegara. Membaca review yang cukup baik namun antrian cukup panjang; dan mengingat budget kami lebih baik digunakan untuk berbelanja, kami pun mencari alternatif lain.

Kedua: Punthuk Setumbu
Perlu effort lebih untuk memanjat bukit setinggi 400m yang terletak di sebelah barat daya candi Borobudur ini. Namun review menyebutkan bahwa tempat alternatif untuk menikmati Borobudur di waktu sunrise ini sangat diminati wisatawan mancanegara. 

Cukup membayar Rp. 7000 untuk wisatawan lokal, dan Rp. 15.000 untuk wisatawan mancanegara; kami pun mulai menanjak ke puncak bukit. Sayang kami tidak memperhitungkan bahwa malam sebelumnya hujan turun cukup lebat, hingga medan pendakian kami pun cukup licin. Untungnya, tangga yang dibuat untuk naik tidak terlalu curam, dan di setiap kelokan ada tempat beristirahat lengkap dengan kursi dan warung kopi. Saya yang menggendong Naznin di pundak jadi bisa berhenti sejenak meluruskan kaki.

Bule-bule manjatnya cepat sekali. Sementara saya foto saja sampai gemetar begini

Selfie gelap-gelap sambil istirahat di kelokan bukit

Karena habis hujan, jadi sunrisenya tertutup kabut. Namun ujung Borobudur sempat terlihat meski samar

The viewing point. Tempat foto paling favorit

Trek pendakiannya cukup bagus. Kalau kering pasti Naznin bisa mendaki sambil lari-lari

Pukul 06.00 kami kembali menuruni bukit sambil menikmati keindahan pemandangan yang luar biasa di sekeliling bukit. Lega juga karena tidak membayar mahal untuk melihat sunrise yang ternyata tertutup awan dan kabut.

Perjalanan dilanjutkan ke Borobudur. Meski kami tidak kuat memanjat sampai stupa tertinggi. Padahal ingin punya foto seperti Mark Zuckerberg, bos Facebook itu loh. :D

Di hari Sabtu, banyak pelajar yang melakukan studi tour dari berbagai penjuru nusantara. I love Indonesia!

Foto dari bawah cukuplah

Merapi Lava Trail Tour
Dari Borobudur, kami menuju Gunung Merapi untuk melakukan Lava Tour. Kabarnya hari ini ada curahan lahar dingin dari puncak yang seru sekali untuk dilihat. Pukul 10.00 mendung terlihat sudah menggelayut. Dan benar saja, hujan mulai turun setibanya kami di lereng Merapi.

Kami harus menyewa jeep untuk naik keatas gunung. Ada 3 tipe perjalanan yang dapat dipilih:
Trip 1 Rp. 350.000 
Trip 2 Rp. 450.000 Sampai ke rumah relokasi, rumah keluarga alm. Mbah Maridjan dan sampai ke 4km dibawah puncak gunung
Trip 3 Rp. 600.000 paling komplit 
Kami memilih trip ke-2 dengan total perjalanan selama 3 jam.

Jeep terbuka membuat kami basah sepanjang perjalanan. Untungnya ada warung yang menjual baju diatas hingga Naznin bisa ganti baju kering

Sebelum berangkat, kami diminta menggunakan jas hujan karena sudah mulai gerimis. Puluhan jeep sudah mengular untuk naik ke puncak disertai sorakan turis-turis yang terlalu excited. Trek yang dilalui cukup menegangkan, karena berbatu dan cukup berbahaya. Saya jadi agak khawatir membawa Naznin, meski supir jeep kami memastikan bahwa ia akan mengemudi agak perlahan. Kami sempat disoraki jeep-jeep yang memotong dan mendahului kami karena supir berjalan terlalu pelan. Naznin malah tidak terlihat takut sama sekali.

Karena waktu dzuhur sudah tiba, kami memutuskan untuk mampir ke masjid di perumahan relokasi. Lingkungan yang terasa aneh dan membuat bulu kuduk saya merinding. Ditambah tak ada orang sama sekali disana. Rumah keluarga alm. Mbah Maridjan terletak paling ujung di dekat masjid. 

Masjid di lingkungan relokasi
Apik dan bersih
Lingkungan rumah relokasi. Sepiiii sekali

Satu-satunya foto yang saya ambil karena tas dan kamera terbungkus di dalam plastik yang ikut kebasahan

Hujan makin deras ketika kami naik ke puncak. Jalanan mulai tidak beraspal dan goncangan makin terasa kencang. Tiba-tiba, jeep berbelok ke turunan tajam padahal kami tidak melihat ada jalur kendaraan. Pak supir dengan tenang menjelaskan bahwa kami akan dibawa menyusuri sungai tempat aliran lahar dingin di erupsi tahun 2010 silam. Hati saya mulai ciut. 

Saya berpegangan kencang sambil memeluk Naznin erat. Hujan yang makin deras membuat trek makin berbahaya dan licin. Sungai yang kami masuki penuh dengan batu besar. Kami cuma bisa melihat aliran lahar dingin dari jauh karena takut aliran makin kencang. Kabarnya, sebuah truk dan awaknya ada yang terkubur lahar dingin penuh material berat yang tiba-tiba deras dan menghanyutkan mereka. Seram...

Kami parkir dan berteduh sejenak di Museum Sisa Hartaku. Hujan tak kunjung berhenti, hingga pak supir memutuskan untuk meneruskan perjalanan, namun memilih trek yang lebih aman.

Museum sisa hartaku
Image dari sini
Cuma butuh 10 menit untuk awan pas penuh material berat menghanguskan seluruh rumah. Erupsi terjadi pukul 12.05 dini hari di desa bagian atas
Image dari sini
Korban terbanyak menurut pak supir adalah warga di desa bagian bawah gunung Merapi. Karena mereka tidak menyangka erupsi akan sampai ke bawah. Wedhus gembel pun menghanguskan rumah dan penduduknya pukul 12,15 dini hari, 10 menit setelah menghanguskan desa di bagian atas. Korban ditemukan dalam keadaan beku tertutup wedhus masih dalam keadaan beraktifitas. Ada yang sedang berlari, ada yang baru mau keluar rumah, ada yang masih tidur, bahkan ada ibu yang sedang menyusui bayinya...

Kekuatan alam yang luar biasa. 

Kini, Merapi subur kembali dan memberi lebih bagi penduduknya. Material pasir dan batu seperti tak habis meski ratusan kali diambil oleh truk-truk besar yang lalu lalang. Pohon-pohon tumbuh subur bagai lupa akan keganasan yang belum hilang bekasnya dari ingatan penduduk. 

Kami menjumpai Pohon Soga di lereng gunung Merapi. Menurut supir jeep, pohon yang berbentuk seperti cemara ini tadinya tumbuh di puncak gunung. Ketika erupsi, pohon-pohon ini terbawa turun dan kini tumbuh di lereng gunung. Kayu pohon Soga dimanfaatkan oleh penduduk sebagai kayu bakar, dan kulitnya dipakai untuk pewarna batik. Batik yang diwarnai dengan kulit pohon soga dikenal dengan nama Batik Sogan.


City tour
Hari terakhir di Yogya, kami habiskan dengan city tour berkeliling kota. Pagi kami dimulai dengan sarapan Sop Ayam Pak Min Klaten yang melegenda di Jl. Veteran. Kemudian menyebrang ke Jl. Suryotomo karena Naznin ingin bermain burung dara. Dari seluruh rangkaian kegiatan sepertinya dia paling suka berada disini :D

Main burung dara di seberang Soto Pak Min Klaten

Perjalanan dilanjutkan ke Kota Gede untuk menyaksikan pembuatan perhiasan perak. Kemudian berhenti sebentar untuk naik delman.

Pekerjaan yang sangat detail dan cantik. Sayang harga perak sedang melambung hingga harga perhiasan jadi mahal

Naik delman istimewa ku duduk dimuka

Selanjutnya kami beranjak ke keraton. Wisata wajib jika jalan-jalan ke Yogya. Pukul 10.00 ada kegiatan membatik di seberang keraton. Tentu setelahnya akan ditawari lukisan batik dengan harga cukup mahal. Tolak dengan tegas namun halus bila tidak ingin membeli.

Lambang keraton Yogyakarta



Gasing

Membatik di seberang keraton

Sebelum beranjak ke airport kami menyempatkan diri untuk berfoto di Prambanan dan berbelanja. Saya lebih suka berbelanja disini daripada di jalan Malioboro. Banyak sekali toko souvenir di sepanjang jalan keluar Prambanan, dimana saya bisa membeli banyak oleh-oleh dengan harga murah dan kualitas mumpuni.

Gantungan kunci candi, dan bros bisa didapatkan dengan harga Rp. 1000 saja. Kemeja batik seharga Rp. 35.000, daster Rp. 20.000, kaos dari Rp. 12.000 - 25.000, tas batik perca Rp. 15.000. Ada juga ukiran kayu, kendi tanah liat, dan tentunya ulekan batu yang fenomenal untuk mengulek sambal :)





Toko souvenir murah

We had great time in Yogya. Next trip kemana lagi yaaaa?

-------------

Dafam Fortuna Hotel
Jalan Dagen No. 60, Yogyakarta
0274-6429888

Sewa mobil 
Rp. 400.000/12 jam all in. Overtime Rp. 50.000/jam.
Contact: 0878-4565-8103

Kaliurang Adventure Merapi Lava Tour
Contact: 0813-9218-8771 (Wanto)

Tiket masuk Borobudur
Rp. 30.000 (domestik)
Rp. 250.000 (foreigner)

Tiket masuk Prambanan
Rp. 20.000 (lokal)
Rp. 135.000 (foreigner)

Naik delman
Rp. 40.000

Masuk keraton
Rp. 5000 (lokal)
Rp. 15.000 (foreigner)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...