Tuesday, June 16, 2015

Little girl finally got her ears pierced - Cerita anting Nazneen


Pagi tadi, Nazneen tiba-tiba meminta telinganya ditindik. Bukan besok, bukan nanti...sekarang.

Kami memang tidak menindik telinganya dari bayi. Kami ingin mereka memilih ditindik atas keputusan sendiri, bukan paksaan siapapun, dan bukan tanpa alasan.

Dan Nazneen merasa hari ini adalah saatnya. Di perjalanan saya menjelaskan tata cara pelaksanaannya, menunjukkan gambar alat yang akan digunakan dokter, bahkan menunjukkannya video anak yang sedang ditindik di youtube. Dan keputusannya tetap bulat...sekarang!

Setelah googling, kami memutuskan untuk melakukannya di rumah sakit. Yang terdekat dengan kami saat ini adalah Hermina Arcamanik. Yes, kami masih berlibur di Bandung :D

Setelah pendaftaran, kami diajak ke IGD untuk diterangkan mengenai prosedur penindikan. Nazneen dengan tenang memilih warna antingnya sendiri. Ruangan yang sangat dingin membuat saya sedikit gugup, tapi tidak dengan Nazneen.

Nazneen mendengarkan penjelasan perawat

pilihan antingnya warna biru, seperti Frozen

Dokter jaganya sangat ramah dan sabar  meski dia sedang sendirian di ruang IGD. Kebetulan di sebelah kami ada seorang ibu yang akan dijahit kakinya karena luka menganga cukup parah. Bergidik saya dibuatnya.

Si dokter ramah masih bolak balik mengecek pasien gawat darurat dari satu kasur ke kasur lain. Nazneen menunggu dengan sabar. Rasa gugup mulai terlihat di wajahnya, mungkin karena AC yang terlalu dingin juga.

Setelah akhirnya dokter ramah itu datang, Nazneen dengan bangga menunjukkan warna anting pilihannya. Si dokter menyapanya dengan senyum lebar, membuatnya merasa nyaman.

Nazneen memilih untuk dipangku dan dipegangi saya. Dokter memintanya merebahkan kepala ke pundak saya, dan...POP! Anting biru pun menempel di daun telinga kanannya.

Kaget, sakit, si anak pun langsung langsung menjerit dan mulai menangis. Percaya dirinya hilang, keberaniannya langsung ciut terbawa air mata derasnya.

Saya mengajak Nazneen berfoto selfie untuk melihat aksesoris barunya. Adik saya dan suaminya membawakan hadiah permen untuk menghibur hatinya. Tapi isak tangis belum habis menghilangkan rasa sakitnya.

Dokter ramah yang sibuk memutuskan untuk mengecek pasien-pasien lain di IGD sembari sesekali menanyakan kesiapan Nazneen untuk menindik telinga sebelah kirinya. Nazneen kembali menangis, meski sebatang permen cukup menenangkannya beberapa saat sebelumnya.

Setelah beberapa kali ditanya tetap tidak mau, saya memutuskan untuk mengajaknya pulang. Menyerahkan keputusan di tangan anak kecil ini.

'Aku mau dua anting, mama. Tapi sakit banget,' ucapnya masih terisak. Ok, kalau begitu kita datang lagi lain kali? saya bertanya. Dia pun mengangguk.

Dan begitulah. Nazneen sudah ditindik...satu telinga :)

Cewek beranting sebelah hehehe

Sesampainya di rumah dan mematut diri di cermin, sekali lagi dia meminta kembali ke rumah sakit untuk ditindik.

Next time, Nazneen...next time :)

Sunday, May 24, 2015

TravelIndonesia #6 - Historical Island Adventure ke Pula Edam, Pulau Kelor dan Pulau Onrust

Saya sudah pernah mendengar mengenai Komunitas Historia Indonesia dari teman-teman relawan Komunitas Taufan dan Berbagi Nasi. Konon, mereka sering ikut kegiatan KHI di museum-museum yang sepertinya seru sekali.
 
Ketika 2 minggu yang lalu saya like Facebook page KHI, mata saya berbinar-binar melihat event terbaru yang mereka promosikan: Historical Island Adventure yang ke-14! Event ini pun hanya dilakukan sekali dalam setahun. Dipandu oleh pendiri KHI sendiri, Kang Asep Kambali dan arkeolog kenamaan Indonesia, Pak Candrian Attahiyat. Alhamdulillaah saya dan Mikail dapat tempat di petualangan seru yang langka ini :)
 
Dan di hari Sabtu tanggal 23 Mei, kami pun sudah berangkat dari rumah jam 05.00 setelah sholat subuh. Meeting point Muara Kamal ternyata kurang dikenal, meski kami pergi dengan taxi. Sayang sekali, organizer event pun kurang paham daerah tersebut. Kami berputar-putar dari Muara Angke, Muara Baru sampai akhirnya dengan susah payah bertanya kanan kiri, kamipun menemukan tempat tersebut meski terlambat 10 menit dari jadwal keberangkatan perahu.
 
Grup kami yang ber-20 pun beranjak dari dermaga Pelelangan Ikan Muara Kamal dengan perahu kayu, mirip dengan yang dipakai untuk island hopping di Pulau Harapan. Tujuan pertama kami adalah Pulau Edam, dan perjalanan kesana memerlukan waktu 2 jam.

 
Pemandangan sunrise dalam perjalanan ke Pulau Edam

 
Pak Can dan Kang Asep bergantian menjelaskan tentang riwayat Pulau Seribu yang ternyata jumlah pulaunya hanya 114 buah. Pak Can bercerita tentang rencana pembangunan waduk raksasa yang memakan habis laut hingga 6 km dari garis pantai Jakarta. Belum lagi rencana reklamasi teluk Jakarta yang dampaknya yang bisa membahayakan pulau-pulau berisi situs bersejarah di sekitarnya. Meski begitu, menurut Pak Can, pembangunan dan pelestarian harus berjalanan berdampingan dan disikapi dengan baik. Semoga Pak Gubernur yang terhormat dapat mengambil jalan tengah yang bijak dan bermanfaat bagi semua pihak.


Rencana reklamasi untuk pembangunan apartment dan mall Pluit City di Teluk Jakarta










PULAU EDAM
Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Edam, yang juga dikenal dengan sebutan Pulau Damar besar atau Pulau Monyet. Pulau ini berdiri di atas koral dan karang yang terus bergerak. Oleh karena itu, pulau Edam terus berubah bentuk seiring dengan pergerakan koral. 
 
Di pulau yang diberi nama seperti kota penghasil keju di Belanda ini, terdapat mercu suar terbesar kedua setelah mercu suar Anyer. Bangunan putih setinggi 65 meter ini dibangun pada tahun 1879 atas perintah Z.M. Willem III. Hingga kini, bangunan yang memiliki 16 lantai itu masih memiliki peranan penting untuk menerangi jalan para pelaut dan dirawat oleh Departemen Perhubungan.
 
Mercu suar Edam dengan pemandangan yang indah
 
 

Pengunjung diperbolehkan naik dengan melepas alas kaki. Garam di alas kaki bisa merusak tangga besi bangunan
 
 
Pulau Edam dipenuhi dengan pepohonan rindang yang tumbuh cepat. Pak Can mengajak kami berkeliling pulau sambil melarang kami menyentuh batu atau tulang yang kami temukan. Menurutnya, pulau ini juga merupakan tempat pengasingan warga pesakitan korban wabah Lepra, hingga virusnya bias membahayakan pengunjung bila menyentuh barang yang terkontaminasi. 
 
Konon menurut sejarah, Pulau Edam merupakan tempat dikuburnya Abel Tasman, penemu Tasmania dan Australia. Namun sampai sekarang makamnya belum ditemukan. 
 
Yang pasti, di pulau ini terdapat makam Ratu Banten Syarifah Fatimah yang dibuang VOC setelah pemberontakan besar-besaran terjadi di masa pemerintahannya. Ratu Syarifah merebut kekuasaan dari suaminya sendiri, Sultan Zainul Arifin yang akhirnya dibuang VOC ke Ambon. Ratu Syarifah mengangkat keponakannya, Syarif Abdullah yang saat itu berusia 4 tahun, untuk dijadikan sebagai putra mahkota. Syarif Abdullah muda pun diasingkan ke Banda Naira, Ambon karena ditolak oleh pemberontak. Namun beliau hidup mewah dibiayai oleh VOC hingga 39 tahun.
 
Tidak diketahui pasti yang mana makam sang Ratu di kompleks pemakaman yang direnovasi warga ini
 
Yang seru lagi, di pulau ini banyak terdapat bunker milik penjajah Jepang. Bunker-bunker ini merupakan tempat bersembunyi dan menyimpan senjata yang dibangun di bawah tanah.  
 
Bunker bawah Tanah
 
 

PULAU KELOR
Puas berkeliling di Pulau Edam, kami meneruskan perjalanan berjarak 2 jam lagi ke Pulau Kelor. Pulau kecil yang memiliki sejarah cukup pilu ini tadinya akan dijadikan pulau untuk bertahan dari serangan Inggris di abad ke-17. Sebuah benteng bundar pun dibangun dengan arsitektur cukup baik dengan bak penampungan air di tengahnya dan bentuk bundar agar dapat melihat musuh dari view 360 derajat. Menurut Pak Can, di abad ke-17, VOC masih belum mengenal sistem pengecoran. Bangunan ini pun dibangun dengan bahan batu bata merah dengan ukuran besar yang diproduksi di Tangerang.
 
Sayang, tak lama setelah dibangun, benteng dan segala isi pulau ini hancur lebur diterpa tsunami dan hempasan abu vulkanik gunung Krakatau yang meletus di tahun 1883. Bangunan yang belum sempat digunakan ini pun kini menyisakan keindahan sunyi yang masih dinikmati banyak orang.
 
Menurut penduduk lokal, situs cantik ini sering dipakai sebagai lokasi pemotretan 'nude pictures' :D
 
Oh dan ternyata, Pak Can adalah sang pemberi nama Benteng Martello, yang tadinya tanpa nama itu loh!

Benteng Martello


Pak Can menjawab pertanyaan para pengunjung yang penasaran
 
Perjalanan kami diliput Kompas TV loh :)

PULAU ONRUST
Pulau terakhir yang kami kunjungi adalah Pulau Onrust. Pulau yang arti namanya adalah 'Tanpa istirahat' ini memang adalah pulau yang sangat sibuk. Di pulau ini, pekerja-pekerja terus sibuk membongkar muat barang komoditi dan banyak juga terjadi perbaikan kapal setiap harinya pada abad ke-17.
 
Onrust yang juga dikenal dengan nama Pulau Kapal adalah pulau pertama tempat penjajah Belanda menginjakkan kaki dari Banda Naira, Ambon untuk menaklukkan kerajaan Jayakarta. Kapal-kapal VOC berlabuh kesini dari Belanda dengan membawa batu bata dari Belgia agar kapal tidak kosong, dan kembali dengan palawija dan kekayaan bumi negri Jawa.
 
Pulau sebesar 14 hektar ini merupakan  pulau yang penting bagi VOC saat itu. Pulau yang tadinya direncanakan menjadi pulau koloni, akhirnya digunakan menjadi pulau pertahanan menghadapi serangan Inggris. Seluruh bangunan di pulau ini sempat porak-poranda diserang Inggris, dibangun lagi dan dihancurkan lagi dengan serangan lain oleh Inggris dari tahun 1800 sampai 1816.
 
 
Di tahun 1911, pulau ini kemudian diubah fungsikan menjadi sanatorium TBC dan rumah sakit haji untuk mengkarantina calon haji sebelum dan sesudah keberangkatannya. Rumah sakit besar dua lantai yang dibangun terburu-buru itu memiliki struktur bangunan yang kurang kuat. Terdapat 1500-an barak-barak yang dibuat permanen dengan lubang hingga tempat tidur bisa digeser di atasnya.
 
Barak-barak yang kokoh
 
Tahun 1933-1940 pulau ini menjadi penjara bagi tahanan pemberontak kapan Zeven Provincien. Pemberontak yang merupakan warga Indonesia tersebut mengambil alih kemudi kapal yang akhirnya dikalahkan oleh serangan udara VOC. Para tahanan yang masih hidup ditahan dan dikuburkan di sudut Barat pulau ini.
 
Di tahun 1942, penjajah Jepang menjadikan pulau ini sebagai penjara tahanan kriminal berat. Penjara tersebut kini direnovasi dan dijadikan museum, meski sayangnya dibuat terlalu modern hingga mengurangi estetikanya.
 
Setelah Indonesia merdeka, pulau ini dijadikan tempat pengasingan gelandangan dan pengemis, serta Rumah Sakit Karantina penyakit menular. Saat itu Jakarta dijangkiti Leptospirosis yang dibawa oleh kencing tikus dari pengiriman beras. Saking takutnya, di sekeliling pulau ini pun dibangun sebuah pagar besi untuk menghindari datangnya tikus.
 
Setelah tahun 1965 pulau ini terbengkalai, hingga di jaman Soeharto, bahan-bahan dari seluruh bangunan di pulau ini yang hamper seluruhya hancur diperbolehkan untuk diambil dan dimanfaatkan untuk membangun rumah warga.
 
Seluruh bangunan di pulau Onrust hancur dan bahan bangunannya diambili warga sekitar
 
Pulau Onrust akhirnya dinyatakan sebagai pulau bersejarah dan mulai direstorasi tahun 1972. Pulau ini pun mengalami abrasi yang cukup signifikan hingga luasnya berkurang setiap tahunnya.
 
Pulau yang diberi nama seperti nama kota di Belanda itu memiliki rahasia lain. Konon katanya, tanah pulau ini mengandung Blue Clay atau Tanah liat biru yang ternyata tidak baik untuk kesehatan bangsa Eropa, hingga bangsa Belanda yang tinggal disini tak ada yang berumur panjang.
 
 
Ayunan di pohon Pulau Onrust
 
 

Bersama Pak Candrian Attahiyat yang luar biasa


Mikail yang kecapekan digendong Kang Asep, pendiri KHI dan sejarawan Indonesia. Hebat euuuy!

Terimakasih Komunitas Historia Indonesia, Pak Candrian, dan Kang Asep atas ilmunya. Semoga makin membuat kami mencintai Indonesia. Sejarah adalah memori yang membuat kita mencintai Negara kita. Jangan pernah lupakan sejarah!
 
 

 
-----------
 

Komunitas Historia Indonesia
www.komunitashistoria.com/
FB Page: Komunitas HISTORIA INDONESIA Community
Youtube Channel: Komunitas Historia Indonesia
Video Historical Island Adventure: Youtube 

Bahan bacaan:
Kisah Ratu Banten
Sejarah Pulau Edam, Jakarta.go.id
Sejarah Pulau Onrust, Jakarta.go.id

 


Tuesday, April 28, 2015

RESEP - Nugget Ayam Oatmeal Gurih



Hampir jam 11 malam, masih main di dapur demi anak perempuan yang minta dibawain nugget buat bekal sekolah. Ternyata ngiri dia teman-temannya bawa nugget dan sosis terus, sementara biasanya cuma dibawain lauk teri balado, tempe, atau telur yang cepat dibuat. Paling mewah nasi goreng atau bihun goreng lah :D

Kali ini, nuggetnya sudah disiapkan dari malam. Disimpan di kulkas dulu, dan besok pagi tinggal digoreng sebelum pergi ke sekolah. 

Sayang, setelah keluarin ayam dari freezer ternyata ada bahan yang kurang. Lupa minggu kemarin udah menghabiskan tepung roti dan lupa beli lagi. Untung saja, masih ada sebungkus Oatmeal biru di laci. Yuk kita modifikasi resep nuggetnya.

BAHAN:
2 buah dada ayam utuh tanpa tulang dan kulit
10 siung bawang putih dihaluskan (banyak ya, karena saya suka wangi bawang putih)
3 sendok makan oatmeal
2 butir telur (pisahkan kuning dan putihnya)
Garam
Lada

CARA MEMBUAT:
1. Giling ayam dengan food processor. Karena saya tidak punya, terpaksa dihaluskan dengan ulekan. Repot banget. Beliin food processor doooong, Pak Hussain :D
2. Campurkan daging ayam yang sudah halus dengan bawang putih yang sudah dihaluskan juga
3. Masukkan oatmeal untuk bahan campuran agar nugget padat
4. Masukkan 2 butir telur kuning
5. Tambahkan garam dan lada
6. Aduk hingga rata. Atur di pinggan tahan panas hingga mencapai ketebalan yang diinginkan. Pilih pinggan yang muat di kukusan ya
7. Kukus 20 menit hingga matang 
8. Keluarkan adonan nugget matang, pindahkan ke piring dan tunggu hingga dingin
9. Potong-potong atau bentuk potongan nugget sesuai keinginan. Baluri dengan telur putih dan gulingkan ke oatmeal
10. Goreng dengan api kecil hingga kecoklatan

Ternyata pakai oatmeal lebih renyah dan enyaaakkk daripada tepung roti. Lebih sehat loh buat jantung, kayanya ya sebab digoreng juga sih :D

Selamat mencoba!

Sunday, April 26, 2015

Serunya main kucing di Kafe Kucing Cutie Cats Cafe

Akhirnyaaaa sampai juga ke Cutie Cats Cafe​. Kafe dengan konsep unik pertama di Indonesia yang berlokasi di Jl. Kemang 1 No, 12F ini dimiliki  Lia Ramadiani-Kurtz​, kawan sesama MT dulu di kantor 'Sarang Burung'. Bangga euy punya teman sukses.

Cutie Cats Cafe

Di kafe yang berada di atas toko tas Sparkling Society milik Lia juga, kita bisa ngopi-ngopi cantik sambil main dengan belasan kucing peliharaan disana. Kucing-kucing dengan ras berbeda terlihat menggemaskan dengan bulu bersih lebat yang terawat dan kejinakan mereka yang nampak nyaman bermain bersama manusia.

Untuk datang ke kafe yang selalu penuh antrian ini, pengunjung harus menelpon untuk reservasi dulu. Pengunjung harus membeli tiket untuk bermain selama 1 jam (Kami bertiga membayar Rp. 270.000). Datanglah tepat waktu agar bisa main dengan puas, karena 1 jam berlalu begitu cepat, menurut anak-anak saya.

Interior cantik nan unik

Karena kami datang terlambat 30 menit dari jadwal reservasi, mbak resepsionis meminta kami menunggu sampai jadwal yang jam 14.00 supaya mainnya sejam pas. Setelah makan siang, kami pun masuk bersama sekitar 10 pengunjung lain yang langsung menyerbu kucing-kucing super lucu disana.

Sayang kami datang ketika jam tidur siang, hingga beberapa kucing memilih tidur daripada main. Meski begitu, mereka rela dibelai-belai dan dipeluk sambil merem. Kedua anak saya mencoba memegang semua kucing yang semuanya menggemaskan. Disana disediakan sekeranjang alat untuk bermain bersama kucing, termasuk bola, boneka, bantal-bantal yang bisa dimainkan.

Meski ngantuk, tetap mau main bareng

Tempatnya cozy dengan perabotan rumah-rumah kucing yang unik. Pengunjung bisa memesan cake dan minuman. Saya memilih carrot cake dan ice chocolate sambil menikmati keseruan kafe. Semua kucingnya baik dan jinak. Kesayangan Naznin adalah Usagi, si kucing berkuping kecil yang pengertian, mau dipeluk dan ga marah diuwel-uwel anak kecil.

Katalog nama-nama kucing dan sifat-sifatnya

Setelah keluar, disediakan Hand Sanitizer dan roller untuk membersihkan baju dari bulu kucing bagi pengunjung.

Masuk lepas sepatu dulu. Keluarnya disediakan hand sanitizer dan roller

Sejam ga puasssss rasanya. Naznin minta datang kesini tiap minggu hahaha.

Sukses yaaa Cutie Cats Cafe.

======================

Cutie Cats Cafe
Jl. Kemang I No. 12F
Lantai atas Sparkling Society
Depan Food Garden
Jakarta Selatan

Reservasi: 0811-1004-560

IG: @CutieCatsCafe

Tuesday, April 14, 2015

TravelIndonesia #5 - Pengalaman pertama hiking di Gunung Papandayan, Garut

Saya memang lebih suka gunung daripada laut. Tapi, kalau disuruh manjat gunung saya lebih memilih untuk main air di pulau hingga terbakar matahari. 

