Wednesday, July 4, 2012

Best mother of the year or worst mother ever!

Sebagai ibu yang anak-anaknya Alhamdulillaah lahir di era digital :), saya banyak mendapat ilmu dari internet dan belajar dari pengalaman sesama ibu dari komunitas online. Hampir semua ibu seumuran saya di ibukota pasti juga melakukan hal yang sama, memegang Smart Phone setiap waktu; berkomunikasi dengan ibu-ibu lain di mommiesdaily.com, mengakses laman resep setiap mau masak, meng-googling kata-kata kedokteran yang baru didengar, mencari ide crafting dari majalah Parenting online, mencari solusi mengatasi masalah disiplin anak dari babycenter.com, sampai mem-follow dokter  untuk konsultasi online di Twitter.

Dari banyaknya ilmu parenting, pastinya kita akan mempraktekkan yang paling cocok dengan norma keluarga kita, sifat dan karakter anak yang berbeda, serta yang pas dengan pembawaan masing-masing orang. Begitupun dengan saya, mencoba memilih metode pengasuhan anak yang terbaik untuk anak-anak saya, dan menurut saya paling benar. Tapi darimana kita tahu, bahwa yang kita pilih itu adalah yang paling benar dan yang terbaik?

Seorang kawan mengkritik saya suatu hari, menanyakan mengapa saya membiarkan anak 4 tahun saya menangis karena tidak mendapat mainan yang diinginkannya, namun tidak berusaha untuk menghiburnya dengan menjanjikannya sesuatu yang lain. Ibu saya sering protes kalau saya memilih untuk tidak memberikan obat ketika anak-anak terserang common-cold, yang saya yakin mereka dapat pulih dengan sendirinya hanya dengan makan, minum, dan istirahat yang cukup. Seorang kawan yang lain, juga asik menganggap saya sebagai orang tua yang cuek karena membiarkan anak 2 tahun saya menaiki tangga sendirian, dan hanya mengawasi dari jauh.

Di waktu yang berbeda, saya suka menggelengkan kepala tidak setuju ketika teman saya mendisiplinkan anaknya terlalu keras karena memukul temannya. Pernah juga mencibir dalam hati melihat seorang teman yang membiarkan anaknya membuat sesisi rumah berantakan. Atau ketika melihat ibu yang bolak-balik bertemu dokter jika tahu anaknya terserang penyakit, meski itu hanya batuk pilek saja. Teori pengasuhan anak menjadi seperti idealisme tersendiri buat saya yang saya yakini merupakan yang paling baik dari teori yang lain. Hingga kadang, membuat saya merasa lebih benar bila bertemu seseorang yang berbeda pandangan atau memiliki teori pengasuhan berkebalikan dari yang saya yakini.

Suatu ketika, seorang teman dekat menanyakan perbedaan kepribadian saya dan adik saya yang cukup jelas terlihat...Keberanian. Kalau saya orangnya suka berpetualang, mencoba sesuatu yang baru, impulsif, dan suka berpetualang; adik perempuan saya adalah kebalikannya. Dia cenderung takut untuk memulai sesuatu yang baru, takut untuk berpergian tanpa ditemani, merasa nyaman dengan apa yang dia miliki dan susah untuk merubah kebiasannya, serta lebih memilih untuk di rumah saja ketimbang melihat dunia luar. Teman saya tersebut menanyakan apa yang berbeda di masa kecil kami dulu? Apakah kami dibesarkan dengan cara yang berbeda? Dan disitulah saya mulai berpikir.

Tidak ada yang berbeda dari cara orangtua membesarkan saya dan adik saya. Karena berbeda hanya 2 tahun saja, kami cenderung melakukan segala sesuatunya bersama-sama. Entah apa yang membuat kami begitu berbeda. Dan pastinya bukan kami saja, tidak ada kepribadian yang sama dalam satu keluarga, mungkin serupa tapi tak sama. Sepupu saya yang kembar identik pun memiliki kepribadian yang bertolak belakang satu dengan yang lain, yang satu sangat supel dan yang satunya lebih pendiam. Padahal mereka dibesarkan dengan cara yang sama, bahkan di waktu yang sama pula.

Apakah mungkin, ada dua sisi koin berbeda dari setiap skenario kehidupan. Dimana apapun yang kita lakukan, memiliki 50% probabilitas untuk sukses dan tidaknya. Dan jika diterapkan di dalam pengasuhan anak, apapun teori yang kita pakai, ada 50% kemungkinan anak akan menjadi seperti yang kita inginkan dan 50% menjadi kebalikannya. Pernah menemukan keluarga broken-home yang anaknya malah menjadi sukses dan bahkan religius? Sering juga kan tokoh besar justru dibesarkan dalam keluarga miskin dan penuh kesusahan?

Saya jadi kembali berpikir, bisa jadi cara yang saya yakini benar ternyata menjerumuskan anak-anak saya ke arah pengasuhan yang salah. Bisa jadi bila saya konsisten, tidak menyerah ketika anak saya memaksa meminta sesuatu ketika saya larang, malah menjadikan anak saya menjadi pemarah. Atau bisa juga membiarkan anak saya bermain sesuka hati tanpa dilarang atau diawasi terus menerus malahan menjadikan anak saya tidak taat peraturan. Dan tidak memberikan obat-obatan ketika anak saya hanya terkena virus ringan malah menjadikan anak saya bertambah sakit di kemudian hari. What if, instead of being the best mother, i become the worst mother? Pikiran saya berkecamuk, ketakutan saya terhadap masa depan semakin menjadi.

Gambar dari sini

Satu pikiran jernih mulai menenangkan pikiran saya. Yang saya tahu, tak ada yang pasti dalam kehidupan ini. Hanya Allah pemilik rencana, yang tahu segala isi kehidupan di masa lalu, sekarang dan masa depan nanti. Apapun yang kita usahakan sekarang, hanya merupakan satu faktor yang menentukan kehidupan mereka di masa depan. Masih banyak faktor lain yang perlu kita ambil berat, seperti tipe kepribadian anak itu sendiri, cara mereka menerima informasi; audio, visual, atau kinestetik, lingkungan tempat tinggal, teman sepergaulan, sekolah, lingkungan keluarga, tempat bermain, mainan, apa yang mereka tonton, dan lainnya. Banyak lagi hal-hal di luar kuasa kita yang mau tak mau dapat memberi pengaruh terhadap sikap dan pribadi anak kita kelak, seperti kejadian traumatis, kematian, sakit, dan kepindahan tiba-tiba.

Manusia dapat berusaha, namun lagi-lagi berserah diri kepada Allah adalah kuncinya. Saya jadi teringat salah satu dokter yang menyayangkan ketika Naznin sebelumnya diberikan suntikan BCG di pangkal pahanya, dan bukan di pangkal lengan. Saya yang saat itu cemas ditenangkan sang dokter yang berkata, 'Kenapa harus takut sekarang Bu? Mana tahu Allah nantinya memberi penyakit atau malah tidak sama sekali. Yang penting sekarang kita berusaha mencegah penyakitnya'. Saya hanya tertegun. 

Ilmu pengasuhan anak terus berkembang, dan tugas orangtualah untuk terus belajar membesarkan anak dengan metode terbaik menurut kita. Pendidikan anak pun terus berkembang, tugas orangtulah untuk mendidik anak dengan metode pendidikan terbaik semampu yang kita bisa. Mendidik anak sesuai dengan zamannya, jangan sampai orangtuanya ketinggalan zaman, seperti perintah Rasulullah SAW. Dan diiringi dengan doa yang tak putus-putus, agar anak-anak kita selalu dilindungi Allah, diberikan ilmu yang bermanfaat, panjang usianya, menjadi pemimpin yang sholeh, dan bermanfaat bagi sesamanya kelak. Aamiin. Insya Allah.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...