Friday, November 28, 2014

Menelusuri jejak Islam di Turki

Ketika saya diajak ibu untuk berumroh di tengah November 2014, saya masih agak ragu. Rasanya pergi lama di saat anak-anak masih sekolah amat sangat merepotkan. Tapi setelah diiming-imingi perjalanan ke Turki, yang merupakan bucket-list saya nomer wahid, langsung saya mengajukan izin Pak Hussain. Dan dengan senang hati beliau bilang boleh! :D

Rute umroh kami dimulai dari Mekkah, kemudian Turki dan berakhir di Madinah. Karena musim umroh belum dibuka, Mekkah dan Madinah masih relatif sepi pengunjung. Bisa dibayangkan lah, indah dan mudahnya mengagumi, menyentuh, bersimpuh di kaki Ka'bah dan berdoa di Raudhoh Masjid Nabawi sepanjang hari.

Saat kami datang, Turki baru akan menyelesaikan musim gugur untuk memasuki musim dingin. Suhu disana berkisar antara 9-11 derajat Celcius. Saya yang memakai baju berlapis-lapis sampai enggan berfoto dan difoto, karena pasti akan membuat Pak Hussain tertawa.

Kota Istanbul di musim gugur

Turki adalah negara yang unik menurut saya. Negara yang terbagi dua secara geografis antara benua Asia dan Eropa. Telah mengecap berbagai jenis agama dan direbutkan oleh penguasa berbagai kerajaan dari Roma, Cina, Persia, Arab hingga akhirnya merdeka. Penganut dinamisme, yang menjadi Islam, kemudian berubah sekuler dan kembali lagi kepada Islam. Negara yang konon merupakan salah satu pilar sejarah penting peradaban muslim dunia. Negara pelindung pengungsi perang Suriah. Panutan muslim dunia.


Kejayaan Dinasti Ottoman di Konstantinopel 1453 H

Sejarah Turki sangat erat terkait dengan kerajaan Islam di zaman kalifah-kalifah sepeninggalan Rasulullah SAW. Masih ingat pelajaran sejarah Islam di SD dulu? Setelah Rasulullah SAW meninggal, Abu Bakar As-Siddiq diangkat sebagai khalifah pertama, yang selanjutnya diteruskan oleh Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Di bagian inilah, umat muslim terpecah dua, karena menurut kaum Syiah, Rasulullah SAW menunjuk Ali bin Abi Thalib menjadi penerusnya sebagai kalifah pertama.

Wallahu a'lam. Sejarah berlanjut. Setelah 4 kalifah tersebut, kerajaan Islam dikuasai oleh dinasti-dinasti. Dinasti pertama adalah Umayyad, dari Syria yang menguasai kerajaan Islam dan memindahkan ibukota kerjaan Islam dari Madinah ke Damascus. Kemudian ditaklukkan oleh dinasti Abbasid dari keturunan paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthallib. Beliau memindahkan ibukota kerajaan Islam dari Damascus ke Baghdad. Perpecahaan umat Islam yang semakin besar, membuat kerajaan Kristen Byzantium dengan mudah masuk dan menguasai sebagian dari wilayah dinasti Abbasid.

Setelah melewati berbagai peperangan, muncullah kaum Seljuq dari Turki. Bekerjasama dengan kalifah dinasti Abbasid, perlahan kaum Seljuq menguasai kembali tanah-tanah milik dinasti Abbasid, namun akhirnya memegang tampuk kepemimpinan. Peperangan dengan kerjaan Byzantium berlanjut, dan dinasti Seljuq menguasai Roma dan Konstantinopel, ibukota Byzantium. Dinasti Seljuq dilengserkan oleh dinasti Utsmaniyyah (Ottoman) setelah mengalami kegagalan dalam berbagai perang dengan pasukan Mongolia. Sejak kemenangan dinasti Ottoman, mereka menguasai Konstantinopel dan mengislamkan Turki.

