Thursday, January 31, 2013

Kisah Farid - Kenakalan dan kekerasan pada anak-anak

Kelas Fun House hari Senin kemarin kedatangan muka-muka baru. Diantaranya, seorang anak kecil bernama Farid. 

Pertama kali melihat, anak ini terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan suka melucu. Kelas 'Mengenal dunia - United Kingdom' hari Senin itu pun menjadi penuh dengan gelak tawa akan pertanyaan Farid yang membuat saya pun tergelak dibuatnya.

Di saat kelas berlangsung, beberapa anak berdiri di depan rumah, meminta Farid untuk keluar. Meski suara mereka cukup keras dan datang berkali-kali, Farid tidak beranjak dari tempat duduknya. Saya pun tidak ambil pusing. Saya pikir, mungkin kawan-kawannya ingin mengajaknya bermain.

Keesokan harinya, Farid masih membuat saya penasaran. Kabarnya, anak ini menghabiskan kebanyakan waktu luangnya di warnet bersama teman-temannya yang lebih besar. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata teman yang datang kemarin hari memaksanya keluar kelas untuk kembali ke warnet, bahkan sempat mengancam untuk menghapus seluruh memori data permainan Lost Saga miliknya. Untuk anak kecil yang berani menghiraukan ancaman temannya yang lebih besar, memilih untuk dapat ilmu baru daripada bermain, keberanian Farid patut diacungi jempol.

Iseng-iseng saya tanya, "Kamu di kelas ranking berapa?". Yang ditanya cuma nyengir lebar memamerkan deretan gigi-gigi kecil berwarna hitam. Saya mengajaknya untuk datang lebih sering ke rumah, sekedar bermain, mengerjakan PR, atau untuk bertanya tentang pelajaran apa saja yang ia belum paham. Matanya langsung membelalak. "Yang beneeerrr?", katanya dengan logat betawi kental. Sambil bercanda, saya terus memastikan bahwa saya tulus ingin membantu dia belajar, syukur-syukur bisa menghindarinya dari bermain di warnet.

Entah bagaimana kedekatan tiba-tiba terbangun, Farid seperti lebih percaya diri dan menumpahkan seluruh kisah hidupnya kepada saya. Dikelilingi dan disahuti anak-anak lelaki lain yang mengenalnya karena satu sekolah, semua bersahutan bercerita. "Farid ini bandel banget loh, liat ni perutnya pernah sobek ketusuk besi", ujar satu anak dengan semangat. "Iya bener, pernah juga dia nyangkut di kawat waktu bolos sekolah, main di lapangan", sahut anak satu lagi sambil memaksa Farid menunjukkan dada dan perutnya yang ternyata penuh bekas luka, bukti kenakalannya. "Dia berantem mulu sama ibunya tu, ibunya aja dipanggil Anjing!", cerita satu anak sambil diikuti gelak tawa teman-temannya.

Saya cuma mendengarkan, tanpa  upaya memberi nasihat, sambil tertawa meski miris dalam hati, menimpali dengan ekspresi terkejut hingga kagum. Bagaimana bisa anak yang umurnya baru 8 tahun, punya kisah hidup suram yang cukup banyak untuk diceritakan.

Farid membuat kartu ucapan di kelas Art and Craft hari Rabu

Cerita Farid dilanjutkan dengan pertemanannya (buat saya, pertemanan ini lebih mirip dengan Geng anak nakal) dengan anak-anak di warnet. Warnet kecil yang hanya berjarak 2 rumah dari rumah kami, memang menjadi momok bagi lingkungan kami yang dipenuhi anak-anak kecil. Dan Farid menjadi salah satu korban momok tersebut.

Waktu dan uang jajannya habis digunakan untuk bermain warnet sepanjang hari. Berteman dengan anak-anak yang lebih besar, yang seharinya hanya mem-bully anak yang lebih kecil. Entah apa yang mereka bicarakan, dan lakukan sehari-harinya. Yang keluar dari mulut anak-anak kecil ini, termasuk Farid, kebanyakan adalah sumpah serapah, dan teriakan yang tak sedap didengar. "Aku pernah dicekik dan dipukul sama si Anu", Farid bercerita tentang geng warnetnya yang sering berlaku kasar. Usia temannya beda 4 tahun dengan dia, hingga sering bertindak semaunya pada teman yang lain. Farid bercerita sambil sesekali tertawa diiringi gurau anak-anak lain dalam kelas kami. Saya mengakhiri pembicaraan dengan mengacungi jempol, menunjukkan kekaguman saya pada keinginannya untuk menjadi anak yang lebih baik. Sekali lagi dia menunjukkan gigi-gigi hitamnya dengan senyuman lebih lebar.

Inilah gambaran anak-anak kurang mampu di sekitar rumah kita. Mereka ada di setiap pelosok ibukota, meski di daerah penuh kompleks rumah gedong sekalipun. Seringnya tak terpikir dan tak terlihat oleh kita, karena kesibukan dan aktifitas kita yang lain. Bayangkanlah, mereka bukan anak jalanan, pengamen, atau pengemis di lampu merah. Mereka tidak tidur di kolong jembatan atau dipaksa bekerja oleh orangtua mereka. Mereka hanya anak biasa, namun mengalami kekerasan sejak usia dini dan berbuat kenakalan yang melebihi batas normal untuk usianya. Apakah dapat terpikirkan oleh kita, kehidupan anak jalanan dan mereka yang lebih miskin dari Farid?

Kemiskinan memang besar dampaknya untuk tumbuh kembang anak. Orangtua dengan latar pendidikan yang kurang semakin memperbesar dampak buruk tersebut. Saatnya kita bertindak, dari lingkungan kita sendiri...


Tulisan ini sebagai coretan untuk Abstract Konferensi Kemiskinan Anak dan Perlindungan Sosial yang diselenggarakan oleh Bappenas dan UNICEF.
Info lebih lengkap silahkan klik tautan berikut:

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...