Saturday, February 4, 2012

Our Kids in the Digital World

Walaupun medium bahasanya tak sama, ternyata sekolah disini pun baca tulis dan hitung pun sudah diajarkan kepada anak-anak usia 3 tahun. Tak beda dengan di Jakarta, ibu-ibu di Maldives pun ikut-ikutan memasukkan anaknya ke tuition class sejak usia 3 tahun untuk belajar tambahan menulis membaca dan menghitung (Calistung). Jadi tertawa sendiri kalau mengingat membahas ini dengan ibu-ibu di Jakarta yang  marah tidak terima dengan susahnya tes masuk anak ketika memasuki SD padahal mereka masih dirasa kecil sekali untuk bisa Calistung. 

Salah memang jika kita membandingkan anak-anak sekarang dengan kita di jaman dahulu. Teknologi menjadi sangat advance begitu cepatnya, anak-anak sekarang seperti menerima luapan informasi yang begitu banyak yang dengan mudahnya terserap bagaikan sponge menyerap air. Kita ternyata meng-underestimate kepintaran anak jaman sekarang yang ternyata luar biasa canggih.

Hari ini saya menemani Mikail mengerjakan tugas sekolahnya. Saya cukup kesal karena weekend ini dia dibebani tak kurang 11 halaman tugas menulis yang harus diselesaikannya dalam 2 hari. Saya khawatir Mikail menjadi malas sekolah karena banyaknya tugas yang dia harus kerjakan. Dan saya tidak yakin dia bisa menulis sebanyak yang diminta gurunya. Memegang pensil pun masih belum becus, bagaimana mau menulis? pikir saya. Saya masih ingat di sekolah sebelumnya sewaktu guru kelasnya menginformasikan bahwa Mikail sangat kurang di bagian fine-motoric skill karena susah sekali diajari menulis dan menggambar. Well i was wrong.

Ternyata Mikail sekarang suka menulis, lho. Terlebih kalau dia harus menggambar dan menuliskan apa yang dia gambar. Wow, dalam sebulan dia bersekolah ternyata banyak sekali hal baru yang mencengangkan saya. 

Tugas menulis huruf 'E'

Sebelumnya saya sempat mengeluhkan masalahnya banyaknya tugas sekolah Mikail ke Pak Hussain. Mudah saja, Pak Hussain mendownload aplikasi belajar menulis yang menyenangkan ke dalam iPad-nya. Mikail suka sekali, tak bosan-bosannya dia mengulang, mencoba menulis huruf A sampai Z. Terkagum-kagum saya dibuatnya.

Aplikasi belajar menulis dan mengeja di iPad

Betapa hebatnya anak-anak kita sekarang. Kecanggihan teknologi yang berkembang setiap menitnya memberikan challenge baru pada dunia pendidikan di dunia. Inilah era digital, yang sudah merubah pola pikir dunia kita dan anak-anak kita. Masih ingatkah sewaktu kita harus antri di warnet untuk sekedar mengecek email karena dirumah tidak ada akses internet? Sekarang mengecek email bisa real-time di smart phone masing-masing. Membatasi anak untuk menggunakan gadget pun sekarang hampir tidak mungkin, karena hampir semua anak di sekolahnya punya gadget sendiri, apapun bentuknya. Dirumahpun orangtuanya pasti sibuk dengan mainan teknologi masing-masing, yang pastinya akan dimainkan anaknya juga.

Digital kids, photo courtesy of Ria A Ramli 


Beberapa pengamat teknologi yakin bahwa tablets seperti iPad dan Notepad akan menjadi pengganti traditional textbook di masa depan. Lebih murah dalam jangka waktu panjang karena hanya menggunakan satu alat menggantikan berjilid-jilid buku yang harus dibeli per anak. Digital book atau e-book pun bisa didowwnload secara bebas, memungkinkan anak untuk mengakses segala macam informasi yang mereka perlukan. Tentunya pengawasan guru dan orangtua sangat diperlukan. Secure all digital devices, agar semua alat informasi hanya dapat membuka situs yang aman untuk anak saja. Dan pastikan juga orangtua lebih melek teknologi dari anak, agar dapat mengajarkan anak untuk memakai internet dan memilah informasi secara bijak.

Beberapa sekolah di US sudah banyak yang mencoba penggunaan digital book dalam pelajaran. Sekolah umum di Sheybogan, Wisconsin, US bahkan sudah membekali murid-murid dengan iPad sebagai ganti traditional textbook. Hal yang ditakutkan pengajar bahwa anak-anak bisa merusak gadget pun ternyata tidak terjadi sama sekali.

Mungkin masih agak lama untuk hal seperti ini terjadi di dunia pendidikan kita. Di seberang Jakarta pun masih banyak anak-anak yang untuk pergi ke sekolah saja mesti menyebrangi jembatan rusak. Mari berharap semoga pemerintah kita cepat beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi yang pesat ini demi masa depan anak Indonesia yang lebih baik. Karena seperti yang dikatakan di artikel Editorial: Digital textbooks way to the future:
'Cost is a consideration. But while the upfront cost for iPads and other learning equipments will be high, the long-term cost of not moving forward is much greater'.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...