Monday, February 2, 2015

TravelIndonesia #2 Yogyakarta - Borobudur Sunrise trip, Merapi Lava Tour, and around the city



Trip kedua ini adalah giliran Naznin. Karena itinerary terdengar lebih adventurous, saya sudah mempersiapkan sepatu yang lebih kuat, tas backpack multi-fungsi dan tentunya kain gendong jarik super! :D

Kami tiba di Yogya pada siang hari. Untuk kemudahan berjalan-jalan, kami memilih hotel di daerah Malioboro. Dan untuk kesenangan Naznin, kami memilih hotel yang ada kolam renangnya. Pilihan kami jatuh pada Dafam Fortuna hotel, seharga Rp. 360.000/malam. Kamar yang lumayan luas, twin bed, makanan super murah mulai dari Rp. 15.000, kamar mandi dengan rain shower kesukaan Naznin, toilet dengan selang siraman dan bukan pancuran, kolam renang outdoor dengan atap hingga bisa tetap berenang meski hujan. Perfect! Dan Naznin pun menghabiskan hari pertama hanya di kolam renang.


Borobudur Sunrise Trip
Kami tidur awal malam harinya dan memasang alarm pukul 03.00. Pak Supir sudah menunggu kami di lobi pukul 04.00, and off we go to Sunrise trip. Melihat Borobudur ketika sunrise adalah trip favorit wisatawan domestik maupun mancanegara. 

Ada 2 tempat untuk menyaksikan keindahan sunrise dengan harga yang jauh berbeda.

Pertama: Manohara Resort. 
Hotel mewah yang terletak tepat di samping Borobudur ini menawarkan sunrise trip seharga Rp. 250.000 untuk wisatawan domestik dan Rp. 380.000 untuk wisatawan mancanegara. Membaca review yang cukup baik namun antrian cukup panjang; dan mengingat budget kami lebih baik digunakan untuk berbelanja, kami pun mencari alternatif lain.

Kedua: Punthuk Setumbu
Perlu effort lebih untuk memanjat bukit setinggi 400m yang terletak di sebelah barat daya candi Borobudur ini. Namun review menyebutkan bahwa tempat alternatif untuk menikmati Borobudur di waktu sunrise ini sangat diminati wisatawan mancanegara. 

Cukup membayar Rp. 7000 untuk wisatawan lokal, dan Rp. 15.000 untuk wisatawan mancanegara; kami pun mulai menanjak ke puncak bukit. Sayang kami tidak memperhitungkan bahwa malam sebelumnya hujan turun cukup lebat, hingga medan pendakian kami pun cukup licin. Untungnya, tangga yang dibuat untuk naik tidak terlalu curam, dan di setiap kelokan ada tempat beristirahat lengkap dengan kursi dan warung kopi. Saya yang menggendong Naznin di pundak jadi bisa berhenti sejenak meluruskan kaki.

Bule-bule manjatnya cepat sekali. Sementara saya foto saja sampai gemetar begini

Selfie gelap-gelap sambil istirahat di kelokan bukit

Karena habis hujan, jadi sunrisenya tertutup kabut. Namun ujung Borobudur sempat terlihat meski samar

The viewing point. Tempat foto paling favorit

Trek pendakiannya cukup bagus. Kalau kering pasti Naznin bisa mendaki sambil lari-lari

Pukul 06.00 kami kembali menuruni bukit sambil menikmati keindahan pemandangan yang luar biasa di sekeliling bukit. Lega juga karena tidak membayar mahal untuk melihat sunrise yang ternyata tertutup awan dan kabut.

Perjalanan dilanjutkan ke Borobudur. Meski kami tidak kuat memanjat sampai stupa tertinggi. Padahal ingin punya foto seperti Mark Zuckerberg, bos Facebook itu loh. :D

Di hari Sabtu, banyak pelajar yang melakukan studi tour dari berbagai penjuru nusantara. I love Indonesia!

Foto dari bawah cukuplah

Merapi Lava Trail Tour
Dari Borobudur, kami menuju Gunung Merapi untuk melakukan Lava Tour. Kabarnya hari ini ada curahan lahar dingin dari puncak yang seru sekali untuk dilihat. Pukul 10.00 mendung terlihat sudah menggelayut. Dan benar saja, hujan mulai turun setibanya kami di lereng Merapi.

Kami harus menyewa jeep untuk naik keatas gunung. Ada 3 tipe perjalanan yang dapat dipilih:
Trip 1 Rp. 350.000 
Trip 2 Rp. 450.000 Sampai ke rumah relokasi, rumah keluarga alm. Mbah Maridjan dan sampai ke 4km dibawah puncak gunung
Trip 3 Rp. 600.000 paling komplit 
Kami memilih trip ke-2 dengan total perjalanan selama 3 jam.

Jeep terbuka membuat kami basah sepanjang perjalanan. Untungnya ada warung yang menjual baju diatas hingga Naznin bisa ganti baju kering

Sebelum berangkat, kami diminta menggunakan jas hujan karena sudah mulai gerimis. Puluhan jeep sudah mengular untuk naik ke puncak disertai sorakan turis-turis yang terlalu excited. Trek yang dilalui cukup menegangkan, karena berbatu dan cukup berbahaya. Saya jadi agak khawatir membawa Naznin, meski supir jeep kami memastikan bahwa ia akan mengemudi agak perlahan. Kami sempat disoraki jeep-jeep yang memotong dan mendahului kami karena supir berjalan terlalu pelan. Naznin malah tidak terlihat takut sama sekali.

Karena waktu dzuhur sudah tiba, kami memutuskan untuk mampir ke masjid di perumahan relokasi. Lingkungan yang terasa aneh dan membuat bulu kuduk saya merinding. Ditambah tak ada orang sama sekali disana. Rumah keluarga alm. Mbah Maridjan terletak paling ujung di dekat masjid. 

Masjid di lingkungan relokasi
Apik dan bersih
Lingkungan rumah relokasi. Sepiiii sekali

Satu-satunya foto yang saya ambil karena tas dan kamera terbungkus di dalam plastik yang ikut kebasahan

Hujan makin deras ketika kami naik ke puncak. Jalanan mulai tidak beraspal dan goncangan makin terasa kencang. Tiba-tiba, jeep berbelok ke turunan tajam padahal kami tidak melihat ada jalur kendaraan. Pak supir dengan tenang menjelaskan bahwa kami akan dibawa menyusuri sungai tempat aliran lahar dingin di erupsi tahun 2010 silam. Hati saya mulai ciut. 

Saya berpegangan kencang sambil memeluk Naznin erat. Hujan yang makin deras membuat trek makin berbahaya dan licin. Sungai yang kami masuki penuh dengan batu besar. Kami cuma bisa melihat aliran lahar dingin dari jauh karena takut aliran makin kencang. Kabarnya, sebuah truk dan awaknya ada yang terkubur lahar dingin penuh material berat yang tiba-tiba deras dan menghanyutkan mereka. Seram...

Kami parkir dan berteduh sejenak di Museum Sisa Hartaku. Hujan tak kunjung berhenti, hingga pak supir memutuskan untuk meneruskan perjalanan, namun memilih trek yang lebih aman.

Museum sisa hartaku
Image dari sini
Cuma butuh 10 menit untuk awan pas penuh material berat menghanguskan seluruh rumah. Erupsi terjadi pukul 12.05 dini hari di desa bagian atas
Image dari sini
Korban terbanyak menurut pak supir adalah warga di desa bagian bawah gunung Merapi. Karena mereka tidak menyangka erupsi akan sampai ke bawah. Wedhus gembel pun menghanguskan rumah dan penduduknya pukul 12,15 dini hari, 10 menit setelah menghanguskan desa di bagian atas. Korban ditemukan dalam keadaan beku tertutup wedhus masih dalam keadaan beraktifitas. Ada yang sedang berlari, ada yang baru mau keluar rumah, ada yang masih tidur, bahkan ada ibu yang sedang menyusui bayinya...

Kekuatan alam yang luar biasa. 

Kini, Merapi subur kembali dan memberi lebih bagi penduduknya. Material pasir dan batu seperti tak habis meski ratusan kali diambil oleh truk-truk besar yang lalu lalang. Pohon-pohon tumbuh subur bagai lupa akan keganasan yang belum hilang bekasnya dari ingatan penduduk. 

