Saturday, April 27, 2013

RESEP: Kue Khamir istimewa

Kamis lalu, saya mengajak anak-anak Fun House untuk membuat kue khamir bersama-sama. Kue ini memang hits sekali di daerah Condet. Dimana-mana banyak sekali penjual kue ini bertebaran. Namun harganya juga lumayan, satunya berkisar antara Rp. 1500 - 2000.

Ternyata cara membuatnya sangat mudah. Yang kami pikir adonannya harus didiamkan selama 6 jam, ternyata sudah mengembang dalam 20 menit saja. Menggorengnya pun tidak sulit, asal apinya kecil, minyaknya cukup, dan sering dibalik agar matangnya pas.



Tips ketika menggoreng: Gunakan tusuk sate ketika membalik adonan kue. Tusuk-tusuk dengan cepat kue ketika mulai coklat. Tusuk dengan cepat atau kue bisa pecah. Gunakan tusuk sate untuk menusuk sambil membalik kue. Tambahkan minyak goreng bila perlu.

Bahan: (diambil dari sajiansedap.com, untuk 15-18 porsi)
250 gram tepung terigu
100 gram gula pasir
1 sdt ragi instan (Fermipan)
150 gram tape singkong
175 ml air
25 gram margarin (Blue Band) yang dipanaskan sampai cair

Cara membuat:
Campur tepung, gulam dan ragi instan. Aduk rata. Tambahkan tape, dan kocok dengan mixer spiral sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit
Masukkan margarin, kocok kembali sampai adonan rata dan terlihat licin.
Diamkan 20 menit.
Panaskan penggorengan cetakan dan beri minyak satu persatu. Goreng adonan kue sampai berubah warna, balik dengan tusuk gigi dan goreng kembali sampai berwarna kecoklatan.

Sunday, April 14, 2013

Paper City - Great way to play, your way!

Hari Sabtu kemarin, seorang sahabat ingin datang mengunjungi anak-anak di kelas Fun House yang saya bina. Beliau ingin sharing mengenai profesinya sebagai seorang Event Organizer. Idenya adalah membuka wawasan anak-anak, bahwa pekerjaan tidak sebatas kerja kantoran, or worst penjaga kios. Duani ini luas, dan kesempatan di dalamnya pun tak terbatas...

Saya memutar otak untuk membuat games yang berhubungan dengan profesi sahabat saya ini. Mengenai penyelenggaraan event. Dan yang terpikir oleh saya saat itu adalah kompetisi 'pitching' ide untuk event ulang tahun. Pastilah seru.

Timbullah ide untuk meminta anak-anak untuk mendesain gaun sebagai permainan utamanya. Setelah browsing berbagai paper doll yang paling tepat, tiba-tiba saya menemukan website Made by Joel yang luar biasa canggih.

Paper city! Sebuah ide cemerlang dari pria bernama Joel ini, yang membuat desain kota Paris dari kertas. Yes, dan ide aktifitas untuk hari itu pun mengalir dengan indahnya.

Image dari sini

Dari paper city ini, akhirnya saya membuat permainan mendekor ruangan, mendekor tema pesta ulang tahun sampai kostum para undangan pesta. Setelahnya, anak-anak diminta untuk mempresentasikan hasil design mereka kepada para juri, persis seperti pitching EO kepada client.

Presentasi ide design anak per grup

Contoh design dekor, gaun, dan kostum undangan

Anak-anak mendapat pengetahuan baru hari itu, belajar berbicara di depan umum, dan merasakan langsung kehidupan pekerjaan seorang EP di kehidupan nyata.

As for paper city, ia adalah ide cemerlang untuk membuat permainan anak-anak berbagai usia. Selain seru, bisa dipadankan dengan mini toys lain seperti hotwheels, paper doll, sampai kereta api. Dan membuat serta memainkan merupakan sebuah kepuasan tersendiri.

Di beberapa blog, saya juga melihat berbagai macam paper city yang dibuat dan digambar sendiri dengan tangan.

Paper city yang digambar sendiri. Pasti anak-anak suka. Image dari sini

Yuk dicoba!

