Sunday, October 23, 2011

Restaurant 101: Read the fine print in menu

Saya adalah orang yang kurang teliti terhadap detail. Berbagai masalah, kecil maupun besar kadang-kadang timbul akibat kekurangan saya ini. Seringkali saya membeli barang hanya dari melihat packagingnya saja, dan sampai rumah saya baru menyesal karena tidak mengecek isinya dahulu.

Dan restaurant adalah salah satu tempat dimana saya sering sekali tidak teliti. Most of the time disebabkan karena perut yang kelaparan jauh sebelum memasuki restaurant tersebut. Sering juga disebabkan karena mulut saya lebih cepat dari mata saya dan memesan apa saja yang saya lihat di menu, tanpa memikirkan kapasitas perut saya terlebih dahulu.

Pelajaran kali ini adalah ketika saya dan Mikail memutuskan untuk makan siang diluar untuk pertama kalinya sejak kami pindah. Adalah Sala Thai, satu restaurant yang cukup terkenal di kota Male', Maldives. Karena satu kecelakaan kecil, sekarang restaurant ini pindah lokasi tepat di depan rumah mertua saya. Sudah lama saya ingin makan disini, karena jarang sekali kita bisa menemukan tempat yang menyajikan makanan Asia di kota ini. Selain restaurant, tempat ini juga menyediakan massage service, dan mani-pedi. Tempatnya eksotik sekali, beda dengan kebanyak cafe dan restaurant lain. Interiornya mewah, peralatan makannya sangat sophisticated, wangi-wangian khas spa membuat suasana sangat relax. Hebatnya lagi, restaurant ini dimiliki oleh orang Cirebon dan suaminya, seorang German yang menetap disini. 


Interior Sala Thai

Mikail menikmati orange juice
Sepertinya memang tempat yang mahal ya. Kami pun meminta menu dan mulai melihat-lihat nama makanan yang semuanya berbahasa Thai, dengan penjelasan jenis makanan dan cara memasaknya. Semua terlihat lezat. Sepintas saya melihat harganya, semua makanan berkisar diantara 11-25. Wow, lumayan sekali untuk restaurant secantik ini.

Untungnya saya sudah makan lebih dulu, jadi saya tidak terlalu lapar mata. Saya hanya memesan 1 Nasi goreng thai dengan tulisan harga 8. 1 spring roll dengan tulisan harga 11.50, dan orange juice 6.50. what a value for money, pikir saya. Makanannya pun enak, Mikail menghabiskan 1 piring besar nasi goreng tak bersisa. Saya menikmati spring roll dan orange juice yang porsinya cukup besar.

Bill pun tiba, dan saya terkejut mendapati total tagihan makan siang saya yang hanya 2 item makanan saja tiba-tiba menjadi 414 rufiya dalam currency Maldives atau setara dengan Rp. 400,000. Saya kaget sekali, namun masih mencoba bersikap cool. Perlahan, saya kembali mengecek menu, dan mendapati bahwa semua harga yang tertera adalah dalam USD. 'Bodohnya!', kutuk saya dalam hati. Untungnya rumah hanya berjarak kurang dari 2 meter. Saya buru-buru mengambil uang tambahan dan membayar tagihan yang luar biasa mahal menurut saya.

Rp. 400,000 untuk nasi goreng, springroll dan orange juice!! 
Kesal sekali rasanya, tapi apa mau dikata, semua adalah akibat saya tidak teliti. Sementara Pak Hussain yang sedang berada di kantor ketika saya menceritakan kebodohan saya, hanya tertawa miris.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...