Friday, January 27, 2012

Culture Shock I - Midnight madness

Beberapa malam ini saya kerap terbangun tengah malam. Bukan karena mimpi buruk atau karena keributan di ruang tamu rumah mertua. Keluarga besar dari Pak Hussain, seperti juga rakyat Maldives yang lain, memang aktif di waktu malam. Biasanya mereka datang kerumah ibunya malam hari, memulai makan malam pukul 9, menonton TV bersama sampai pukul 11, dan mengobrol segala topik dari urusan bisnis sampai perbincangan politik yang sedang hangat di negaranya. Biasanya rumah akan muali sepi pukul 3 pagi, dimana asisten RT juga pastinya akan tidur setelah semua orang pergi dan bangun paling pagi untuk membereskan rumah.

Balik lagi ke cerita sebelumnya. Jadi sudah beberapa hari malam ini saya terbangun karena suara sirene polisi. Sudah lebih dari seminggu, setiap malam di kota Male' ada demonstrasi. Karena rumah mertua letaknya dekat dengan alun-alun kota, dari kamar pun suara keributan dan sirene mobil polisi dapat terdengar jelas.

Demonstrasi lebih sering dilakukan di malam hari

Di Maldives memang sedang banyak demonstrasi akhir-akhir ini. Di akhir bulan Desember lalu, seisi Maldives yang berpenduduk kurang lebih 300,000 jiwa ini dihebohkan dengan perseteruan kelompok Islam ekstrim dengan kelompok Islam moderat. Kelompok yang ekstrim mengancam untuk membunuh orang-orang yang dicurigai menentang gerakan mereka 'membela' Islam. Semacam kegiatan yang dilakukan FPI kalau di Indonesia. Untungnya ancaman tidak betul-betul terjadi karena kesigapan pemerintah melindungi (baca: memenjarakan) orang-orang yang dianggap biang kerusuhan dan target kerusuhan.

Menurut berita di TV, protes kali ini dilayangkan partai oposisi yang mengumpulkan massa untuk membebaskan seorang Hakim yang ditangkap pemerintah karena korupsi. Seperti juga halnya di negeri kita dimana orang yang ditangkap nantinya akan membeberkan catatan hitam teman sesama koruptornya,  beberapa pembesar negeri (yang mungkin terkait kasus yang sama) sudah mulai panik. Memang bau, walaupun ditutup-tutupi akhirnya akan tercium juga.

Yang lucu, demonstrasi di Maldives kebanyakan dilakukan pada malam hari setelah jam 10 malam. Tak beda dengan siang hari, demonstrasi yang dilakukan pun dihiasi dengan banner-banner, pengeras suara, kumpulan pendemo, dan segala atribut yang diperlukan. Polisi pun tak kalah siapnya. Seakan tak kenal rasa kantuk, polisi berseragam lengkap dengan helm anti lemparan batu, perisai, sepatu boots tinggi dan jas anti peluru (lebay banget ya) siap untuk mengantisipasi kerusuhan yang sering mengiringi keramaian massa seperti ini. Ibu saya tidak perlu khawatir karena saat terjadi demonstrasi, tidak seperti rakyat Maldives lain, saya lebih memilih untuk mengeloni anak-anak sampai pagi.

Dibanding alasan dibalik demonstrasinya, saya lebih penasaran mengapa rakyat Maldives memilih untuk meramaikan jalanan di malam hari. Mungkin mereka tidak mau mengganggu turis yang ramai berkunjung di siang hari, karena income terbesar negeri ini adalah dari pariwisata. Atau mungkin karena mereka tidak mau mengurangi produktifitas kerja di kantor. Ketika saya bertanya, jawaban Pak Hussain simple saja, karena di siang hari terlalu panas hahaha. Mungkin ada betulnya, melihat di setiap persimpangan, motor-motor lebih memilih untuk menunggu lampu hijau dibawah bayangan pohon besar.

Saya jadi terkekeh sendiri mengingatnya. Yuk ah, tidur lagi!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...