Monday, November 10, 2014

TravelIndonesia #1 - Petualangan Goa Pindul, lompat tebing di Kali Oyo dan menonton Ramayana di Prambanan

Pak Hussain paling malas diajak travel. Susah sekali menjadwalkan waktu traveling bersama keluarga, sekalipun pulang kampung.

Maka, proyek travel around Indonesia akan saya mulai. Bukan sendiri, tapi bersama Mikail dan Naznin yang jadwalnya diselang-seling tiap dua bulan.

Travel Indonesia pertama saya adalah ke Yogya bersama Mikail, 2 sahabat saya dan istrinya masing-masing. Tujuannya adalah Gunung Kidul di pagi hari dan Candi Prambanan di sore harinya. Maklum, hari efektifnya hanya Sabtu. Mengingat tuan rumah sekaligus travel guidenya adalah Bapak dari 3 orang anak! 

Setelah menginap di rumah teman saya di Solo Jumat malamnya, pagi hari kami sudah siap pukul 7 untuk memulai perjalanan 2 jam 30 menit ke Gunung Kidul. Beruntung kami punya banyak snack, dan bantal di mobil SUV teman saya yang penuh anak tak sabaran sepanjang jalan :D

Water tubing, bertualang menyusuri Goa Pindul dan Kali Oyo

Goa Pindul berada di desa Bejiharjo, Wonosari.
Kalau dari Yogyakarta – Jalan Raya Wonosari – Piyungan – Bukit Patuk – Hutan Bunder – Jalan Raya Wonosari (Patuk-Playen) – Lapangan Gading – Pertigaan lampu merah ambil jalan ke kiri (lurus) - Jalan Raya Wonosari (Playen-Wonosari  ambil menuju kota Wonosari) – Bundaran Siyono (Perempatan yang ada air mancur ditengahnya) ambil arah ke kiri – Ikuti jalan aspal yang lebar (ada pertigaan belokan ambil kanan) – lurus hingga lampu merah – Perempatan lampu merah lurus – Ada pertigaan yang sebelah kiri ada gerbang Desa Bejiharjo belok kiri – Ikuti jalan aspal terus hingga sampai lokasi yang banyak terdapat tulisan Pindhul/Pindul. (sumber dari blog disini)

Sampai di gerbang desa Bejiharjo, kami dihampiri pemuda bermotor yang mengajak bicara. Parno ditipu orang di Jakarta, kami mengacuhkan saja. Ternyata si pemuda menawarkan jasa mengantarkan ke Goa Pindul langsung ke agen wisata yang kita mau. Gratis!! Kebetulan teman saya sudah membuat reservasi di Wira Wisata. Dan sampailah kami disana diantar pemuda bermotor baik hati yang menempuh sekitar 2 km menemani kami.

Perjalanan dimulai dengan pendaftaran dan pembayaran. Alangkah lebih baik bila membuat reservasi sebelumnya. Karena saking terkenalnya, dalam dua tahun terakhir ini pengunjung Goa Pindul meningkat drastis. Agen wisatanya pun cukup banyak. Hingga antrian masuk kesana mengular panjang. Goa Pindul dibuka dari pukul 07.00 - 17.00.

Setelah menitipkan barang, kami dibawa ke tempat peminjaman pelampung dan sepatu karet. Semuanya basah, tapi ga perlu khawatir. Nanti kita pasti juga basah, kan?

Bebas pilih pelampung dan sepatu karet. Ukuran sepatu lengkap berjajar di rak dari ukuran 38
Tiket masuk ke Goa Pindul dan Kali Oyo hanya 80.000 per orang. Saya dan Mikail memutuskan untuk duduk berdua di ban besar yang disebut tube itu. Jadi kami hanya membayar untuk satu orang saja. Belakangan, kami merasa sangat beruntung, karena di perjalanan banyak sekali tube extra yang akhirnya Mikail pun mencoba duduk di tube sendirian. Kami juga menyewa jasa fotografer yang bertugas mengikuti dan mengambil gambar kami sepanjang perjalanan, dengan tambahan biaya sebesar Rp. 200.000.

Perjalanan dimulai dengan berjalan menuruni tangga ke mulut goa. Kami dikejutkan oleh antrian pengunjung yang sudah siap di tube masing-masing, menunggu giliran ditarik ke dalam goa. Sungai sepanjang goa tidak berarus, hingga pemandu wisata harus menarik rangkaian tube yang tiap pengunjungnya saling berpegangan di tali tube tetangga sebelahnya. Mau tak mau, pertemanan antar grup sesama agen wisata pasti terjadi.

Pemandangan ketika memasuki mulut Goa Pindul. Cendol, kalau kata pemandu wisata kami
Perjalanan menyusuri goa sepanjang 360 meter memakan waktu kurang lebih 45 menit. Pemandu wisata bersahut-sahutan menjelaskan setiap batu di goa, sambil sesekali tube terhenti menunggu giliran maju. Pemandangan stalagtit dan stalagmit yang baru pertama kami lihat benar-benar mengesankan. Mikail berkali-kali berteriak seru menunjuk batu yang membuatnya kagum. Pemandu wisata mengingatkan kami agar tidak berteriak karena akan menimbulkan gema di dinding goa.

Memasuki goa

Stalagtit dan stalagmit yang sangat dekat ini membuat semua tergoda untuk menyentuh dan merasakan teksturnya. Sayang pemandu wisata tidak membuat pengumuman agar wisatawan tidak menyentuhnya. Padahal menurut fotografer kami, stalagtit aktif adalah yang masih meneteskan air. Bila disentuh tangan manusia yang mengandung asam, maka dia tak lagi aktif. Sementara, stalagtit dan stalagmit termuda disana berusia 150 tahun.

Stalagtit aktif

Perlu ribuan tahun untuk stalgtit bertemu dengan stalagmit dan menciptakan tiang besar ini

Yang paling seru menurut Mikail di dalam goa adalah melihat batu kristal yang berkilauan disinari senter, batu gong yang berbunyi kencang ketika dipukul, dan sarang kelelawar kecil pemakan serangga yang bergelantungan tepat di kepala kami.

Stalagtit ini sangat dekat hingga hampir menabrak kami

Keluarga kelelawar sedang beristirahat

Cahaya matahari menerangi goa. Indahnyaaa

Keluar dari goa, kami diajak menaiki tangga dan menumpang mobil bak terbuka menuju Kali Oyo. Perjalanan ini seru sekali buat kami. Bagai anak SMA yang tak punya ongkos pulang! :D

Keluar Goa Pindul
Menuju Kali Oyo

Tumpangan kami berhenti di perkebunan Kayu Putih. Beneran! Daun kayu putih yang berbau persis seperti minyak botol hijau itu. Teman kami yang kegirangan sampai memetik beberapa batang untuk dibawa pulang.

Berpose di perkebunan Kayu Putih
Menuruni jalan setapak ke kali cukup menegangkan untuk mak-mak berbadan tambun seperti saya. Tapi buat Mikail, medan curam berbatu itu bagai tempat bermain yang sangat seru. Jangan khawatir membawa toddler, pemandu wisata yang cukup banyak bersedia memegangi anak kita sementara kita berjuang berjalan hati-hati ke mulut sungai.

Menuruni jalan setapak ke Kali Oyo

Bulan kemarau ini Kali Oyo surut airnya, hingga arus sungai tak seberapa deras. Beberapa menit perjalanan yang membuat ban yang kami naiki mulai terasa panas terbakar matahari tengah hari, kami semua memutuskan untuk berenang menyusuri kali. Saya sendiri sebenarnya jatuh ke dalam kali, bukan sengaja berenang :D

Indahnya Kali Oyo dan dinding batunya yang cantik
Air terjun Kali Oyo, yang kalau musim hujan lebih banyak dan lebih seru

















Menurut Mikail yang paling seru di Kali Oyo adalah lompat dari tebing setinggi 5 meter. Kata teman saya, biasanya ada jembatan di dekat tebing itu sehingga melompat jadi lebih aman. Namun kali ini tidak ada, hingga lompatnya harus dari tebing. Diantara kami semua, ternyata cuma Mikail yang punya nyali untuk memanjat keatas dan lompat bebas.

Lompat dari tebing 5 meter. Ada juga yang 10 meter, cuma 2 orang yang berani naik

Perjalanan sepanjang 1,5 meter kali Oyo kami nikmati sampai puas hingga ujungnya. Kalau diteruskan, kata fotografer kami, bisa sampai Parang Tritis!

Setelah puas dari Kali Oyo, semua pengunjung disuguhkan oleh makanan dan minuman yang hangat dan nikmat. Lumayan menghibur perut keroncongan kami. Semua yang dimakan tinggal lapor ke pemilik warung dengan nama yang didaftarkan di awal pendaftaran tadi. Pembayaran akan ditagih di saat mengambil barang titipan.

Rebutan karena kelaparan
Tempat bilas cukup banyak dan semuanya bersih. Musholanya pun terawat dan wangi.Sembari bersiap-siap pulang, pengunjung dihibur oleh gamelan dan air jahe panas gratis dari agen wisata.

Menonton sendra tari Ramayana di Candi Prambanan 

Pagelaran sendra tari spektakukar dengan cerita bertema Ramayana di pekarangan Candi Prambanan diadakan setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu pukul 19.30 - 21.30

Kata teman saya, dia jadi membayangkan Hanoman memakai tutu ketika melihat judul ini


Berpose dengan Sri Rama, Dewi Sita, dan Hanoman

Paling seru adalah acara bakar-bakaran kerajaan Alengka. Syukurin! kata Mikail :D

Maju ke railing buat lihat lebih jelas. Malam itu full-house penontonnya tapi tak berdesakan sama sekali

Menurut penjual tiket, hampir setiap pertunjukan, semua tiket habis terjual. Teman saya sendiri pernah datang dan kehabisan tiket. Sebaiknya menelpon dulu untuk reservasi sebelum datang agar tidak kehabisan tiket.

Ada 3 kelas yang bisa dipilih oleh penonton. VIP di bagian tengah dengan kursi lebih nyaman. Kelas 1 di bagian depan kanan dan kiri. Dan kelas 2 di sebelah kanan dan kiri.



Teater outdoor yang terawat, tempat hang-out yang cantik di pelataran sekitar teater, toilet yang banyak dan bersih, membuat pengalaman pertama saya menikmati pertunjukan ini menjadi luar biasa.

Puas sekali rasanya hari itu. Mikail dan saya menikmati setiap momen santai tanpa jadwal ketat. Menghabiskan weekend bagai dua orang dewasa yang sedang berlibur bersama. One kid at a time :)

Let the Travel Indonesia project continues.

WiraWisata Goa Pindul
Gelaran II, Bejiharjo, KarangMojo, Gunung Kidul, DIY
Email: wirawisatajogja@gmail.com
Facebook: Wirawisata Goa Pindul
Website: www.goapinduljogja.com
Haris Purnawan 085 9596 56561
Chello Photography 081 904 272 678

Ramayana Sendra Tari Candi Prambanan
Jalan raya Jojga-Solo Km. 16, Prambanan, Jogja
Reservasi: 0274-497771 / 496408
Website: Wonderful Indonesia

Sunday, November 2, 2014

Sebuah inspirasi bernama Chandra...

Jumat malam, Bu Yanie pendiri Komunitas Taufan meminta saya untuk menggantikannya. Melakukan #HomeVisit di Sabtu pagi, sebagai aktifitas rutin mingguan.

Sebagai relawan Komunitas Taufan, saya sudah memantapkan hati untuk meluangkan waktu kapan saja Bu Yanie membutuhkan bantuan saya.

Tugas #HomeVisit kali ini adalah mengunjungi Puput. Remaja perempuan berusia 16 tahun, penderita Osteosarcoma atau kanker tulang.

Gang rumah Puput, kawasan Jatinegara yang selalu banjir

Dibanding kanker mengerikan lain - seperti Leukimia atau Retinoblastoma (nama lain kanker retina dimana penderitanya, yang kebanyakan balita, harus rela matanya diambil satu bahkan keduanya) - penderita osteosarcoma lebih besar kemungkinannya untuk selamat. Meski, cukup banyak juga pasien dampingan Bu Yanie yang akhirnya meninggal, kebanyakan karena penanganan terlambat, atau pasien yang tidak disiplin menjalani proses pengobatan dan kemoterapi.

Yang membuat kasus Puput lebih rumit adalah karena anak ini memutuskan untuk tidak melanjutkan pengobatan. Memilih menyerah pada maut.

Pasalnya, setelah 2 siklus kemoterapi yang gagal, dokter melihat keganasan sel kanker yang makin tinggi hingga diputuskan bahwa amputasi adalah jalan satu-satunya. Puput depresi...

Sabtu pagi itu, atas saran Bu Yanie, saya menemani seorang teman pasien yang selamat dari penyakit serupa tahun lalu. Tujuannya jelas, untuk menyemangati Puput. Dan seorang teman pasien itu adalah Chandra.

Ketika kami datang, sekitar pukul 11, Puput belum bangun. Ibunya berkali-kali minta maaf, menjelaskan bahwa anak tengahnya itu tak tidur hingga subuh karena kaki kirinya yang kini membengkak 4x lipat, terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Dan, berkali-kali juga kami melempar senyum sambil menenangkan sang ibu. Bahwa kami hanya datang berkunjung, tak perlu dibangunkan.

Chandra mengisi ketidaknyamanan dengan cerita sakitnya sejak 2012. Awalnya ketika jatuh bermain bola, lututnya menghantam gawang besi hingga memar. Beberapa minggu kemudian timbul memar hingga diurut.

Chandra sebelum amputasi

Karena memar tak kunjung hilang, ibu Chandra membawanya ke dokter, yang memintanya untuk melakukan biopsi di RSCM. Dan benar saja, vonis penderita kanker pun langsung disandangnya.

Sama seperti Puput, ketika dokter pertama kali memintanya untuk amputasi, Chandra mengamuk habis-habisan. Keluarganya pun, ikut-ikutan mengamuk. Menyalahkan dokter yang sembarangan bermain dengan takdir anak kesayangan. Tak sadar bahwa Yang Kuasa memang menuliskan demikian.
Kaki yang makin membengkak, dan kemoterapi yang berkali-kali gagal tak jua membuat Chandra menyerahkan kaki kanannya.

Lebih baik aku mati!


Hingga ketika siklus kemoterapi selesai dan Chandra diberi waktu pulang. Pangkal pahanya terasa lepas, tak kuasa lagi menahan berat kaki kanan yang kini beratnya sudah hampir seberat tubuhnya sendiri. Dan ia menyerah.

Pak Liknya menceritakan rasa getir campur tak rela ketika menurunkan kaki Chandra setelah operasi, ke liang lahat. Merinding saya dibuatnya.

Kini, setahun setelah kehilangan kaki kanannya. Setelah beradaptasi dengan kaki barunya, Chandra punya 22 anak didik. 

Pencinta bola itu menjadi pelatih bola. Melatih anak usia SD teknik bola dalam sebuah klub yang berkali-kali menyandang gelar juara.

Chandra melatih tim bola U-10

Mengagumkan!!

Atas bantuan Metro TV, Chandra dihubungkan denganPak Sugeng. Sang pembuat kaki palsu, yang pernah tampil di acara Kick Andy.

Air mata haru berebut keluar dari kelopak mata saya yang mulai menghangat. Sayangnya, hingga kami pamit pulang, Puput masih tergolek membelakangi kami. Saya yakin, dia dengar semua pembicaraan kami. Kami pasrah. Hanya doa yang mengiringi -semoga Allah, Sang Maha Pembolakbalik hati manusia - membukakan hati remaja cantik ini untuk memilih jalan terbaik.

Ayah Puput menyalami Chandra dan saya sambil berkali-kali mengucap terimakasih. Betapa harapnya tinggi untuk kesembuhan bunga keduanya yang tengah mekar bersemi. Biarlah Puput yang menentukan hidupnya. Semoga ia memilih yang terbaik untuk dirinya, untuk masa depannya...untuk ibunya.

Karena pada nyawa seorang anak, ada sepotong hati seorang ibu juga.


Chandra bersama Ayah Puput

Wednesday, October 15, 2014

Hidup di Jakarta itu keras, Bung! Yakin tak mau punya asuransi?

DITOLAK! 

Tahun 2012, adik saya mengalami keguguran hingga harus dirawat di Rumah Sakit, namun suaminya terduduk lemas ketika mengetahui tagihan rumah sakitnya tidak bisa di claim ke asuransi yang dibayarnya tiap bulan. Hampir menangis dia menceritakannya kesulitannya tengah malam buta pada saya. Betapa dia yang baru memulai bisnis konfeksinya di Bandung, tidak punya tabungan apapun untuk membayar tagihan rumah sakit yang tak tergapai pendapatan bulanannya.

Keluarga kami akhirnya masing-masing memecahkan celengan untuk membayar tagihan rumah sakit adik saya. Pasrah, adik ipar saya semata wayang itu hanya bisa meredam ego, menerima puluhan juta yang terkumpul dari keluarga yang bukan darh dagingnya, untuk menebus kekalahannya. Rela menanggung malu, tak dapat melindungi istrinya sendiri karena kurang perencanaan.

Sejak saat itu saya meragukan asuransi. Selain konsepnya yang menurut saya seperti ‘menabung’ namun kita tak dapat melihat kemana uangnya dikembangkan. Selain itu juga muncul ketakutan ‘menitipkan’ uang yang ditabungkan setiap bulannya kepada suatu lembaga atau perusahaan yang kita tak tahu bila-bila masa dia tutup usia. Bagaimana kalau ketika kita memerlukan asuransi tersebut, malah ditolak mentah-mentah. Persis seperti kejadian yang menimpa adik saya.

Sebulan setelah kejadian adik saya, buru-buru saya menghubungi sales person asuransi yang memang sama dengan kepunyaan adik saya. Langsung saya hentikan semuanya. Meski yang saya dapatkan jauh dari apa yang saya tabung, saya tidak berpikir panjang. Yang penting saya tidak perlu menabung berbulan-bulan tanpa hasil yang jelas.

Belakangan, beberapa teman yang memiliki asuransi kesehatan mulai menyadarkan saya. Ketika saya menceritakan asuransi yang saya tutup, pertanyaan mereka satu: Apa kamu sudah baca polisnya??

Yak, ternyata saya buta asuransi. Saya tak paham apa yang dituliskan di polis tebal yang hanya tersimpan rapih di lemari. Pun, saya tak pernah perhatikan penyakit apa saja yang ditanggung oleh asuransi yang saya bayarkan. 

Belum lagi cerita-cerita menggiurkan teman-teman yang ketika rawat inap hanya melenggang masuk dan keluar rumah sakit dengan santai. Yang lain sudah diurus asuransi. Pasti ada yang salah. Tapi, masa iya salah saya?

Teman-teman saya tergelak melihat kebingungan saya. Dari merekalah, akhirnya mata saya terbuka untuk belajar lebih banyak tentang asuransi kesehatan.  Berapa yang ditanggung per hari, kamar apa yang didapat dengan polis yang saya bayarkan, dan penyakit apa saja yang ditanggung oleh asuransi pilihan saya.

Ada teman yang ditertawakan ketika membuka asuransi jiwa yang manfaatnya untuk suaminya. Ih kebalik atuh! Istri kan bukan pencari rezeki. Kalau istri meninggal, suaminya masih bisa kerja. Nah kalau suaminya yang meninggal, istrinya tak bekerja, mau makan apa?



Intinya, pelajari dulu manfaat yang ditawarkan masing-masing asuransi di tangan Anda. Pilih yang sesuai dengan kebutuhan keluarga, apakah untuk diri sendiri, untuk si kecil yang mudah terserang kuman atau orangtua kita yang kemungkinannya lebih besar untuk terkena penyakit.

