Friday, April 8, 2011

Summary MPASI Naznin - 7 months. Shifting to Baby Led Weaning

Naznin, 9kg, sudah mulai mahir mengendalikan tangan dan kakinya. Bertepuk tangan, mencoba merangkak dari posisi duduk, dan lebih banyak bermain di waktu siang.

Di usia7.5 bulan, Naznin terlihat lebih pemilih dengan siapa yang boleh menggendongnya. Terlihat lebih pemali dari Mikail, dan lebih mudah marah dan merajuk. Jam tidurnya lebih teratur, jam 09.00, 12.00, dan terkadang jam 15.00 juga. Tidur malam jam 19.00, dengan bangun malam sekitar 2x untuk mengganti popok.

Memasuki bulan ke-7 ini, Naznin mulai menunjukkan kebosanan terhadap rutinitas 'makan'. Yang pada bulan lalu, dia bersemangat mencoba semua yang disuapkan lewat sendok, sekarang melihat sendok pun sudah memalingkan muka. Hampir setiap waktu makan menjadi 'struggle time' mencoba memasukkan apapun ke mulutnya.

Anehnya, ketika Mikail makan, Naznin kelihatan tertarik dan malah mencoba mengambil makanan dari piring Mikail. Setelah beberapa kali mengambil makanan Mikail, yang malah akhirnya sukses termakan olehnya, saya pun berpikir untuk merubah cara makan Naznin.

Banyak yang sudah mencoba metode BLW (Baby Led Weaning) di Indonesia. Di forum The Urban Mama sudah banyak dibahas kisah sukses beberapa yang menerapkan, di forum Mommiesdaily juga BLW bukan hal asing lagi, sudah mulai trend sejak 2007. Sejak hamil Naznin memang saya tergerak untuk mencoba, tapi entah mengapa saya selalu menunda-nundanya. Mungkin karena pengalaman makan Mikail, yang walaupun menggunakan metode traditional (spoon feeding), saya tidak menemukan banyak masalah yang berarti. Di umurnya yang menginjak 3 tahun dia sudah bisa makan sendiri dan jarang sekali terjadi GTM (Gerakan Tutup Mulut). Moody ketika makan banyak terjadi di umur 2 tahun, namun akan berlalu dengan sendirinya.

Tapi, seperti kata Ibu Elly Risman, Psi, setiap anak adalah unik dan kita tidak bisa memperlakukan mereka sama. Saya memutuskan untuk mencoba metode BLW ini. Memang bisa dibilang terlambat ya, tapi lebih baik saya mulai sekarang daripada masalah makan ini menjadi berlanjut-lanjut. Di awal minggu ini, di umur Naznin 7 bulan 2 minggu, sayapun memulai metode BLW walaupun hati masih was-was.

Menurut website http://www.babyledweaning.com brokoli adalah yang paling mudah untuk dipegang anak, jadi saya pun mengikuti. Ajaib, di hari pertama mencoba BLW, Naznin kelihatan sangat tertarik. Brokoli pun sukses dimasukkan ke dalam mulutnya, dikunyah, dan ditelan. Saya hampir menitikkan air mata karena terharu. Sorenya saya mencoba bunci, lagi-lagi sukses dimasukkan ke dalam mulutnya.
Brokoli dan kentang

Ketakutan tersedak memang ada, tapi seperti dikatakan dalam guidelines BLW, anak akan memegang makanan, memasukkan makanan dalam mulut, dan mencoba menelan dengan masanya sendiri. Kalau anak merasa bisa menelan, dia akan menelan, dan kalau tidak bisa tertelan, makanan akan dikeluarkan. Resiko tersedak justru lebih besar pada pemberian makan dengan sendok, apalagi kalau makan bukan di kursi makan. Ternyata menurut Gill Rapley, penemu metode ini, kemampuan anak untuk makan itu berhubungan erat dengan pertumbuhan anak pada umumnya. Anak harus belajar mengambil, menggenggam makanan, memasukkan ke dalam mulut, mengunyah dan akhirnya menelan. Hal yang sangat natural, yang butuh waktu bagi anak untuk mempelajari semuanya. Jadi buat apa kita memaksa?

Kekurangan nutrisi juga menjadi ketakutan tersendiri. Bagaimana kalau makanan yang termakan hanya sedikit setiap harinya kurang nutrisinya bagi tumbuh kembang anak? Menurut Gill Rapley lagi, metode BLW menghasilkan anak yang bebas bereksplorasi dengan berbagai macam rasa dan tekstur makanan. Berikan berbagai jenis makanan, dan Anda akan terkejut bahwa anak mau mencoba semuanya. Kalau ada makanan yang ditolaknya pada satu hari, jangan takut untuk mencobanya di lain hari. Sewaktu dia besar nanti, anak tidak akan menjadi picky-eater. Metode BLW juga mencegah GTM (Gerakan Tutup Mulut) karena tidak ada paksaan dalam waktu makan. Anak terbiasa makan sendiri, dan terbiasa menentukan jumlah makanan yang dimakan. Jangan takut akan kekurangan nutrisi, karena bayi sampai berumur 1 tahun masih mendapatkan kalori dari ASI. Semakin besar, anak akan semakin mahir, dan akan semakin banyak makanan yang masuk, dan semakin sedikit yang terbuang. Lagipun, sampai usia 1 tahun, motivasi bayi untuk makan lebih disebabkan oleh rasa ingin tahu daripada rasa lapar, menurut Gill Rapley. Sangat masuk diakal!

Saya menjadi semakin yakin dengan metode ini, karena Naznin menjadi lebih happy di saat makan. Makanan lebih mudah masuk, walaupun kalau melihat dia kesulitan untuk memasukkan makanan, rasanya ingin sekali menolong menyuapinya.

Variasi makanan yang saya kenalkan dengan metode BLW ini adalah:
Kabocha
Labu siam
Buncis
Brokoli
Nasi lembut dibulat-bulatkan
Kentang
Ubi jalar
Melon
Pepaya
Pisang

Kegiatan makan bukan sekedar memasukkan makanan ke dalam mulut, tapi adalah pelajaran bertahan hidup yang sangat berharga untuk bekalnya di kemudian hari.

4 comments:

  1. ah Naznin pinternyaaaa...
    tapi dengan beralihnya Naznin ke BLW jadi gak bisa contek resep lagi dey.. :(
    hmm, apa Aydira juga pindah ke BLW aja ya.. hihihihi..

    ReplyDelete
  2. ehehehe dont worry An, 24jam sharing resep dan konsultasi masih bisa lewat bbm doong ;)

    ReplyDelete
  3. naznin, selamat makan versi blw ya. blw fatha gak begitu mulus, karna bundanya suka nyuapin diakhir sesi makan kl fathanya udah mulai ogah. belum lagi ngeliat bb-nya yg susah naik, makin sering disuapin deh:p

    sharing2 blw naznin terus ya na, biar makin banyak ilmu akunya buat ke fatha:)

    ReplyDelete
  4. Naznin juga susah makan Vy. Semoga dengan BLW dia jadi semangat makan.
    Sip kita sama-sama belajar ya :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...