Wednesday, January 19, 2011

Mekaeel and his unknown allergy

Mikail sekarang berumur 2 tahun 9 bulan. Dari umur 1.5 tahun, Mikail mulai batuk berdahak di pagi hari. Biasanya setiap bangun pagi, batuk berdahak dimulai dan diakhiri kira-kira 2-3 jam setelahnya.
Sekarang beratnya 14.5kg dengan tinggi 98cm. Bukan menyombong, dibandingkan dengan anak seusianya, Mikail tergolong tinggi, lebih aktif, smart, sopan, dan ganteng (walaupun tidak relevan dengan kasus ini hehe).

Sewaktu usianya memasuki 2 tahun, batuk mulai berpindah waktu ke malam hari. Batuk berdahak ketika mau tidur memang paling mengesalkan. Apalagi kalau tenggorokannya sangat gatal, bisa membuat Mikail muntah. Berkali-kali kami terbangun di malam hari karena Mikail batuk dan muntah mengotori seluruh kasur. Yang akhirnya menjadi kegiatan gotong royong membersihkan kasur dan lantai yang penuh muntah.

Semakin lama, batuk berdahak mulai berubah menjadi sesak napas. Saya ingat sekali, suatu malam di usia Mikail 2 tahun 2 bulan, kami masih tinggal di Rasuna. Tiba-tiba Mikail susah bernapas, napasnya tersenggal-senggal dan berbunyi khas orang asthma. Spontan saya panik. Bapak saya seumur hidupnya memiliki asthma dan saya sangat tahu betapa sakitnya  beliau kalau serangan asthmanya kambuh. Tentunya saya tidak ingin anak saya memiliki nasib yang sama.

Akhirnya pencarian solusi pun dimulai. Setelah pertama kalinya Mikail mendapat treatment ventolin melalui inhalasi, kami memutuskan untuk menuntaskan akar masalah dari batuk berdahak ini.
Kami mendatangai Prof. Sumarmo di RS. Mitra Jatinegara, dokter yang sudah menjadi andalan keluarga saya dari Bapak saya sampai adik saya paling kecil, karena kami semua memiliki asthma. Menurutnya, Mikail memiliki bakat asthma yang cukup kuat, dan saya harus bersiap-siap dengan segala obat asthma karena Mikail akan mengalami serangan asthma seperti malam sebelumnya, dan mungkin agak sering. Hati saya seperti hancur berkeping-keping, anak saya sudah divonis asthma di usianya yang sangat muda.

Tak puas, saya beralih ke dr. Gatami di RS. Brawijaya. Dokter yang sangat sayang pada Mikail itu tidak percaya kalau Mikail memiliki asthma, beliau menyarankan tes darah untuk mengetes alergi. Hasilnya, bersih! Semua negatif. Jadi, anak saya kenapa?
Menurutnya, batuk berdahak bisa juga disebabkan karena kecapekan. Sehingga kalau terlalu banyak beraktifitas, anak menjadi rentan terhadap batuk. Loh, tapi Mikail hampir setiap hari batukm bukan ketika kecapekan saja.
Kemungkinan yang lain, batuk bisa disebabkan oleh alergi makanan. Saya sempat memiliki diary, menuliskan apa yang Mikail makan setiap hari dan melihat hasilnya. Dan hasilnya sangat random. Satu hari saya pikir Mikail alergi telur, dan beberapa hari kemudian saya coba telur, tidak batuk. Saya sudah mulai putus asa.

Sementara itu batuk berdahak disertai sesak napas Mikail makin sering terjadi. Sampai kami harus membeli alat inhalasi, untuk dipakai sendiri. Sat itu obat yang digunakan adalah campuran NaCl dan ventolin. Setiap harinya Mikail mengkonsumsi Ryzen dan Mucopect. Walaupun saya suka bandel tidak memberikan obat ketika Mikail terlihat ok dengan minum air putih saja.

Atas saran kawan-kawan di twitter, kami mencoba dokter di Markas Sehat milik dr. Elmyra di Warung Buncit, JakSel. Menurut dokter yang waktu itu praktek disana, Mikail sama sekali tidak memiliki asthma karena jenis batuknya berbeda. Dia malah melarang Mikail diberikan ventolin dan mucopect, Mucopect, katanya adalah ambroxol yang tidak boleh diberikan rutin kepada anak, dan di US sudah dilarang penggunaannya oleh FDA. Whaaattt? terus kenapa semua dokter saya memberikan resep ini?

Akhirnya setelah saya menepikan semua obat-obatan, saya mulai mencoba Vermint, atas saran ibu saya. Ide memasukkan kapsul berisi cacing kering ke dalam tubuh memang agak gila. Tapi setelah membaca beberapa testimoni dokter di kertas dalam kemasan, sepertinya cacing memang sangat ajaib khasiatnya. Dan memang batuk Mikail agak berkurang, walaupun sesekali masih muncul.

Kemudian, tante saya menyarankan Propolis. Ludah lebah ratu (wax) ini katanya berkhasiat menyembuhkan segala penyakit, dengan ijin Allah.
Setelah 4 hari mencoba, Mikail terlihat lebih sehat (bukan berarti sebelumnya tidak terlihat sehat). Batuknya berkurang 80%, dan sudah 3 bulan saya tidak menggunakan terapi inhalasi pada Mikail. Alhamdulillaah, mungkin ini obat yang cocok untuk Mikail.

Sekarang, sesekali batuk berdahak timbul di malam hari ketika dia tidur. tidak muntah, dan hanya sebentar. Semoga cepat sembuh Mikail, im sorry for bringing d bad genes for you :( huhuhu.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...