Kami menjumpai Pohon Soga di lereng gunung Merapi. Menurut supir jeep, pohon yang berbentuk seperti cemara ini tadinya tumbuh di puncak gunung. Ketika erupsi, pohon-pohon ini terbawa turun dan kini tumbuh di lereng gunung. Kayu pohon Soga dimanfaatkan oleh penduduk sebagai kayu bakar, dan kulitnya dipakai untuk pewarna batik. Batik yang diwarnai dengan kulit pohon soga dikenal dengan nama Batik Sogan.


City tour
Hari terakhir di Yogya, kami habiskan dengan city tour berkeliling kota. Pagi kami dimulai dengan sarapan Sop Ayam Pak Min Klaten yang melegenda di Jl. Veteran. Kemudian menyebrang ke Jl. Suryotomo karena Naznin ingin bermain burung dara. Dari seluruh rangkaian kegiatan sepertinya dia paling suka berada disini :D

Main burung dara di seberang Soto Pak Min Klaten

Perjalanan dilanjutkan ke Kota Gede untuk menyaksikan pembuatan perhiasan perak. Kemudian berhenti sebentar untuk naik delman.

Pekerjaan yang sangat detail dan cantik. Sayang harga perak sedang melambung hingga harga perhiasan jadi mahal

Naik delman istimewa ku duduk dimuka

Selanjutnya kami beranjak ke keraton. Wisata wajib jika jalan-jalan ke Yogya. Pukul 10.00 ada kegiatan membatik di seberang keraton. Tentu setelahnya akan ditawari lukisan batik dengan harga cukup mahal. Tolak dengan tegas namun halus bila tidak ingin membeli.

Lambang keraton Yogyakarta



Gasing

Membatik di seberang keraton

Sebelum beranjak ke airport kami menyempatkan diri untuk berfoto di Prambanan dan berbelanja. Saya lebih suka berbelanja disini daripada di jalan Malioboro. Banyak sekali toko souvenir di sepanjang jalan keluar Prambanan, dimana saya bisa membeli banyak oleh-oleh dengan harga murah dan kualitas mumpuni.

Gantungan kunci candi, dan bros bisa didapatkan dengan harga Rp. 1000 saja. Kemeja batik seharga Rp. 35.000, daster Rp. 20.000, kaos dari Rp. 12.000 - 25.000, tas batik perca Rp. 15.000. Ada juga ukiran kayu, kendi tanah liat, dan tentunya ulekan batu yang fenomenal untuk mengulek sambal :)





Toko souvenir murah

We had great time in Yogya. Next trip kemana lagi yaaaa?

-------------

Dafam Fortuna Hotel
Jalan Dagen No. 60, Yogyakarta
0274-6429888

Sewa mobil 
Rp. 400.000/12 jam all in. Overtime Rp. 50.000/jam.
Contact: 0878-4565-8103

Kaliurang Adventure Merapi Lava Tour
Contact: 0813-9218-8771 (Wanto)

Tiket masuk Borobudur
Rp. 30.000 (domestik)
Rp. 250.000 (foreigner)

Tiket masuk Prambanan
Rp. 20.000 (lokal)
Rp. 135.000 (foreigner)

Naik delman
Rp. 40.000

Masuk keraton
Rp. 5000 (lokal)
Rp. 15.000 (foreigner)

4 comments:

  1. Wah na.. sounds fun. darin bisa ga ya diajak gitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa banget Anggit. Pasti dia suka!
      Ayuk kita jalan bareng. Minggu depan ke semarang. bulan depan kemana yukkkk

      Delete
  2. Senangnya membaca blog mbak Nana. Kok nggak mampir ke Solo sekalian mbak? Waktu tempuh Jogja-Solo kurang lebih 1,5 jam saja.
    Kapan-kapan saya mau juga ah jalan-jalan sama krucils. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hii Mba Dian,

      Terimakasih yaa,
      Kalau aku ke Solo, nanti aku hubungi kamu yaa. Kita jalan bersama

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...