Tuesday, September 20, 2011

You can do it if you put your mind into it - My breastfeeding story

Posting kali ini bukan bermaksud untuk mengecilkan ibu-ibu lain yang tidak/tidak bisa menyusui anaknya karena satu dan lain hal. Saya cuma ingin mengabadikan pengalaman indah saya selama menyusui kedua anak saya, dan sebagai encouragement bagi ibu-ibu lain yang memilih untuk menyusui anaknya, tapi masih ragu atau memiliki ketakutan kecil di hatinya.

Ketika Mikail lahir, saya berada di Kuala Lumpur, mengikuti Pak Hussain. Persiapan sebelum kelahiran Mikail adalah menghabiskan buku-buku bacaan tebal warisan dari kakak ipar saya yang berisi semua informasi yang perlu diketahui mengenai kehamilan dan persalinan. Semua informasi step-by-step cara memegang, membedong, memandikan, menyusui, dll ada disertai gambar untuk mempermudah pemahaman pembacanya. Setiap hari membaca buku-buku yang sama selama 9 bulan lebih, saya yakin bisa menghandle semuanya. Saya mengikuti semua petunjuk yang ada di buku, saya punya wishlist yang saya siapkan untuk Obgyn saya berisi detail bagaimana saya ingin anak saya dilahirkan. Saya punya checklist schedule kegiatan baby, dari mulai tidur, menyusui, dan frekuensi BAK dan BAB-nya. Saya mengeprint manual baby massage, cara menyusui, dll untuk ditempel di dinding babyroom. Everything has to be perfect for my baby, pikir saya. Saya pikir saya siap, sampai akhirnya hari itu tiba.

Setelah Mikail lahir, ASI saya tidak kunjung keluar seberapa keras pun saya berusaha. Bidan dan suster di RS bergantian memberikan breast-massage, tapi tak ada kemajuan juga. Ditambah lagi saya memiliki puting yang tidak menonjol (inverted nipple) sehingga baby susah untuk menyedot atau bahkan latching-on (pelekatan). 4 hari di RS, tak ada tanda-tanda ASI saya akan keluar, walaupun terlihat cairan colostrum menetes ketika bidan membantu proses mengeluarkan puting untuk memudahkan bayi menyusu.

Bingung dan panik, ternyata semua yang saya baca dan siapkan seakan tidak ada artinya saat itu. Stress, rasanya semua orang menyalahkan saya karena saya kurang persiapan. Mestinya saya melakukan nipple-care dari jauh hari semasa hamil, mestinya saya melakukan breast massage sebelumnya untuk menstimulasi ASI, mestinya saya ikut setuju ketika diajak teman saya ikut kelas laktasi. Segudang rasa kecewa dan rasa bersalah menghantui saya. Ketika Mikail boleh dibawa pulang, dirumah dia menangis tanpa henti. Berkali-kali saya coba menyusuinya tapi ia malah menolak sambil tetep menangis. Saya coba gendong, massage, ayun-ayun. semuanya gagal. Berbagai teknik latch-on yang diajarkan bidan pun selalu salah, sehingga Mikail semakin menangis karena tidak bisa memasukkan mulut kecilnya sampai mengenai areola saya. Nipple saya lecet sampai berdarah, membuat saya semakin stress. Saya sempat kembali ke RS lagi untuk meminta bantuan bidan mengajarkan saya kembali cara menyusui yang benar. Im so dissapointed in myself, I didnt wanna have me as my mother!

Tapi saya yakin saya bisa, saya sehat, fit, dan beranggota tubuh lengkap. Semua ibu mamalia termasuk manusia, diberikan jalan dari Allah untuk menghidupi bayinya, cukup dari ASi yang keluar dari badannya. Dan Alhamdulillah ASI saya mulai lancar keluar beberapa hari kemudian. Saya sampai menangis ketika ASI saya keluar dengan derasnya. Menangis juga karena demam 2 hari karena mastitis ringan, yang bisa cepat tersembuhkan dengan mengolesi keprekan sereh dan menyusui lebih banyak. Saya berhasil menyusui Mikail secara exclusive selama 6 bulan, dan dilanjutkan dengan extended breastfeeding sampai Mikail berusia 22 bulan. Yang namanya manusia pasti mengalami masalah, merasa tertekan, sehingga kuantitas ASI menurun. Tapi Alhamdulillah saya selalu bisa mengembalikan rasa percaya dirii saya yang akhirnya mem-boost kuantitas ASI saya kembali.

Ketika hamil Naznin, saya banyak belajar dari ibu-ibu yang lain dari berbagai milis dan forum. Kami memilih RSIA yang pro-ASI, meminta bayi untuk rooming-in 24 jam, membaca success story ibu-ibu yang lain, dan menyiapkan diri dengan makanan bernutrisi tinggi sedari awal masa kehamilan. Walaupun proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini) tidak selama yang saya harapkan, namun ASI saya langsung lancar mengalir ketika Naznin pertama kali menyusui. Seperti mendapatkan mukjizat dari Allah, saya tidak mengalami sebarang kesulitan pun dalam membesarkan Naznin, walaupun Mikail masih sangat tergantung pada saya.

Naznin sempat kuning di usia 3 hari. Sebelum kami pulang, test bilirubin Naznin menunjukkan angka10.8, sedikit diatas ambang batas. Di hari ke-5 tes bilirubinnya menunjukkan angka 13. Saat itu, saya dikenalkan dengan term 'Breastfeed jaundice' atau kuning yang disebabkan oleh ASI. Walau hanya didukung oleh jawaban @aimi_asi, saya pede dan meneruskan menyusui. Saya memutuskan untuk menyewa 1 kamar di RS supaya Naznin bisa disinar di kamar, bersama saya. Dengan begitu, saya bisa tetap menyusui dan level bilirubinnya akan cepat kembali normal.



Berbekal pompa pinjaman dan botol dari RS, serta berbotol-botol air mineral, saya membuat strategi. Saya memompa setiap dua jam sekali dan di selanya Naznin saya bangunkan untuk menyusui di box, sambil disinar, dengan botol 2 jam sekali. Tujuannya supaya penyinaran lebih efektif karena bayi tidak keluar dari box, namun tetap disusui. Saya memompa, menyusui, memompa, menyusui, begitu terus setiap jamnya sampai tepat 24 jam. Dan Alhamdulillah setelah dites, kadar bilirubinnya turun drastis menjadi 8! Saya hampir menangis terharu, usaha kami berdua tidak sia-sia.

Karena sekarang saya lebih percaya diri, dan mengenal tubuh saya lebih baik, saya bahkan sempat mencoba berpuasa dikala Naznin berusia 1 tahun. Alhamdulillah kuantitas ASI saya masih baik sampai sekarang. Naznin di usia 1 tahun 1 bulan, walaupun terkadang susah makan, dan belum mau minum susu UHT, berat badannya masih di percentile atas.

Kunci sukses saya adalah menyusui tanpa botol, kecuali terpaksa. Untungnya saya diberikan pilihan oleh Allah untuk menjadi stay-at-home-mother, sehingga saya bisa menyusui anak-anak saya full-time tanpa halangan. @drtiwi di timelinenya hari ini juga menyarankan untuk menghindari penggunaan dot untuk menghindari #bingungputing dan menyarankan menyusui langsung apabila mau menyusui lama (sampai 2 tahun). Menyusui langsung juga membuat bayi menyusu lebih lama, sehingga mendapat 2 jenis ASI (foremilk dan hindmilk) yang dua-duanya dibutuhkan tubuh. Hindmilk memiliki kandungan lemak yang menambah berat badan bayi, terdapat di akhir setiap penyusuan.

Kunci sukses kedua saya adalah co-sleeping.  Dengan tidur bersama, saya bisa merespon dengan cepat ketika bayi membutuhkan apapun di malam hari. Tidur bersama bayi melatih kepekaan saya terhadap tangisan bayi yang berbeda-beda. Mikail dan Naznin jauh dari stress dan tidak rewel setiap harinya karena saya seperti mengerti apa yang mereka inginkan walaupun mereka mengungkapkan semuanya hanya dengan tangisan.

Menyusui adalah kodrat manusia, dan hak setiap bayi. Allah bahkan mengabadikan pentingnya menyusui dalam Al-Quran. Semua ibu (dalam kondisi normal) bisa menyusui, diutamakan selama 6 bulan, dan lebih baik apabila dipenuhkan sampai 2 tahun. Yang terpenting adalah keyakinan bahwa semua kesulitan dan ketidaknyamanan yang ibu rasakan ketika menyusui akan terbalas dengan begitu banyak manfaat dan kebaikan yang diterima bayi, yang membuat mereka menjadi unggul di masa depannya. Belum lagi kedekatan ibu dan bayi selama menyusui membangun kedekatan emosi yang kuat, dan membuat ibu mampu merespon segala emosi yang ditunjukkan bayi. Di masa depan anak akan tumbuh dengan EQ yang kuat dengan kemampuan memahami dan merespon terhadap emosi orang lain juga.

Begitu banyak kelebihan, keutamaan dan keuntungan dari menyusui lain yang tak akan habis dibahas. Yakinlah bahwa Anda juga bisa!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...