Friday, September 9, 2011

Is Mikail ready for a pet?

Beberapa hari lalu, ketika kami bermain di Mall Pejaten Village, kami berhenti sejenak di Pet Store. Bukan masuk ke dalamnya, cuma melihat-lihat dari luar saja. Pet storenya terbilang kecil dan sederhana. Binatang-binatang yang kecil berguling malas di kandang bersihnya masing-masing, seakan minta dipeluk semua mata yang memandangnya. Seisi toko dikelilingi kaca transparant mengundang orang untuk menempelkan muka senyum dan melemparkan pandangan ingin memeluk.

Tak terkecuali Mikail yang hari ini kami ajak untuk bermain di mall di hari terakhir libur lebaran. Dia berjongkok di depan kandang kelinci yang dibatasi kaca. Tangannya mengusap kaca seakan sedang membelai-belai si anak kelinci yang sedang menggeliat di kasur hangatnya.

Saya cuma memperhatikan saja, sudah lama sebenarnya saya ingin membelikan Mikail seekor binatang peliharaan. Selain mengenalkannya rasa tanggung jawab dan kasih sayang, juga memupuk empati yang memang sedang saya pupuk sejak dini. Saya bahkan sudah memikirkan jenis binatang peliharaan yang paling tepat untuknya. Hamster atau kelinci adalah pilihan yang paling memungkinkan menurut saya. Lucu, mudah diurus, tidak terlalu kotor, dan senang dipeluk.



Tapi kalau saya ingat-ingat, keluarga kami punya history yang kurang baik terhadap pets. Saya punya cukup banyak list binatang peliharaan sejak kecil, dan semuanya berakhir tragis di taman kecil di depan rumah ibu saya. Terkubur di bawah tanah!

Seingat saya, binatang peliharaan pertama saya adalah sepasang kelinci putih. Malang bagi si kelinci, mereka terserang flu tak lama setelah kami memandikan mereka. Setelah kami mencoba Neozep untuk meredakan flu, mereka pun berpulang ke Rahmatullah. Belalang tempur pelompat tangguh pun ternyata tidak berteman baik dengan tikus yang sudah menghuni rumah kami sebelumnya. Binatang yang tidak perlu diurus seperti keong (hermit crab) dan siput pun menemui ajal mereka tak lama setelah kami bawa pulang. Hamster terjatuh dan berguling-gulung di anak tangga sampai gegar otak. Bahkan anak kucing pun kehabisan simpanan nyawa setelah berkali-kali menantang maut di rumah kami yang bergarasi sempit. Ikan yang sepertinya aman di alam mereka sendiri pun satu persatu menemui ajal mereka dengan cara yang berbeda.

Sekarang setelah dipikir-pikir lagi, kami mirip satu tokoh kartun di Tiny Toon, Elmira. Yang sayang binatang tapi membuat binatang tersiksa dibuatnya.

So, I think I'm gonna give few more years before we introduce the concept of 'taking care of other life' to Mikail. Melihat kebiasaan bermainnya yang masih berantakan dan sering bosan, saya takut binatang peliharaannya menjadi terbengkalai dan akhirnya mati. Walaupun dia sudah mulai bertanya tentang kematian, saya masih kebingungan memulai penjelasan yang sungguh panjang dan berbelit-belit.
Saya rasa Mikail bisa menunggu beberapa tahun lagi.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...