Semua masjid di Old Istanbul usianya sangat tua

EyĆ¼p Sultan Camii (Masjid Jami Sultan Ayub)

Pernah dengar dalam sebuah kisah Rasulullah SAW ketika beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah? Saat itu, kaum Anshar di Madinah saling berebut ingin menjadi tuan rumah Kekasih Allah tersebut. Saat itu unta yang dinaiki Rasulullah SAW berhenti dan duduk di satu tempat, yang di tempat tersebut beliau bangun menjadi Masjid Nabawi. Kemudian unta itu berhenti lagi di depan rumah Abu Ayyub Al-anshari, tempat dimana beliau tinggali 7 bulan sampai masjid Nabawi selesai dibangun. Sahabat Rasulullaah itu pun selalu mendampingi Rasulullah dalam berbagai perperangan membela Islam, termasuk perang Badar, perang Uhud, dan beberapa kali percobaan mengislamkan kekaisaran Roma di Byzantium.

Sepeninggal Rasulullah SAW, setidaknya 5 kali beberapa sahabat mencoba menaklukkan Konstantinopel, karena beliau pernah bersabda bahwa suatu saat Konstantinopel akan menjadi kekuasaan Islam. Begitupun Sayyidina Abu Ayyub Al-anshari, ikut meneruskan perjuangan untuk menaklukkan kerajaan Byzantium. Beliau dan pasukan berjalan dari Madinah ke Konstantinopel, ibukota Byzantium. Sayang, beliau meninggal dalam perjalanan.

Beberapa tahun setelah Konstantinopel berhasil dikuasai dinasti Ottoman dan berganti nama menjadi Istanbul, guru dari Sultan Muhammad Al-Fatih mendapat mimpi dimana sayyidina Abu Ayyub Al-Anshari datang dan memberitahukan letaknya dikubur. Di Konstantinopel, diantara 2 pohon mapel. Setelah makam tersebut ditemukan, Sultan dinasti Ottoman tersebut bersukacita dan langsung membangun sebuah masjid, dan menganugerahkan beliau sebagai Sultan dan pahlawan yang membebaskan kota Istanbul.

Lokasi sekitar masjid Eyup Sultan Camii ini sangat popular bagi warga Turki, yang datang untuk ziarah dan yang ketika meninggal dunia ingin dimakamkan dekat dengan makam sahabat Nabi mulia.




Dua pohon Mapel, dimana diantaranya terletak makam Abu Ayyub Al-anshari


Warga yang ramai berziarah ke makam Sayyidina Abu Ayyub Al-anshari
Masjid Eyup Sultan Camii ini pun ramai dikunjungi wisatawan non-muslim yang ingin mengagumi keindahan arsitekturnya. Ada waktu diantara jam sholat, yang dibebaskan untuk wisatawan berkunjung. Saya yang datang menjelang adzan maghrib dan sholat diantara puluhan wisatawan yang sibuk memotret agak canggung juga. Mungkin beginilah rasanya umat Buddha di saat beribadah di candi Borobudur.

Ramainya wisatawan di dalam Eyup Sultan Camii

Museum Hagia Sophia

Hagia Sophia

Masjid cantik tempat wisata populer ini sebelumnya adalah sebuah gereja Katedral di Istanbul, ibukota Turki. Ketika Ottoman mengambil alih kekuasaan Konstantinopel, mereka mengambil alih semua gereja dengan cara baik-baik. Tidak ada yang dihancurkan atau dirombak. Semua warga pun disarankan masuk Islam dengan cara baik-baik tanpa kekerasan. 

Sampai kini pun, warga Turki dan pemerintahnya melestarikan semua bangunan peninggalan zaman Roma yang tak dirubah bentuknya, hanya dialihkan fungsinya. Semua bangunan tua di Old Istanbul bisa dilihat sampai saat ini. Tempat penyimpanan sejata jadi universitas, istana jadi museum, benteng menjadi restoran, dll. Sementara gedung-gedung modern berada di New Istanbul. 

Keunikan dan kecantikan Hagia Sophia terlihat dari luar hingga ke dalamnya. Masjid itu kini dijadikan museum yang bebas dimasuki oleh semua penganut agama. Uniknya, masjid ini memiliki mimbar yang miring 15 derajat ke kanan. Semua relif-relif kristiani di dinding masjid yang tadinya ditutup, dibuka kembali oleh pemerintah Turki untuk memperlihatkan keaslinan bangunan cantik tersebut pada wisatawan.

Mimbar yang dimiringkan mengikuti arah kiblat

Relif cantik di dinding museum

Istana Dolmabahche

Istana ini adalah saksi sebuah sejarah. Dinasti Ottoman yang berkuasa cukup lama menjadikan sultan-sultannya tenggelam dalam kemewahan. Istana megah yang dilapisi emas hingga seberat 40.000 ton ini adalah sebuah bukti kecintaan duniawi yang menghancurkan.

Dari sinilah, bangsa Turki mulai bergejolak. Di sepanjang selat Bosphorus, sultan-sultan mendirikan istana tempat peristirahatan sekehendak hatinya dengan uang hasil pajak warga. Kerajaan Turki yang kurang persenjataan pun mulai ditinggalkan oleh negara-negara sahabat. Dinasti Ottoman kalah di Perang Dunia ke I. Kesempatan ini akhirnya dimanfaatkan oleh sebuah pemberontakan, dipimpin oleh seorang pegawai militer kerajaan yang muak dengan kerakusan dinasti Ottoman. Mustafa Kemal Ataturk yang dipuja-puja sebagai Bapak Turki tersebut membawa Turki kepada kemerdekaannya, menghilangkan semua nilai agama di Turki, dan merubah Turki menjadi negara Republik sekular.


Gerbang marmer Istana Dolmabahche

Istana Dolmabahce dari Selat Bosphorus
Presiden pertama itu berhasil membawa Turki kepada modernisasi. Meningkatkan perekonomian, pendidikan, persamaan derajat pada wanita, dan mempercepat pembangunan. Turki kini tak kalah dengan negara Eropa lainnya, mencatat peningkatan ekonomi hingga 4% per tahun.

Meski kehidupan rakyatnya mulai modern, nilai-nilai keislaman yang tadinya pudar mulai dirindu oleh rakyat Turki. Perlahan tapi pasti, kini, Turki mulai kembali pada Islam. Semua nilai-nilai keislaman yang tadi hilang, mulai menguat lagi. Pemerintah Turki kini menggiatkan sektor pariwisata mereka dengan menunjukkan sejarah Islam mereka pada para turis. Semua turis yang datang kesana dibuatkan itinerary perjalanan sejarah keliling Istanbul. Bahkan, untuk masuk ke istana dan masjid-masjid pun harus didampingi pemandu wisata lokal yang harus menjelaskan sejarah bangunan tersebut. Seluruh dunia harus tahu! 


Semua masjid -kecuali yang kini menjadi museum- harus dihormati. Disediakan jubah berkerudung untuk pengunjung non-muslim agar menutup auratnya

Ada satu lagi keunikan masjid-masjid di Turki, yaitu lampunya. Di semua masjid akan terlihat lampu gantung dengan begitu banyak tali yang membuatnya tampak sangat unik dan klasik. Selain itu, tempat wudhunya semua memiliki tempat duduk. Kami semua tak henti berdecak kagum di setiap masjid yang kami masuki demi melihat keindahan dan kemewahan masjid-masjid kuno tersebut.

Lampu khas masjid Turki

Tempat berwudhu masjid Green Mosque

Tempat berwudhu di masjid Ulu Cami. Lengkap dengan bakiak 

Green Mosque, dibangun di tanah yang sebagiannya adalah harta rampasan umat Yahudi. Karena di bagian miliknya dia tak rela dijadikan tempat sholat, dinasti Ottoman menjadikannya air mancur. Tingginya solidaritas beragama saat itu

Topkapi Palace yang menghadap Selat Bosphorus, agar Sultan dapat mengawasi lalu lintas perdagangan

Tur Selat Bosphorus, pemisah Turki bagian Asia dan Eropa

Menurut pemandu wisata kami, Mas Hendro, yang masih bekerja sambil bersekolah disana, Turki erat sekali hubungannya dengan bangsa Indonesia. Tercatat sejak tahun 1500-an, kerajaan di Aceh meminta bala bantuan pada seorang Sultan dinasti Ottoman untuk memerangi Portugis di selat Malaka. Bahkan, saat Aceh dilanda tsunami, bangsa Turki adalah yang pertama menurunkan bantuannya kesana.

Bangsa yang ke-Islamannya mulai terbangun lagi tersebut, kini mulai mengingat kembali saudara muslimnya di Asia jauh, seperti Indonesia. Semoga umat muslim di dunia makin erat bersatu dan saling mencintai. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget