Saturday, October 15, 2011

Welcome to paradise!

Hari keempat di Male', ibukota Maldives. I realized that I have very adaptive children and they are also a good travellers. Mikail dan Naznin menjalani hari seperti tidak menyadari bahwa mereka berada di tempat yang baru. They didn't even have a jet-lag! Sepanjang perjalan, mereka sangatlah manis menikmati waktu di pesawat dan airport bermain dan berlari-lari dengan senang. Alhamdulillah.

Di Male', kami tinggal di rumah orang tua Pak Hussain, dengan pertimbangan bahwa disini banyak bala bantuan dari asisten RT dan saudara. Sampai sekarang pun kami belum sempat membereskan barang-barang. Kamar kami penuh sesak dengan barang yang semuanya masih berada di keenam koper besar yang nampak tersiksa menahan berat berlebih.

Saya membawa semua hal yang saya butuhkan, termasuk peralatan memasak dan bumbu dapur yang tidak bisa ditemukan disini. Saya memasak untuk makan siang dan malam kami, karena saya takut Mikail belum terbiasa dengan makanan disini. Mikail bereksperimen dengan semua jenis makanan yang dia lihat. Walaupun dia masih enggan mencoba kari berwarna merah dan coklat tua karena takut pedas, namun ia sudah mencoba kue-kue tuna dan chapatti. Siang kemarin, dia mencoba makan chapatti dengan pisang hahaha.

Sebisa mungkin, saya membuat hari-hari menjadi menyenangkan dan penuh petualangan baru, terutama bagi Mikail. Sepertinya masih segar di ingatannya segala hal yang dilakukannya di Jakarta, di rumah Omanya. Kadang dia sering menanyakan mengapa kita selalu menginap di rumah Munna, begitu dia memanggil nenek dalam bahasa divehi. Dan sebisa mungkin pun saya menjelaskan dengan jelas, santai, dan less scary untuknya untuk memahami perpindahan sementara ini.
Pak Hussain, seperti mengerti apa yang Mikail alami, selalu mengajaknya melakukan hal-hal yang baru, terutama di penghujung minggu. Kamis malam kemarin, adalah Night Fishing time! Mikail excited sekali. Dua jam dari schedule memancing, Mikail sudah mengajak saya untuk bersiap-siap. Tidak sabar dia untuk mencoba memancing ikan, yang sebelumnya hanya dia dengar dari buku Clara Ng yang saya bacakan sebelum tidur.

Pukul 5 sore kami berkumpul di pelabuhan yang dinamakan Jetty. Perahu-perahu beraneka bentuk berjejer terikat di bibir anjungan. Jetty selalu merupakan tempat tersibuk di Male', bepergian dengan ferry atau dhonni (perahu penghubung pulau) sangatlah mudah dan murah seperti menaiki taxi saja. Kali ini sebuah perahu nelayan, bermuatan 20 orang menunggu kami lengkap dengan segala peralatan memancing yang dibutuhkan.

Perahu membawa kami ke tengah laut, dimana ikan banyak berkumpul. Matahari yang perlahan tenggelam meninggalkan noda kemerahan di langit, mewarnai suasana sore kami. Mikail sibuk memperhatikan laut yang dipenuhi beraneka perahu besar dan kecil, dan pulau-pulau sekitar. Kepalanya terjulur keluar jendela perahu, merasakan belaian angin yang mengusap-usap rambutnya. Sepanjang jalan dia tak berhenti menceritakan apa yang dia lihat.

Pak Hussain berhasil menangkap ikan besar. Walaupun hanya satu, tapi puas sekali rasanya. Perahu bertolak kembali ke Male' pukul 10 malam. Mikail dan Naznin pun tertidur dalam buaian ombak yang menggoyangkan perahu.


Di atas dhonni siap pergi memancing
Jetty penuh dengan berbagai jenis perahu
Keesokan harinya di hari Jumat, kami diundang pesta barbeque di pulau Vilingilhi, sekitar 7 menit dari Male'. Kali ini kami menaiki perahu yang lebih besar, dan bertolak dari pelabuhan yang berbeda dari kemarin. Ada sekitar 4 pelabuhan di Male'. Arrival Jetty khusus untuk membawa penumpang ke airport, yang kebetulan berbeda pulau. T-Jetty tempat berlabuh perahu berbagai jenis dan berbagai tujuan. Vilingilhi terminal tempat ferry dengan muatan cukup besar, beroperasi 24 jam membawa penumpang dari Male' ke Vilingilhi dan sebaliknya. Dan satu lagi adalah Jetty tempat berlabuh perahu besar bermuatan cargo tempat perdagangan dilakukan. Saya jadi ingat Tanjung Priuk kalau melihat tempat ini. Berbeda dengan sudut lain kota Male' yang tenang dan simple, sudut ini terlihat keras dan suram. Perahu-perahu berukuran raksasa yang membuat hati ciut menyembunyikan kerasnya kehidupan di sudut kota yang penuh misteri ini.

Vilingilhi adalah pulau kecil yang cantik dan bersih. Letaknya hanya 5 menit dari kota Male'. Kota yang rapih ini seperti belajar dari kesalahan ibukota yang penuh sesak dengan tatanan rumah berantakan menyakitkan pandangan mata. Jalanan disini lebih lebar dengan trotoar berukuran setengah dari jalan kendaraan. Rak tempat parkir sepeda tersedia dimana-mana. Terik matahari tidak terasa karena seisi pulau dipayungi pohon-pohon besar. Apartment dengan warna berbeda menghiasi seisi pulau yang dikelilingi shuttle car setiap 15 menit ini. Penghuninya, yang kebanyakan bekerja di Male' lalu lalang di jalan yang sepi dari kendaraan, bermain dengan keluarga dan teman. Anak-anak bermain di pantai yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah. This is heaven! Saya suka sekali kota ini, its my kinda life.

Kami memilih spot yang tepat untuk menyiapkan alat barbeque. Sementara itu, Mikail dan Naznin sibuk bermain pasir. Naznin yang tadinya takut masuk ke laut, akhirnya menikmati berendam di laut yang landai hingga tidak mau keluar dari air. Mikail tak puas-puas bermain dengan teman sebayanya, Naznin menikmati makanan berempah ala Maldives walaupun agak sedikit pedas. Dan saya tak henti-henti mengucap syukur memandangi bulan yang bulat penuh yang perlahan naik dari permukaan laut ke langit cerah yang dipenuhi sebaran manik-manik bintang yang berkelap-kelip mesra.

Barbeque bersama rekan kantor Pak Hussain
Pantai di Vilingilhi, memandang tepat ke kota Male'
Alhamdulillah. This is our life now, for the time being. We enjoy it every moment.


Bermain di pantai berpasir bersih dan putih

2 comments:

  1. Na, slamat menikmati hidup baru ya. Smoga semua sehat, betah dan bahagia disana. Kiss buat mikail dan naznin :*

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...