Wednesday, October 15, 2014

Hidup di Jakarta itu keras, Bung! Yakin tak mau punya asuransi?

DITOLAK! 

Tahun 2012, adik saya mengalami keguguran hingga harus dirawat di Rumah Sakit, namun suaminya terduduk lemas ketika mengetahui tagihan rumah sakitnya tidak bisa di claim ke asuransi yang dibayarnya tiap bulan. Hampir menangis dia menceritakannya kesulitannya tengah malam buta pada saya. Betapa dia yang baru memulai bisnis konfeksinya di Bandung, tidak punya tabungan apapun untuk membayar tagihan rumah sakit yang tak tergapai pendapatan bulanannya.

Keluarga kami akhirnya masing-masing memecahkan celengan untuk membayar tagihan rumah sakit adik saya. Pasrah, adik ipar saya semata wayang itu hanya bisa meredam ego, menerima puluhan juta yang terkumpul dari keluarga yang bukan darh dagingnya, untuk menebus kekalahannya. Rela menanggung malu, tak dapat melindungi istrinya sendiri karena kurang perencanaan.

Sejak saat itu saya meragukan asuransi. Selain konsepnya yang menurut saya seperti ‘menabung’ namun kita tak dapat melihat kemana uangnya dikembangkan. Selain itu juga muncul ketakutan ‘menitipkan’ uang yang ditabungkan setiap bulannya kepada suatu lembaga atau perusahaan yang kita tak tahu bila-bila masa dia tutup usia. Bagaimana kalau ketika kita memerlukan asuransi tersebut, malah ditolak mentah-mentah. Persis seperti kejadian yang menimpa adik saya.

Sebulan setelah kejadian adik saya, buru-buru saya menghubungi sales person asuransi yang memang sama dengan kepunyaan adik saya. Langsung saya hentikan semuanya. Meski yang saya dapatkan jauh dari apa yang saya tabung, saya tidak berpikir panjang. Yang penting saya tidak perlu menabung berbulan-bulan tanpa hasil yang jelas.

Belakangan, beberapa teman yang memiliki asuransi kesehatan mulai menyadarkan saya. Ketika saya menceritakan asuransi yang saya tutup, pertanyaan mereka satu: Apa kamu sudah baca polisnya??

Yak, ternyata saya buta asuransi. Saya tak paham apa yang dituliskan di polis tebal yang hanya tersimpan rapih di lemari. Pun, saya tak pernah perhatikan penyakit apa saja yang ditanggung oleh asuransi yang saya bayarkan. 

Belum lagi cerita-cerita menggiurkan teman-teman yang ketika rawat inap hanya melenggang masuk dan keluar rumah sakit dengan santai. Yang lain sudah diurus asuransi. Pasti ada yang salah. Tapi, masa iya salah saya?

Teman-teman saya tergelak melihat kebingungan saya. Dari merekalah, akhirnya mata saya terbuka untuk belajar lebih banyak tentang asuransi kesehatan.  Berapa yang ditanggung per hari, kamar apa yang didapat dengan polis yang saya bayarkan, dan penyakit apa saja yang ditanggung oleh asuransi pilihan saya.

Ada teman yang ditertawakan ketika membuka asuransi jiwa yang manfaatnya untuk suaminya. Ih kebalik atuh! Istri kan bukan pencari rezeki. Kalau istri meninggal, suaminya masih bisa kerja. Nah kalau suaminya yang meninggal, istrinya tak bekerja, mau makan apa?



Intinya, pelajari dulu manfaat yang ditawarkan masing-masing asuransi di tangan Anda. Pilih yang sesuai dengan kebutuhan keluarga, apakah untuk diri sendiri, untuk si kecil yang mudah terserang kuman atau orangtua kita yang kemungkinannya lebih besar untuk terkena penyakit.

Seperti manfaat yang ditawarkan oleh asuransi kesehatan Allianz yang bernama 'Allisya Care'. Asuransi kesehatan berbasis syariah yang menjawab dua ketakutan saya. Pertama, dana yang dikumpulkan jelas dikelola dengan metode syariah, tak perlulah gundah memikirkan halal-haramnya. Kedua, asuransi ini tepat untuk 'MahMud' atau mamah muda seperti saya, karena mengcover biaya rawat inap, rawat jalan, biaya obat selama masa perawatan, bahkan biaya melahirkan. 

Ini yang saya cari!

Belakangan juga baru saya pelajari bahwa claim adik saya ditolak asuransi karena memang asuransi yang dia pilih tidak mengcover apa yang dia butuhkan. Meskipun menjalani rawat inap berhari-hari, dan melakukan operasi besar, tetap vonisnya sama; DITOLAK! Adik saya salah pilih asuransi.


Jadi pandai-pandailah mencari asuransi sesuai kebutuhan kita. Karena, hidup di Jakarta itu keras, Bung! Yakin tak mau punya asuransi?

Tuesday, April 29, 2014

Surga dunia yang dekat dari rumah, Pulau Harapan, Kep. Seribu

Sudah cukup lama saya kenal Backpacking Trip Organizer, BlaxRax. Organizer ini banyak sekali mengadakan trip dan semua teman yang pernah ikut tripnya puas. Berarti bagus dong? 

Sayang kebanyakan trip BlazRax hanya sekitaran Yogya-Malang-Bromo yang menurut saya masih cukup jauh dan agak susah meninggalkan anak-anak lebih dari 2 malam.

Jadi, ketika BlaxRax tiba-tiba Broadcast trip ke Pulau Seribu yang cuma semalam, dengan harga luar biasa miring, langsung saya balas dengan tunjuk jari! I'm in!

Meski belum bilang Pak Hussain saya sudah mendaftar untuk 2 orang hehehe. Untungnya, Pak Hussain setuju, plus Om saya yang funky dari Pekanbaru juga ingin ikut. Ibu saya jadi lega, mengingat saya dan Pak Hussain sama-sama teledor, jadi cukup mengkhawatirkan bagi ibu saya memikirkannya :p

Perjalanan tanggal 26-27 April 2014 dimulai jam 5 subuh. Kami harus tiba di Muara Angke paling lambat jam 6.30 pagi, karena perahu bertolak jam 7.00 tepat. Kami yang sudah tergopoh-gopoh takut terlambat, tiba jam 6.49, nyatanya meski menunggu di kapal cukup lama juga. Yah namanya Indonesia...

Kapal ferry besar dari Muara Angke ke Pulau Harapan dan pulau-pulau lainnya hanya ada di hari Sabtu untuk para wisatawan. Di hari lain, hanya ada perahu tongkang biasa untuk transportasi warga pulau Seribu bolak-balik ke Jakarta. Harga tiket one-way Jakarta-Pulau Harapan adalah Rp. 40.000/orang saja.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Kapal ferry sangat penuh isinya bisa sampai 350 orang. Jadi sedialah snek dan minuman yang bisa dicemil di kapal. Kalau perlu bawa alas tidur yang ringan dan bantal tipis, agar bisa tidur-tiduran dulu di kapal karena cukup membosankan.

Selain kapal ferry, trip ke Pulau Harapan juga bisa ditempuh dari dermaga Ancol dengan speedboat milik Predator seharga Rp. 225.000/orang one way. Bagi yang berbudget lebih, bolehlah memilih trip yang lebih mahal, karena kenyamanannya sebanding dan perjalanannya cukup 1 jam saja!

Dan setelah 3 jam terombang-ambing di laut sambil mendengarkan lagu-lagu berbeda yang bersahutan dari handphone penumpang, akhirnya pulau Harapan terlihat juga. Waaaahhhhh! Hati saya berteriak girang. Bagus banget!!!

Pulau Harapan dari jauh. Mirip Maldives!


Pak Hussain bergaya hehehe

Pulau Harapan ini berdampingan dengan pulau Kelapa. Pulaunya cukup kecil untuk dikelilingi berjalan kaki. Besarnya kira-kira 7 hektar dan berpenduduk 2.200 jiwa saja. Penduduk Pulau Harapan sudah biasa kedatangan wisatawan setiap minggunya. Mereka sangat ramah dan suka membantu. Rasanya seperti di rumah sendiri yang tetangganya baik-baik semua. Pulaunya bersih meski di sudut belakang pulau masih bertebaran sampah. Overall, pulaunya cantik dan bersih.


Kedatangan wisatawan disambut oleh anak-anak Pulau Harapan

Foto aku dong Kakak, katanya

Semua yang diperlukan di trip sudah diatur oleh Mas Nico dari tim BlaxRax. 12 orang rombongan kami langsung diajak ke homestay untuk istirahat dan makan siang. Homestay kami punya 4 rumah yang di dalamnya terdapat 2 kamar. Karena perempuannya lebih banyak, dan lelakinya hanya 3, akhirnya kamarnya dipakai perempuan semua, dan lelakinya tidur di luar. Maaf ya Pak Hussain.

Menu makanannya didominasi oleh ikan yang divariasikan cara memasaknya, sup atau sayur asem, sambal dan kerupuk. Mantap mengisi perut yang keroncongan setiap habis main air.


Homestay kami, dekat dari dermaga utama

Enaknya hidup di pulau. Santai saja...

Setelah makan siang dan sholat dzuhur, jam 13.00 Mas Nico sudah mengajak kami berpetualang. Kapal sewaan khusus untuk rombongan kami sudah menunggu du dermaga utama. Jika wisatawan mau datang sendiri, kapal bisa disewa dari jam 8.00 - 16.00 seharga Rp. 400.000.

Itinerary siang sampai sore ini adalah snorkeling di laut lepas, dan Island Hopping atau berkunjung ke pulau-pulau sekitar. Perlu diketahui, trip yang dilakukan semua wisatawan lain, atau kira-kira 350 orang penumpang kapal yang datang bersamaan dengan kami, adalah sama. Jadi trip organizer semacam bergantian mendatangi pulau-pulau tersebut. Kadang, pulau bisa menjadi sangat ramai. Tapi, liburan kan tambah seru kalau tambah ramai, ya!

Kami melihat keluarga lumba-lumba dalam perjalanan
Alat snorkeling yaitu masker, dan fin sudah disiapkan lengkap oleh tim BlaxRax. Langsung nyebur! Kalau malas, kita bisa berenang sambil berpegangan pada tali perahu, dan mencelupkan wajah saja ke laut. Semua ikan kecil terlihat jelas berenang-renang mengitari karang. Jangan lupa bawa roti yang bisa dilepar ke laut. Ikan jadi tambah banyak yang datang. Dokumentasi underwater juga sudah disiapkan oleh BlaxRax. Mas Roy, pemandu wisata kita dari Pulau Harapan siap dipanggil untuk mengabadikan pengalaman bawah laut rombongan kita. Kasian juga dia dipanggil terus-terusan, setiap orang ingin difoto hehehe.

Mas Roy, bukan Mas Boy :p

Kapal-kapal berhenti di spot snorkeling yang biasa dituju

Banyak banget ikannya
Bergaya bersama Pak Hussain di dalam laut

Setelah snorkeling, kami dibawa mengunjungi Pulau Dolphin untuk bersantai karena disana ada warungnya. Kopi, gorengan dan Indomie langsung diserbu wisatawan yang kelaparan. Inilah enaknya Indonesia. Dimana-mana ada penjual gorengan hehehe.

Puas bermain pasir putih dan berenang di Pulau Dolphin, kami diajak ke Pulau Perak untuk bermain pasir lagi. Agenda hari ini harus puas berenang dan main pasir lah. Jangan lupa pakai sunblock yaaa.

Bergaya di Pulau Dolphin dengan pasir putihnya

Dari Pulau Perak, kami dibawa ke Pulau Gosong. Pulau ini sebenarnya hanya sandbank atau gundukan pasir. Sandbank ini hilang disaat high-tide sehingga kalau ingin melihat pulau ini sebaiknya bergegas sebelum jam 4 sore. Ajaibnya, di pulau kecil ini pun ada warung kopi hahaha. Luar biasa!!

Pulau Gosong. Ada warung di tengahnya. Sandbank ini hilang jam 4 sore
Setelah puas berfoto di Pulau Gosong, kami pun kembali ke Pulau Harapan. Yang masih belum puas, bisa main Banana Boat dengan harga Rp. 35.000/orang saja! Trip Banana Boat cukup jauh sampai ke Pulau Bulat, kira-kira 30 menit perjalanan pulang pergi.

Banana Boat
Malamnya, di Dermaga utama ada performance Dangdut. Ada Raja sawer yang baik hati melempar-lempar duit. Jadi kalau niat dapat uang lebih, lumayanlah berdiri di depan panggung hehehe.

Ikan, sosis, dan jagung bakar gratis untuk seluruh wisatawan di dermaga utama mulai jam 21.00. Makan sampai puasssss!

Keesokan harinya jam 5 subuh, Mas Nico sudah mengajak kami jogging keliling pulau Harapan. Hunting sunset, katanya. Kami berjalan sampai ke belakang pulau, and it is worth the walk!

Mangrove plants di pesisir pulau Harapan

Indahnya sunrise

Bapak-bapak memancing

Official becak for World Cup 2014

Styrofoam pun bisa jadi perahu
Kami memilih tidak mandi setelah jogging, karena akan tamasya lagi ke Pulau Bulat dan Pulau Kelapa Dua untuk melihat penangkaran Penyu. Tapi sarapan dulu dooong.

Pulau Bulat. Punya Pak Harto

Penangkaran Penyu di Pulau Kelapa Dua. Harga tiket masuknya cuma seribu perak

Penyu remaja. Berat juga loh!
Dan berakhirlah liburan kami di Pulau Harapan. Ternyata dua hari berjalan begitu cepat di pulau indah ini. Saya langsung bertanya ke Mas Nico, 'Kapan next tripnya BlaxRax, Mas?'. Hehehehe pelanggan puas kan pasti minta lagi dooong.

Yang pijet yang pijetttt
BlaxRax Trip Organizer 
www.blaxraxtrip.com
PIN BB:26DA87D6
Mas Nico:081288010192

Saturday, April 27, 2013

RESEP: Kue Khamir istimewa

Kamis lalu, saya mengajak anak-anak Fun House untuk membuat kue khamir bersama-sama. Kue ini memang hits sekali di daerah Condet. Dimana-mana banyak sekali penjual kue ini bertebaran. Namun harganya juga lumayan, satunya berkisar antara Rp. 1500 - 2000.

Ternyata cara membuatnya sangat mudah. Yang kami pikir adonannya harus didiamkan selama 6 jam, ternyata sudah mengembang dalam 20 menit saja. Menggorengnya pun tidak sulit, asal apinya kecil, minyaknya cukup, dan sering dibalik agar matangnya pas.



Tips ketika menggoreng: Gunakan tusuk sate ketika membalik adonan kue. Tusuk-tusuk dengan cepat kue ketika mulai coklat. Tusuk dengan cepat atau kue bisa pecah. Gunakan tusuk sate untuk menusuk sambil membalik kue. Tambahkan minyak goreng bila perlu.

Bahan: (diambil dari sajiansedap.com, untuk 15-18 porsi)
250 gram tepung terigu
100 gram gula pasir
1 sdt ragi instan (Fermipan)
150 gram tape singkong
175 ml air
25 gram margarin (Blue Band) yang dipanaskan sampai cair

Cara membuat:
Campur tepung, gulam dan ragi instan. Aduk rata. Tambahkan tape, dan kocok dengan mixer spiral sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit
Masukkan margarin, kocok kembali sampai adonan rata dan terlihat licin.
Diamkan 20 menit.
Panaskan penggorengan cetakan dan beri minyak satu persatu. Goreng adonan kue sampai berubah warna, balik dengan tusuk gigi dan goreng kembali sampai berwarna kecoklatan.

Sunday, April 14, 2013

Paper City - Great way to play, your way!

Hari Sabtu kemarin, seorang sahabat ingin datang mengunjungi anak-anak di kelas Fun House yang saya bina. Beliau ingin sharing mengenai profesinya sebagai seorang Event Organizer. Idenya adalah membuka wawasan anak-anak, bahwa pekerjaan tidak sebatas kerja kantoran, or worst penjaga kios. Duani ini luas, dan kesempatan di dalamnya pun tak terbatas...

Saya memutar otak untuk membuat games yang berhubungan dengan profesi sahabat saya ini. Mengenai penyelenggaraan event. Dan yang terpikir oleh saya saat itu adalah kompetisi 'pitching' ide untuk event ulang tahun. Pastilah seru.

Timbullah ide untuk meminta anak-anak untuk mendesain gaun sebagai permainan utamanya. Setelah browsing berbagai paper doll yang paling tepat, tiba-tiba saya menemukan website Made by Joel yang luar biasa canggih.

Paper city! Sebuah ide cemerlang dari pria bernama Joel ini, yang membuat desain kota Paris dari kertas. Yes, dan ide aktifitas untuk hari itu pun mengalir dengan indahnya.

Image dari sini

Dari paper city ini, akhirnya saya membuat permainan mendekor ruangan, mendekor tema pesta ulang tahun sampai kostum para undangan pesta. Setelahnya, anak-anak diminta untuk mempresentasikan hasil design mereka kepada para juri, persis seperti pitching EO kepada client.

Presentasi ide design anak per grup

Contoh design dekor, gaun, dan kostum undangan

Anak-anak mendapat pengetahuan baru hari itu, belajar berbicara di depan umum, dan merasakan langsung kehidupan pekerjaan seorang EP di kehidupan nyata.

As for paper city, ia adalah ide cemerlang untuk membuat permainan anak-anak berbagai usia. Selain seru, bisa dipadankan dengan mini toys lain seperti hotwheels, paper doll, sampai kereta api. Dan membuat serta memainkan merupakan sebuah kepuasan tersendiri.

Di beberapa blog, saya juga melihat berbagai macam paper city yang dibuat dan digambar sendiri dengan tangan.

Paper city yang digambar sendiri. Pasti anak-anak suka. Image dari sini

Yuk dicoba!

Tuesday, April 9, 2013

Cerita demam Mikail: Gigi geraham ke-3

Seminggu kemarin, badan Mikail panas cukup mengkhawatirkan. Suhu badannya stabil di suhu yang berkisar antar 38.3 - 38.6 derajat celcius. Sehari sebelum demam, Mikail terbangun dengan mata kiri merah dan cukup bengkak. Anehnya, demam ini bermula tepat setelah saya meneteskan obat mata yang diresepkan oleh dokter di RS Aini. Cukup panik, tapi saya yakin alasan demamnya bukan itu. 

Untungnya, saya pernah ikut seminar PESAT yang diadakan oleh Milis Sehat. Demam, bukanlah penyakit, dan kadang baik untuk anak. Lebih lengkap tentang demam bisa dibaca DISINI. Tidak gegabah, saya memilih menunggu 3 hari agar sumber demam dapat diketahui dengan tepat. Saran memberikan antibiotik dari teman, saya abaikan. Karena menurut dokter-dokter di Milis Sehat, demam yang disebabkan oleh virus tidak dapat diobati dengan antibiotik. Alih-alih mengobati, kita malah membunuh bakteri baik, anak mungkin terpapar antibiotik skala luas, dan dapat mengurangi imun tubuh.

Seperti doa yang terjawab, di hari ke-3 demam mulai muncul gejala common cold. Hidung mulai meler, dan mampet di malam hari. , saya pun mulai merawat demam Mikail dengan home-treatment. Dan 2 hari kemudian, demam pun mereda dan Mikail mulai pulih dan ceria kembali. Lega...

....

Dua hari berselang, setiap kali sikat gigi, dia mengeluh sakit. Memang ketika demam pun, dia menolak sakit gigi. Saya tidak menaruh curiga, karena saya pun malas sikat gigi ketika sedang sakit hehehe. Tapi tadi malam, ketika dia mengaduh dikala menyikat gigi, alarm di kepala saya seperti berdering. Ada yang tak biasa...

Dan benar saja, terdapat pembengkakan di gusi bawah kiri paling belakang. Gigi geraham kirinya seperti tertutup gusi sampai separuh. Saya terkejut sekali. Kami berniat pergi ke dokter gigi keesokan harinya.

Sebelum pergi ke dokter, saya menuruti saran ibu saya untuk menunjukkan masalah gigi Mikail ke sepupu saya Willy, seorang dokter gigi. Tak lama kemudian telpon saya berdering. Suara di seberang telpon tak tampak kuatir, malah seperti tersenyum sumringah.

'Ga papa Mbak!', katanya memulai penjelasan. 'Itu gigi geraham yang baru setengah tumbuh', lanjutnya sambil menjelaskan panjang lebar tentang pertumbuhan gigi geraham. Kurang paham, saya mencoba meyakinkannya bahwa gusi bengkak itu sebenarnya lah yang menutupi gigi gerahamnya, dan bahwa gigi itu sudah ada disana sejak lama.

Gigi geraham yang terlihat tertutup gusi

Willy meminta saya menghitung kembali jumlah gigi Mikail. Semuanya ada 22! Haaa? Sejak kapan? Terakhir saya hitung, jumlah giginya adalah 20 buah, dengan 4 geraham besar yang sekarang sudah bertambah menjadi 6. Benar saja, ketika saya perhatikan lagi, gigi geraham bawahnya bertambah satu di masing-masing sisi. Sementara geraham kanan sukses keluar tanpa sepengetahuan saya, yang kiri masih dalam proses keluar.

Sesudahnya, Willy kembali menyemangati saya. 'Hebat Mikail! Pertumbuhan giginya terbilang sangat cepat. Biasanya geraham ke-3 tumbuh ketika anak berumur 6 bahkan ada yang sampai belasan tahun', katanya bangga. 

Jadi, mungkinkah demamnya kemarin akibat gigi yang baru tumbuh ini? Untunglah saya menahan diri untuk tidak memberikan sembarang obat, apalagi antibiotik yang mungkin membahayakan imunitas tubuhnya saat dipakai tidak sesuai kebutuhan. Wallahu a'lam.

Tuesday, April 2, 2013

'You broke your promise, Mama!'

Sudah dua hari si bibi tidak masuk kerja. Suaminya yang memang sudah lama sakit, menyita semua waktunya beberapa hari belakangan ini.

Dua hari ini juga, pikiran saya jadi bercabang, mencoba menyelesaikan banyak hal dalam satu waktu.

Dan sudah lebih dari dua hari, saya menjanjikan Mikail untuk mengunjungi penjahit. Baju bola hadiah ulang tahun dari temennya perlu dipotong sedikit bagian bawahnya. Berkali-kali juga saya bilang 'Ya, nanti' namun berakhir dengan alasan dan janji untuk pergi keesokan harinya.