Seperti manfaat yang ditawarkan oleh asuransi kesehatan Allianz yang bernama 'Allisya Care'. Asuransi kesehatan berbasis syariah yang menjawab dua ketakutan saya. Pertama, dana yang dikumpulkan jelas dikelola dengan metode syariah, tak perlulah gundah memikirkan halal-haramnya. Kedua, asuransi ini tepat untuk 'MahMud' atau mamah muda seperti saya, karena mengcover biaya rawat inap, rawat jalan, biaya obat selama masa perawatan, bahkan biaya melahirkan. 

Ini yang saya cari!

Belakangan juga baru saya pelajari bahwa claim adik saya ditolak asuransi karena memang asuransi yang dia pilih tidak mengcover apa yang dia butuhkan. Meskipun menjalani rawat inap berhari-hari, dan melakukan operasi besar, tetap vonisnya sama; DITOLAK! Adik saya salah pilih asuransi.


Jadi pandai-pandailah mencari asuransi sesuai kebutuhan kita. Karena, hidup di Jakarta itu keras, Bung! Yakin tak mau punya asuransi?

Tuesday, April 29, 2014

Surga dunia yang dekat dari rumah, Pulau Harapan, Kep. Seribu

Sudah cukup lama saya kenal Backpacking Trip Organizer, BlaxRax. Organizer ini banyak sekali mengadakan trip dan semua teman yang pernah ikut tripnya puas. Berarti bagus dong? 

Sayang kebanyakan trip BlazRax hanya sekitaran Yogya-Malang-Bromo yang menurut saya masih cukup jauh dan agak susah meninggalkan anak-anak lebih dari 2 malam.

Jadi, ketika BlaxRax tiba-tiba Broadcast trip ke Pulau Seribu yang cuma semalam, dengan harga luar biasa miring, langsung saya balas dengan tunjuk jari! I'm in!

Meski belum bilang Pak Hussain saya sudah mendaftar untuk 2 orang hehehe. Untungnya, Pak Hussain setuju, plus Om saya yang funky dari Pekanbaru juga ingin ikut. Ibu saya jadi lega, mengingat saya dan Pak Hussain sama-sama teledor, jadi cukup mengkhawatirkan bagi ibu saya memikirkannya :p

Perjalanan tanggal 26-27 April 2014 dimulai jam 5 subuh. Kami harus tiba di Muara Angke paling lambat jam 6.30 pagi, karena perahu bertolak jam 7.00 tepat. Kami yang sudah tergopoh-gopoh takut terlambat, tiba jam 6.49, nyatanya meski menunggu di kapal cukup lama juga. Yah namanya Indonesia...

Kapal ferry besar dari Muara Angke ke Pulau Harapan dan pulau-pulau lainnya hanya ada di hari Sabtu untuk para wisatawan. Di hari lain, hanya ada perahu tongkang biasa untuk transportasi warga pulau Seribu bolak-balik ke Jakarta. Harga tiket one-way Jakarta-Pulau Harapan adalah Rp. 40.000/orang saja.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Kapal ferry sangat penuh isinya bisa sampai 350 orang. Jadi sedialah snek dan minuman yang bisa dicemil di kapal. Kalau perlu bawa alas tidur yang ringan dan bantal tipis, agar bisa tidur-tiduran dulu di kapal karena cukup membosankan.

Selain kapal ferry, trip ke Pulau Harapan juga bisa ditempuh dari dermaga Ancol dengan speedboat milik Predator seharga Rp. 225.000/orang one way. Bagi yang berbudget lebih, bolehlah memilih trip yang lebih mahal, karena kenyamanannya sebanding dan perjalanannya cukup 1 jam saja!

Dan setelah 3 jam terombang-ambing di laut sambil mendengarkan lagu-lagu berbeda yang bersahutan dari handphone penumpang, akhirnya pulau Harapan terlihat juga. Waaaahhhhh! Hati saya berteriak girang. Bagus banget!!!

Pulau Harapan dari jauh. Mirip Maldives!


Pak Hussain bergaya hehehe

Pulau Harapan ini berdampingan dengan pulau Kelapa. Pulaunya cukup kecil untuk dikelilingi berjalan kaki. Besarnya kira-kira 7 hektar dan berpenduduk 2.200 jiwa saja. Penduduk Pulau Harapan sudah biasa kedatangan wisatawan setiap minggunya. Mereka sangat ramah dan suka membantu. Rasanya seperti di rumah sendiri yang tetangganya baik-baik semua. Pulaunya bersih meski di sudut belakang pulau masih bertebaran sampah. Overall, pulaunya cantik dan bersih.


Kedatangan wisatawan disambut oleh anak-anak Pulau Harapan

Foto aku dong Kakak, katanya

Semua yang diperlukan di trip sudah diatur oleh Mas Nico dari tim BlaxRax. 12 orang rombongan kami langsung diajak ke homestay untuk istirahat dan makan siang. Homestay kami punya 4 rumah yang di dalamnya terdapat 2 kamar. Karena perempuannya lebih banyak, dan lelakinya hanya 3, akhirnya kamarnya dipakai perempuan semua, dan lelakinya tidur di luar. Maaf ya Pak Hussain.

Menu makanannya didominasi oleh ikan yang divariasikan cara memasaknya, sup atau sayur asem, sambal dan kerupuk. Mantap mengisi perut yang keroncongan setiap habis main air.


Homestay kami, dekat dari dermaga utama

Enaknya hidup di pulau. Santai saja...

Setelah makan siang dan sholat dzuhur, jam 13.00 Mas Nico sudah mengajak kami berpetualang. Kapal sewaan khusus untuk rombongan kami sudah menunggu du dermaga utama. Jika wisatawan mau datang sendiri, kapal bisa disewa dari jam 8.00 - 16.00 seharga Rp. 400.000.

Itinerary siang sampai sore ini adalah snorkeling di laut lepas, dan Island Hopping atau berkunjung ke pulau-pulau sekitar. Perlu diketahui, trip yang dilakukan semua wisatawan lain, atau kira-kira 350 orang penumpang kapal yang datang bersamaan dengan kami, adalah sama. Jadi trip organizer semacam bergantian mendatangi pulau-pulau tersebut. Kadang, pulau bisa menjadi sangat ramai. Tapi, liburan kan tambah seru kalau tambah ramai, ya!

Kami melihat keluarga lumba-lumba dalam perjalanan
Alat snorkeling yaitu masker, dan fin sudah disiapkan lengkap oleh tim BlaxRax. Langsung nyebur! Kalau malas, kita bisa berenang sambil berpegangan pada tali perahu, dan mencelupkan wajah saja ke laut. Semua ikan kecil terlihat jelas berenang-renang mengitari karang. Jangan lupa bawa roti yang bisa dilepar ke laut. Ikan jadi tambah banyak yang datang. Dokumentasi underwater juga sudah disiapkan oleh BlaxRax. Mas Roy, pemandu wisata kita dari Pulau Harapan siap dipanggil untuk mengabadikan pengalaman bawah laut rombongan kita. Kasian juga dia dipanggil terus-terusan, setiap orang ingin difoto hehehe.

Mas Roy, bukan Mas Boy :p

Kapal-kapal berhenti di spot snorkeling yang biasa dituju

Banyak banget ikannya
Bergaya bersama Pak Hussain di dalam laut

Setelah snorkeling, kami dibawa mengunjungi Pulau Dolphin untuk bersantai karena disana ada warungnya. Kopi, gorengan dan Indomie langsung diserbu wisatawan yang kelaparan. Inilah enaknya Indonesia. Dimana-mana ada penjual gorengan hehehe.

Puas bermain pasir putih dan berenang di Pulau Dolphin, kami diajak ke Pulau Perak untuk bermain pasir lagi. Agenda hari ini harus puas berenang dan main pasir lah. Jangan lupa pakai sunblock yaaa.

Bergaya di Pulau Dolphin dengan pasir putihnya

Dari Pulau Perak, kami dibawa ke Pulau Gosong. Pulau ini sebenarnya hanya sandbank atau gundukan pasir. Sandbank ini hilang disaat high-tide sehingga kalau ingin melihat pulau ini sebaiknya bergegas sebelum jam 4 sore. Ajaibnya, di pulau kecil ini pun ada warung kopi hahaha. Luar biasa!!

Pulau Gosong. Ada warung di tengahnya. Sandbank ini hilang jam 4 sore
Setelah puas berfoto di Pulau Gosong, kami pun kembali ke Pulau Harapan. Yang masih belum puas, bisa main Banana Boat dengan harga Rp. 35.000/orang saja! Trip Banana Boat cukup jauh sampai ke Pulau Bulat, kira-kira 30 menit perjalanan pulang pergi.

Banana Boat
Malamnya, di Dermaga utama ada performance Dangdut. Ada Raja sawer yang baik hati melempar-lempar duit. Jadi kalau niat dapat uang lebih, lumayanlah berdiri di depan panggung hehehe.

Ikan, sosis, dan jagung bakar gratis untuk seluruh wisatawan di dermaga utama mulai jam 21.00. Makan sampai puasssss!

Keesokan harinya jam 5 subuh, Mas Nico sudah mengajak kami jogging keliling pulau Harapan. Hunting sunset, katanya. Kami berjalan sampai ke belakang pulau, and it is worth the walk!

Mangrove plants di pesisir pulau Harapan

Indahnya sunrise

Bapak-bapak memancing

Official becak for World Cup 2014

Styrofoam pun bisa jadi perahu
Kami memilih tidak mandi setelah jogging, karena akan tamasya lagi ke Pulau Bulat dan Pulau Kelapa Dua untuk melihat penangkaran Penyu. Tapi sarapan dulu dooong.

Pulau Bulat. Punya Pak Harto

Penangkaran Penyu di Pulau Kelapa Dua. Harga tiket masuknya cuma seribu perak

Penyu remaja. Berat juga loh!
Dan berakhirlah liburan kami di Pulau Harapan. Ternyata dua hari berjalan begitu cepat di pulau indah ini. Saya langsung bertanya ke Mas Nico, 'Kapan next tripnya BlaxRax, Mas?'. Hehehehe pelanggan puas kan pasti minta lagi dooong.

Yang pijet yang pijetttt
BlaxRax Trip Organizer 
www.blaxraxtrip.com
PIN BB:26DA87D6
Mas Nico:081288010192

Saturday, April 27, 2013

RESEP: Kue Khamir istimewa

Kamis lalu, saya mengajak anak-anak Fun House untuk membuat kue khamir bersama-sama. Kue ini memang hits sekali di daerah Condet. Dimana-mana banyak sekali penjual kue ini bertebaran. Namun harganya juga lumayan, satunya berkisar antara Rp. 1500 - 2000.

Ternyata cara membuatnya sangat mudah. Yang kami pikir adonannya harus didiamkan selama 6 jam, ternyata sudah mengembang dalam 20 menit saja. Menggorengnya pun tidak sulit, asal apinya kecil, minyaknya cukup, dan sering dibalik agar matangnya pas.



Tips ketika menggoreng: Gunakan tusuk sate ketika membalik adonan kue. Tusuk-tusuk dengan cepat kue ketika mulai coklat. Tusuk dengan cepat atau kue bisa pecah. Gunakan tusuk sate untuk menusuk sambil membalik kue. Tambahkan minyak goreng bila perlu.

Bahan: (diambil dari sajiansedap.com, untuk 15-18 porsi)
250 gram tepung terigu
100 gram gula pasir
1 sdt ragi instan (Fermipan)
150 gram tape singkong
175 ml air
25 gram margarin (Blue Band) yang dipanaskan sampai cair

Cara membuat:
Campur tepung, gulam dan ragi instan. Aduk rata. Tambahkan tape, dan kocok dengan mixer spiral sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit
Masukkan margarin, kocok kembali sampai adonan rata dan terlihat licin.
Diamkan 20 menit.
Panaskan penggorengan cetakan dan beri minyak satu persatu. Goreng adonan kue sampai berubah warna, balik dengan tusuk gigi dan goreng kembali sampai berwarna kecoklatan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...