Monday, May 2, 2011

Sharing pengalaman potty training Mikail

Mikail sudah lulus potty train sejak umur 2.5 tahun. Lega rasanya skrg tidak harus membawa pospak kemana2, tidak perlu memakaikan training pants yang tidak comfortable, karena khawatir 'accident' terjadi.
Tapi semuanya bukan datang begitu saja. Karena Mikail memakai full pospak (popok sekali pakai) dari bayi, dia jadi terbiasa 'cuek' dengan rasa lembab diapers. Saya mencoba potty training di umur Mikail 1.5 tahun. Dari mulai memakai potty khusus anak, potty seat yg diletakkan di toilet, sampai langsung duduk di toilet langsung, semua saya coba. Dan semuanya 'gatot' alias gagal total. Saya mencoba meniru semua yang teman saya lakukan untuk anaknya.

Saya coba memberikan sticker pada potty setiap kali sukses poop (BAB) atau pee (BAK). Pertamanya Mikail terlihat semangat sekali. Sticker pertama yang ditempelkan adalah pilihannya sendiri. Saya menjelaskan panjang lebar bahwa dia mendapat sticker itu karena berhasil BAB di potty. Memberi pelukan dan pujian setiap sukses BAK dan BAB di potty. It's going well for a week, then again, accident happened.
Setelah itu, Mikail sama sekali tidak tertarik dengan iming-iming sticker, padahal saya sudah menyiapkan banyak sekali. Saya mencoba cara lain, lagi-lagi pengalaman teman saya, untuk mendudukkannya di toilet di waktu BAB (pagi hari) dan setiap 2 jam sekali, sambil diberitahukan terus menerus bahwa dia harus duduk di toilet kalau mau buang air. Tujuannya selain mencegah accident BAK di celana, juga agar terekam di dalam otaknya bahwa BAK dan BAB tempatnya adalah di potty. 1 hari berjalan mulus, di hari kedua Mikail mulai marah karena diwajibkan ke potty padahal dia tidak merasa perlu. Mungkin saya mengganggu jam mainnya ya, akhirnya setelah melalui perdebatan panjang saya pun mengalah. Dan accident terjadi berkali-kali dalam satu hari itu.

Memasuki usia 2 tahun, banyak anak-anak teman saya yang sudah lulus potty training. Semakin tertantang (mungkin lebih tepatnya tersindir), saya mulai memaksa Mikail untuk bisa BAK dan BAB di potty. Saat itu saya belum kenal clodi modern, sehingga saya pasangkan celana popok yang dalamnya beralas plastik, supaya BAK dan BAB tidak merembes keluar. Saya pikir, pasti dia akan risih kalau terasa basah di celananya. Ternyata kebiasaan memakai popok membuat bokongnya merasa kebal dengan rasa risih karena basah. Saya tetap harus mengecek setiap 2 jam, karena dia tidak akan memberi tahu saya walaupun celana popoknya sudah penuh dan basah.

Saya pun mulai kelelahan dengan semua cara yang tidak menemui hasil. Lelah badan membersihkan accident demi accident. Lelah pikiran karena tidak satupun ucapan saya tentang potty didengar oleh Mikail. Ketika saya kemudian hamil, dan saya semakin malas untuk meneruskan potty training. Saya pun memutuskan untuk kembali memakaikannya pospak.

Di usia 2.5 tahun, saya mencoba potty training lagi, berharap Mikail mau mencoba lagi dari awal. Saya belajar dari pengalaman bahwa memaksa sama sekali tidak berguna. Sayapun pasrah, tidak berharap kali ini sukses, karena menurut beberapa ahli, regression (kemunduran pencapaian) wajar terjadi ketika anak menghadapi hal yang besar, seperti: pindah rumah atau sekolah, sakit, kedatangan adik baru, dll. Akhirnya saya memulai melepas pospak, dan membiarkannya di rumah dengan celana dengan pinggang berkaret saja, supaya mudah diturunkan jika mau ke toilet. Tiba-tiba Mikail meminta BAK di toilet! Hati saya senang bukan kepalang, senang bahwa ternyata bahwa akhirnya kesabaran dan kepasrahan saya malah membuahkan hasil. Di hari-hari selanjutnya, Pak Hussain selalu mengajak Mikail BAK bersama, sehingga iapun meniru apa yang bapaknya lakukan.

Saya mulai melepas pospaknya di malam hari dan meletakkan perlak dari karet di atas tempat tidur. Diperlukan beberapa minggu sampai Mikail akhirnya bisa meminta diantarkan ke toilet di malam hari dan tidak mengompol di kasur lagi. Di saat berjalan-jalan keluar rumah, saya memakaikannya training pants, sejenis celana dalam yang dalamnya dilapisi plastik. Walaupun jarang, tapi baik untuk berjaga-jaga dikalau Mikail sudah ingin BAK tetapi toilet susah didapat.

Akhirnya sekarang, di usia 3 tahun, saya bisa dengan bangga mengatakan Mikail sudah lulus potty train. Kebanyakan hari dilalui 'zero accident', walaupun ada beberapa hari accident terjadi karena dia mencoba menahan BAK karena ada acara kesukaannya di tv atau karena terlalu asik bermain. Di malam hari saya tidak perlu mengalasi kasur dengan perlak, karena dia minta bangun untuk pipis. Bahkan terkadang tidak minta pipis sama sekali sampai bangun pagi, karena dia sekarang tidak minum susu sebelum tidur lagi.
Jadi, inilah tips saya bagi ibu-bu yang baru memulai potty training:

1. Lihat kesiapan anak, fisik dan emosional. Secara medis, anak bisa menahan BAK sekitar 2 jam di umur 2 tahun. Seberapapun kerasnya kita berusaha melatih anak untuk potty train, pada akhirnya anak juga yang menentukan kapan mereka siap untuk melakukannya
2. Biasakan anak untuk tidak memakai pospak saat dirumah. Selain untuk membiasakan anak merasakan tidak nyaman ketika celananya basah, bagus juga untuk kulit agar bernapas tanpa pospak
3. Beralihlah ke cloth diapers
4. Ajak anak ke toilet pelan-pelan, tidak perlu dipaksa
5. Hindari memarahi anak ketika terjadi accident. Salah-salah bisa mengakibatkan anak takut BAK dan BAB sehingga sembelit
6. Kurangi minum sebelum tidur. Ajari anak agar tidak minum susu lagi ketika tidur malam, karena memang tidak perlu (2 thn+)
7. Jika anak adalah heavy-wetter, ajak anak BAK 1x ketika malam secara perlahan
8. Ajak anak untuk ke toilet bersama, untuk memberi contoh dan membiasakan anak
9. Sabar, sabar, dan sabar

2 comments:

  1. Selamat ya mikail dan ibu, you did great :)

    Zikra in progress nih, PR emaknya tinggal pas dia tidur. Zikra masih belum bisa mengontrol badannya untuk gak pipis pas lagi tidur, kl udh tidur susah bangunnya. Kalo mikail dipakein perlak ya? Ditampung dulu idenya hehe. TFS ya na :)

    ReplyDelete
  2. Mikail jg lama pakai perlaknya Vy. Waktu itu juga hampir tiap malam ngompol terus. Tapi setelah dibilangin terus menerus dan disemangati, sebelum tidur BAK dl, dan diajak BAK tengah malam, akhirnya ngompolnya berkurang.
    Akhir2 ini dia jd bisa bangun sendiri kalau mau BAK, dan kadang sampai pagi ga kebangun untuk BAK.
    Tapi ada lah saat2 ngompol itu datang walaupun jarang, seperti hari iniiii! Huaaaa

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...