Thursday, October 6, 2011

Our new member of the house

Forget what I said in the previous post about Mikail and pets. Beberapa hari yang lalu, saya sedang menemani Mikail bermain sepeda di luar sementara Pak Hussain mengajak Naznin berjalan-jalan sore. Tiba-tiba kami menemukan seekor anak kucing, lebih tepatnya baby kucing, keluar tertatih-tatih dari tong sampah di depan rumah kami.

Mikail langsung berlari ke arah kucing itu, penasaran ingin melihatnya. Beberapa anak yang sedang bermain juga berebut ingin memegang kucing yang terlihat sangat lemah itu. Ada yang mengelus-elus kasihan. Ada yang berlari ke rumah, dan kembali dengan potongan ayam untuk si kucing kecil makan. Mikail tak mau kalah, dia meminta tolong bibi untuk mengambilkan susu.

Ternyata si kucing sangat lemah, bahkan untuk makan dan minum. Dia cuma mencicipi sedikit daging ayam dan menolak untuk minum dan makan apapun lagi.

Hari sudah hampir maghrib, berat rasanya meninggalkan si anak kucing di luar sementara kami di dalam rumah yang nyaman. Dilema rasanya, pasti repot mengurus anak kucing yang ibunya saja meninggalkan dia di tong sampah. Wait! Ibunya meninggalkan dia sendirian, kalau kita tinggalkan si anak kucing bagaimana dia bisa bertahan hidup. We're probably its last hope!

Kami memutuskan untuk membawa si anak kucing ke garasi rumah. Menaruhnya di dalam kotak sepatu, menyelimutinya dengan handuk. Apapun yang kami berikan tak satupun digubris olehnya. Berkali-kali kami menengoknya, dia cuma tertidur lesu di pojokan kotak itu.

Si Ogi yang masih belum jelas jenis kelaminnya

Bingung, cemas, keesokan paginya kami membawanya ke dokter hewan terdekat. Ternyata kecemasan kami ada benarnya. Dokter bilang si anak kucing yang ternyata baru berumur 2 mingguan dehidrasi berat. Mungkin sudah berhari-hari tidak makan dan minum, dan tidak mendapat ASI seperti seharusnya, diapun kekurangan gizi.

Walau Dokter bilang anak kucing yang ditinggal ibunya seperti ini sangat kecil kemungkinan hidupnya, kami tetap tidak patah semangat. Setelah diberi infus dan diresepi makanan dan susu formula pengganti ASI, kamipun pulang bertekad untuk merawat si anak kucing sampai sembuh.


Mikail cemas lihat Ogi diperiksa dokter

Untungnya Andin, tantenya Mikail punya banyak pengalaman merawat anak kucing. Si anak kucing yang diberi nama Ogi, disuapi susu dengan spout tiap 3 jam dan disuapi makanan cair.

Walaupun Ogi masih terlihat lemas, tapi dia sudah bisa sedikit berjalan walaupun masih tertatih-tatih. Keesokan harinya nafsu makannya mulai meningkat, satu mangkok makanan habis dilahapnya. Senang sekali melihatnya seperti menemukan semangat hidupnya kembali.


'Aku berani, Maaakk!', kata Mikail


Menyuapi susu
Entah sampai kapan Ogi bisa tinggal dirumah. Kalau agak besar pasti bulu-bulu yang mulai rontok bisa mengganggu dan tidak baik untuk anak-anak. Yang pasti, Mikail terlihat ceria sekali sejak Ogi ada dirumah. Setiap saat dia pasti menengok tempat tidur Ogi dan mengajaknya bermain.


Malam tadi kami meletakkan 1 kotak berisi pasir disebelah kotak tempat tidurnya dan mengajarkannya toilet training. Dalam beberapa menit saja dia sudah bisa BAK dan BAB di tempat yang disediakan. Pintar sekali anak kucing ini. Hari-hari terakhir kami di Jakarta jadi lebih ceria karena anak kucing yang lucu ini. Semoga cepat sembuh Ogi!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...