Thursday, September 20, 2012

We're sorry, Mikail!

Setelah menghadiri suatu event di sekolah Mikail, Pak Hussain pulang dengan muka kusut. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya....Sticker Chart milik Mikail kosong sama sekali, sementara semua temannya berisi setidaknya satu. 

Saya mencoba menyemangatinya, walau dada juga ikut terasa sesak. Kami paham bahwa Mikail kurang suka melakukan kegiatan di dalam kelas. Kami juga sadar bahwa kegiatan yang menggunakan fine-motoric-skill bukan merupakan kekuatannya. Namun, sticker chart tanpa isi...segitu burukkah performance Mikail di sekolah.

Sampai dirumah, kekesalan Pak Hussain makin memuncak, bermacam teori mengajar saya mulai dichallengenya, jiwa kompetitif yang memang tak pernah saya tekankan pada Mikail menurutnya harus sudah mulai dipupuk. Jadwal harian Mikail yang lebih banyak bermain setelah pulang sekolah, harus dirubah dengan tambahan membaca dan menulis. Sampai-sampai kami sempat berpikir untuk mencari sekolah lain yang lebih strict daripada sekolahnya yang terlihat lebih santai ini.

Keesokan paginya ketika mengantar Mikail sekolah, saya mencoba mengajak Mikail bicara. 'Mikail suka sekolah?', tanya saya. 'Suka dong!', jawabnya tegas. Saya memulai nasehat ringan saya dengan mengajaknya untuk lebih serius di kelas, mengikuti instruksi guru, dan mulai berpikir lebih kompetitif untuk mendapat nilai lebih dan membuat Bapaknya bangga.

Memasuki kelas, saya menatap Sticker Chart, menunduk dan kembali menasehati Mikail. 'I want you to ask Ms. Wendy how you can get more stickers', kata saya. 'Please make Bappa proud', lanjut saya tanpa berharap Mikail mengerti maksudnya.

'Mak, tapi aku sudah dapat banyak sticker, loh', jawabnya ketika saya mulai berdiri. Saya memasang muka bingung. Mikail menarik tangan saya ke Sticker Chartnya, dan tanpa saya duga dia membalik kertas warna kuning itu dan menunjukkan Sticker Chart lain yang ternyata sudah penuh!





Astaghfirullaaah, ternyata Sticker Chart yang kami lihat kemarin adalah halaman dua! Dada saya menjadi sesak, kali ini dengan rasa bangga memenuhi seluruh rongga dada. Saya salah paham, kami salah paham. Dan Mikail tidak marah. Saya memeluknya berkali-kali sambil mengatakan betapa bangganya saya kepadanya, meski tanpa sticker. Tak lupa saya meminta maaf karena sudah menduga dia tak serius dalam melakukan kegiatan sekolah.

Mikail melambai kepada saya ketika saya keluar dari kelasnya. 'Show my Sticker chart picture to Bappa ya, Mak', katanya. 'Pasti Bappa senang!'. Saya cuma melambai balik sambil tersenyum. Air mata bangga hampir menitik dari mata saya.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...