Wednesday, January 19, 2011

Mekaeel and his unknown allergy - The search for allergens

Setelah tes alergi yang dinyatakan bersih bebas dari segala allergen yang ditest, padahal batuk berdahak Mikail belum berhenti, pencarian allergen terus berlanjut.

Telur, yang tadinya suspect utama, dianulir. Ayam, daging, dan ikan, sepertinya lulus test. Seafood memang kita belum pernah coba. Susu, mungkin. Karena setelah minum susu, Mikail jadi lebih sering batuk. Tapi menghentikan susu masih tergolong 'tidak etis' bagi orang Indonesia, yang dibombardir iklan susu untuk segala usia. Susu, menurut produsennya, adalah sumber gizi utama yang tidak bisa ditinggalkan, terutama untuk anak-anak. Padahal, dari umur 2 tahun, manusia tidak lagi memiliki enzym yang bisa mencerna susu sapi, sehingga sama sekali tidak diperlukan tubuh. Malah membuat kerja organ pencernaan semakin berat. Atas pertimbangan ketidak-etisan, saya memperbolehkan Mikail mnum susu sapi di siang hari saja. Pagi dan malam hari sama sekali tidak boleh minum susu. Alhasil, kejadian muntah menjadi berkurang, dan kalaupun muntah, baunya akan cepat hilang.

Debu adalah kemungkinan selanjutnya. Kami tinggal di tengah ibukota, di Jl. Sudirman yang padat kendaraan dan pastinya, polusi. Pastinya debu adalah musuh utama apartment kami yg tingginya 18 tingkat.
So we put it to a test. Kami berlibur seminggu ke Bandung, menginap di rumah Andin yang letaknya di Ujung Berung, di atas bukit. Dari depan rumah andin, kita bisa melihat sawah dan perumahan terdekat di lereng gunung. Mestinya ga ada polusi dong. Ternyata, Mikail masih terbatuk di malam hari. SO its not the dust!

Asap rokok is the next suspect. Pak Hussain adalah perokok berat. Sehari dia bisa menghabiskan 1 kotak rokok Marlboro putih. Walaupun merokok tidak pernah di dalam rumah (kecuali kalo sedang sendirian dirumah), tetap saja kadang tercium asap rokok yang menempel pada baju. Setelah membaca artikel tentang bahaya residu rokok yang tertinggal di baju, sofa, bahkan kulit tubuh perokok, saya mulai yakin bahwa Mikail mungkin batuk karena residu asap rokok.
Pak Hussain pun pasrah. Untuk mengetes teori residu rokok, dia harus rela tidak merokok seharian, dan melihat hasilnya seperti apa.

Sebelum tes ditentukan hari apa, ternyata Pak Hussain tidur awal malam ini. Berarti tidak ada asap rokok atau residunya malam ini. Hasilnya, Mikail batuk jam 12.30 malam. Tidak muntah untungnya, karena kalo muntah saya harus membereskannya sendirian. Batuknya sekitar 15 menit, dan berhenti setelah minum air hangat dan digendong sampai tertidur kembali.

So the search is still on, and will continue until the allergen is found.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...