Sunday, November 2, 2014

Sebuah inspirasi bernama Chandra...

Jumat malam, Bu Yanie pendiri Komunitas Taufan meminta saya untuk menggantikannya. Melakukan #HomeVisit di Sabtu pagi, sebagai aktifitas rutin mingguan.

Sebagai relawan Komunitas Taufan, saya sudah memantapkan hati untuk meluangkan waktu kapan saja Bu Yanie membutuhkan bantuan saya.

Tugas #HomeVisit kali ini adalah mengunjungi Puput. Remaja perempuan berusia 16 tahun, penderita Osteosarcoma atau kanker tulang.

Gang rumah Puput, kawasan Jatinegara yang selalu banjir

Dibanding kanker mengerikan lain - seperti Leukimia atau Retinoblastoma (nama lain kanker retina dimana penderitanya, yang kebanyakan balita, harus rela matanya diambil satu bahkan keduanya) - penderita osteosarcoma lebih besar kemungkinannya untuk selamat. Meski, cukup banyak juga pasien dampingan Bu Yanie yang akhirnya meninggal, kebanyakan karena penanganan terlambat, atau pasien yang tidak disiplin menjalani proses pengobatan dan kemoterapi.

Yang membuat kasus Puput lebih rumit adalah karena anak ini memutuskan untuk tidak melanjutkan pengobatan. Memilih menyerah pada maut.

Pasalnya, setelah 2 siklus kemoterapi yang gagal, dokter melihat keganasan sel kanker yang makin tinggi hingga diputuskan bahwa amputasi adalah jalan satu-satunya. Puput depresi...

Sabtu pagi itu, atas saran Bu Yanie, saya menemani seorang teman pasien yang selamat dari penyakit serupa tahun lalu. Tujuannya jelas, untuk menyemangati Puput. Dan seorang teman pasien itu adalah Chandra.

Ketika kami datang, sekitar pukul 11, Puput belum bangun. Ibunya berkali-kali minta maaf, menjelaskan bahwa anak tengahnya itu tak tidur hingga subuh karena kaki kirinya yang kini membengkak 4x lipat, terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Dan, berkali-kali juga kami melempar senyum sambil menenangkan sang ibu. Bahwa kami hanya datang berkunjung, tak perlu dibangunkan.

Chandra mengisi ketidaknyamanan dengan cerita sakitnya sejak 2012. Awalnya ketika jatuh bermain bola, lututnya menghantam gawang besi hingga memar. Beberapa minggu kemudian timbul memar hingga diurut.

Chandra sebelum amputasi

Karena memar tak kunjung hilang, ibu Chandra membawanya ke dokter, yang memintanya untuk melakukan biopsi di RSCM. Dan benar saja, vonis penderita kanker pun langsung disandangnya.

Sama seperti Puput, ketika dokter pertama kali memintanya untuk amputasi, Chandra mengamuk habis-habisan. Keluarganya pun, ikut-ikutan mengamuk. Menyalahkan dokter yang sembarangan bermain dengan takdir anak kesayangan. Tak sadar bahwa Yang Kuasa memang menuliskan demikian.
Kaki yang makin membengkak, dan kemoterapi yang berkali-kali gagal tak jua membuat Chandra menyerahkan kaki kanannya.

Lebih baik aku mati!


Hingga ketika siklus kemoterapi selesai dan Chandra diberi waktu pulang. Pangkal pahanya terasa lepas, tak kuasa lagi menahan berat kaki kanan yang kini beratnya sudah hampir seberat tubuhnya sendiri. Dan ia menyerah.

Pak Liknya menceritakan rasa getir campur tak rela ketika menurunkan kaki Chandra setelah operasi, ke liang lahat. Merinding saya dibuatnya.

Kini, setahun setelah kehilangan kaki kanannya. Setelah beradaptasi dengan kaki barunya, Chandra punya 22 anak didik. 

Pencinta bola itu menjadi pelatih bola. Melatih anak usia SD teknik bola dalam sebuah klub yang berkali-kali menyandang gelar juara.

Chandra melatih tim bola U-10

Mengagumkan!!

Atas bantuan Metro TV, Chandra dihubungkan denganPak Sugeng. Sang pembuat kaki palsu, yang pernah tampil di acara Kick Andy.

Air mata haru berebut keluar dari kelopak mata saya yang mulai menghangat. Sayangnya, hingga kami pamit pulang, Puput masih tergolek membelakangi kami. Saya yakin, dia dengar semua pembicaraan kami. Kami pasrah. Hanya doa yang mengiringi -semoga Allah, Sang Maha Pembolakbalik hati manusia - membukakan hati remaja cantik ini untuk memilih jalan terbaik.

Ayah Puput menyalami Chandra dan saya sambil berkali-kali mengucap terimakasih. Betapa harapnya tinggi untuk kesembuhan bunga keduanya yang tengah mekar bersemi. Biarlah Puput yang menentukan hidupnya. Semoga ia memilih yang terbaik untuk dirinya, untuk masa depannya...untuk ibunya.

Karena pada nyawa seorang anak, ada sepotong hati seorang ibu juga.


Chandra bersama Ayah Puput

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget