Tuesday, July 12, 2011

Mikail's little questions

Saya pernah membaca buku bagus tentang parenting yang agak nyeleneh. Judulnya 'Mengapa aku tidak boleh mengupil di depan orang' karangan Jamie Wendellson.

Buku yang menarik, patut dibaca untuk menjadi inspirasi bagi orangtua yang anaknya mulai banyak bertanya. Kisahnya tentang masa kecil penulis yang selalu punya pertanyaan untuk orangtuanya, tapi selalu dijawab dengan jawaban sekenanya, terkesan untuk menghentikan anak untuk bertanya lebih lanjut. Dan ketika ia dewasa, berprofesi sebagai jurnalis, ia berjanji pada diri sendiri untuk mencari jawaban untuk setiap pertanyaan anak-anaknya.


Jawabannya pun bukan sekedar dicari dari buku, internet atau ensiklopedia. Tapi dari sumbernya langsung, dari orang yang pernah mengalaminya, atau dari orang yang punya pengetahuan tentang hal itu. Luar biasa!
Sewaktu saya kecil, Bapak saya adalah manusia terpintar menurut saya. Beliau punya jawaban atas semua pertanyaan di dunia, setidaknya di dunia saya. Sudah 12 tahun sejak kepergian Bapak saya, dan memory terindah saya tentang Bapak saya adalah sesi tanya jawab yang sering kami lakukan di mobil dalam perjalanan ke sekolah.

Saya terinspirasi untuk menjawab semua pertanyaan Mikail dengan jujur dan jawaban yang berbobot, dari pertanyaan hariannya seperti 'Kapan aku boleh bermain di rumah teman?', sampai pertanyaan tersulitnya kelak. Anyway, he's just a 3 years old kid. 'How difficult can his question be', batin saya.

Pertanyaan tersulit memasuki usia 3 tahunnya adalah ketika Mikail melihat Bus Transjakarta berjalan di jalurnya, angkuh mencibir mobil-mobil lain yang terjebak di tengah kemacetan kota. 'Kenapa Busway (karena lebih mudah disebut) jalan di jalanan yang beda?', tanya Mikail. Sebenarnya jawaban termudah adalah 'Karena memang begitu peraturannya'. Tapi apakah itu menjawab pertanyaannya? Apakah dengan jawaban itu akan memuaskan hatinya, dan menyalakan sumbu pikir otaknya? Kala itu saya menjelaskan dengan singkat bahwa Bus Transjakarta adalah salah satu cara pemerintah kota mengurangi pemakaian kendaraan, hingga diharapkan mengurangi kemacetan. Dan jalur khusus disediakan untuk Bus Transjakarta supaya bisa melewati kemacetan. Mikail hanya mendengarkan, entah dia mengerti atau tidak. Tapi sepertinya dia puas dengan jawaban saya.

Semakin hari pertanyaannya semakin beragam dan bertambah kompleks. Kata-kata yang digunakan pun semakin banyak ragamnya. Saya memang membiasakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan memilih vocabulary beragam ketika berbicara pada Mikail. Tujuannya untuk menambah perbendaharaan kosakatanya, supaya Mikail berbicara dengan tata bahasa yang baik.

Beberapa waktu lalu, Mikail melontarkan pertanyaan sulit lagi. Kami sedang berlibur di Bandung, ketika itu kami sedang berada di mobil menuju ke tempat bermain. Tiba-tiba dia bertanya 'Kenapa kalau dipukul dengan buku dari jauh lebih sakit daripada dipukul dari dekat?'. Saya ingat saat itu saya terdiam cukup lama, otak saya berpikir keras untuk menjawab pertanyaan yang terdengar sepele, namun sangat rumit dijelaskan. 'Was it kinesthetic force? What makes distance times force?', saya menjerit dalam hati. Kemana hilangnya rumus-rumus fisika yang saya mati-matian hapalkan sebelum ujian sekitar 15 tahun yang lalu? Oh my goodness, has it been that long? Darn, I'm old!

Dan setelah lelah berpikir, akhirnya saya hanya bisa menjelaskan dengan singkat bahwa jarak menambah kecepatan barang yang dilemparkan sehingga kekuatannya bertambah. Teori saya terdengar masuk akal. Gusti, yang saat itu berada di mobil bersama kami cuma tersenyum-senyum menahan tawa. Saya cukup bangga dapat melewati ujian, menjawab pertanyaan kecil Mikail dengan baik.

Dan saya pun bertekad membaca lebih banyak demi mempersiapkan jawaban terhadap semua pertanyaan Mikail.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...