Wednesday, January 18, 2012

Finding Paradise (FINAL) - My silver lining


Gambar dari sini
Memasuki hari ke-11 kami pindah ke Maldives, belum juga kami menemukan apartment. Bukannya saya tidak suka tinggal bersama mertua, yang kapan saja saya butuh bantuan, asisten RT akan siap membantu. Hanya saja, rumah mertua memang tidak didesign untuk ditinggali toddlers super aktif seperti Mikail dan Naznin. Tangga yang terbuka tanpa pintu, kamar yang ada di atas, ruang tamu yang hampir selalu penuh orang, tidak ada space untuk bermain, dan banyak hal lagi yang membuat kami kesulitan.

Tapi, mencari tempat tinggal disini bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami (sorry for the extreme analogy). Apartment atau rumah sewa tidak diiklankan di koran atau notice flyer yang ditempel di dinding seperti yang biasa ditemukan di negara-negara lain. Biasanya kalau ada rumah disewakan, pemiliknya akan memberitahu temannya, dan temannya akan memberitahukan teman-temannya yang lain. Semacam word-of-mouth advertising. Ya Tuhan, di era digital begini masih ada saja kesulitan mencari informasi. Saya tidak memaksa Pak Hussain, toh saya pikir mencari rumah itu seperti mencari jodoh, tidak perlu terburu-buru nanti juga dapat yang pas. Betul kan?

I know life can't be the same like what we have back in Jakarta, tapi saya mulai melupakan satu persatu kesulitan saya dan mulai mensyukuri apa yang kami miliki sekarang. Untuk membantu kerepotan saya mengantar dan menunggu Mikail di sekolah, Pak Hussain bersedia bangun lebih pagi untuk menunggu Mikail sampai sekolah selesai sementara saya mengurus keperluan Naznin dirumah. Di hari pertama dia bertugas menunggu Mikail, dia menelpon saya. Ternyata kepala sekolah Mikail adalah salah satu gurunya ketika dia bersekolah dulu. Pak Hussain bercerita tentang salah satu staffnya yang super galak, dan Kepala Sekolah meminta maaf, menyesali kejadian yang tidak enak itu. Menjadi bapak paling aktif di sekolah, Pak Hussain pun ditunjuk menjadi ketua perkumpulan orangtua pada pertemuan guru dan orangtua yang dihadirinya. Dan di hari itu, setelah berhari-hari Mikail menangis setiap masuk kelas, berhenti menangis sama sekali ketika Pak Hussain yang menunggui. Saya lega, hati saya yang mengecil seperti mengembang kembali.

Tau bahwa Mikail akan menangis hanya kalau melihat saya, Pak Hussain pun setuju menunggunya di sekolah beberapa hari lagi. Lalu, dia mencoba meninggalkan Mikail, 1 jam, 2 jam, Mikail tidak mencarinya lagi. Hingga sekarang akhirnya kami berdua akan mengantarnya sekolah, berjalan kaki pulang bersama, dan saya akan menjemput Mikail ketika sekolah selesai. Perjalanan pulang dari sekolah Mikail berdua Pak Hussain sangat menyenangkan. Angin laut sepoi-sepoi, mentari yang masih bersinar lembut, gang sempit yang diteduhi pohon rindang, perbincangan ringan yang mengundang senyum, its sooo romantic! Pak Hussain pun merasakan hal yang sama. Kami mungkin tidak bisa pergi dinner berdua karena tidak punya babysitter, kami pun kesulitan menemukan waktu romantic berdua dirumah, so for now this is the most romantic moment we can get. Hati saya makin mengembang bahagia. 

Di suatu hari, Pak Hussain pulang membawa hadiah untuk saya, sebuah laptop! Bukan laptop baru, hanya pinjaman dari laptop lama salah satu abangnya. Mau menangis rasanya, saya terharu sekali. Sekarang saya bisa menulis lagi. Paginya, setelah menulis postingan pertama di blog ini, seharian itu saya tersenyum bahagia tanpa henti. 

Allah maha baik, untuk melengkapi kebahagiaan saya, Pak Hussain menelpon saya kemarin sore. Dia menemukan apartment yang pas untuk kami. Dekat dari kantor, dekat dari rumah mertua, dan pokoknya pas untuk kami. Antusias sekali dia mengajak saya melihat sendiri tempat yang dia maksud. Setelah melihat beberapa rumah sebelumnya yang sempit, berada di lantai atas tanpa lift, dan mahal, saya menaruh harapan kecil pada rumah yang satu ini. Tapi ketika saya lihat sendiri, sepertinya owner rumah ini adalah saya di dimensi yang lain. Ruang tamu dengan balkon tertutup sehingga aman untuk anak-anak, space lebar untuk rak buku-buku, dapur kecil dilengkapi oven yang berdekatan dengan meja makan, kamar yang mempunyai connecting door dengan kamar sebelahnya untuk kami mencoba lagi memisahkan anak-anak tidur di kamar berbeda. Dan fire hydrant yang tersedia di dalam rumah untuk berjaga-jaga kalau kebakaran, karena saya sendirian dengan anak-anak dirumah. This is the one! This is gonna be our home.

Saya bersyukur berkali-kali kepada Allah yang memudahkan kesukaran menjadi kebahagiaan. Hati saya penuh luapan kebahagiaan. Alhamdulillaah ya Allah, puji syukur kepada Engkau, Tuhan yang mengetahui hati manusia.

Sekarang saya mulai mencari kebahagiaan dari setiap hal-hal kecil dalam hidup. Menelpon ibu di pagi hari, berjalan dengan suami terkasih sambil bercerita, memandang laut yang tenang, menunggu pelangi setelah hujan, mencari ikan segar di pasar, menikmati cake coklat di sore hari, berkeliling kota dengan bus, membaca cerita sebelum tidur, dan menghujani anak-anak dengan ciuman disaat bangun tidur.

Kesukaran dan kesedihan pasti dirasakan seluruh manusia. Yang saya alami ibarat pasir kecil, dibandingkan kesukaran dan kesedihan hidup orang-orang lain. Tapi saya yakin Allah sudah mengatur porsi kebahagiaan dan kesedihan setiap manusia. Semoga kita selamat di dunia dan di akhirat.

2 comments:

  1. mba naaa.. aku nangis mulu deh baca posting finding paradise ini dan yg sebelum2nyaaaa.. :_(

    skrg nulis judulnya aja udh menggetarkan hati

    i'm proud of you mbaa!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih indraaaa. biasalah tulisan galau hehehe.
      Mudah2an lancar2 ya urusan pindahan yg ribet ini

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...