Thursday, April 14, 2011

Pendidikan Kesehatan Reproduksi - Berbicara tentang Sex pada Anak

Ini cuma salah satu tema dari seminar PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak untuk Orang Tua) yang diadakan oleh Yayasan Orang Tua Peduli atau yang lebih dikenal lewat Milis Sehat. Alhamdulillaah saya dapat kesempatan untuk ikut belajar bersama, menapik semua mitos lama dan berkenalan lebih jauh tentang kesehatan anak.

Tidak mudah memang menjadi orang tua, terutama karena tidak ada sekolah untuk orang tua. Kita seperti pegawai baru di perusahaan besar, yang seperti 'dijerumuskan' di dalam kekacauan, yang kita harus belajar mengatasi semua masalahnya sendiri. Pelik memang bagaimana kita bisa survive di tengah tangisan anak, pekerjaan kantor/rumah yang menumpuk, kompetisi ketat antara anak-anak teman kita yang lain yang dibanggakan mereka, kepanikan ketika anak tidak mau makan, dan segala kekacauan lain. Beruntungnya kita, di jaman sekarang kita bisa mencari informasi dari internet, sharing di milis kesehatan, dan mengikuti seminar parenting seperti ini.

Sex Education adalah salah satu topik yang menarik minat saya di PESAT ini. Dibawah adalah ringkasan seminar yang dibawakan oleh Ibu Rahma Paramita, M. Psi, kepala sekolah Cikal, dan Psikolog anak di Kemang Medical Center.

Berbicara tentang seks bukanlah hal yang mudah, tapi penting untuk dilakukan sejak dini mengingat begitu banyak informasi dari berbagai media yang berkaitan dengan seks. Orang tua perlu memberikan informasi yang benar tentang seks, mengajarkan tentang nilai-nilai keluarga mengenai seks, dan mengajarkan tentang kesehatan reproduksi yang mudah dipahami sesuai dengan usia anak. Semakin awal orang tua memulai pembicaraan tentang seks, semakin mudah untuk melanjutkan percakapan mengenai topik ini di saat anak bertambah besar. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku seks berisiko lebih banyak dilakukan anak yang tidak dapat membicarakan hal ini dengan orang tuanya. Kalau kita bisa memberikan informasi benar, akurat, dan tidak menutup-nutupi dari anak kita, mereka akan bertanya kepada kita daripada mencari informasi dari sumber lain (teman, buku, bahkan internet).

Anak usia 1-3 tahun
Saat in ianak mulai belajar tentang bagian tubuh dan fungsinya. Ajarkan fungsi bagian-bagian tubuh, seperti tangan, kaki, mulut, sambil mengenalkan juga alat kelamin anak. Gunakan nama sebenarnya (penis dan vagina), untuk menghilangkan kesan misterius dan terlarang pada anak. Kenalkan juga konsep jenis kelamin dan perbedaan fisik yang dominan antar jenis kelamin.

Anak usia 3-5 tahun
Di usia ini anak sudah lebih mengenal jenis kelaminnya, mengetahui perbedaan laki-laki dan perempuan dan lebih sadar akan dunia sekitarnya. Rasa ingin tahunya pun lebih besar sehingga pertanyaan-pertanyaan pun bermunculan. Kalau pertanyaan yang berhubungan dengan seks muncul, jangan kaget, karena di usia ini anak hanya tertarik dengan MEKANISME-nya saja, bukan seksual dengan fantasi yang dimiliki oleh remaja dan dewasa.

Jika anak bertanya bagaimana bayi lahir atau ada di perut ibu, jelaskan bahwa ayah memasukkan spermanya ke perut ibu kemudian bayi berkembang dalam perut ibu, seperti pohon yang tumbuh. Sembilan bulan kemudia bayi dilahirkan. Bisa juga dijawab dengan singkat di setiap pertanyaan, tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Kalau anak puas dengan jawaban kita, dia tidak akan bertanya lagi. Gunakan setiap kesempatan yang ada untuk mengajarkan anak, misalnya bila ada acara yang menampilkan kelahiran bayi atau ketika bertemu dengan teman yang habis melahirkan, tanyakan pada anak kira-kira darimana bayi berasal.

Ajari anak agar paham bahwa jenis kelamin yang dia miliki sekarang akan tetap seperti itu ketika dewasa, agar mereka dapat menginterpretasikan peran jenis kelamin dalam hidup mereka. Ajari cara tubuh mereka bekerja, bahwa tubuh mereka adalah milik mereka dan mereka berhak menentukan apa yang boleh dan tidak dilakukan orang lain terhadap tubuh mereka. Beritahu anak siapa yang boleh menyentuh mereka, dan bagian mana yang private, tidak boleh ditunjukkan atau dipegang orang lain. Ajarkan bahwa anak boleh berkata tidak apabila mereka merasa disakiti atau diminta melakukan sesuatu yang mereka tidak inginkan. Ajarkan juga batasan yang boleh dilakukannya di depan umum dan yang tidak boleh, seperti menutupi pintu ketika di kamar mandi, mengetuk pintu sebelum masuk kamar, dan tidak memegang alat kelamin di depan orang.

