Sunday, April 26, 2015

Serunya main kucing di Kafe Kucing Cutie Cats Cafe

Akhirnyaaaa sampai juga ke Cutie Cats Cafe​. Kafe dengan konsep unik pertama di Indonesia yang berlokasi di Jl. Kemang 1 No, 12F ini dimiliki  Lia Ramadiani-Kurtz​, kawan sesama MT dulu di kantor 'Sarang Burung'. Bangga euy punya teman sukses.

Cutie Cats Cafe

Di kafe yang berada di atas toko tas Sparkling Society milik Lia juga, kita bisa ngopi-ngopi cantik sambil main dengan belasan kucing peliharaan disana. Kucing-kucing dengan ras berbeda terlihat menggemaskan dengan bulu bersih lebat yang terawat dan kejinakan mereka yang nampak nyaman bermain bersama manusia.

Untuk datang ke kafe yang selalu penuh antrian ini, pengunjung harus menelpon untuk reservasi dulu. Pengunjung harus membeli tiket untuk bermain selama 1 jam (Kami bertiga membayar Rp. 270.000). Datanglah tepat waktu agar bisa main dengan puas, karena 1 jam berlalu begitu cepat, menurut anak-anak saya.

Interior cantik nan unik

Karena kami datang terlambat 30 menit dari jadwal reservasi, mbak resepsionis meminta kami menunggu sampai jadwal yang jam 14.00 supaya mainnya sejam pas. Setelah makan siang, kami pun masuk bersama sekitar 10 pengunjung lain yang langsung menyerbu kucing-kucing super lucu disana.

Sayang kami datang ketika jam tidur siang, hingga beberapa kucing memilih tidur daripada main. Meski begitu, mereka rela dibelai-belai dan dipeluk sambil merem. Kedua anak saya mencoba memegang semua kucing yang semuanya menggemaskan. Disana disediakan sekeranjang alat untuk bermain bersama kucing, termasuk bola, boneka, bantal-bantal yang bisa dimainkan.

Meski ngantuk, tetap mau main bareng

Tempatnya cozy dengan perabotan rumah-rumah kucing yang unik. Pengunjung bisa memesan cake dan minuman. Saya memilih carrot cake dan ice chocolate sambil menikmati keseruan kafe. Semua kucingnya baik dan jinak. Kesayangan Naznin adalah Usagi, si kucing berkuping kecil yang pengertian, mau dipeluk dan ga marah diuwel-uwel anak kecil.

Katalog nama-nama kucing dan sifat-sifatnya

Setelah keluar, disediakan Hand Sanitizer dan roller untuk membersihkan baju dari bulu kucing bagi pengunjung.

Masuk lepas sepatu dulu. Keluarnya disediakan hand sanitizer dan roller

Sejam ga puasssss rasanya. Naznin minta datang kesini tiap minggu hahaha.

Sukses yaaa Cutie Cats Cafe.

======================

Cutie Cats Cafe
Jl. Kemang I No. 12F
Lantai atas Sparkling Society
Depan Food Garden
Jakarta Selatan

Reservasi: 0811-1004-560

IG: @CutieCatsCafe

Tuesday, April 14, 2015

TravelIndonesia #5 - Pengalaman pertama hiking di Gunung Papandayan, Garut

Saya memang lebih suka gunung daripada laut. Tapi, kalau disuruh manjat gunung saya lebih memilih untuk main air di pulau hingga terbakar matahari. 

Berhubung trip naik gunung kali ini diadakan oleh grup Lazy Traveler yang tak diragukan kenyamanannya, saya pun mendaftar dan dengan pede membawa Mikail serta untuk melakukan TravelIndonesia yang kelima. Dan benar saja, trip dikemas bersama seapik dan senyaman mungkin hingga kami tinggal membawa perlengkapan pribadi dan melenggang naik gunung dengan santai. 

Perjalanan dimulai hari Sabtu tanggal 11 April 2015 pukul 06.00. Grup kami yang terdiri dari 9 orang memulai perjalanan dari pelataran parkir RS. UKI ke kota Garut dengan Elf sewaan. Perjalanan kami hingga ke Camp David, awal pendakian Papandayan memakan waktu kurang lebih 7 jam.

Selain mobil sewaan, pendaki juga bisa menaiki bus Jakarta-Garut dari Terminal Cililitan seharga Rp. 45.000, kemudian melanjutkan dengan angkot seharga Rp. 20.000/per orang hingga desa Cisurupan, dan menyewa mobil bak hingga ke Camp David untuk memulai pendakian. Tiket masuk untuk camping seharga Rp. 7.500/orang.

Di Camp David tersedia musholla dan toilet. Tersedia juga beberapa warung yang menyediakan makan bagi grup pendaki. Terlihat banyak warung-warung yang rusak di area parkir ketika kami datang. Kemungkinan besar dirusak warga yang tidak suka kompetisi.

Kami menikmati makan siang yang sudah disiapkan untuk tim kami di sebuah warung kecil. Setelah sholat dan bersitirahat sejenak, kami pun memulai perjalanan.

Camp David, tempat memulai pendakian
Gunung Papandayan terletak di desa Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2665 mdpl ini tercatat sudah meletus setidaknya 4 kali. Letusan terakhirnya adalah di tahun 2004. Gunung ini memiliki beberapa kawah yang hingga kini masih mengeluarkan asap tebal. Kawah yang terkenal adalah Kawah Gunung Nangklak, yang juga jalur alternatif pendaki senior melewati Hutan Mati.

Kami didampingi oleh 3 orang pemandu, dan 1 pemandu yang membantu memasang tenda di lokasi camping. Sementara barang-barang berat dititipkan ke porter untuk dibawa ke atas.

Lebih dari setengah pendakian kami adalah kawah. Asap yang tebal dan bau belerang yang khas tak mengurangi indahnya pemandangan gunung berapi strato ini. Medan pendakian di kawah sangat berbatu, hingga cukup melelahkan bagi saya. Namun tidak untuk Mikail, yang terlihat semangat dan antusias mendaki hingga ke puncak.


Jalur pendakian kawah yang berbatu

Kepulan asap kawah dengan bau menyengat

Pendaki-pendaki yang beristirahat sambil menikmati pemandangan kawah

Untunglah saya bawa anak laki yang mudah melepas hajatnya dimana saja :D
Selesai dari kawah, jalur pendakian mulai terasa lebih curam dan menantang. Hampir setiap 5 meter, saya memilih untuk bersandar pada batu besar dan mengatur debaran jantung yang tak keruan. Pendamping kami dengan sabar menunggu hingga kami siap meneruskan perjalanan. Kesehatan yang utama. Pemandu yang lebih senior yang melihat semangat Mikail langsung mengajaknya mendaki jalur pintas dengan medan curam agar tiba di atas lebih dulu. Spontan, anak kecil ini langsung berlari mengikutinya, sementara saya hanya melambaikan tangan sambil terengah-engah.

Jalur pegunungan yang berliku dan melelahkan

Melewati sungai

Tim kami mulai terpisah meski para pendamping menemani di barisan depan, tengah dan belakang. Akhirnya kami tiba di pos pertama untuk beristirahat. Sempat kaget melihat banyak sekali motor parkir disini. Ternyata motor trail ini bisa naik dari Camp David hingga pos pertama loh. Pantas saja di beberapa trek pendakian terlihat jalur sempit seperti parit yang ternyata jalur motor. 

Di pos ini juga terlihat beberapa pendaki yang mendirikan tenda. Ada penjual jajanan yang ramai diserbu pendaki kelaparan. Banyak juga yang mengisi perbekalan air untuk meneruskan perjalanan. Waktu istirahat kami terpaksa dipercepat karena cuaca berubah mendung, padahal perjalanan kami masih cukup jauh.

Kak Heny berpose dengan motor trail

Gerimis mulai turun ketika kami tiba di area camping, Pondok Saladah. Tenda kami sudah disiapkan oleh pemandu yang menunggu di atas. Berdiri rapih dengan alasnya, hingga kami langsung berebutan masuk diiringi geluduk dan hujan deras. Perjalanan kami menempuh waktu 5 jam!

Hujan semakin deras hingga maghrib. Sementara tas saya yang berisi pakaian bersama perbekalan makanan masih belum tiba. Saya dan Mikail meringkuk berpelukan dengan jaket seadanya. Sleeping bag yang dijadikan selimut tetap tak mengurangi rasa dingin yang menusuk. 

Hujan mulai reda pukul 8 malam. Kehujanan, kedinginan, dan terlambat makan ternyata membuat maag saya kambuh. Alhamdulillaah, pemandu yang baik membuatkan satu tenda kecil lagi untuk saya dan Mikail, lebih kering dan lebih hangat. Porter akhirnya datang membawa barang-barang kami dan makan malam. Mikail dengan sigap berkenalan dengan teman-teman pendaki lain yang menyalakan api unggun, mencari obat maag dan meminta tolong membuatkan teh panas untuk saya. Terharu...

Pondok Saladah, area berkemah
Pemandangan malam hari setelah hujan luar biasa indah. Bulan separuh dan taburan bintang terlihat lebih dekat dari malam-malam yang lain. Saya masih meringkuk di tenda sementara suara Mikail masih terdengar bersenda gurau bersama rekan pendaki lain yang menghangatkan diri.

Sarapan di dalam tenda

Pukul 03.00 dini hari, area kemah sudah ramai lagi dengan riuh rendah suara-suara pendaki yang ingin mendaki Tegal Alun, puncak tertinggi Gunung Papandayan, untuk menyaksikan matahari terbit. Saya memilih untuk tinggal di tenda karena udara dingin yang menusuk.


Kini, di Pondok Saladah sudah ada WC dan tempat mencuci. Pendaki yang ingin menggunakan WC harus rela antri panjang berjam-jam. Pendaki senior pasti lebih memilih untuk 'go natural'. Di banyak spot juga terdapat warung dan jajanan. Menurut para pendaki senior, gunung ini sudah jadi 'mall', tidak asri lagi karena terlalu ramai orang.

WC dan tempat mencuci yang selalu ramai dan antri panjang

Warung dan jajanan
Mas Yasin, pendamping utama tim kami

Hari beranjak siang dan matahari sudah di atas kepala kami, meski angin sejuk masih membuat kami betah berada di tenda. Pengalaman naik gunung pertama saya cukup mengesankan, dan Mikail pun merasakan hal yang sama.

Kami beranjak turun di siang yang terik, namun saya sudah lebih dahulu menyiapkan jas hujan di tas kecil dan menutup backpack dengan rain cover. Jalan turun ternyata lebih cepat daripada naik gunung. Terbukti kami hanya perlu waktu 1,5 jam untuk sampai ke area parkir mobil. Mikail berkali-kali terjatuh karena jalur turun yang berbatu. Alhamdulillaah banyak pendaki yang datang membantu dengan menyemprotkan antiseptik, menawarkan band-aid sampai menyorakinya dengan kata-kata semangat. Saya langsung cinta gunung dan segala isinya.

Cuaca di Gunung Papandayan berubah sangat cepat. Awan mendung mulai terlihat ketika kami menuruni jalur kawah, Tiba-tiba titik-titik hujan langsung berubah menjadi deras ketika kami mencapai kawah. Air turun dengan deras dari puncak gunung membuat jalur turun kami berubah menjadi sungai yang deras. Saya mulai panik, sementara Mikail berlarian kegirangan di aliran sungai dadakan itu. Luar biasa energi anak ini!

Jalur turun

Pemandangan ketika turun terasa berbeda daripada ketika menaikinya. Mungkin karena rasa letihnya juga berbeda ya. Menurut pendaki senior yang sudah ratusan kali menaiki gunung ini, tiap pendakian mereka merasakan sensasi yang berbeda. Setiap kali mendaki pun, alam memberikan pelajaran hidup yang berbeda-beda, menempa jiwa hingga makin dekat dengan penciptanya.

Pengalaman yang luar biasa. Sepertinya saya ketagihan...

Pemandangan dari puncak yang membuat ingin kembali lagi

 -----------------------

Sewa Elf 2 hari Jakarta - Gunung Papandayan
Rp. 2.600.000

HTM camping Rp. 7.500

Pemandu Rp. 500.000
Mas Yasin: 0812-9642-1123

Porter Rp. 200.000/trip

Sewa perlengkapan
Tenda besar Rp. 40.000/hari
Tenda kecil Rp. 30.000/hari
Matras Rp. 10.000
Sleeping bag Rp. 10.000/hari

Reference blog:
Janu jalan-jalan
Winny

Tuesday, April 7, 2015

TravelIndonesia #4 - Lampung | Pulau Pahawang, Lembah Hijau, Summit Bistro, dan sekitar kota Bandar Lampung

Trip kali ini sebenarnya terbilang mendadak, karena jadwal aslinya adalah Karimun Jawa. Naznin memang sudah request mau ke pantai dan sudah seminggu sebelumnya menunggu-nunggu hari Jumat. Ketika tripnya dicancel, langsung kelabakan cari trip serupa yang terdekat dan murah. Terpilihlah Lampung sebagai TravelIndonesia #4.

Namanya juga dadakan. Beli tiket dadakan, booking hotel dadakan, dan ga sempat browsing sana sini, cuma mengandalkan supir kendaraan yang juga dikontak dadakan. Allah maha baik, sehari sebelum berangkat, saya dikontak teman sesama relawan di Komunitas Taufan. Ternyata mereka sedang dalam kendaraan menuju ke Lampung via pelabuhan Bakauheni! *lompat Barney*

Bandara Raden Inten di Lampung hanya ditempuh selama 30 menit dari bandara Soekarno-Hatta. Perjalanan yang sangat singkat, mengingat perjalan dari rumah ke airport memakan waktu 1 jam. Sesampainya di bandara, atas pesan dan paksaan ibu saya, kami dijemput oleh mobil sewaan dari hotel. Saya memilih hotel Sahid melalui Agoda. Tanpa alasan, hanya capcipcup saja, yang penting ada kolam renang dan harganya sesuai budget.

Alangkah terkejutnya saya ketika sampai di hotel. Mungkin kurang tepat ya disebut hotel. Suami saya mungkin akan menyebutnya 'Piece of old sh*t'. Hotel yang mungkin berumur sama seperti saya ini sepertinya tidak pernah mengalami renovasi. Lift hotel setengah rusak, saya lebih memilih naik tangga ke lantai kamar saya. Kamar mandi lobby maupun kamar cukup mengenaskan dengan keran air berkarat dan toilet yang hampir lepas. Air keran mengucur berwarna hitam ketika pertama kali dibuka hingga 10 menit, menandakan airnya lama tidak keluar. Belum lagi pintu balkon yang tidak tertutup rapat hingga masuk nyamuk, TV yang channelnya tidak sesuai dengan tulisan, dan yang paling parah....di dua malam saya menginap ada dangdutan super keras hingga pukul 01.30 dini hari. Ketika dikomplain ke receptionist, setelah menelpon berkali-kali tidak diangkat mungkin tidur, tidak ada solusi hanya disuruh menunggu hingga dangdutannya selesai. Luarrrr biasa.

Anyway...happiness is a just a state of mind. Saya memilih untuk melihat sisi baiknya. Kamarnya cukup luas, kasur cukup empuk, handuk bersih, dan yang paling saya suka adalah saya bisa mengontrol lampu, TV dan AC dari meja samping kasur, karena semuanya ada tombolnya. Alhamdulillaah tidur nyenyak.

Hari pertama kami dimulai pukul 06.30 menuju ke Pantai Klara dimana teman-teman saya berkumpul untuk menaiki perahu sewaan yang bertolak pukul 08.00. Perjalanan ke Pantai Klara seperti ke Puncak di Bogor. Menanjak dan berliku-liku. Ada beberapa tempat dimana jalanannya kurang baik namun akses kesana tetap mudah. Hanya ada satu jalan menuju pantai ini, hingga di hari libur besar seperti Hari Raya Idul Fitri dan tahun baru, akses ke Pantai Klara, Pantai Mutun dan Pasir Putih akan penuh sesak hingga berjam-jam.

Dermaga Pantai Klara

Di pesisir pantai disediakan tempat parkir, tempat mandi, toilet, musholla dan warung kecil. Jangan lupa membawa makan siang sebelum naik perahu supaya bisa dimakan di pulau. Pulau kecil sekitar Pahawang tidak dihuni hingga tidak ada fasilitas apa-apa. Bisa juga minta dibawakan termos air panas ke nahkoda perahu, kalau bawa Pop Mie dan mau menyeduhnya di perjalanan.

Sewa perahu minimal 9 orang, sebaiknya trip dilakukan bersama teman-teman untuk menghemat ongkos sewa perahu. Harga sewa perahu 100.000-150.000/orang sudah termasuk peralatan snorkeling.

Ketemu teman-teman baru sesama petualang yang seru!

Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Pulau Pahawang susah dijelaskan dengan kata-kata. Laut jernih dikelilingi pegunungan membuat mata saya tak bosan memandang lekat-lekat. Masya Allah!



  


Kami berhenti di Pulau Pahawang kecil yang pantainya panjang dan dangkal. Kami langsung melompat dari perahu dan berlari-lari menuju ke tengah laut. 

Lautnya dangkal hingga ke tepi gunung yang itu. Indah bangeeettttt

Setelah puas berfoto-foto, kami pun beranjak ke spot snorkeling pilihan nahkoda perahu. Kami dibawa ke laut sedalam 1,5 meter dibekali dengan pelampung, fin dan masker yang sudah termasuk ke dalam ongkos sewa perahu.

Pelampung kebesaran

Sayang, pelampungnya terlalu besar untuk Naznin, tapi dia tidak kehabisan ide. Setelah mencoba memasukkan kaki ke bagian tangan pelampung dan menduduki pelampungnya, akhirnya posisi seperti ini yang paling nyaman. Cukup meletakkannya di bawah perut dan berenang berpegangan :)


Naznin belum puas main di air padahal hari sudah pukul 13.00. Tapi kami sudah harus kembali ke perahu dan beranjak pulang ke kota. Teman-teman saya yang lain langsung meneruskan 4 jam perjalanan menuju Teluk Kiluan. Saya memilih untuk menghabiskan hari kedua di sekitar Bandar Lampung, mengingat hotel yang sudah dibayar dan waktu penerbangan kembali ke Jakarta yang cukup mepet.

Teluk Kiluan ternyata memang wisata yang sedang naik daun di Lampung. Kawanan lumba-lumba sedang bermigrasi dan menetap di teluk ini dari bulan April-Mei. Harus menginap disana kalau melihat lumba-lumba karena mereka hanya bisa dilihat pukul 06.00 dengan perahu kecil yang hanya muat 3 orang saja. Banyak penginapan murah di Teluk Kiluan. Sebaiknya rencanakan penginapan sehari di bandar Lampung dan sehari di Teluk Kiluan.

Lumba-lumba di Teluk Kiluan

Hari kedua kami memilih untuk naik bukit ke daerah Sukadanham yang merupakan tujuan wisatawan lokal di hari libur. Ada Lembah Hijau, Bumi Kedaton dan Summit Bistro disini. Banyak juga pedagang durian di sepanjang jalan menuju bukit. 

Pemandangan dari Sukadanham, Kota Bandar lampung bisa kelihatan dari atas sini

Cukup Rp. 10.000 per orang untuk memasuki Lembah Hijau. Di dalamnya ada pentas satwa, playground yang besar, berbagai permainan anak, pony ride dan taman kijang yang cukup luas. Banyak keluarga datang kesini untuk berpiknik. Suasana taman yang teduh dikelilingi kandang burung memang terasa sangat menyenangkan.

Jenis permainan yang ada di Lembah Hijau adalah: Mini train, pony ride, bumper car, rumah hantu, carousel, ATV dan flying fox. Harganya berkisar antara Rp. 10.000 - 30.000.

Permainan di Lembah Hijau

Dari Lembah Hijau, kami mampir ke Summit Bistro yang letaknya berdekatan. Kebetulan adik saya ikut membantu merenovasi design cafe The Edge yang terletak di lantai 2 bangunan tersebut. Pemandangan yang ditawarkan oleh restaurant ini adalah yang paling memikat pengunjung. Kota Bandar Lampung dan pantai yang membatasinya terlihat memukau dari atas sini. Dinikmati bersama teman dengan secangkir kopi dan percakapan seru pasti bisa berlangsung hingga larut malam.

Summit Bistro
3 jam sebelum waktu penerbangan, saya memilih untuk turun dari bukit untuk menikmati pusat kota Bandar Lampung. Pusat keramaian kota Bandar Lampung terletak di Jalan Raden Intan dan Jalan Kartini. Pilihlah hotel di daerah tersebut agar udah kemana-mana. Hotel Sahid tempat saya menginap ternyata berada di kawasan industri jauh dari kota. Konon, dahulu sebelum banyak hotel di tengah kota, hotel Sahid merupakan hotel ternama di daerah yang ramai wisatawan.

Di jalan kartini juga terdapat Stasiun kereta Tanjung Karang untuk menuju Palembang. Disini juga tempat mengambil Bus Damri Executive menuju stasiun Gambir di Jakarta seharga Rp. 265.000. Jadi lebih baik naik bus daripada naik pesawat yaa.

Jangan lupa untuk membeli oleh-oleh di YenYen daerah Teluk Betung. Pilihan saya adalah Keripik Pisang merk Aneka, Pletekan Ikan, Sambal Ikan Peda Ny. Apin, Sambal lampung, Kemplang udang dan ikan, dan pastinya Sambel goreng udang Suseno. YenYen ini sangat terkenal di kalangan turis dan didatangi para artis, padahal disekitar Teluk Betung cukup banyak penjual oleh-oleh. Mungkin 'Chong'-nya gede ya.

YenYen, tempat membeli oleh-oleh yang ramai

Bunderan Gajah, tempat berkumpul warga di malam minggu. Hari Minggunya ada CFD di sekitar jalan yang ditutup hingga pukul 10.00

Masjid Agung Al-Furqon, terbesar di Bandar Lampung

Di dalam masjid agung

Ada satu lagi tempat wisata lokal dekat dengan airport. Kami memutuskan untuk melihatnya sebentar sebelum berangkat. Pusat pemandian air panas bumi NATAR. Sayang tempatnya kotor dan tak terawat, meski Naznin terlihat sangat antusias untuk masuk ke dalamnya.



We love Lampung. Meski tempat pariwisatanya kurang terawat, kami yakin Lampung punya potensi besar untuk dicintai turis lokal dan asing. 

----------------

Menuju Lampung
- Bus Damri Executive dari Gambir ke stasiun Tanjung Karang
Rp. 256.000. Lama perjalanan kurang lebih 8 jam
http://www.damri.co.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=76&Itemid=496
- Naik travel Purnagama atau Gaya Baru
Rp. 175.000-200.000
http://www.eatrips.com/2013/12/menuju-lampung-dari-jakarta-ala.html

Sewa mobil di Lampung
MRC Rent Car
0821-8692-4900 Pak Sofyan
www.jasarentalmobillampung.com

Rekomendasi Hotel
Cari di sepanjang jalan Raden Intan atau Kartini.
Anugerah Hotel, Hotel Horison, Pop Hotel, dll.

Tempat belanja
- Pasar Tengah di Jl. Raden Intan
- Pasar Bambu Kuning di Jl. Kartini
- YenYen Teluk Betung
- Pempek 123 Teluk Betung dan Kartini

Menuju bandara Sekarno-Hatta dari PGC dan sebaliknya
AGRAMAS
Rp. 35.000. Bus setiap 30 menit dari terminal busway PGC, sebelah 7eleven






Wednesday, March 11, 2015

TravelIndonesia #3 - Semarang | Umbul Sidomukti, Ambarawa, Goa Kreo, dan Kota Lama

Travel Indonesia kali ini adalah giliran Mikail. Sempat bingung karena ketika browsing, wisata Semarang kebanyakan adalah wisata kota tua yang lebih dinikmati oleh pecinta seni foto. Untungnya, teman saya, Teja menyarankan beberapa tempat wisata baru yang letaknya tak berapa jauh dari kota Semarang.

Ini kali pertama saya berkunjung ke Semarang. Kota kecil ini sangat bersih dan apik. Spot kota kesukaan saya adalah Taman Sri Gunting. Persis seperti di taman Ulu Cami, Turki. Cantik dan unik. Yang paling menyenangkan lagi adalah kota ini memiliki trotoar lebar dan bersih dari penjual kaki lima. Jadi mau pindah ke Semaraaaang :D

Trotoar lebar di kota Semarang

Kami memilih hotel Pandanaran karena dekat dengan Simpang Lima, dan pusat kota. Hotel yang kami pikir kecil, ternyata luas dengan 3 hall besar yang biasa dijadikan aula pernikahan. Kolam renang, gym dan spanya pun cukup bagus. Di hotel juga tersedia club dan karaoke bagi peminat night-lifestyle. Uniknya, telepon di lobi hotel bermodel lama. Mikail sampai terpesona sambil bersungut karena tidak bisa memencet tombolnya.

Telepon model jadul di lobi hotel

Umbul Sidomukti

Kami memulai hari pertama dengan mengunjungi objek wisata yang jauh dahulu. Pilihan pertama adalah Umbul Sidomukti. Objek wisata yang terbilang baru ini terletak di daerah Bandungan, Desa Sidomukti. Kenapa dinamakan Bandungan? Menurut Pak Heri, supir mobil sewaan kami, karena tempat yang terletak di pegunungan ini mirip Bandung :)

Perjalanan dari kota Semarang menuju Bandungan memakan waktu 1,5 jam dengan mobil. Jalanan menuju Umbul Sidomukti seperti di Puncak. Jalan masuk ke lokasi cukup kecil namun masih bisa dilalui mobil. Tempat parkir pun cukup memadai.

Umbul Sidomukti bagi wisatawan lokal dikenal dengan kolam mata air yang indah dan jernih. Selain itu, terdapat juga Flying Fox dan jembatan gantung yang cukup menantang, ATV, camping ground, dan penginapan.

Tempat mandi ada banyak mesti terletak cukup jauh dari kolam. Restaurant dan mushola juga dalam kondisi baik. Ada dua pilihan kolam, kolam anak dan dewasa.

Tiket masuk dan tiket permainan di Umbul Sidomukti cukup murah

Setelah flying fox, kita harus meniti jembatan gantung untuk kembali

The famous kolam renang mata air. Airnya jernih dan dingin




ATV, mainan pilihan pertama Mikail. Rp. 30.000 dua putaran

Kampoeng Rawa, Ambarawa
Dari Umbul Sidomukti, kami bergerak menuju Kampoeng Rawa. Salah satu destinasi wisata lokal yang cukup terkenal, menurut Pak Heri, supir kami. Perjalanan dari Umbul Sidomukti ke Ambarawa memakan waktu 45 menit.

Kampoeng Rawa cukup sepi menurut saya, meski suasana rawa di kaki gunung terlihat asri dan menyejukkan. Jenis permainan yang ditawarkan disana cukup banyak, meski kurang menantang menurut Mikail. 

Permainan yang ada di Kampoeng Rawa

Pemandangan cantik di Kampoeng Rawa

Lagi-lagi Mikail main ATV
Menurut saya yang paling seru adalah menaiki odong-odong ke Benteng Pendem Ambarawa seharga 50 ribu/rombongan. Benteng yang hanya terlihat dari jauh ini terlihat misterius sekali. 
Benteng Williem atau sekarang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem, adalah benteng peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1840 untuk membangun hubungan dengan kerajaan Mataram semasa masa kekuasaan King Williem I di Jawa Tengah. Ambarawa sendiri dahulu merupakan jalur perdagangan antara Semarang dan Surakarta.

Benteng masih bisa dikunjungi sebagai obyek wisata yang diminati fotografer. Sedangkan LaPas Ambarawa yang terkenal itu masih berfungsi sebagai LaPas hingga saat ini.
Benteng pendem dan Penjara Ambarawa

Keliling kota Semarang
Puas berkeliling, kami pun kembali ke kota Semarang pukul 16.00. Satu jam setibanya di Kota Lama, kami melihat bus double decker merah yang langsung menarik perhatian kami. Otomatis kami langsung mencari parkir dan mencari informasi mengenai bus ini.

Semar Jawi - Semarang Jelajah Wisata
Bus ini bernama Semar Jawi. Beroperasi dari hari Selasa - Minggu. Bus hibah dari Telkomsel ini baru beroperasi tahun ini. Berada diatasnya seperti di luar negeri deh. Cukup dengan Rp. 10.000 saja, dan kita dapat menikmati 30 menit berkeliling Kota Lama dan mendengarkan sejarah kota Semarang yang kaya dari travel guide. Keren sekali!

