Friday, April 15, 2011

Mikail's 'Speaking' Evolution

"Maaak!', seru Mikail memanggil saya. Dia memang punya banyak panggilan buat saya. Saya sendiri selalu menyebut diri saya 'Ibu', tapi dirumah Mikail selalu memanggil saya mamak (penyebutan seperti pada kata emak), di sekolah kadang memanggil mommy, dan sepulang sekolah kadang memanggil mom.

'Duduk sini mak', katanya lagi. 'Yuk kita main, Mikail jadi coach Dzaky, mamak ikut sekolah ya'. Hampir setiap hari kami bermain peran, kebanyakan peran guru dan murid mengulang apa yang dilihatnya di sekolah. Di lain waktu, kadang ada juga peran tukang, taxi, kasir, tukang ojek, waiter, koki, bahkan tukang tempe keliling. Semua peran yang ditemukannya sehari-hari ditirunya, membuat orang kadang terpingkal dengan gerak lucu dan celotehnya.

Saya ingat betul ketika Mikail berumur 16 bulan. Disaat anak-anak teman saya, terutama yang perempuan, sudah mengucapkan banyak kosakata, Mikail masih mumbling belum terdengar kata-kata yang jelas kecuali 'ibu' dan 'bapak' yang fasih dikatakannya sejak umur 1 tahun. Banyak yang berkomentar bahwa saya dan Pak Hussain menggunakan 2 bahasa yang berbeda di rumah. Sehingga Mikail jadi bingung. Banyak juga yang menyarankan agar Mikail mulai sekolah, supaya meniru-niru teman-temannya, sebagai pancingan untuk mulai bicara. Sementara Pak Hussain yakin Mikail nantinya akan bicara pada masanya sendiri, saya memilih untuk mencoba saran-saran dari orang.

Akhirnya saya memilih sekolah Kirana di usia Mikail 17 bulan. Di rumah pun, saya mengajak Pak Hussain untuk berbicara bahasa Indonesia saja, setidaknya pada kebanyakan percakapan kami.

Dan akhirnya moment itu tiba. Setelah 2 minggu saja bersekolah, Mikail sudah mulai berbicara. Bukan sedikit, tapi lumayan banyak kosakata baru yang diucapkannya. Dari mulai kegiatan dasar seperti makan, minum, mandi, baju. Kemudian bagian-bagian tubuh seperti mata, pipi, mulut, gigi, kaki, tangan. Saya senang sekali, ternyata saran dari orang-orang betul. Walau ada sebagian hati saya yang mengatakan mungkin memang waktunya Mikail berbicara, sekolah ataupun tidak.

Mikail pun dengan cepat menyerap percakapan orang disekitarnya, dan pada umur 22 bulan ketika dia mulai disapih, Mikail sudah bisa menggabungkan 2-4 kata untuk mengungkapkan maksudnya. Saya ingat betul karena setiap kali dia akan berteriak 'Mikail mau mimi, mamaaaakkk!'

Memasuki usia 2 tahun Mikail sudah bisa mengurutkan angka 1-20 dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Setelah itu dia pun fasih mengenal dan mengucapkan A-Z dalam pengejaan Inggris, karena kami mengenalkan lagu A-Z dalam bahasa tersebut.

Sekarang di usia 3 tahun, Mikail mulai 'ceriwis' memberikan instruksi kepada semua orang setiap kali mau melakukan sesuatu. Mengingatkan setiap orang yang mau keluar rumah untuk memakai sepatu dulu, hati-hati di jalan, jangan lupa tutup pintu. Senangnya lagi, dia pun terbiasa berkata sopan, meminta tolong ketika meminta sesuatu, walaupun kalau marah pun berkata tolong dengan berteriak. Menyelak pembicaraan pun dengan berkata 'Excuse me'. Tahap bernegosiasi pun dimulai seiring dengan banyaknya kemauan dia yang tidak sesuai dengan peraturan saya.

Gambar dari sini
Kemampuan pikir dan imajinasinya pun terlihat sangat berkembang, dengan mulai banyaknya pertanyaan yang dilemparkan kepada saya dan Pak Hussain. Contohnya 'Mengapa busway punya jalanan sendiri?', 'Mengapa bunyi alarm kebakaran sangat keras?', 'Mengapa lampu taxi menyala ketika orang keluar dari taxi?'. Pertanyaan yang terdengar simple tapi sangat sulit dijelaskan terutama ke mata bulat yang seperti menunggu jawaban spektakuler dari mulut saya.

Saya berjanji dalam hati saya untuk mencoba menjawab semua pertanyaan lugunya dengan jawaban yang benar, mudah dimengerti sejauh yang saya bisa. Kalau saya tidak tahu, saya akan berkata 'Maaf, Ibu akan cari tahu dulu jawabannya'. Saya ingin rasa ingin tahunya berkembang dan tidak pernah mati. Saya ingin ia tidak pernah merasa puas dengan satu jawaban, dan berusaha mencari tahu hal yang lain.

Rasa ingin tahu adalah kunci untuk kreatifitas. Semoga kami dapat membesarkan anak-anak kami di dalam lingkungan yang menyuburkan rasa ingin tahu mereka.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget