Sunday, November 25, 2012

Naznin's story: Goodbye diapers, for now....

Bulan November ini, Naznin sudah memasuki usia 2 tahun 3 bulan. Sewaktu terima rapor Playgroup bulan lalu, Kak Emi, wali kelas Naznin punya target khusus untuk Naznin. Target untuk lepas diapers mulai awal term 4 ini.




Saya tertegun sejenak, serasa diingatkan bahwa saya melupakan sesuatu. Dulu sejak Mikail memasuki ultahnya yang ke-2, saya sudah sibuk mencari semua informasi mengenai potty-training. Maklumlah, sewaktu itu fokus saya hanya pada dia seorang. Berbagai macam cara dan pendekatan saya coba, dari mulai menggunakan potty, dudukan toilet khusus anak, memberikan sticker setiap kali berhasil BAB dan BAK di toilet, sampai dengan menggunakan chart hadiah dimana setiap 10 sticker yang dia dapatkan akan diberi hadiah di akhir bulannya. Itupun, perlu waktu lebih dari 1 tahun untuk Mikail sampai betul-betul lepas dari diapers dan training pantsnya. Kesulitannya seringkali ketika berjalan-jalan dengan kendaraan, bermain di mall, dan 6 bulan fenomena mengompol ketika Naznin mulai lahir. Akhirnya di usia 3.5 tahun Mikail sudah sukses tidak ngompol di celana maupun di kasur lagi.

Dan kembali ke cerita Naznin. Jujur, saya belum mulai berpikir untuk memulai melepas diapers Naznin. Malas rasanya, saya seperti terlena oleh kemudahan popok-sekali-pakai (pospak). Padahal sejak lahir Naznin selalu memakai cloth diapers. Hingga bulan Juni lalu ketika kami pindah mendadak ke Jakarta, meninggalkan semua stock popok kain bersama semua barang-barang penting kami yang lain. Sejak itu saya menggunakan pospak dengan dalih 'Untuk sementara, sebentar lagi kan mau potty train' dan 'Malas ah menyetok popok kain lagi, anaknya kan sudah besar'. Alih-alih saya memula potty training, penggunakan pospak yang memudahkan hidup malah membuat penundaan saya semakin panjang.

Setengah menggerutu dengan target wali kelas Naznin, saya mencoba berbicara dengan Naznin. Pembicaraan pertama berakhir sukses dengan Naznin yang menjerit berlarian memegangi pospak yang tidak mau dilepas. Saya tidak menyerah, saatnya mengeluarkan senjata rahasia saya...Mikail!

Seperti juga anak bungsu lainnya, Naznin memandang abangnya seperti contoh yang selalu ingin ditirunya. Naznin bagaikan gema (mengutip kata Andin), mengucap kembali apa yang Mikail ucapkan. Naznin seperti rekaman video, yang mengulang apa saja yang Mikail lakukan. Semua yang Mikail pegang, Naznin ingin pegang. Dan Mikail adalah senjata rahasia saya untuk menghadapi Naznin :)

Benar saja, cukup 3 hari Naznin mengikuti rutinitas toilet Mikail di pagi hari, sepulang sekolah dan sebelum tidur. Mendengarkan percakapan saya dan Mikail yang berulang-ulang mengatakan hebatnya anak besar yang tidak pakai diapers lagi. Dua kali trip ke pasar dan supermarket untuk berburu celana dalam bergambar princess dan Hello Kitty. Dan Naznin akhirnya rela melepas diapersnya untuk ditukar  dengan celana dalam anak besar, sama seperti abangnya. 

Apakah sudah sukses? Ternyata tidak. Dua hari pertama memakai celana dalam, Naznin masih belum paham betul proses 'Menahan BAK dan mengeluarkannya hanya di toilet'. Beberapa kali dia juga menahan BAB sampai akhirnya sembelit. Hari Selasa pagi, di hari pertama sekolah term 4, saya memutuskan untuk sedikit curang. Perjalanan 40 menit dari rumah ke sekolah pastilah repot kalau Naznin tiba-tiba BAK di taxi. Terpaksa, saya memakaikannya pospak dan melepaskannya tepat ketika sampai di sekolah. Curang memang, tapi saya juga tidak enak hati dengan wali kelas Naznin. 

Hari Kamis dan Selasa depannya saya masih melalukan hal yang sama. Sampai pada suatu waktu saya lupa mengganti diapers Naznin dengan celana dalam. 'Cuek sajalah, pasti wali kelasnya juga tidak mengecek', pikir saya. Sepulangnya dari sekolah saya mengajak Naznin untuk mampir sebentar ke toko buku. Tiba-tiba, Naznin meminta untuk pergi ke toilet untuk BAB. Cukup terkejut karena dia tidak pernah bilang sebelumnya, saya hanya menunduk dan mengintip diapersnya, mengecek apakah pup sudah keluar. Saya kaget bukan kepalang karena ternyata Naznin tidak pakai diapers, dilepas oleh gurunya di kelas tadi. Berlarian saya buru-buru mengantar Naznin ke toilet, dan yak, sejak saat itu Naznin sukses potty train...di siang hari! Saya kegirangan, menyingkirkan semua pospak dan memakaikan Naznin celana dalam setiap harinya. Ternyata, potty train baru sukses di siang hari saja. Malam hari masih diwarnai dengan kejadian ngompol di kasur atau terlambat lari ke toilet.  

Lumayan lah, penggunaan pospak berkurang drastis hingga 1 biji per harinya, yang dipakai ketika tidur malam. Tahap kedua adalah potty train malam hari. Beberapa kali dicoba tidur dengan perlak, masih berakhir dengan kasur yang basah, dan perlak yang terlempar ke ujung kasur. Kuncinya memang harus sabar untuk terus berbicara positif, konsisten untuk melepas diapers di siang hari, dan tidak malas bangun malam untuk mengajak Naznin ke toilet. Point yang ketiga memang paling berat untuk dilakukan ya hehehehe.

So goodbye diapers, for now. Semoga malam hari pun akhirnya bisa sukses yaaaa.




No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...