Hingga tadi malam, Mikail menjerit menagih kembali janji saya. Saya menepuk jidat, menyesali kealpaan saya sambil mencoba mencari alasan yang tepat. Anak kecil ini seperti lelah mendengar alasan, meraung sejadi-jadinya, tak peduli apa yang saya katakan. Tangisnya semakin menjadi setiap saya mencoba meredakan kekesalannya.

'You broke your promise, Mama!', jeritnya. Lelah menjelaskan, saya pun memilih diam dan mengabaikannya, berharap dia melupakan dengan sendirinya.




Benar saja. Suara tangis semakin mereda beberapa saat setelah saya mulai menyiapkan makan malam. Sepertinya TV mampu menghibur kekesalannya saat saya pun menyerah. Dan saat tidur, nampaknya tak terlihat rasa marah itu lagi. Mungkin dia sudah lupa...

Pagi hari tadi, Mikail bangun dengan senyum ceria. Saat yang tepat untuk saya kembali mengucap maaf, menyatakan penyesalan tanpa dibalas dengan jeritan dan tangisan, pikir saya. Dan ternyata yang saya dapati kemudian adalah sebuah pelajaran besar: 
"Semua janji yang kita langgar, meski tampak sepele, tak pernah dilupakan oleh anak. Sikap kita terhadap janji akan membekas di hati anak dan akan membentuk sikap mereka di masa dewasanya nanti"

Saya akan meng-quote perkataan anak yang baru melepas masa balitanya, dalam blogpost ini. Agar saya selalu ingat betapa berat sebuah janji, dan betapa besarnya harapan seorang anak untuk terpenuhinya sebuah janji.
'Mama, a promise is very hard thing. You already broke it. Its still broken, even when you said sorry. But I have fixed your promise. So now you can make new promises for tomorrow'
 katanya diikuti hati saya yang mulai tergetar dan lidah yang terasa memberat.

Dan saya pun menangis dalam hati...

Thursday, January 31, 2013

Kisah Farid - Kenakalan dan kekerasan pada anak-anak

Kelas Fun House hari Senin kemarin kedatangan muka-muka baru. Diantaranya, seorang anak kecil bernama Farid. 

Pertama kali melihat, anak ini terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan suka melucu. Kelas 'Mengenal dunia - United Kingdom' hari Senin itu pun menjadi penuh dengan gelak tawa akan pertanyaan Farid yang membuat saya pun tergelak dibuatnya.

Di saat kelas berlangsung, beberapa anak berdiri di depan rumah, meminta Farid untuk keluar. Meski suara mereka cukup keras dan datang berkali-kali, Farid tidak beranjak dari tempat duduknya. Saya pun tidak ambil pusing. Saya pikir, mungkin kawan-kawannya ingin mengajaknya bermain.

Keesokan harinya, Farid masih membuat saya penasaran. Kabarnya, anak ini menghabiskan kebanyakan waktu luangnya di warnet bersama teman-temannya yang lebih besar. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata teman yang datang kemarin hari memaksanya keluar kelas untuk kembali ke warnet, bahkan sempat mengancam untuk menghapus seluruh memori data permainan Lost Saga miliknya. Untuk anak kecil yang berani menghiraukan ancaman temannya yang lebih besar, memilih untuk dapat ilmu baru daripada bermain, keberanian Farid patut diacungi jempol.

Iseng-iseng saya tanya, "Kamu di kelas ranking berapa?". Yang ditanya cuma nyengir lebar memamerkan deretan gigi-gigi kecil berwarna hitam. Saya mengajaknya untuk datang lebih sering ke rumah, sekedar bermain, mengerjakan PR, atau untuk bertanya tentang pelajaran apa saja yang ia belum paham. Matanya langsung membelalak. "Yang beneeerrr?", katanya dengan logat betawi kental. Sambil bercanda, saya terus memastikan bahwa saya tulus ingin membantu dia belajar, syukur-syukur bisa menghindarinya dari bermain di warnet.

Entah bagaimana kedekatan tiba-tiba terbangun, Farid seperti lebih percaya diri dan menumpahkan seluruh kisah hidupnya kepada saya. Dikelilingi dan disahuti anak-anak lelaki lain yang mengenalnya karena satu sekolah, semua bersahutan bercerita. "Farid ini bandel banget loh, liat ni perutnya pernah sobek ketusuk besi", ujar satu anak dengan semangat. "Iya bener, pernah juga dia nyangkut di kawat waktu bolos sekolah, main di lapangan", sahut anak satu lagi sambil memaksa Farid menunjukkan dada dan perutnya yang ternyata penuh bekas luka, bukti kenakalannya. "Dia berantem mulu sama ibunya tu, ibunya aja dipanggil Anjing!", cerita satu anak sambil diikuti gelak tawa teman-temannya.

Saya cuma mendengarkan, tanpa  upaya memberi nasihat, sambil tertawa meski miris dalam hati, menimpali dengan ekspresi terkejut hingga kagum. Bagaimana bisa anak yang umurnya baru 8 tahun, punya kisah hidup suram yang cukup banyak untuk diceritakan.

Farid membuat kartu ucapan di kelas Art and Craft hari Rabu

Cerita Farid dilanjutkan dengan pertemanannya (buat saya, pertemanan ini lebih mirip dengan Geng anak nakal) dengan anak-anak di warnet. Warnet kecil yang hanya berjarak 2 rumah dari rumah kami, memang menjadi momok bagi lingkungan kami yang dipenuhi anak-anak kecil. Dan Farid menjadi salah satu korban momok tersebut.

Waktu dan uang jajannya habis digunakan untuk bermain warnet sepanjang hari. Berteman dengan anak-anak yang lebih besar, yang seharinya hanya mem-bully anak yang lebih kecil. Entah apa yang mereka bicarakan, dan lakukan sehari-harinya. Yang keluar dari mulut anak-anak kecil ini, termasuk Farid, kebanyakan adalah sumpah serapah, dan teriakan yang tak sedap didengar. "Aku pernah dicekik dan dipukul sama si Anu", Farid bercerita tentang geng warnetnya yang sering berlaku kasar. Usia temannya beda 4 tahun dengan dia, hingga sering bertindak semaunya pada teman yang lain. Farid bercerita sambil sesekali tertawa diiringi gurau anak-anak lain dalam kelas kami. Saya mengakhiri pembicaraan dengan mengacungi jempol, menunjukkan kekaguman saya pada keinginannya untuk menjadi anak yang lebih baik. Sekali lagi dia menunjukkan gigi-gigi hitamnya dengan senyuman lebih lebar.

Inilah gambaran anak-anak kurang mampu di sekitar rumah kita. Mereka ada di setiap pelosok ibukota, meski di daerah penuh kompleks rumah gedong sekalipun. Seringnya tak terpikir dan tak terlihat oleh kita, karena kesibukan dan aktifitas kita yang lain. Bayangkanlah, mereka bukan anak jalanan, pengamen, atau pengemis di lampu merah. Mereka tidak tidur di kolong jembatan atau dipaksa bekerja oleh orangtua mereka. Mereka hanya anak biasa, namun mengalami kekerasan sejak usia dini dan berbuat kenakalan yang melebihi batas normal untuk usianya. Apakah dapat terpikirkan oleh kita, kehidupan anak jalanan dan mereka yang lebih miskin dari Farid?

Kemiskinan memang besar dampaknya untuk tumbuh kembang anak. Orangtua dengan latar pendidikan yang kurang semakin memperbesar dampak buruk tersebut. Saatnya kita bertindak, dari lingkungan kita sendiri...


Tulisan ini sebagai coretan untuk Abstract Konferensi Kemiskinan Anak dan Perlindungan Sosial yang diselenggarakan oleh Bappenas dan UNICEF.
Info lebih lengkap silahkan klik tautan berikut:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...