Tuesday, January 17, 2012

Finding Paradise PART II - Love Hurts

Hampir seminggu setelah kepindahan kami ke Male', semua hal seperti melenceng dari rencana. Kami kerepotan membagi waktu, saya dengan kesibukan mengurus anak-anak, sementara Pak Hussain dengan segudang permasalahannya di kantor. Beberapa kali saya meluapkan kekesalan kepada anak-anak, yang seperti tak mengerti kesedihan saya, mencabar kesabaran saya.

Di suatu kesempatan, saya sedikit mengadu kepadanya. Betapa saya menemukan kesukaran yang membawa saya kepada kesedihan yang dalam. Yang kalau tidak saya hilangkan, akan mempengaruhi keseharian saya. Pak Hussain menyarankan saya menenangkan diri sejenak, sendirian, pergi kemana saya suka untuk beberapa jam. "Betul!", pikir saya. That's just what I need.

Saya menunggu kesempatan me-time saya datang, tapi setelah beberapa hari tak kunjung juga saya bisa melarikan diri sejenak. Di weekend sore ketika saya melihat kesempatan itu tiba, sebelum saya membuka mulut, tiba-tiba telpon berdering. Pak Hussain berdiri dan membereskan barang-barangnya. 'I have to do something at the office, and I'll be home soon'. Dan hari pun hampir berakhir ketika Pak Hussain akhirnya pulang. Saya menangis lagi dalam hati.

Gambar dari sini
One weekend I decided to demand my me-time, just for few hours, Pak Hussain terbangun dengan muka keletihan yang teramat sangat. Walau dia membolehkan saya pergi sambil tersenyum, tak terbersit rasa tega saya muncul untuk menjalankan niat saya. Malah akhirnya saya memijat badannya yang sakit-sakit karena kurang tidur. Kami menghabiskan hari itu, berbicara apa saja yang ingin kami bicarakan. Saya mengutarakan kesedihan saya terburu-buru, serasa semua kekesalan dari hati tertumpah tak terbendung lagi.

Pak Hussain pun dengan sabar menjelaskan kesulitannya pada saya. Betapa setiap harinya dia dibebani banyak masalah dari segala sisi di perusahaan yang dijalankan oleh saudara-saudara yang kadang memiliki keinginan yang berbeda. Betapa setiap saatnya dia harus memastikan segala permasalahan di kantor dapat diselesaikan tepat waktu sebellum menjadi permasalahan besar. Betapa sulitnya dia kadang harus menyelsaikan segala hal sendirian, when he chose to care and everybody else doesn't think the same. Betapa pikirannya penuh sesak sampai ia pun sulit memejamkan mata di malam hari. Dan semua permasalahan itu kecil baginya dibandingkan kesedihannya melihat saya tidak bahagia di tempat baru yang dia ingin jadikan rumah. Hati saya luluh seketika.

Inilah cinta. Cinta melembutkan ego saya. I don't need a me-time, it's our time now and it's being together that makes me happy.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...