Berhubung trip naik gunung kali ini diadakan oleh grup Lazy Traveler yang tak diragukan kenyamanannya, saya pun mendaftar dan dengan pede membawa Mikail serta untuk melakukan TravelIndonesia yang kelima. Dan benar saja, trip dikemas bersama seapik dan senyaman mungkin hingga kami tinggal membawa perlengkapan pribadi dan melenggang naik gunung dengan santai. 

Perjalanan dimulai hari Sabtu tanggal 11 April 2015 pukul 06.00. Grup kami yang terdiri dari 9 orang memulai perjalanan dari pelataran parkir RS. UKI ke kota Garut dengan Elf sewaan. Perjalanan kami hingga ke Camp David, awal pendakian Papandayan memakan waktu kurang lebih 7 jam.

Selain mobil sewaan, pendaki juga bisa menaiki bus Jakarta-Garut dari Terminal Cililitan seharga Rp. 45.000, kemudian melanjutkan dengan angkot seharga Rp. 20.000/per orang hingga desa Cisurupan, dan menyewa mobil bak hingga ke Camp David untuk memulai pendakian. Tiket masuk untuk camping seharga Rp. 7.500/orang.

Di Camp David tersedia musholla dan toilet. Tersedia juga beberapa warung yang menyediakan makan bagi grup pendaki. Terlihat banyak warung-warung yang rusak di area parkir ketika kami datang. Kemungkinan besar dirusak warga yang tidak suka kompetisi.

Kami menikmati makan siang yang sudah disiapkan untuk tim kami di sebuah warung kecil. Setelah sholat dan bersitirahat sejenak, kami pun memulai perjalanan.

Camp David, tempat memulai pendakian
Gunung Papandayan terletak di desa Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2665 mdpl ini tercatat sudah meletus setidaknya 4 kali. Letusan terakhirnya adalah di tahun 2004. Gunung ini memiliki beberapa kawah yang hingga kini masih mengeluarkan asap tebal. Kawah yang terkenal adalah Kawah Gunung Nangklak, yang juga jalur alternatif pendaki senior melewati Hutan Mati.

Kami didampingi oleh 3 orang pemandu, dan 1 pemandu yang membantu memasang tenda di lokasi camping. Sementara barang-barang berat dititipkan ke porter untuk dibawa ke atas.

Lebih dari setengah pendakian kami adalah kawah. Asap yang tebal dan bau belerang yang khas tak mengurangi indahnya pemandangan gunung berapi strato ini. Medan pendakian di kawah sangat berbatu, hingga cukup melelahkan bagi saya. Namun tidak untuk Mikail, yang terlihat semangat dan antusias mendaki hingga ke puncak.


Jalur pendakian kawah yang berbatu

Kepulan asap kawah dengan bau menyengat

Pendaki-pendaki yang beristirahat sambil menikmati pemandangan kawah

Untunglah saya bawa anak laki yang mudah melepas hajatnya dimana saja :D
Selesai dari kawah, jalur pendakian mulai terasa lebih curam dan menantang. Hampir setiap 5 meter, saya memilih untuk bersandar pada batu besar dan mengatur debaran jantung yang tak keruan. Pendamping kami dengan sabar menunggu hingga kami siap meneruskan perjalanan. Kesehatan yang utama. Pemandu yang lebih senior yang melihat semangat Mikail langsung mengajaknya mendaki jalur pintas dengan medan curam agar tiba di atas lebih dulu. Spontan, anak kecil ini langsung berlari mengikutinya, sementara saya hanya melambaikan tangan sambil terengah-engah.

Jalur pegunungan yang berliku dan melelahkan

Melewati sungai

Tim kami mulai terpisah meski para pendamping menemani di barisan depan, tengah dan belakang. Akhirnya kami tiba di pos pertama untuk beristirahat. Sempat kaget melihat banyak sekali motor parkir disini. Ternyata motor trail ini bisa naik dari Camp David hingga pos pertama loh. Pantas saja di beberapa trek pendakian terlihat jalur sempit seperti parit yang ternyata jalur motor. 

Di pos ini juga terlihat beberapa pendaki yang mendirikan tenda. Ada penjual jajanan yang ramai diserbu pendaki kelaparan. Banyak juga yang mengisi perbekalan air untuk meneruskan perjalanan. Waktu istirahat kami terpaksa dipercepat karena cuaca berubah mendung, padahal perjalanan kami masih cukup jauh.

Kak Heny berpose dengan motor trail

Gerimis mulai turun ketika kami tiba di area camping, Pondok Saladah. Tenda kami sudah disiapkan oleh pemandu yang menunggu di atas. Berdiri rapih dengan alasnya, hingga kami langsung berebutan masuk diiringi geluduk dan hujan deras. Perjalanan kami menempuh waktu 5 jam!

Hujan semakin deras hingga maghrib. Sementara tas saya yang berisi pakaian bersama perbekalan makanan masih belum tiba. Saya dan Mikail meringkuk berpelukan dengan jaket seadanya. Sleeping bag yang dijadikan selimut tetap tak mengurangi rasa dingin yang menusuk. 

Hujan mulai reda pukul 8 malam. Kehujanan, kedinginan, dan terlambat makan ternyata membuat maag saya kambuh. Alhamdulillaah, pemandu yang baik membuatkan satu tenda kecil lagi untuk saya dan Mikail, lebih kering dan lebih hangat. Porter akhirnya datang membawa barang-barang kami dan makan malam. Mikail dengan sigap berkenalan dengan teman-teman pendaki lain yang menyalakan api unggun, mencari obat maag dan meminta tolong membuatkan teh panas untuk saya. Terharu...

Pondok Saladah, area berkemah
Pemandangan malam hari setelah hujan luar biasa indah. Bulan separuh dan taburan bintang terlihat lebih dekat dari malam-malam yang lain. Saya masih meringkuk di tenda sementara suara Mikail masih terdengar bersenda gurau bersama rekan pendaki lain yang menghangatkan diri.

Sarapan di dalam tenda

Pukul 03.00 dini hari, area kemah sudah ramai lagi dengan riuh rendah suara-suara pendaki yang ingin mendaki Tegal Alun, puncak tertinggi Gunung Papandayan, untuk menyaksikan matahari terbit. Saya memilih untuk tinggal di tenda karena udara dingin yang menusuk.


Kini, di Pondok Saladah sudah ada WC dan tempat mencuci. Pendaki yang ingin menggunakan WC harus rela antri panjang berjam-jam. Pendaki senior pasti lebih memilih untuk 'go natural'. Di banyak spot juga terdapat warung dan jajanan. Menurut para pendaki senior, gunung ini sudah jadi 'mall', tidak asri lagi karena terlalu ramai orang.

WC dan tempat mencuci yang selalu ramai dan antri panjang

Warung dan jajanan
Mas Yasin, pendamping utama tim kami

Hari beranjak siang dan matahari sudah di atas kepala kami, meski angin sejuk masih membuat kami betah berada di tenda. Pengalaman naik gunung pertama saya cukup mengesankan, dan Mikail pun merasakan hal yang sama.

Kami beranjak turun di siang yang terik, namun saya sudah lebih dahulu menyiapkan jas hujan di tas kecil dan menutup backpack dengan rain cover. Jalan turun ternyata lebih cepat daripada naik gunung. Terbukti kami hanya perlu waktu 1,5 jam untuk sampai ke area parkir mobil. Mikail berkali-kali terjatuh karena jalur turun yang berbatu. Alhamdulillaah banyak pendaki yang datang membantu dengan menyemprotkan antiseptik, menawarkan band-aid sampai menyorakinya dengan kata-kata semangat. Saya langsung cinta gunung dan segala isinya.

Cuaca di Gunung Papandayan berubah sangat cepat. Awan mendung mulai terlihat ketika kami menuruni jalur kawah, Tiba-tiba titik-titik hujan langsung berubah menjadi deras ketika kami mencapai kawah. Air turun dengan deras dari puncak gunung membuat jalur turun kami berubah menjadi sungai yang deras. Saya mulai panik, sementara Mikail berlarian kegirangan di aliran sungai dadakan itu. Luar biasa energi anak ini!

Jalur turun

Pemandangan ketika turun terasa berbeda daripada ketika menaikinya. Mungkin karena rasa letihnya juga berbeda ya. Menurut pendaki senior yang sudah ratusan kali menaiki gunung ini, tiap pendakian mereka merasakan sensasi yang berbeda. Setiap kali mendaki pun, alam memberikan pelajaran hidup yang berbeda-beda, menempa jiwa hingga makin dekat dengan penciptanya.

Pengalaman yang luar biasa. Sepertinya saya ketagihan...

Pemandangan dari puncak yang membuat ingin kembali lagi

 -----------------------

Sewa Elf 2 hari Jakarta - Gunung Papandayan
Rp. 2.600.000

HTM camping Rp. 7.500

Pemandu Rp. 500.000
Mas Yasin: 0812-9642-1123

Porter Rp. 200.000/trip

Sewa perlengkapan
Tenda besar Rp. 40.000/hari
Tenda kecil Rp. 30.000/hari
Matras Rp. 10.000
Sleeping bag Rp. 10.000/hari

Reference blog:
Janu jalan-jalan
Winny

Tuesday, April 7, 2015

TravelIndonesia #4 - Lampung | Pulau Pahawang, Lembah Hijau, Summit Bistro, dan sekitar kota Bandar Lampung

Trip kali ini sebenarnya terbilang mendadak, karena jadwal aslinya adalah Karimun Jawa. Naznin memang sudah request mau ke pantai dan sudah seminggu sebelumnya menunggu-nunggu hari Jumat. Ketika tripnya dicancel, langsung kelabakan cari trip serupa yang terdekat dan murah. Terpilihlah Lampung sebagai TravelIndonesia #4.

