Sunday, February 26, 2012

The search of Momfriends

Sejak berubah status dari single menjadi double, triple dan sekarang quadruple :) saya merasa semakin terseret jauh dari pertemanan. Kesibukan dengan anak membuat saya susah meluangkan waktu bersama teman-teman. Back in Jakarta, saya punya BFF, dimana sewaktu kami masih muda dulu selalu bertemu diwaktu weekend. Bermain billiards, karaoke, dinner bersama, bahkan clubbing sampai larut malam yang diakhiri dengan menginap dirumah saya. Ohhh i so missed those happy days. Dan semua kesenangan itu seperti terlupakan ketika masing-masing kami sibuk 'berkeluarga'.

Sebagian dari kami yang punya anak kadang masih meluangkan waktu untuk bertemu sekedar bertegur sapa, atau mengajak anak-anak playdate bersama. Tapi hilang koneksi dengan sebagian lain yang belum beranak dan belum berkeluarga. Walau akhirnya bertemu pun, kami seperti kehabisan topik bicara dan terbentur dengan keheningan yang membuat bibir terasa kaku. At some point, we just have to admit, we are no longer connected. Dan terasa kosong di hati saya.

Mencari teman baru adalah solusinya. Tapi ternyata mencari teman baru itu tidak semudah yang saya bayangkan. Dimana saya harus mencari dan bagaimana memulai pertemanan? Setiap keluar rumah, saya harus membawa anak-anak, pergi harus di waktu yang pas disaat anak-anak sudah tidur siang dan cukup makan sehingga tidak rewel. Pergi pun harus mencari tempat yang pas dimana terdapat restoran yang kids-friendly, diutamakan memiliki nursing room dan toilet yang berdekatan sehingga mudah kalau Mikail tiba-tiba harus berlari kesana. Merencanakan mencari teman baru sudah membuat saya patah semangat sebelum memulainya.

Bagaikan mencari jodoh, mencari teman memang harus dimulai dengan strategi yang tepat. Sulit memang memulai pertemanan dengan orang yang sama sekali belum kita kenal. Mencari tempat yang pas, menghilangkan kekakuan, memaksa diri untuk terlihat ceria dan menyenangkan di depan orang baru, memulai pembicaraan, mencari topik pembicaraan yang pas. Belum lagi ketakutan ketika harus memasuki kumpulan ibu-ibu yang sudah akrab satu sama lain, dan Momster -ibu-ibu super yang paling dominan di suatu grup-, menjadi hambatan lain yang cukup berat. Saya sepertinya memilih untuk bermain The Sims saja ketimbang melakukan semua itu hehehe.

Yang paling mudah memang mencari teman sesama ibu di sekolah anak atau tempat kursus, playground, dan tempat bermain anak lainnya. Pencarian Momsfriend di sekolah Mikail menjadi kendala bagi saya karena Mikail selalu berpindah sekolah. Baru beberapa bulan berteman dengan ibu-ibu di sekolah Mikail dan beberapa sepertinya cocok dengan saya, tiba-tiba Mikail harus pindah sekolah dan saya kehilangan teman lagi. Setiap berpindah ke apartment baru, saya selalu mencari teman baru di playground. Tapi seringnya di apartment banyak tinggal ibu-ibu bekerja, sehingga saya lebih banyak bertemu dengan nanny-nanny yang sibuk menemani anak bermain (baca: sibuk dengan handphone mereka sambil menemani anak bermain). 

Nasib baik saya menjadi ibu di era digital, dimana ibu-ibu memiliki komunitas online dan menghabiskan banyak waktu di social media. Saya mencoba masuk ke beberapa komunitas seperti Milis Mpasirumahan, The Urban Mama, dan Mommiesdaily. Seru memang memasuki komunitas yang pas dengan kehidupan sehari-hari kita, syukur-syukur bisa dapat temen baru disana. Tapi banyak juga yang ternyata image yang disuguhkan ketika online beda sekali dengan kenyataannya ketika bertemu di kopdar. Yang kelihatan rame dan seru ternyata pendiam, yang kelihatannya child-oriented ternyata cosmetic-addict. Ketika bertemu, saya seperti harus memulai koneksi lagi *keluh*. Memang lebih mudah untuk meneruskan pertemanan di social media saja, hanya membayangkan seseorang melalui gaya bicaranya atau lebih tepatnya gaya tulisan tanpa bertemu langsung dengan orangnya.

Gambar dari sini
Berpindah ke Maldives, saya dihadapkan oleh kenyataan bahwa tidak banyak yang bisa saya lakukan disini. Saya harus mencari teman baru lagi atau saya bisa kesepian! Menurut KBRI Colombo ada 3000 orang Indonesia yang terdaftar tinggal di negara kecil ini, tapi kebanyakan tinggal dan bekerja di resort, dan kebanyakan dari mereka belum berkeluarga.  Setelah mencari-cari di facebook, milis-milis yang kebanyakan sudah lama ditinggalkan, dan bertanya-tanya, akhirnya saya menemukan beberapa ibu-ibu Indonesia yang tinggal disini. Setelah berkumpul bersama, saling mengenal, bertukar account facebook, kami pun mulai menjalin pertemanan.

Tapi pencarian belum berhenti sampai disitu. Agak susah bagi saya untuk masuk ke lingkaran pertemanan, karena sebagian sudah berteman lama, sedangkan saya baru pindah kesini dan agak lama beradaptasi dengan keadaan sekitar. Sebagian besar bekerja dan hanya free di waktu weekends. Dan seperti saya sudah duga, di setiap pertemanan perempuan pasti terjadi pengelompokan berdasarkan status sosial dan  penampilan. It feels like Highschool all over again! Saya tidak berharap banyak untuk mendapatkan 'best friend' disini atau mengikuti aktifitas-aktifitas yang harus diikuti agar termasuk dalam satu kelompok pertemanan tertentu.

Untungnya Mikail dapat berteman dengan siapa saja. Jadi untuk sekarang, saya cukup puas berjalan-jalan sendiri, mengajak Mikail dan Naznin bermain ke taman dan tempat bermain bertiga saja, dan membiarkan mereka untuk menemukan teman sendiri. Syukur-syukur pertemanan mereka berlanjut dengan pertemanan saya dengan ibunya. Dan kalaupun tidak, I already have my best friends, my buddies...my unconditionally loving family :)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...