Tamasya sambil menikmati sosis bakar
Kota Lama, Semarang bisa jadi merupakan tempat favorit fotografer. Di sore hari, sekitaran Kota Lama sangat teduh, ramai, dan suasananya amat menyenangkan. Taman Sri Gunting pun tertata rapih, bersih dan rindang. Berada di samping Gereja Blendhuk, membuat taman ini makin menawan.

Taman Sri Gunting tempat Bus Semar Jawi parkir
Setiap Minggu ke-2 setiap bulannya, di Kota Lama digelar pasar barang antik. Banyak juga dijual kaos-kaos bertulisan nyeleneh ala guyonan kuno dengan harga terjangkau. Rasanya ingin berlama-lama disana.

Pasar barang antik di samping taman Sri Gunting, Kota Lama
Lawang Sewu
Keesokan harinya, kami memulai perjalanan agak lambat, karena Mikail ingin berlama-lama menikmati kolam renang di hotel. 

Perjalanan kami dimulai dari Lawang Sewu karena dekat dari hotel. Tiket masuknya hanya Rp. 10.000. Sepertinya semua tempat wisata memiliki tiket masuk dengan harga yang sama :)
Saya sempat enggan memasuki tempat wisata yang satu ini karena banyak yang bilang angker. Namun menurut Pak Heri, kini Lawang Sewu sudah tidak angker lagi dan bebas didatangi kapan saja. Mungkin sudah direnovasi dan dipercantik ya.

Cantik dan megah
Lawang Sewu ini sebelumnya merupakan kantor NIS, perusahaan kereta api milik Belanda. Ternyata Semarang adalah kota pertama dimana kereta api mulai beroperasi di tahun 1904. Wow! Gula adalah komoditas termahal dari Semarang yang diekspor kemana-mana. Saking berharganya, gula ini dihargai lebih mahal dari emas di jaman dahulu. Hingga, tanjung tempat kapal-kapal berlabuh untuk mengekspor gula disebut sebagai Tanjung Emas.




Sam Po Kong
Menurut sejarah Klenteng Sam Po Kong merupakan bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksmana Tiongkok beragama Islam bernama Cheng Ho. Tempat ini biasa disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu.

Sayang sekali tempat ini adalah sebuah klenteng, padahal Laksmana yang patungnya berada disana pun sebenarnya beragama Islam.

Meski begitu, klenteng ini pun dilengkapi sebuah mushola yang cukup besar. Sebuah toleransi beragama yang luar biasa!





Mushola di Klenteng Sam Po Kong

Gua Kreo
Meski sudah berangkat agak lambat, menyetok oleh-oleh Lumpia kesukaan Mikail, dan mengunjungi 2 tempat wisata, tetap saja waktu masih terlalu awal untuk menunggu di airport. Pak supir pun menyarankan kami untuk menempuh 30 menit perjalanan ke Desa Wisata Gua Kreo. 

Gua Kreo, menurut sejarah merupakan tempat Sunan Kalijaga mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Tempat ini terkenal dengan banyaknya monyet yang berkeliaran. Perjalanan menuju ke gua cukup jauh, kami pun urung untuk turun karena waktu terbatas untuk kembali ke Bandara.

Di lokasi yang sama, sedang dibangun Waduk Jatibarang yang fungsinya sebagai tempat penyimpanan air kota Semarang, pencegah banjir, dan sebagai PLTA. Di masa depan, ketika waduk ini sudah berfungsi, Goa Kreo akan menjadi tempat wisata yang mumpuni karena akan juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas wisata di waduk yang besarnya hingga 46,50 hektar tersebut.

Bercengkrama sambil diliatin kawanan monyet. Seru mungkin ya?

Waduk Jatibarang yang belum selesai dibangun sejak 2009

Perjalanan panjang menuju Gua Kreo
Kami menikmati kota Semarang, sampai ingin pindah ke kota tenang dan bersih ini. See you next time, old town!

--------

Hotel Pandanaran
http://www.pandanaransemarang.com/

Informasi wisata Kota Semarang
http://seputarsemarang.com/

Umbul Sidomukti
http://www.umbulsidomukti.com/

Kampoeng Rawa
http://www.kampoengrawa.com/

Bus Semar Jawi
Twitter: @semarjawi
FB: Semar Jawi


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...