Saturday, September 8, 2012

Nepal Trip - Arriving at the mystical birth land of Buddha

Akhir bulan Juni kemarin adalah moment yang tercatat dalam sejarah hidup saya. Untuk pertama kalinya, setelah memimpikan traveling ke tempat baru sendiri bertahun-tahun, akhirnya mimpi saya tercapai juga. 

Sejak berstatus sebagai ibu, rasanya sulit sekali berpegian kemanapun sendirian. Hal yang pasti dirasakan oleh setiap ibu. Rasanya takut anak terlantarkan, takut anak-anak menangis seharian mencari ibunya, takut anak-anak mogok makan dan ngambek, dan pastinya takut dicap sebagai ibu sembrono karena meninggalkan anak-anaknya. Lalu semua ketakutan ini ditepis Pak Hussain yang mendukung 100% keinginan saya untuk melihat dunia. Tak ada seorang pun yang selama ini menghalangi impian saya, katanya. Semua ada di pikiran saya sendiri.

Jadi berbekal kemauan kuat, dukungan keluarga terutama ibu dan adik tersayang yang bersedia menjaga anak-anak selama saya pergi, dan tentunya restu dan dukungan dana dari Pak Hussain :) saya ditemani adik lelaki saya pun bertolak mengelilingi negeri-negeri di Asia Selatan. Kebetulan travel perdana saya ini memiliki misi lain untuk menulis buku travel yang ditugaskan oleh IndScript dan Elex Media dari Fb group IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis). Jadi semangatnya tambah berkobar dong. 

Dari 10 hari travel kami, negara yang paling mengesankan untuk saya adalah Nepal. Semakin banyak informasi yang saya kumpulkan mengenai Nepal, semakin ingin saya segera melihat negara yang disebut-sebut 'mystical' ini dengan mata saya sendiri.

Pergi ke Nepal bukan hal yang mudah. Tak hanya untuk orang Indonesia saja, berbagai turis dari beragam negara pun merasakan hal yang sama. Entah mengapa, tak banyak pesawat yang langsung sampai ke Nepal International Airport Tribhuvan ini. Mungkin karena luasnya yang tak seberapa, dan merupakan satu-satunya airport international di Nepal. Mungkin karena industri pariwisatanya yang kurang komersil, sehingga tak banyak pengunjung yang datang kemari. Atau mungkin juga, karena situasi politik di Nepal yang sebelumnya dikuasai oleh Maoist kejam. Yang mesti sekarang sudah berubah menjadi negara republik, masih banyak calon turis yang masih segan untuk mengunjunginya.

Dari berbagai rute yang ditawarkan, kami memilih untuk bertolak via Bangkok karena lebih murah. Tiket ke Kathmandu dari Jakarta berkisar antara 12-18 juta rupiah. Namun dari Bangkok via Chennai  dengan Air India harga tiketnya dimulai 5 jutaan. Lumayan kan? Tinggal mencari penerbangan murah dari Jakarta ke Bangkok, pastinya dengan Air Asia ya, tiketnya sekitar 4 jutaan. Rencananya perjalanan akan memakan waktu 10 jam, tanpa menghitung waktu transit di airport. 4 jam dari Jakarta ke Bangkok, 4 jam dari Bangkok ke Chennai, dan 2 jam dari Chennai ke Kathmandu. Cukup meletihkan, namun semua rasa penasaran membuat semangat kami terus berkobar.

Tiba di Kathmandu, jantung kami berdebar-debar penasaran. Sebelumnya di pesawat, tak henti-henti saya dan adik saya melongok ke luar jendela, ingin melihat seperti apa keadaan di luar sana. Udara sejuk terasa kering menggelitik hidung kami. Bus maskapai penerbangan kami sudah menunggu di dekat tangga pesawat. Ya Tuhan! Bus ini lebih tua dari Metromini yang ada di Jakarta!, pikir kami sambil tertawa dalam hati. Yah, what you paid is what you got, kan? :D




Airport Tribhuvan merupakan satu-satunya airport international di Nepal, satu-satunya pintu keluar masuk wisatawan. Bangunannya mirip airport Soe-Ta, terbuat dari batu bata merah, meski dalamnya jauh lebih kecil dan sederhana. Namun fasilitasnya yang minim dan terkesan tak terurus hampir sama lah dengan punya kita :)

Wisatawan mengantri untuk mendapat visa berkunjung

Memasuki tanah kelahiran Buddha Gautama ini, wisatawan dikenakan biaya USD 25 - USD 40 untuk visa berkunjung 15 hari hingga 90 hari. Visa diperoleh langsung di kaunter Visa On Arrival, dan dapat diperpanjang dengan mudah di kantor imigrasi di kota Kathmandu.

Hanya ada satu kaunter Money Changer di area airport, dan 2 kaunter operator selular. Hal yang pertama kami lakukan setelah cap persetujuan imigrasi untuk memasuki Nepal, adalah menukar uang dan membeli SIM card lokal, yang ternyata tarif menelponnya sangat murah.

Dan kami siap berpetualang!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget