Monday, May 30, 2011

Latihan kebakaran (lagi!) di apartment

Pagi hari itu saya terbangun bersungut-sungut dengan malas, si Mbak pulang kampung lagi, keluh saya dalam hati. Dengan langkah gontai saya memulai hari itu, mulai dari menyiapkan air mandi Naznin si Adik, membuat sarapan untuk Mikail si Abang, membuatkan kopi untuk Pak Hussain dan membereskan rumah.

Tiba-tiba kami dikejutkan oleh alarm kebakaran dari lorong apartment. Bunyinya tidak tanggung-tanggung, menggelegar di sepanjang lorong sampai terdengar dari dalam rumah. Suara pengumuman meminta semua orang untuk keluar dari rumah, turun ke bawah perlahan, jangan panik, dan gunakan tangga darurat. Panik! Saya langsung memakai jilbab, mengambil tas, dompet dan handphone, menggendong Naznin dan kami semuapun menuju ke tangga darurat terdekat. Terlihat tetangga yang lainpun berhamburan keluar dari rumah, berlarian turun.

Apartment kami ada di lantai 18. Diperlukan waktu sekitar 15-20 menit sampai akhirnya saya sampai di lantai paling bawah. Betis saya rasanya sudah keram menuruni satu per satu anak tangga sambil menggendong Naznin yang bisa dibilang lumayan berat. Alhamdulillah Pak Hussain masih ada di rumah saat itu, sehingga kami bersama-sama turun ke bawah. Bayangkan kalau saya juga memegang tangan Mikail sambil menggendong Naznin. 

Sesampainya di bawah, saya melihat tenda di lapangan yang digunakan untuk tempat berkumpul dan evakuasi. Terlihat kursi-kursi yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang sudah duluan turun. Oh shooottt! Ternyata barusan hanya latihan kebakaran! Mau marah rasanya hati saya, kenapa sih tidak bilang sebelumnya, jadi saya tidak perlu turun ke bawah kalau tidak perlu. Tapi dalam hati saya membenarkan pihak manajemen juga, karena pasti tidak ada yang mau turun kalau sudah diberi tahu bahwa ini cuma latihan.

Kemarahan saya pun semakin mereda setelah saya melihat pemandangan-pemandangan menggelitik di lobby utama tempat semua orang berkumpul. Beberapa orang turun dengan sendal yang kanan dan kirinya berbeda. Ada yang masih memakai roll rambut, bahkan ada juga mbak-mbak yang hanya memakai baju tidur tanpa sempat memakai pakaian dalam. Wah mudah-mudahan saja tidak akan terjadi musibah yang sebenarnya ya.

Walaupun sedikit kesal, sayapun ikut berkumpul dengan tetangga yang lain mendengarkan arahan dari pihak manajemen tentang cara memadamkan api jika betul terjadi kebakaran. Banyak juga yang berkumpul disana, saya jadi silaturahmi dengan tetangga yang jarang bertemu. Di waktu yang singkat tersebut, kami belajar ternyata selain karung basah, handuk basah juga bisa digunakan untuk memadamkan api. Caranya: basahkan handuk dengan air yang banyak, pegang di dua sisi atasnya sambil melindungi tangan dengan cara menggulung ujung sisi handuk ke dalam,menunduk lindungi kepala di balik handuk, kemudian perlahan berjalan maju menutupi kobaran api dengan handuk tersebut. Intinya jangan takut dan jangan mundur. Karena ketika kita mundur, api jadi bergerak mengikuti arah kita bergerak dan bisa membakar kita.

Kemudian diajarkan juga cara memakai APAR, fire extinguisher berisi nitrogen kering. Cara memakainya sangat mudah: pastikan dulu jarum penunjuk APAR berada di titik hijau, berarti APAR masih penuh. Tarik kunci penutupnya, kemudian arahkan APAR ke atas sambil menekan pegangannya, untuk mengecek isinya. Arahkan APAR ke api dan semprot dalam jarak 3-4 meter. 

Penggunaan APAR sangat mudah, Mikail pun bisa :)
Ternyata latihan kebakaran yang tadinya menyebalkan menjadi pelajaran tambahan bagi saya dan keluarga. Mikail pun ikut mencoba menggunakan APAR, dia senang sekali dan menceritakannya ke setiap orang dengan bangga.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...