Gambar dari sini
Anak usia 5-8 tahun
Memasuki sekolah dasar, anak akan mulai mejalin pertemanan dan bermain sesama jenis kelamin. Anak perempuan bermain lebih intim dan emosional dengan kelompok dengan orang lebih sedikit. Anak laki-laki berteman berdasarkan aktifitas dan kegemaran dan bermain dengan kelompok yang lebih banyak orangnya. Anak di usia ini lebih terekspos dengan banyaknya informasi dari berbagai media, dan juga percakapan teman-teman sekolahnya.

Anak menginginkan fakta, dan cara terbaik untuk menceritakan mengenai proses hubungan seksual adalah dengan mengungkapkan fakta yang terjadi sebenarnya secara bertahap. Pada anak laki-laki, bisa dimulai dengan menjelaskan proses terjadinya ereksi. Bagaimana penis bisa mengeras, bahwa itu adalah latihan untuk proses pembuatan bayi ketika dia dewasa nanti. Jika anak tertarik, bisa diajarkan berbagai perubahan yang akan terjadi pada dirinya, mulai dari perubahan suara, tumbuhnya bulu-bulu halus, berkembangnya testikel dan produksi sperma. Untuk perempuan bisa diceritakan tentang proses menstruasi. Kaitkan penjelasan tersebut dengan nilai yang ada dalam keluarga dan agama.

Biasakan anak untuk sopan dan bertoleransi kepada orang lain seperti mengetuk pintu dan meminta ijin ketika memasuki kamar orang lain dan ruangan yang tertutup. Ajarkan masa-masa private-nya, seperti harus menutup pintu ketika mandi, bertukar baju, atau buang air. Ajarkan perbedaan pada setiap orang dan bagaimana cara menghargai perbedaan tersebut, supaya anak terhindar dari mengejek, yang biasa dilakukan pada anak usia ini.

Anak usia 9 tahun keatas
Mendekati masa pubertas, orang tua perlu menjelaskan berbagai perubahan yang akan terjadi pada dirinya, mulai dari perubahan fisik hingga psikologis, seacara bertahap. Gunakan media yang diperlukan untuk menjelaskan fakta yang jelas yang terjadi pada tubuh anak. Semakin berkembangnya kemampuan kognitif anak, mereka semakin tidak percaya dengan cerita fantasi yang tidak sesuai dengan logika.

Anak perlu diajarkan cara berhubungan sehat antara perempuan dan laki-laki. Ajarkan nilai-nilai dalam keluarga dan agama, serta batasan yang jelas dalam berinteraksi dengan orang lain. Ajarkan cara menghargai dirinya, sehingga anak belajar cara menghargai orang lain. Ajarkan batasan sosial seperti tidak boleh menghardik, atau berkata buruk terhadap orang lain. Batasan fisik seperti tidak boleh menarik BH anak perempuan, mencubit bokong orang ketika mereka lewat, atau berbagai kontak fisik yang membuat orang lain tidak nyaman.

Catatan penting:
1. Buat topik pembicaraan menjadi menarik, menyenangkan dan hubungkan dengan nilai dalam keluarga seperti pernikahan, cinta, dan komitmen
2. Bicarakan topik sesuai dengan tahapan usia anak
3. Sebelum membicarakan seks, orang tua harus berdiskusi dulu apa yang mau dibicarakan dan nilai norma apa yang mau diajarkan kepada anak
4. Bicarakan pada waktu yang tepat. Jangan bicarakan topik yang Anda belum merasa nyaman dan membuat Anda cemas. Anak bisa merasakan ketidaknyamanan tanpa mengetahui alasannya. Akibatnya anak tidak akan membicarakan topik tersebut pada kita lagi. Buatlah pembicaraan senyaman mungkin sehingga komunikasi terus terjaga
5. Jadilah pendengar yang baik
6. Beri contoh yang baik
7. Ketahui konteks pertanyaan anak. Misalnya pertanyaan 'Darimana aku berasal?' belum tentu berhubungan dengan proses pembuatan bayi, bisa jadi cuma menanyakan dari suku mana dia berasal. Cari tahu maksud pertanyaan anak, jangan berasumsi
8. Sebelum pubertas, memegang kemaluan adalah hal yang wajar, bukan masturbasi. Anak melakukan karena rasanya menyenangkan, sama ketika bayi mengisap jempolnya. Alihkan atau perbanyak aktifitas anak. Jangan bereaksi berlebihan karena akan merangsang rasa ingin tahu anak

2 comments:

  1. share ya na..masih banyak yang blm tau nih..:)dan gw...hehe..masih "merasa" terlalu sibuk untuk menlis...nice job mom...

    ReplyDelete
  2. thanks Giari. Semoga kita sama-sama bisa belajar terus ya, supaya anak kita menjadi manusia yang baik pengganti generasi bobrok di negara ini :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...