Sunday, February 27, 2011

Teguran jiwa dari Seminar 'Komunikasi Pengasuhan Anak' oleh Bu Elly Risman, Psi

Siang tadi saya mengikuti seminar Komunikasi Pengasuhan Anak, satu dari 3 seminar yang diselenggarakan oleh Supermoms ID. Sebenarnya saya telat daftar, tidak dapat seat. Tapi Alhamdulilaah ternyata saya menang kuis yang hadiahnya tiket seminar itu. InsyaAllah ini memang jalan dari Allah, sebagai tambahan ilmu parenting saya. Saya akan summarize sedikit seminar yang berdurasi 3 jam tersebut disini, untuk pelajaran kita bersama.

Bu Elly mengetengahkan pentingnya komunikasi yang benar kepada anak-anak kita. Karena apa yang kita katakan, akan membentuk jiwa anak di masa depannya. Kalau kita tidak menguasai tahap perkembangan anak, tak mengetahui cara otak bekerja, kita bisa merusak masa depan anak kita sendiri. Bu Elly pun mencontohkan berbagai permasalahan bangsa kita; mental korupsi, vandalisme, kekerasan mahasiswa, pelacuran, aborsi, HIV/AIDS, bunuh diri. Semua hal itu adalah akibat dari kosongnya jiwa yang penyebabnya datang dari rumah!

Di zaman yang teknologinya semakin canggih seperti sekarang, kita harus menyesuaikan diri dengan zaman, mengetahui apa yang anak kita lakukan di setiap waktunya, dan mengarahkan anak untuk memakai kemewahan teknologi dengan cara yang benar. Bahaya teknologi yang disalahgunakan oleh anak juga disebutkan Bu Elly di seminar yang lain, baca seminar bahaya games dan internet pada anak.

image dari sini
Salah-salah bercakap kepada anak, bisa berakibat fatal pada kejiwaan anak, yang susah disembuhkan. Kekeliruan kita dalam berkomunikasi dengan anak (atau bahkan suami), seringnya kita:
1. Bicara tergesa-gesa-- Karena sibuknya kita, karena banyaknya rutinitas sehari-hari, seringkali kita memerintah anak, membangunkan, menyuruh makan, mandi, dll dengan terburu-buru. Kita harus tahu, bahwa apapun kita ucapkan ketika anak merasa tidak senang, tidak akan masuk ke dalam kepalanya. Ingatlah bahwa kalau hati senang, otak akan menyerap lebih banyak. Bicara perlahan, kenali bagaimana anak menyerap informasi. Gunakan gaya bicara yang pas dengan karakter anak kita
2. Tidak kenal diri sendiri-- Kita seringkali menyalahkan anak, atau bahkan orang lain, atas apa yang dilakukan anak. Padahal kita lupa bercermin, lupa mengenali diri sendiri. Lupa bahwa apa jadinya anak kita, adalah bagaimana ibu dan bapaknya.
Mulailah bercermin, melihat ke diri kita sendiri. Kalau kita kenal diri kita, kita akan bisa mengenal anak kita
3. Lupa bahwa setiap individu adalah UNIK-- Allah menciptakan setiap pribadi berbeda-beda. Seringkali kita memperlakukan setiap orang sama, padahal apa yang dipikirkan mereka berbeda.Tidak boleh membanding-bandingkan antara adik dan kakak, apalagi membandingkan dengan anak orang lain. Hargai setiap anak, dan coba hargai bagaimana Allah menciptakan mereka.
4. Perbedaan needs dan wants. Contoh: kita mau anak makan atau minum susu, padahal anak mau yang lain atau tidak mau makan. Kita akan memaksa anak dan anak akan meronta-ronta tidak mau. Masalahnya malah akan bertambah.
Orang tua maunya apa, anak maunya mungkin berbeda. Hindari mendikte, dan berpikir untuk anak. Tidak boleh kita memaksakan kehendak kita, tanpa memikirkan kemauan dan kebutuhan anak.
5. Tidak membaca bahasa tubuh-- Seringkali kita terus menasehati dan memarahi anak, tanpa melihat bahasa tubuh anak. Apakah dia sedang sedih, butuh perhatian, kesal, dll.
Cobalah berubah, lihat bahasa tubuhnya untuk mengenali apa yang dia rasakan saat itu. Buat anak merasa senang, barulah apa yang kita ucapkan akan didengar anak.
6. Tidak mendengar perasaan. Kita selalu maunya didengar. Tapi jarang kita menanyakan apa yang dia rasakan.
Mari kita berubah. Coba pikirkan betapa stressnya anak kita di sekolah, belajar hal baru, menghadapi teman-teman dan guru disekolah, banyaknya PR, dll.
a. Dengarlah perasaan anak. Tandai pesan, baca perasaannya dari bahasa tubuhnya.
b. Jangkau rasa, ukur perasaannya dengan perasaan kita. Apa perasaan kita jika kita jadi dia.
c. Coba buka komunikasi, contohnya ketika anak sedang makan atau bermain, tanyakan apa yang dilakukan hari ini, dan apa saja masalah yang dihadapi mereka.
d. Namai perasaannya. Contoh: 'oooh kamu kesal dong kalo gitu ya?'. 'kasiaaan, pasti kamu sedih ya'
7. Menggunakan 12 gaya populer:
Contoh kasus: Ali lagi berlari-lari. Ibunya berusaha menghentikannya.
a. Memerintah -- 'Ali, jangan lari-lari, nanti jatuh'. Karena Ali tidak berhenti, semakin lama suara ibu semakin meninggi. 'Aliiiiiii, ntar jatuh loh'
b. Menyalahkan -- (Ali betul-betul jatuh) 'Tuh, kan. Ibu bilang juga apaaaa. Jatoh kan. Makanya jangan lari-lari'
c. Meremehkan -- (Karena jatuh, kaki Ali luka dan berdarah). 'Mana liat, ooohhh cuma sedikit. Ga papa, sini ibu obatin, tenang aja besok juga sembuh'
d. Membandingkan -- (Ali kesakitan dan masih menangis). 'Udah jangan nangis terus ah, kemarin adik juga jatuh, lebih besar lukanya, tapi ga nangis jerit-jerit kaya kamu gini!'
e. Mencap/label -- 'Kamu sih bandel, udah dibilangin jangan lari-lari'
f. Mengancam -- 'Awas ya, kalo lari-lari lagi nanti tambah parah jatuhnya'
g. Menasehati -- (Ali masih kesakitan, tapi ibunya terus menasehati. Nasehat seperti ini tidak akan masuk ke kepalanya, karena pikiran Ali tidak terbuka untuk menerima nasehat saat itu)
h. Membohongi -- (Kebesokan harinya Ali masih merasa kesakitan, lukanya belum sembuh) Ali akan berpikir lagi perkataan ibunya 'Tenang aja, besok juga lukanya sembuh'
i. Menghibur -- Kadang-kadang kita menghibur dengan menyalahkan yang lain ketika anak salah. 'Aduh, ini lantainya bandel sih, bikin Ali jatoh'. Atau kadang meremehkan orang sehingga anak kita merasa superior, hanya untuk menghiburnya.
j. Mengeritik -- 'Kamu sih selaluuuuu ga dengar kata ibu'. Kata selalu diiringi dengan kalimat negatif HARAM hukumnya. Jangan selalu melihat keburukan anak. Lihat kebaikannya juga, dan puji jika ia berbuat baik
k. Menyindir -- (Ketika esoknya Ali tidak lari-lari lagi) 'Cieeee, matahari lagi terang banget ni kelihatannya, anak ibu tumben ga lari-larian'
l. Menganalisa -- Analisa kesalahan anak nanti ketika ia siap untuk menerima perkataan kita. Jangan lakukan ketika emosinya sedang tinggi, sedang sedih atau sakit.
Kalimat-kalimat seperti ini sepertinya sepele dan sering tidak sengaja kita lakukan. Padahal akibatnya, anak menjadi tidak percaya pada diri sendiri dan perasaannya. Mereka akan besar tanpa mengenal emosi, dan nantinya susah bergaul dengan orang lain, cepat iri hati, tidak peka pada emosi orang, dan tidak pernah puas akan apa yang dimilikinya.
8. Tidak memisahkan: Masalah siapa? -- Contoh: PR anak tertinggal dirumah, anak menelpon, meminta ibu untuk mengantar PR. Ibu akhirnya mengantarkan PR supaya anaknya tidak distrap.
Kadang kita menyuruh anak melakukan sesuatu semata-mata untuk kepentingan kita. Supaya kita punya waktu luang, supaya kita terlihat baik, dll, tanpa memikirkan apakah anak mau atau tidak melakukannya. Akibatnya anak menjadi terdikte hidupnya, selalu ditolong ibu disetiap kesempatan, dan tidak mengenal konsekuensi dan resiko dari masalah yang dihadapi.
Ajari anak bahwa ada resiko dan konsekuensi dari setiap perbuatan yang ia lakukan. Karena akibat dari menghilangkan resiko dan konsekuensi bisa fatal, anak tidak mengerti akibat dari perbuatan yang ia lakukan. Bisa dilihat sekarang banyak sekali kriminalitas dan korupsi terjadi, tanpa mereka merasa bersalah dan peduli.
Ajari anak bahwa 'Life is about choice'. Dan pilihan yang diambil anak adalah yang nantinya menentukan apa yang terjadi padanya kelak.
Ajari anak berpikir, memilih, dan mengambil keputusan, agar anak bisa menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.
9. Kurang mendengar aktif -- Karena kesibukan atau kurangnya waktu, jarang kita menjadi pendengar aktif, yang medengarkan betul-betul apa yang dirasakan anak. Akibatnya anak memendam perasaannya, tidak bebas mengekpresikan apa yang ia rasa, dan akhirnya mencari pelarian diluar rumah.
Jadilah cermin, dengarkan apa yang anak ucapkan dengan sungguh-sungguh. Hindari menyambi dengan hal lain ketika anak sedang bicara. Dengarkan dan respon dengan baik 'oohh begitu...', 'Ya Allah, pasti kamu sedih bener dong', 'makanya kamu marah banget ya...', dll.
10. Selalu menyampaikan pesan 'Kamu' -- Pisahkan antara anak dengan kelakuannya. Marahi kelakuannya, bukan anaknya. Seringkali secara tidak sengaja kita mengucapkan 'Aduhhhhh kamu berantakan banget siiiii, sebel deh ibu'
Rubahlah dengan menyampaikan pesan 'Saya'. Katakan apa yg kita rasakan ketika anak berbuat sesuatu. Contoh: 'Ibu merasa kesal karena kamu tidak mau membereskan mainanmu. Karena mainan jadi berserakan, rumah jadi berantakan'

image dari sini
Semakin besar anak kita, semakin banyak pula tantangan yang kita hadapi. Anak kita semakin pintar, dapat mengelak dari semua omongan kita dan akhirnya semakin jauh dari kita, dan susah diajak bicara. Marah adalah keharusan, kita juga mengekspresikan emosi kita dan memperlihatkan anak emosi kita. Tapi marahlah dengan kata-kata positif.


Ibu Elly kemudian memberi contoh, pergaulan anak SD sekarang sudah mengenal pacaran, jodoh-jodohan, dan bertaruh. Akan jadi apa anak-anak kita kelak. Kita harus selalu berpikir, bagaimana nanti ketika kita sudah tidak ada. Apakah anak bisa hidup tanpa kita? Ketika anak kita dewasa, zamannya mungkin sudah lebih advance dari sekarang. Bukan cuma IQ, EQ, dan SQ lagi yang dibutuhkan. Tapi juga AQ, Adversity Quotien. Bagaimana anak mengidentifikasi masalah, menanggulangi masalah dan mengambil keputusan yg baik untuk memecahkan masalah. Bagaimana ia bisa survive dan menjadi tangguh di saat krisis. It's brain to brain competition out there. Apakah kita sudah membesarkan anak kita untuk bisa survive nantinya?

2 comments:

  1. Good job, Na! Gue lagi nulis artikelnya nih. Kalo catetan gue kurang, melipir kemari aahh, lengkap sih, hihihi.. :)

    ReplyDelete
  2. Ehehehe thank u Ra. Mudah2an bisa diterapkan sehari-hari deh, mengingat efek masa depannya.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget