Wednesday, September 19, 2012

Ketika anak hanya ingin bermain dan bermain - A self reminder

Di sekolah Mikail, salah satu orangtua menghampiri saya, mengeluhkan anaknya yang selalu bermain tak kenal waktu. Orangtua yang lain mengeluhkan anaknya yang tidak bisa duduk diam dan mendengarkan guru. Ada juga yang mengeluhkan anaknya yang lebih suka beraktifitas di luar ruangan, namun tidak suka mengikuti kegiatan di dalam kelas seperti menggambar, mewarnai, atau membaca dan menulis. Bahkan ada yang menyayangkan bahwa anaknya yang hanya pandai bermain sepakbola, namun tak terlihat minatnya di mata pelajaran lain.

Salahkah bila anak lebih suka bermain daripada berada dalam kelas? Salahkah bila anak hanya terlihat menonjol di olahraga, dan kurang menyukai menulis dan membaca? Buat saya, bermain adalah sesuatu yang wajar dilakukan oleh anak, apalagi di usia anak balita. Malah bermain bagaikan 'full-time work' yang mestinya dilakukan oleh anak-anak seumur Mikail. Jadi tak salah, bila anak memilih untuk bermain bebas daripada berada dalam kelas dan mendengarkan guru untuk belajar yang terstruktur. Apalagi kalau kita dapat melihat kelebihan anak di salah satu bidang yang mereka minati, bukankah lebih mudah untuk mengarahkan mereka nantinya?

Image dari sini
Sebenarnya, ketika kita pikir anak hanya bermain, otak mereka bekerja dan belajar. Ketika kita pikir anak hanya berlari-larian sampai membuat kita pusing, sebenarnya mereka sedang belajar mengendalikan, mengkordinasikan, dan menyeimbangkan otot dengan bagian tubuh mereka yang lain. Bermain petak umpet membantu anak belajar memvisualisasikan tempat, membuat strategi, dan memetakan wilayah. Bermain bersama teman lain melatih anak bernegosiasi, menyatukan pendapat, dan mencari solusi. Dan banyak lagi kelebihan bermain lainnya. 

Sebuah artikel kedokteran menuliskan betapa Pentingnya bermain bebas bagi anak di usia dini. Menurut artikel tersebut, American Association of Pediatricians melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa begitu banyak anak-anak di US yang ternyata mengalami stress di usia sangat muda lantaran kurangnya waktu bermain. Artikel lain menuliskan Pentingnya bermain untuk mengeratkan hubungan orangtua dan anak. Bahwa bermain bebas tanpa jadwal dan paksaan, adalah kewajiban dan hak anak yang dapat mendekatkan anak dan orangtua. Tentunya bermain yang dimaksud disini adalah beraktifitas sendiri atau bersama teman lain, tanpa peraturan yang ditetapkan orangtua, tanpa jadwal, dan tentunya bukan bermain dengan barang elektronik. Bu Elly Risman, di berbagai seminarnya menekankan pentingnya bermain bagi anak-anak. Karena tanpanya, mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bersifat kekanak-kanakan. Pernah dengar celoteh 'Masa kecil kurang bahagia?'. Kalimat yang terdengar seperti candaan, namun kalau benar adanya, menjadi sangat ironis.

Kadang, orangtua terlalu khawatir anaknya ketinggalan di berbagai mata pelajaran dan tidak berprestasi di kemudian hari. Lantas sedari dini, orangtua mendaftarkan anaknya ke berbagai after-school-activity, seperti les matematik, les membaca, les bahasa inggris, dan melupakan hak bermain anak yang hilang karenanya. 

Kadang orangtua merasa mereka ingin yang terbaik bagi anak mereka, dan tak ingin anaknya merasakan susah seperti mereka dulu. Ingin membekali anaknya dengan berbagai ilmu sejak dini, ingin membelikan teknologi tercanggih untuk anaknya, ingin memasukkan anaknya ke sekolah terbaik. Kadang kita lupa bahwa pendidikan yang utama bukan dari tempat lain, melainkan dari rumah sendiri. Dari apa yang mereka lihat di rumah, dari nilai-nilai yang ditanamkan ke benak mereka sejak lahir, dan dari perilaku orangtua yang mereka perhatikan setiap saatnya.

Jadi semua kekhawatiran kita terhadap anak, kadang tak dapat terjawab dengan teori manapun. Sebanyak apapun kelas yang anak kita ikuti, tak menjamin anak kita menjadi super genius di masa depannya. Semahal apapun sekolah yang dimasuki anak kita, tak menjamin anak kita menjadi sukses di masa depannya. Bahkan, bila anak kita berprestasi di sekolahnya, tak menjamin dia dapat survive di dalam pertarungan keras kehidupan mereka nanti. Tak perlu kaget bila bertemu teman lama kita, yang dulunya juara 1 terus di sekolah malah menjadi pegawai negeri bergaji rendah, sedangkan yang dulunya tak berprestasi justru sekarang menjadi pengusaha sukses.

Tak ada yang dapat memastikan apa yang akan terjadi di masa depan. Lagi-lagi, yang dapat kita lakukan hanyalah memastikan agar anak-anak kita tercukupi, tak hanya lahiriah namun batiniahnya juga. Memastikan hak-hak mereka sebagai anak terpenuhi. Terpenuhinya nutrisinya, kesehatannya, pendidikan, dan pastinya kebahagiannya. Kitalah guru utama mereka, bukan guru yang kita bayar mahal, dan bukan pengasuh yang kita percaya membesarkan anak kita ketika kita tak disamping mereka.

Wallahu a'lam.

Bahan bacaan:

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...