Wednesday, October 15, 2014

Hidup di Jakarta itu keras, Bung! Yakin tak mau punya asuransi?

DITOLAK! 

Tahun 2012, adik saya mengalami keguguran hingga harus dirawat di Rumah Sakit, namun suaminya terduduk lemas ketika mengetahui tagihan rumah sakitnya tidak bisa di claim ke asuransi yang dibayarnya tiap bulan. Hampir menangis dia menceritakannya kesulitannya tengah malam buta pada saya. Betapa dia yang baru memulai bisnis konfeksinya di Bandung, tidak punya tabungan apapun untuk membayar tagihan rumah sakit yang tak tergapai pendapatan bulanannya.

Keluarga kami akhirnya masing-masing memecahkan celengan untuk membayar tagihan rumah sakit adik saya. Pasrah, adik ipar saya semata wayang itu hanya bisa meredam ego, menerima puluhan juta yang terkumpul dari keluarga yang bukan darh dagingnya, untuk menebus kekalahannya. Rela menanggung malu, tak dapat melindungi istrinya sendiri karena kurang perencanaan.

Sejak saat itu saya meragukan asuransi. Selain konsepnya yang menurut saya seperti ‘menabung’ namun kita tak dapat melihat kemana uangnya dikembangkan. Selain itu juga muncul ketakutan ‘menitipkan’ uang yang ditabungkan setiap bulannya kepada suatu lembaga atau perusahaan yang kita tak tahu bila-bila masa dia tutup usia. Bagaimana kalau ketika kita memerlukan asuransi tersebut, malah ditolak mentah-mentah. Persis seperti kejadian yang menimpa adik saya.

Sebulan setelah kejadian adik saya, buru-buru saya menghubungi sales person asuransi yang memang sama dengan kepunyaan adik saya. Langsung saya hentikan semuanya. Meski yang saya dapatkan jauh dari apa yang saya tabung, saya tidak berpikir panjang. Yang penting saya tidak perlu menabung berbulan-bulan tanpa hasil yang jelas.

Belakangan, beberapa teman yang memiliki asuransi kesehatan mulai menyadarkan saya. Ketika saya menceritakan asuransi yang saya tutup, pertanyaan mereka satu: Apa kamu sudah baca polisnya??

Yak, ternyata saya buta asuransi. Saya tak paham apa yang dituliskan di polis tebal yang hanya tersimpan rapih di lemari. Pun, saya tak pernah perhatikan penyakit apa saja yang ditanggung oleh asuransi yang saya bayarkan. 

Belum lagi cerita-cerita menggiurkan teman-teman yang ketika rawat inap hanya melenggang masuk dan keluar rumah sakit dengan santai. Yang lain sudah diurus asuransi. Pasti ada yang salah. Tapi, masa iya salah saya?

Teman-teman saya tergelak melihat kebingungan saya. Dari merekalah, akhirnya mata saya terbuka untuk belajar lebih banyak tentang asuransi kesehatan.  Berapa yang ditanggung per hari, kamar apa yang didapat dengan polis yang saya bayarkan, dan penyakit apa saja yang ditanggung oleh asuransi pilihan saya.

Ada teman yang ditertawakan ketika membuka asuransi jiwa yang manfaatnya untuk suaminya. Ih kebalik atuh! Istri kan bukan pencari rezeki. Kalau istri meninggal, suaminya masih bisa kerja. Nah kalau suaminya yang meninggal, istrinya tak bekerja, mau makan apa?



Intinya, pelajari dulu manfaat yang ditawarkan masing-masing asuransi di tangan Anda. Pilih yang sesuai dengan kebutuhan keluarga, apakah untuk diri sendiri, untuk si kecil yang mudah terserang kuman atau orangtua kita yang kemungkinannya lebih besar untuk terkena penyakit.

Seperti manfaat yang ditawarkan oleh asuransi kesehatan Allianz yang bernama 'Allisya Care'. Asuransi kesehatan berbasis syariah yang menjawab dua ketakutan saya. Pertama, dana yang dikumpulkan jelas dikelola dengan metode syariah, tak perlulah gundah memikirkan halal-haramnya. Kedua, asuransi ini tepat untuk 'MahMud' atau mamah muda seperti saya, karena mengcover biaya rawat inap, rawat jalan, biaya obat selama masa perawatan, bahkan biaya melahirkan. 

Ini yang saya cari!

Belakangan juga baru saya pelajari bahwa claim adik saya ditolak asuransi karena memang asuransi yang dia pilih tidak mengcover apa yang dia butuhkan. Meskipun menjalani rawat inap berhari-hari, dan melakukan operasi besar, tetap vonisnya sama; DITOLAK! Adik saya salah pilih asuransi.


Jadi pandai-pandailah mencari asuransi sesuai kebutuhan kita. Karena, hidup di Jakarta itu keras, Bung! Yakin tak mau punya asuransi?

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...