Tuesday, April 9, 2013

Cerita demam Mikail: Gigi geraham ke-3

Seminggu kemarin, badan Mikail panas cukup mengkhawatirkan. Suhu badannya stabil di suhu yang berkisar antar 38.3 - 38.6 derajat celcius. Sehari sebelum demam, Mikail terbangun dengan mata kiri merah dan cukup bengkak. Anehnya, demam ini bermula tepat setelah saya meneteskan obat mata yang diresepkan oleh dokter di RS Aini. Cukup panik, tapi saya yakin alasan demamnya bukan itu. 

Untungnya, saya pernah ikut seminar PESAT yang diadakan oleh Milis Sehat. Demam, bukanlah penyakit, dan kadang baik untuk anak. Lebih lengkap tentang demam bisa dibaca DISINI. Tidak gegabah, saya memilih menunggu 3 hari agar sumber demam dapat diketahui dengan tepat. Saran memberikan antibiotik dari teman, saya abaikan. Karena menurut dokter-dokter di Milis Sehat, demam yang disebabkan oleh virus tidak dapat diobati dengan antibiotik. Alih-alih mengobati, kita malah membunuh bakteri baik, anak mungkin terpapar antibiotik skala luas, dan dapat mengurangi imun tubuh.

Seperti doa yang terjawab, di hari ke-3 demam mulai muncul gejala common cold. Hidung mulai meler, dan mampet di malam hari. , saya pun mulai merawat demam Mikail dengan home-treatment. Dan 2 hari kemudian, demam pun mereda dan Mikail mulai pulih dan ceria kembali. Lega...

....

Dua hari berselang, setiap kali sikat gigi, dia mengeluh sakit. Memang ketika demam pun, dia menolak sakit gigi. Saya tidak menaruh curiga, karena saya pun malas sikat gigi ketika sedang sakit hehehe. Tapi tadi malam, ketika dia mengaduh dikala menyikat gigi, alarm di kepala saya seperti berdering. Ada yang tak biasa...

Dan benar saja, terdapat pembengkakan di gusi bawah kiri paling belakang. Gigi geraham kirinya seperti tertutup gusi sampai separuh. Saya terkejut sekali. Kami berniat pergi ke dokter gigi keesokan harinya.

Sebelum pergi ke dokter, saya menuruti saran ibu saya untuk menunjukkan masalah gigi Mikail ke sepupu saya Willy, seorang dokter gigi. Tak lama kemudian telpon saya berdering. Suara di seberang telpon tak tampak kuatir, malah seperti tersenyum sumringah.

'Ga papa Mbak!', katanya memulai penjelasan. 'Itu gigi geraham yang baru setengah tumbuh', lanjutnya sambil menjelaskan panjang lebar tentang pertumbuhan gigi geraham. Kurang paham, saya mencoba meyakinkannya bahwa gusi bengkak itu sebenarnya lah yang menutupi gigi gerahamnya, dan bahwa gigi itu sudah ada disana sejak lama.

Gigi geraham yang terlihat tertutup gusi

Willy meminta saya menghitung kembali jumlah gigi Mikail. Semuanya ada 22! Haaa? Sejak kapan? Terakhir saya hitung, jumlah giginya adalah 20 buah, dengan 4 geraham besar yang sekarang sudah bertambah menjadi 6. Benar saja, ketika saya perhatikan lagi, gigi geraham bawahnya bertambah satu di masing-masing sisi. Sementara geraham kanan sukses keluar tanpa sepengetahuan saya, yang kiri masih dalam proses keluar.

Sesudahnya, Willy kembali menyemangati saya. 'Hebat Mikail! Pertumbuhan giginya terbilang sangat cepat. Biasanya geraham ke-3 tumbuh ketika anak berumur 6 bahkan ada yang sampai belasan tahun', katanya bangga. 

Jadi, mungkinkah demamnya kemarin akibat gigi yang baru tumbuh ini? Untunglah saya menahan diri untuk tidak memberikan sembarang obat, apalagi antibiotik yang mungkin membahayakan imunitas tubuhnya saat dipakai tidak sesuai kebutuhan. Wallahu a'lam.

Tuesday, April 2, 2013

'You broke your promise, Mama!'

Sudah dua hari si bibi tidak masuk kerja. Suaminya yang memang sudah lama sakit, menyita semua waktunya beberapa hari belakangan ini.

Dua hari ini juga, pikiran saya jadi bercabang, mencoba menyelesaikan banyak hal dalam satu waktu.

Dan sudah lebih dari dua hari, saya menjanjikan Mikail untuk mengunjungi penjahit. Baju bola hadiah ulang tahun dari temennya perlu dipotong sedikit bagian bawahnya. Berkali-kali juga saya bilang 'Ya, nanti' namun berakhir dengan alasan dan janji untuk pergi keesokan harinya.

Hingga tadi malam, Mikail menjerit menagih kembali janji saya. Saya menepuk jidat, menyesali kealpaan saya sambil mencoba mencari alasan yang tepat. Anak kecil ini seperti lelah mendengar alasan, meraung sejadi-jadinya, tak peduli apa yang saya katakan. Tangisnya semakin menjadi setiap saya mencoba meredakan kekesalannya.

'You broke your promise, Mama!', jeritnya. Lelah menjelaskan, saya pun memilih diam dan mengabaikannya, berharap dia melupakan dengan sendirinya.




Benar saja. Suara tangis semakin mereda beberapa saat setelah saya mulai menyiapkan makan malam. Sepertinya TV mampu menghibur kekesalannya saat saya pun menyerah. Dan saat tidur, nampaknya tak terlihat rasa marah itu lagi. Mungkin dia sudah lupa...

Pagi hari tadi, Mikail bangun dengan senyum ceria. Saat yang tepat untuk saya kembali mengucap maaf, menyatakan penyesalan tanpa dibalas dengan jeritan dan tangisan, pikir saya. Dan ternyata yang saya dapati kemudian adalah sebuah pelajaran besar: 
"Semua janji yang kita langgar, meski tampak sepele, tak pernah dilupakan oleh anak. Sikap kita terhadap janji akan membekas di hati anak dan akan membentuk sikap mereka di masa dewasanya nanti"

Saya akan meng-quote perkataan anak yang baru melepas masa balitanya, dalam blogpost ini. Agar saya selalu ingat betapa berat sebuah janji, dan betapa besarnya harapan seorang anak untuk terpenuhinya sebuah janji.
'Mama, a promise is very hard thing. You already broke it. Its still broken, even when you said sorry. But I have fixed your promise. So now you can make new promises for tomorrow'
 katanya diikuti hati saya yang mulai tergetar dan lidah yang terasa memberat.

Dan saya pun menangis dalam hati...

Thursday, January 31, 2013

Kisah Farid - Kenakalan dan kekerasan pada anak-anak

Kelas Fun House hari Senin kemarin kedatangan muka-muka baru. Diantaranya, seorang anak kecil bernama Farid. 

Pertama kali melihat, anak ini terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan suka melucu. Kelas 'Mengenal dunia - United Kingdom' hari Senin itu pun menjadi penuh dengan gelak tawa akan pertanyaan Farid yang membuat saya pun tergelak dibuatnya.

Di saat kelas berlangsung, beberapa anak berdiri di depan rumah, meminta Farid untuk keluar. Meski suara mereka cukup keras dan datang berkali-kali, Farid tidak beranjak dari tempat duduknya. Saya pun tidak ambil pusing. Saya pikir, mungkin kawan-kawannya ingin mengajaknya bermain.

Keesokan harinya, Farid masih membuat saya penasaran. Kabarnya, anak ini menghabiskan kebanyakan waktu luangnya di warnet bersama teman-temannya yang lebih besar. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata teman yang datang kemarin hari memaksanya keluar kelas untuk kembali ke warnet, bahkan sempat mengancam untuk menghapus seluruh memori data permainan Lost Saga miliknya. Untuk anak kecil yang berani menghiraukan ancaman temannya yang lebih besar, memilih untuk dapat ilmu baru daripada bermain, keberanian Farid patut diacungi jempol.

Iseng-iseng saya tanya, "Kamu di kelas ranking berapa?". Yang ditanya cuma nyengir lebar memamerkan deretan gigi-gigi kecil berwarna hitam. Saya mengajaknya untuk datang lebih sering ke rumah, sekedar bermain, mengerjakan PR, atau untuk bertanya tentang pelajaran apa saja yang ia belum paham. Matanya langsung membelalak. "Yang beneeerrr?", katanya dengan logat betawi kental. Sambil bercanda, saya terus memastikan bahwa saya tulus ingin membantu dia belajar, syukur-syukur bisa menghindarinya dari bermain di warnet.

Entah bagaimana kedekatan tiba-tiba terbangun, Farid seperti lebih percaya diri dan menumpahkan seluruh kisah hidupnya kepada saya. Dikelilingi dan disahuti anak-anak lelaki lain yang mengenalnya karena satu sekolah, semua bersahutan bercerita. "Farid ini bandel banget loh, liat ni perutnya pernah sobek ketusuk besi", ujar satu anak dengan semangat. "Iya bener, pernah juga dia nyangkut di kawat waktu bolos sekolah, main di lapangan", sahut anak satu lagi sambil memaksa Farid menunjukkan dada dan perutnya yang ternyata penuh bekas luka, bukti kenakalannya. "Dia berantem mulu sama ibunya tu, ibunya aja dipanggil Anjing!", cerita satu anak sambil diikuti gelak tawa teman-temannya.

Saya cuma mendengarkan, tanpa  upaya memberi nasihat, sambil tertawa meski miris dalam hati, menimpali dengan ekspresi terkejut hingga kagum. Bagaimana bisa anak yang umurnya baru 8 tahun, punya kisah hidup suram yang cukup banyak untuk diceritakan.

Farid membuat kartu ucapan di kelas Art and Craft hari Rabu

Cerita Farid dilanjutkan dengan pertemanannya (buat saya, pertemanan ini lebih mirip dengan Geng anak nakal) dengan anak-anak di warnet. Warnet kecil yang hanya berjarak 2 rumah dari rumah kami, memang menjadi momok bagi lingkungan kami yang dipenuhi anak-anak kecil. Dan Farid menjadi salah satu korban momok tersebut.

Waktu dan uang jajannya habis digunakan untuk bermain warnet sepanjang hari. Berteman dengan anak-anak yang lebih besar, yang seharinya hanya mem-bully anak yang lebih kecil. Entah apa yang mereka bicarakan, dan lakukan sehari-harinya. Yang keluar dari mulut anak-anak kecil ini, termasuk Farid, kebanyakan adalah sumpah serapah, dan teriakan yang tak sedap didengar. "Aku pernah dicekik dan dipukul sama si Anu", Farid bercerita tentang geng warnetnya yang sering berlaku kasar. Usia temannya beda 4 tahun dengan dia, hingga sering bertindak semaunya pada teman yang lain. Farid bercerita sambil sesekali tertawa diiringi gurau anak-anak lain dalam kelas kami. Saya mengakhiri pembicaraan dengan mengacungi jempol, menunjukkan kekaguman saya pada keinginannya untuk menjadi anak yang lebih baik. Sekali lagi dia menunjukkan gigi-gigi hitamnya dengan senyuman lebih lebar.

Inilah gambaran anak-anak kurang mampu di sekitar rumah kita. Mereka ada di setiap pelosok ibukota, meski di daerah penuh kompleks rumah gedong sekalipun. Seringnya tak terpikir dan tak terlihat oleh kita, karena kesibukan dan aktifitas kita yang lain. Bayangkanlah, mereka bukan anak jalanan, pengamen, atau pengemis di lampu merah. Mereka tidak tidur di kolong jembatan atau dipaksa bekerja oleh orangtua mereka. Mereka hanya anak biasa, namun mengalami kekerasan sejak usia dini dan berbuat kenakalan yang melebihi batas normal untuk usianya. Apakah dapat terpikirkan oleh kita, kehidupan anak jalanan dan mereka yang lebih miskin dari Farid?

Kemiskinan memang besar dampaknya untuk tumbuh kembang anak. Orangtua dengan latar pendidikan yang kurang semakin memperbesar dampak buruk tersebut. Saatnya kita bertindak, dari lingkungan kita sendiri...


Tulisan ini sebagai coretan untuk Abstract Konferensi Kemiskinan Anak dan Perlindungan Sosial yang diselenggarakan oleh Bappenas dan UNICEF.
Info lebih lengkap silahkan klik tautan berikut:

Saturday, December 8, 2012

RESEP: Membuat Siomay ternyata tidak sulit :)

Siomay ayam udang

Saya, seperti juga kebanyakan ibu-ibu lainnya adalah impulsive buyer. Maksudnya, kalau belanja suka tidak berpikir dulu dan mudah sekali membeli apa yang dilihat. Dan salah satu yang paling sering menjadi sasaran saya adalah kulit pangsit dan kulit lumpia. Entah kenapa, rasanya imajinasi saya menggila kalau melihat kulit pangsit. Mungkin karena lapar  saja ya hehehe.

Sering juga, si kulit pangsit dan kulit lumpia malah terlupakan di kulkas. Kalau sudah begini, biasanya saya potong panjang-panjang, digoreng, ditaburi parutan keju mozarella, masukkan ke microwave, dan jadilah Nachos abal-abal hahaha.

Tapi kali ini, untungnya di kulkas masih tersimpan udang dan dada ayam yang belum dimasak. Naahh, yuk coba bikin siomay!

Bahan:
Ayam, udang, ikan tenggiri. Salah satu, atau gabungan antara ketiganya. Semua enak :D
Bawang putih
Daun bawang
Merica bubuk
Garam
Tepung sagu
Kulit pangsit

Cara membuat:
Masukkan ke food processor atau blender: Daging yang sudah dibersihkan dan dipotong, dan bawang putih. Grind sampai halus. 
Letakkan daging dan bawang putih yang sudah digiling, tambahkan daun bawang, garam, dan merica bubuk. Taburkan tepung sagu sampai adonan terlihat menyatu.
Jangan lupa dirasakan dahulu sudah asin atau belum.
Kemudian letakkan kulit pangsit di tangan sambil tangan mengerucut, letakkan 1 sendok makan adonan. Atur di dandang hingga berdempetan, agar kulit pangsit tetap berdiri.
Kukus hingga matang. 

Saya juga coba membuat bumbunya sendiri, meski rasanya masih kurang pas. Lumayanlah untuk percobaan pertama.

Bahan bumbu:
Kacang tanah digoreng terlebih dahulu
Cabai merah
Bawang putih 1 siung saja
Gula pasir atau gula merah
Merica garam

Cara membuat:
Masukkan ke blender atau food processor: Kacang goreng, cabai merah, bawang putih. Mix sampai halus.
Tumis campuran kacang tadi, tambahkan air, garam, gula, dan merica. Masak sampai mengental.


Mari makaaann!

Sunday, November 25, 2012

Naznin's story: Goodbye diapers, for now....

Bulan November ini, Naznin sudah memasuki usia 2 tahun 3 bulan. Sewaktu terima rapor Playgroup bulan lalu, Kak Emi, wali kelas Naznin punya target khusus untuk Naznin. Target untuk lepas diapers mulai awal term 4 ini.




Saya tertegun sejenak, serasa diingatkan bahwa saya melupakan sesuatu. Dulu sejak Mikail memasuki ultahnya yang ke-2, saya sudah sibuk mencari semua informasi mengenai potty-training. Maklumlah, sewaktu itu fokus saya hanya pada dia seorang. Berbagai macam cara dan pendekatan saya coba, dari mulai menggunakan potty, dudukan toilet khusus anak, memberikan sticker setiap kali berhasil BAB dan BAK di toilet, sampai dengan menggunakan chart hadiah dimana setiap 10 sticker yang dia dapatkan akan diberi hadiah di akhir bulannya. Itupun, perlu waktu lebih dari 1 tahun untuk Mikail sampai betul-betul lepas dari diapers dan training pantsnya. Kesulitannya seringkali ketika berjalan-jalan dengan kendaraan, bermain di mall, dan 6 bulan fenomena mengompol ketika Naznin mulai lahir. Akhirnya di usia 3.5 tahun Mikail sudah sukses tidak ngompol di celana maupun di kasur lagi.

Dan kembali ke cerita Naznin. Jujur, saya belum mulai berpikir untuk memulai melepas diapers Naznin. Malas rasanya, saya seperti terlena oleh kemudahan popok-sekali-pakai (pospak). Padahal sejak lahir Naznin selalu memakai cloth diapers. Hingga bulan Juni lalu ketika kami pindah mendadak ke Jakarta, meninggalkan semua stock popok kain bersama semua barang-barang penting kami yang lain. Sejak itu saya menggunakan pospak dengan dalih 'Untuk sementara, sebentar lagi kan mau potty train' dan 'Malas ah menyetok popok kain lagi, anaknya kan sudah besar'. Alih-alih saya memula potty training, penggunakan pospak yang memudahkan hidup malah membuat penundaan saya semakin panjang.

Setengah menggerutu dengan target wali kelas Naznin, saya mencoba berbicara dengan Naznin. Pembicaraan pertama berakhir sukses dengan Naznin yang menjerit berlarian memegangi pospak yang tidak mau dilepas. Saya tidak menyerah, saatnya mengeluarkan senjata rahasia saya...Mikail!

Seperti juga anak bungsu lainnya, Naznin memandang abangnya seperti contoh yang selalu ingin ditirunya. Naznin bagaikan gema (mengutip kata Andin), mengucap kembali apa yang Mikail ucapkan. Naznin seperti rekaman video, yang mengulang apa saja yang Mikail lakukan. Semua yang Mikail pegang, Naznin ingin pegang. Dan Mikail adalah senjata rahasia saya untuk menghadapi Naznin :)

Benar saja, cukup 3 hari Naznin mengikuti rutinitas toilet Mikail di pagi hari, sepulang sekolah dan sebelum tidur. Mendengarkan percakapan saya dan Mikail yang berulang-ulang mengatakan hebatnya anak besar yang tidak pakai diapers lagi. Dua kali trip ke pasar dan supermarket untuk berburu celana dalam bergambar princess dan Hello Kitty. Dan Naznin akhirnya rela melepas diapersnya untuk ditukar  dengan celana dalam anak besar, sama seperti abangnya. 

Apakah sudah sukses? Ternyata tidak. Dua hari pertama memakai celana dalam, Naznin masih belum paham betul proses 'Menahan BAK dan mengeluarkannya hanya di toilet'. Beberapa kali dia juga menahan BAB sampai akhirnya sembelit. Hari Selasa pagi, di hari pertama sekolah term 4, saya memutuskan untuk sedikit curang. Perjalanan 40 menit dari rumah ke sekolah pastilah repot kalau Naznin tiba-tiba BAK di taxi. Terpaksa, saya memakaikannya pospak dan melepaskannya tepat ketika sampai di sekolah. Curang memang, tapi saya juga tidak enak hati dengan wali kelas Naznin. 

Hari Kamis dan Selasa depannya saya masih melalukan hal yang sama. Sampai pada suatu waktu saya lupa mengganti diapers Naznin dengan celana dalam. 'Cuek sajalah, pasti wali kelasnya juga tidak mengecek', pikir saya. Sepulangnya dari sekolah saya mengajak Naznin untuk mampir sebentar ke toko buku. Tiba-tiba, Naznin meminta untuk pergi ke toilet untuk BAB. Cukup terkejut karena dia tidak pernah bilang sebelumnya, saya hanya menunduk dan mengintip diapersnya, mengecek apakah pup sudah keluar. Saya kaget bukan kepalang karena ternyata Naznin tidak pakai diapers, dilepas oleh gurunya di kelas tadi. Berlarian saya buru-buru mengantar Naznin ke toilet, dan yak, sejak saat itu Naznin sukses potty train...di siang hari! Saya kegirangan, menyingkirkan semua pospak dan memakaikan Naznin celana dalam setiap harinya. Ternyata, potty train baru sukses di siang hari saja. Malam hari masih diwarnai dengan kejadian ngompol di kasur atau terlambat lari ke toilet.  

Lumayan lah, penggunaan pospak berkurang drastis hingga 1 biji per harinya, yang dipakai ketika tidur malam. Tahap kedua adalah potty train malam hari. Beberapa kali dicoba tidur dengan perlak, masih berakhir dengan kasur yang basah, dan perlak yang terlempar ke ujung kasur. Kuncinya memang harus sabar untuk terus berbicara positif, konsisten untuk melepas diapers di siang hari, dan tidak malas bangun malam untuk mengajak Naznin ke toilet. Point yang ketiga memang paling berat untuk dilakukan ya hehehehe.

So goodbye diapers, for now. Semoga malam hari pun akhirnya bisa sukses yaaaa.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...