Sunday, May 29, 2011

Wisata Hati ke Yayasan Sayap Ibu

Hari Sabtu kemarin saya mengikuti Mbak Ina Madjihan berkunjung ke Yayasan Sayap Ibu, di Bintaro. Rumah bagi 30 anak cacat terlantar, yang diserahkan ibunya karena tidak mampu, ditinggalkan, atau malah ditemukan orang terbuang.

Sudah lama memang saya ingin datang kesini. Entah mengapa saya selalu bimbang, kejauhan lah, tidak ada teman lah, takut mengajak anak-anak lah, dan segudang alasan saya. Sabtu kemarin niat saya sudah bulat, saya ikut, no matter what! Memang tempatnya agak jauh dari rumah saya yg terletak di Jakarta Pusat. Jadi, malam sebelumnya saya mengajak anak-anak menginap dirumah Omanya di Condet supaya besoknya tidak terlambat mengikut rombongan Mbak Ina. Ternyata sampai sana juga saya terlambat 1 jam karena mencari-cari jalan. Walaupun tidak ikut presentasi awal memperkenalkan ke-30 anak, tapi saya juga bisa melihat dengan mata saya sendiri, memeluk dengan kerendahan hati saya, merangkul dan berbicara langsung dengan mereka.

Ucup, Berti, Ubay, Nurul, Arief, dan semua anak disana pasti membuat hati orang yang melihatnya pilu. They're amazing! Disamping kekurangan yang mereka miliki, ketidakmewahan yang mereka tidak punya, kasih sayang ibu bapak yang tidak mereka rasakan, mereka adalah anak-anak biasa seperti anak kita. Suka bermain, suka dibacakan cerita, suka dikunjungi dan dibawakan hadiah, suka dipeluk, suka digendong, suka dicium. Mereka cuma anak-anak.

Berti, umurnya sekitar 10 tahun, menderita hydrocephallus. Kepalanya sepanjang tangan orang dewasa. Karena perawatnya harus memegang kepalanya seperti memeluk. Berti tidak bisa bicara, tidak bisa menutup mata, tidak bisa mengangkat kepalanya sendiri. Dia cuma bisa menitikkan air mata ketika Ibu Emi dan Ibu Ina, yang dia anggap seperti ibunya sendiri, pulang setelah mengunjunginya. Saya menangis, dalam hati.

Nurul, usianya juga sekitar 9 tahun, penderita lumpuh layu dan autisme. Saya tengah menggendong Naznin ketika mata saya menangkap matanya mengikuti saya. Ternyata dia menyukai Naznin. Berkali-kali dia meminta hal yang sama, minta Naznin turun dari gendongan saya, agar dia berjalan sendiri. Dan berkali-berkali juga saya menjelaskan bahwa dia belum bisa berjalan. Nurul harus menggunakan kursi roda untuk berjalan. Dia mau bermain dengan Naznin. Saya menemaninya makan, Naznin menumpahkan air minum Nurul. Nurul tidak marah, dia tersenyum sambil meminta perawatnya dengan bahasa sangat sopan agar membantu mengelap meja. Setelah menemaninya makan, saya akhirnya meletakkan Naznin disebelahnya ketika jam tidur siang. Mereka main bersama. Naznin loves her! Saya ingin tinggal lebih lama.

Ucup, usianya sekitar 7 tahun kalau saya tidak salah, penderita Celebral Palsy. Ditemukan penjaga kuburan, ditinggalkan orang tuanya disana. Salah satu matanya hampir rusak kemasukan tanah dan pasir ketika tergeletak di kuburan. Banyak anak mengunjungi Ucup, memberi lukisan, mainan, atau hanya bermain bersama. Kemarin salah satu anak pengunjung melukiskan mobil tank, khusus untuk Ucup. Saya dan Naznin sedang tidur-tiduran di sebelahnya, saya mulai bercerita tentang tank bertempur dengan tentara yang kocar-kacir dilewati dan dibom oleh tank. Dia tertawa terkekeh-kekeh. Saya tersntuh, menangis, dalam hati. Betapa mudahnya ia terhibur oleh cerita yang sangat-sangat simple. Saya janji untuk datang lagi, membawa Mikail dan Naznin bermain bersamanya lagi, membawakan mainan tank untuknya.

They're amazing kids! Perawat-perawat disana adalah malaikat penjaga mereka. Butuh kesabaran, ketulusan, kebesaran hati, and a strong gut untuk mengurus mereka setiap hari. Memandikan, mengganti popok, menyuapi, bermain bersama, menggendong mereka tiap hari, tanpa lelah.

Terlintas di kepala saya, betapa saya sering merajuk karena tidak bisa kemana-kemana ketika liburan. Sementara anak-anak ini mungkin tidak pernah merasakan liburan. Saya sering mengeluh ketika Mikail meminta digendong padahal ia sudah besar. Berti masih harus digendong, dan akan terus digendong seumur hidupnya karena bahkan mengangkat kepala pun ia tidak sanggup. Saya menangis lagi, kali ini air mata membanjiri pipi saya, memohon ampun pada Allah atas segala kekurangan saya ketika membesarkan kedua anak saya, keangkuhan saya sebagai manusia, ketidakacuhan saya kepada orang lain yang lebih besar kebutuhannya dari sekedar 'foya-foya'. Berti, Ucup, Nurul, dan semua anak-anak disana 'menyentil' saya.

Tidak semua orang bisa menerima perbedaan, apalagi yang lebih buruk dari nilai kenormalan. Anak-anak yang terbuang juga butuh kasih sayang kita. Karena mereka sama seperti anak-anak kita, hanya kurang beruntung.

Terimakasih kepada Yayasan Sayap Ibu, Komunitas Berbagi, sekarang kita juga bisa membantu mereka.

Yayasan Sayap Ibu
‎​Jl. Raya Graha Bintaro No. 33 B Pondok Kacang Barat – Bintaro, Tangerang (dekat Apotik Century)
Telpon: 0217331004
BCA A/n Yayasan Sayap Ibu. Cab. Bintaro Utama Sektor 1, Bintaro Jaya.
Nomer account: 6030306072

Komunitas Berbagi
Ina Madjihan
Website: http://gerakanberbagi.wordpress.com
Email: berbagisharing@gmail.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...