Namanya juga dadakan. Beli tiket dadakan, booking hotel dadakan, dan ga sempat browsing sana sini, cuma mengandalkan supir kendaraan yang juga dikontak dadakan. Allah maha baik, sehari sebelum berangkat, saya dikontak teman sesama relawan di Komunitas Taufan. Ternyata mereka sedang dalam kendaraan menuju ke Lampung via pelabuhan Bakauheni! *lompat Barney*

Bandara Raden Inten di Lampung hanya ditempuh selama 30 menit dari bandara Soekarno-Hatta. Perjalanan yang sangat singkat, mengingat perjalan dari rumah ke airport memakan waktu 1 jam. Sesampainya di bandara, atas pesan dan paksaan ibu saya, kami dijemput oleh mobil sewaan dari hotel. Saya memilih hotel Sahid melalui Agoda. Tanpa alasan, hanya capcipcup saja, yang penting ada kolam renang dan harganya sesuai budget.

Alangkah terkejutnya saya ketika sampai di hotel. Mungkin kurang tepat ya disebut hotel. Suami saya mungkin akan menyebutnya 'Piece of old sh*t'. Hotel yang mungkin berumur sama seperti saya ini sepertinya tidak pernah mengalami renovasi. Lift hotel setengah rusak, saya lebih memilih naik tangga ke lantai kamar saya. Kamar mandi lobby maupun kamar cukup mengenaskan dengan keran air berkarat dan toilet yang hampir lepas. Air keran mengucur berwarna hitam ketika pertama kali dibuka hingga 10 menit, menandakan airnya lama tidak keluar. Belum lagi pintu balkon yang tidak tertutup rapat hingga masuk nyamuk, TV yang channelnya tidak sesuai dengan tulisan, dan yang paling parah....di dua malam saya menginap ada dangdutan super keras hingga pukul 01.30 dini hari. Ketika dikomplain ke receptionist, setelah menelpon berkali-kali tidak diangkat mungkin tidur, tidak ada solusi hanya disuruh menunggu hingga dangdutannya selesai. Luarrrr biasa.

Anyway...happiness is a just a state of mind. Saya memilih untuk melihat sisi baiknya. Kamarnya cukup luas, kasur cukup empuk, handuk bersih, dan yang paling saya suka adalah saya bisa mengontrol lampu, TV dan AC dari meja samping kasur, karena semuanya ada tombolnya. Alhamdulillaah tidur nyenyak.

Hari pertama kami dimulai pukul 06.30 menuju ke Pantai Klara dimana teman-teman saya berkumpul untuk menaiki perahu sewaan yang bertolak pukul 08.00. Perjalanan ke Pantai Klara seperti ke Puncak di Bogor. Menanjak dan berliku-liku. Ada beberapa tempat dimana jalanannya kurang baik namun akses kesana tetap mudah. Hanya ada satu jalan menuju pantai ini, hingga di hari libur besar seperti Hari Raya Idul Fitri dan tahun baru, akses ke Pantai Klara, Pantai Mutun dan Pasir Putih akan penuh sesak hingga berjam-jam.

Dermaga Pantai Klara

Di pesisir pantai disediakan tempat parkir, tempat mandi, toilet, musholla dan warung kecil. Jangan lupa membawa makan siang sebelum naik perahu supaya bisa dimakan di pulau. Pulau kecil sekitar Pahawang tidak dihuni hingga tidak ada fasilitas apa-apa. Bisa juga minta dibawakan termos air panas ke nahkoda perahu, kalau bawa Pop Mie dan mau menyeduhnya di perjalanan.

Sewa perahu minimal 9 orang, sebaiknya trip dilakukan bersama teman-teman untuk menghemat ongkos sewa perahu. Harga sewa perahu 100.000-150.000/orang sudah termasuk peralatan snorkeling.

Ketemu teman-teman baru sesama petualang yang seru!

Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Pulau Pahawang susah dijelaskan dengan kata-kata. Laut jernih dikelilingi pegunungan membuat mata saya tak bosan memandang lekat-lekat. Masya Allah!



  


Kami berhenti di Pulau Pahawang kecil yang pantainya panjang dan dangkal. Kami langsung melompat dari perahu dan berlari-lari menuju ke tengah laut. 

Lautnya dangkal hingga ke tepi gunung yang itu. Indah bangeeettttt

Setelah puas berfoto-foto, kami pun beranjak ke spot snorkeling pilihan nahkoda perahu. Kami dibawa ke laut sedalam 1,5 meter dibekali dengan pelampung, fin dan masker yang sudah termasuk ke dalam ongkos sewa perahu.

Pelampung kebesaran

Sayang, pelampungnya terlalu besar untuk Naznin, tapi dia tidak kehabisan ide. Setelah mencoba memasukkan kaki ke bagian tangan pelampung dan menduduki pelampungnya, akhirnya posisi seperti ini yang paling nyaman. Cukup meletakkannya di bawah perut dan berenang berpegangan :)


Naznin belum puas main di air padahal hari sudah pukul 13.00. Tapi kami sudah harus kembali ke perahu dan beranjak pulang ke kota. Teman-teman saya yang lain langsung meneruskan 4 jam perjalanan menuju Teluk Kiluan. Saya memilih untuk menghabiskan hari kedua di sekitar Bandar Lampung, mengingat hotel yang sudah dibayar dan waktu penerbangan kembali ke Jakarta yang cukup mepet.

