Saturday, April 14, 2012

Ayubowan! Welcome to Srilanka

Minggu kemarin kami mendapat kabar bahwa visa kami sudah jatuh tempo dan tidak bisa diperpanjang lagi. maklumlah karena kesibukan dan hal-hal yang lain (mungkin kemalasan juga), sampai sekarang kami belum selesai mengurus ijin tinggal kami di Maldives. Sebulan visa turis yang diberikan oleh imigrasi Maldives hanya dapat diperpanjang sampai 2 kali saja sampai maksimum 3 bulan. Lepas bulan ke-3 kami di Maldives, kami harus keluar dulu dan masuk lagi setelahnya untuk mengurus ijin tinggal lagi.

Untungnya imigrasi Maldives adalah salah satu imigrasi yang ramah dan baik hati. Sewaktu menyerahkan passport melangkah ke boarding room malam itu, petugas imigrasi yang ramah tersenyum pada saya. 'I have your name on the red list already, lady', ujarnya lembut. Saya merasa seperti dimarahi Bapak saya dengan kata-kata lembut namun tajam. 'Maaf Pak, makanya saya pergi dari Maldives malam ini', jawab saya dengan muka agak tertunduk. Petugas imigrasi hanya tersenyum lagi sambil mencap passport saya tanda saya boleh keluar dari Maldives.

Kami menginap di salah satu rumah saudara Pak Hussain yang ada di Colombo. Banyak orang Maldives yang tinggal di Colombo, karena menginginkan sekolah yang lebih baik, hidup yang lebih baik, atau sekedar living cost yang lebih murah dari kota Male'. Mengetahui Srilanka adalah tempat wisata yang indah, kami pun memanfaatkan kesempatan ini untuk berlibur disana selama seminggu. 

Bagi WNI, visa masuk ke Srilanka bisa dibeli ketika tiba di bandara. Dengan USD 25, kita bisa berlibur di Srilanka selama sebulan. Bandaranaike International Airport di Srilanka adalah airport cukup maju dan memiliki fasilitas lengkap, jauh dari pikiran saya yang menyangka bahwa Indonesia lebih maju dari mereka. Informasi wisata pun sangat lengkap ditemukan di internet. Segala macam aktifitas, festival, travel agent, hotel, tempat wisata, sampai penyewaan mobil lengkap ditemukan di http://www.srilanka.travel/. Saya terkagum-kagum, selama ini hanya tourism di Singapore lah yang mempunyai informasi selengkap ini.


Penduduk Srilanka mayoritas Buddhist, dengan beberapa kota yang didominasi muslim. Dimana-mana terdapat patung Buddha, di tempat ibadah, tempat wisata, bahkan di sepanjang jalan mata memandang.  Bajaj atau Trishaw (baca: traishow) adalah kendaraan yang paling efektif untuk mengelilingi kota Colombo yang lalu lintasnya cukup padat. Ada 3 jenis taxi yang ditawarkan di Srilanka, bajaj yang menggunakan argo/meter, budget taxi dengan mobil kecil, dan taxi sedan yang argonya cukup mahal. Bus juga cukup mudah digunakan untuk berkeliling. Namun di jam sibuk, bus sangat penuh sesak dengan orang yang berpeluh dan bisa menjadi tidak nyaman berada di dalamnya. Ada banyak agent travel yang menawarkan tour dalam kota dimulai dari USD 40 per orang.

Kami memulai tour Srilanka dengan berkeliling kota Colombo yang tidak begitu besar. Hari pertama kami mengunjungi Beira Lake, danau buatan di tengah kota. Ditengahnya terdapat pura kecil yang lebih banyak dipenuhi pasangan yang menikmati keindahan danau. Pengunjung bisa menaiki perahu bebek seharga Rp. 10.000 saja.




Dari Beira Lake, kami mengunjungi Galle Face, pinggir pantai tempat warga lokal bermain di sore hari. Lalu berkeliling lagi keIndependence Square, melewati kantor Municipal, Museum Nasional, Pura Ganggaramaya, Masjid kuno, dan makan di restaurant Halal yang menyajikan makanan Chinese.

Taman di Independence Square





Ganggaramaya Temple


Di hari kedua kami mengunjungi Kebun Binatang Delhiwala, yang kebetulan berlokasi tak jauh dari rumah tempat kami tinggal.Delhiwala Zoo tadinya adalah kebun binatang terbaik di Asia. Namun di tahun 2009, ketika pemerintah Srilanka perang dengan Tamil Tiger, bom menghancurkan beberapa bagian dari kebun binatang dan menewaskan banyak hewan-hewan disana. Pemerintah Srilanka butuh sekitar 4,2 milyar rupiah untuk mengambalikan kebun binatang seperti sedia kala, yang sampai sekarang belum juga terealisasikan. Meski begitu, Delhiwala Zoo masih terlihat cantik dan bersih. Untuk masuk kesini, turis WNI harus membayar 2000 rupees atau sekitar 200.000 rupiah.




Di hari ketiga, kami pergi menuju ke area pegunungan di Kota Kandy. Kota Kandy ini mirip sekali dengan Bandung. Dikelilingi pengunungan, udaranya sejuk, airnya bersih, dan arsitektur bangunannya masih seperti ketika jaman Belanda menjajah negara ini. Rasanya saya ingin pindah kesini, tak habis-habis saya memandangi keindahan kota Kandy yang memuaskan mata. Kota Kandy dapat ditempuh dari Colombo selama 3 jam dengan van sewaan seharga Rp. 900.000 pulang pergi dan berkeliling kota Kandy. Cukup banyak tempat yang bisa dikunjungi di kota Kandy, yaitu Botanical garden, Spice garden yang cukup banyak dan bisa dipilih, Lakeview, dan Universitas Kandy yang memiliki pemandangan indah. Ada juga pura Tooth, tempat koleksi gigi-gigi Buddha disimpan. Di bulan Juni terdapat festival Perahera, para pemeluk agama Buddhist dari segala penjuru akan datang ke pura ini untuk berdoa bersama, dan jalan-jalan akan dipenuhi dengan hiasan-hiasan, pasukan gajah akan dihiasi pernak-pernik cantik.






Dalam perjalanan ke kota Kandy, terdapat 2 tempat perlindungan gajah, Pinnewala dan Millenium Elephant Foundation. Kami memilih yang kedua, walau jumlah gajah yang bisa dilihat jauh lebih sedikit tapi disini jam berkunjungnya lebih bebas. Kita bebas memandikan gajah, menaiki gajah berkeliling area, dan memberi makan gajah. Sedang di Pinnewala yang memiliki 60an gajah memiliki waktu berkunjung yang strict. Disana bisa pengunjung bisa memberikan susu ke bayi gajah dengan dot raksasa pukul 8 pagi. Tiket masuk ke Millenium Elephant Foundation adalah seharga 2000 srilankan rupees atau sekitar Rp. 200.000. Kota Kandy juga bisa ditempuh dengan Luxury Train selama 2,5 jam.

Di hari keempat, kami pergi ke Kalpitiya, berharap menemukan ikan paus yang sedang bermigrasi, seperti diberitakan di buku travel. Perjalanan ke Kalpitiya sangat jauh memakan waktu sekitar 3-4 jam dengan van sewaan seharga 11.000 rupees atau Rp. 1.100.000 untuk pulang pergi dan berkeliling ke Kalpitiya dan Puttalam. Kami berangkat dari Colombo pukul 5.30 pagi, sampai di Kalipitiya pukul 9.30, dan harus meneruskan perjalanan 100km ke tengah laut dengan boat sewaan seharga 8000 rupees atau Rp. 800.000. Namun sayang kami harus pulang dengan kecewa karena tidak menemukan satupun lumba-lumba ataupun ikan paus di lagoon Kalpitiya. Namun kekecewaan terbayar dengan berbagai tempat wisata lain yang kami temukan di Puttalam. Ada pabrik garam, masjid di pinggir laut, dan makan siang di rumah warga di Puttalam.




Rasanya belum puas berlibur di Srilanka. Ada banyak sekali tempat indah lain yang ada di list jalan-jalan kami tapi tidak sempat dijalani. Ada banyak sekali National Park seperti Horton Plains, dan Adam's Peak yang menyimpan segudang keindahan untuk dinikmati.

We will come back to Srilanka. See u next time!

1 comment:

  1. Insyaallah awal desember sy berkunjung ke colombo!! untuk masalah perbekalan uang gimana?? apakah bisa mengandalkan ATM ato harus tukan di money changer??

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...