Teluk Kiluan ternyata memang wisata yang sedang naik daun di Lampung. Kawanan lumba-lumba sedang bermigrasi dan menetap di teluk ini dari bulan April-Mei. Harus menginap disana kalau melihat lumba-lumba karena mereka hanya bisa dilihat pukul 06.00 dengan perahu kecil yang hanya muat 3 orang saja. Banyak penginapan murah di Teluk Kiluan. Sebaiknya rencanakan penginapan sehari di bandar Lampung dan sehari di Teluk Kiluan.

Lumba-lumba di Teluk Kiluan

Hari kedua kami memilih untuk naik bukit ke daerah Sukadanham yang merupakan tujuan wisatawan lokal di hari libur. Ada Lembah Hijau, Bumi Kedaton dan Summit Bistro disini. Banyak juga pedagang durian di sepanjang jalan menuju bukit. 

Pemandangan dari Sukadanham, Kota Bandar lampung bisa kelihatan dari atas sini

Cukup Rp. 10.000 per orang untuk memasuki Lembah Hijau. Di dalamnya ada pentas satwa, playground yang besar, berbagai permainan anak, pony ride dan taman kijang yang cukup luas. Banyak keluarga datang kesini untuk berpiknik. Suasana taman yang teduh dikelilingi kandang burung memang terasa sangat menyenangkan.

Jenis permainan yang ada di Lembah Hijau adalah: Mini train, pony ride, bumper car, rumah hantu, carousel, ATV dan flying fox. Harganya berkisar antara Rp. 10.000 - 30.000.

Permainan di Lembah Hijau

Dari Lembah Hijau, kami mampir ke Summit Bistro yang letaknya berdekatan. Kebetulan adik saya ikut membantu merenovasi design cafe The Edge yang terletak di lantai 2 bangunan tersebut. Pemandangan yang ditawarkan oleh restaurant ini adalah yang paling memikat pengunjung. Kota Bandar Lampung dan pantai yang membatasinya terlihat memukau dari atas sini. Dinikmati bersama teman dengan secangkir kopi dan percakapan seru pasti bisa berlangsung hingga larut malam.

Summit Bistro
3 jam sebelum waktu penerbangan, saya memilih untuk turun dari bukit untuk menikmati pusat kota Bandar Lampung. Pusat keramaian kota Bandar Lampung terletak di Jalan Raden Intan dan Jalan Kartini. Pilihlah hotel di daerah tersebut agar udah kemana-mana. Hotel Sahid tempat saya menginap ternyata berada di kawasan industri jauh dari kota. Konon, dahulu sebelum banyak hotel di tengah kota, hotel Sahid merupakan hotel ternama di daerah yang ramai wisatawan.

Di jalan kartini juga terdapat Stasiun kereta Tanjung Karang untuk menuju Palembang. Disini juga tempat mengambil Bus Damri Executive menuju stasiun Gambir di Jakarta seharga Rp. 265.000. Jadi lebih baik naik bus daripada naik pesawat yaa.

Jangan lupa untuk membeli oleh-oleh di YenYen daerah Teluk Betung. Pilihan saya adalah Keripik Pisang merk Aneka, Pletekan Ikan, Sambal Ikan Peda Ny. Apin, Sambal lampung, Kemplang udang dan ikan, dan pastinya Sambel goreng udang Suseno. YenYen ini sangat terkenal di kalangan turis dan didatangi para artis, padahal disekitar Teluk Betung cukup banyak penjual oleh-oleh. Mungkin 'Chong'-nya gede ya.

YenYen, tempat membeli oleh-oleh yang ramai

Bunderan Gajah, tempat berkumpul warga di malam minggu. Hari Minggunya ada CFD di sekitar jalan yang ditutup hingga pukul 10.00

Masjid Agung Al-Furqon, terbesar di Bandar Lampung

Di dalam masjid agung

Ada satu lagi tempat wisata lokal dekat dengan airport. Kami memutuskan untuk melihatnya sebentar sebelum berangkat. Pusat pemandian air panas bumi NATAR. Sayang tempatnya kotor dan tak terawat, meski Naznin terlihat sangat antusias untuk masuk ke dalamnya.



We love Lampung. Meski tempat pariwisatanya kurang terawat, kami yakin Lampung punya potensi besar untuk dicintai turis lokal dan asing. 

----------------

Menuju Lampung
- Bus Damri Executive dari Gambir ke stasiun Tanjung Karang
Rp. 256.000. Lama perjalanan kurang lebih 8 jam
http://www.damri.co.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=76&Itemid=496
- Naik travel Purnagama atau Gaya Baru
Rp. 175.000-200.000
http://www.eatrips.com/2013/12/menuju-lampung-dari-jakarta-ala.html

Sewa mobil di Lampung
MRC Rent Car
0821-8692-4900 Pak Sofyan
www.jasarentalmobillampung.com

Rekomendasi Hotel
Cari di sepanjang jalan Raden Intan atau Kartini.
Anugerah Hotel, Hotel Horison, Pop Hotel, dll.

Tempat belanja
- Pasar Tengah di Jl. Raden Intan
- Pasar Bambu Kuning di Jl. Kartini
- YenYen Teluk Betung
- Pempek 123 Teluk Betung dan Kartini

Menuju bandara Sekarno-Hatta dari PGC dan sebaliknya
AGRAMAS
Rp. 35.000. Bus setiap 30 menit dari terminal busway PGC, sebelah 7eleven






Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...