Sunday, March 1, 2015

Eco-wisata - Wisata Ciliwung sambil belajar sejarah Jakarta

Hari ini saya berkesempatan untuk ikut menyusuri sungai Ciliwung. Kegiatan ini diprakarsai oleh Wisata Ciliwung bekerjasama dengan Ciliwung Institute dan KPC (Kelompok Peduli Ciliwung) Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Minggu, 1 Maret ini adalah soft-launch Wisata CIliwung yang nantinya akan diadakan rutin. Menurut Sudirman Asun, dari Ciliwung Institute, wisata ciliwung adalah sebuah cara untuk melestarikan Ciliwung. Diharapkan, dengan ramainya kegiatan di Ciliwung, warga sekitar bantaran kali akan segan mengotorinya.

Jakarta menurut Asun, memiliki 13 sungai, dimana Ciliwung adalah sungai terbesarnya. Sepantasnya, anak-anak kita sekarang mengenal Ciliwung lebih dekat lagi. Ciliwung saat ini hanya dikenal karena kekumuhan dan sumber sampah. Padahal Ciliwung adalah sungai purba yang sudah terkenal sebagai jalan kedatangan tamu-tamu kerajaan jaman dahulu kala.

'Untuk menyelamatkan Ciliwung, kita harus mengupdate potensi sekitar Ciliwung. Pemberdayaan masyarakat sekitar Daerah Aliran Sungai sangat penting agar mereka juga merasa bahwa sungai ini penting dan bukan tempat sampah raksasa. Kita mau anak cucu kita tahu akar budayanya itu bermula dari Ciliwung', kata Bang Kodir, penggiat Ciliwung dan ketua KPC Munggang.

Pak Lurah Cililitan pun membuka kegiatan Wisata Ciliwung hari ini. Menurutnya, saat ini membersihkan CIliwung merupakan salah satu fokus pemerintah, dimana komunitas yang peduli dengan Ciliwung harus dibina dan dirangkul agar dapat bekerja berdampingan.

Pak Lurah Cililitan membuka kegiatan Wisata Ciliwung
Menurut Pak Lurah, saat ini TNI juga rutin turun ke Ciliwung. Membuat penyekat dan menjaring sampah di anak sungai agar sampah tidak masuk ke Ciliwung.

Selain itu, pemerintah saat ini juga sedang giat mengembalikan hak-hak yang hilang. Wilayah pejalan kaki dikembalikan fungsinya untuk pejalan kaki, wilayah jalur air dikembalikan ke fungsinya sebagai jalur air. Hingga rumah dan bangunan yang berdiri di jalan air satu persatu mulai dibongkar untuk menghindari banjir. Penertiban pun sudah mulai di Jakarta Selatan. Warga yang tertangkap buang sampah akan didenda minimum Rp. 500.000 atau penjara. Jakarta Timur pun akan diberlakukan perlahan. Yang penting adalah penegakan hukum yang tegas dan efek jera yang ditimbulkan.

Memang mengatasi masalah sampah sangat sulit, karena setiap rumah tangga memproduksi sampah, namun tidak ada yg suka dengan sampah. Diharapkan KPC bisa bekerjasama dengan lebih banyak pihak untuk melatih warga melakukan pemilahan sampah, composting, dan mengurangi penggunaan plastik.

Pak Bachtiar, Pembina KPC Buluh adalah salah satu warga yang peduli lingkungan. Beliau menghibahkan tanah keluarga untuk dijadikan taman dan daerah resapan air. Menurutnya, kini semakin banyak rumah dengan pompa air yang dalam dan torent yang besar. Sementara daerah resapan airnya sedikit. Semua rumah mengambil air tanah, sementara air tanah semakin berkurang. Akibatnya tanah semakin amblas dan Jakarta semakin tenggelam.

Pak Bachtiar (kiri) dan Bang Kodir (baju kotak2 menjelaskan visi misi KPC pada pengunjung
Kami pun menyusuri Ciliwung, melawan arus yang cukup deras. Hujan semalaman di Bogor, ternyata membuat air sungai naik dan alirannya cukup deras. Motor perahu karet kami beberapa kali tersangkut sampah plastik dan karung yang berjalan cepat di sungai yang meluap.

Serunya menyusuri Ciliwung
Sepanjang sungai, kami melihat pemandangan unik yang membuat kami tergelak. Salah satunya adalah papan peringatan ‘Dilarang buang sampah di sungai ini’ dan ‘Dilarang mendirikan bangunan di sepanjang kali’ yang semuanya menghadap ke arah sungai, dan bukan sebaliknya. 

Siapa yang akan baca kalau papan peringatannya menghadap ke kali?
Sampah plastik juga merupakan pemandangan dominan yang sangat mengganggu keindahan. Menurut Asun, plastik yang berlapis-lapis sudah tertimbun di sedimen tanah hingga mengganggu pertumbuhan pohon. Akar pohon tunjang pun tak dapat menembus plastik hingga pertumbuhannya terganggu.

Sedimen tanah dilapisi sampah plastik
Kami juga melihat tanah yang bolong-bolong di dinding sungai. Menurut Asun, ikan sapu-sapu membuat lobang-lobang di dinding sungai sebagai sarang. Ikan sapu-sapu adalah parameter kebersihan sungai. Semakin kotor sungai, ikan sapu-sapu makin banyak populasinya. Semakin banyak lobang yang mereka buat untuk sarang, samakin rapuh lah tanah hingga sering terjadi longsor. Untuk mengatasinya, penggiat KPC sering menebar benih ikan agar populasi ikan sapu-sapu dapat dibatasi.

Perahu karet kami pun berhenti di KPC Gema Bersuci asuhan H. Royani. Disana terdapat pabrik pembuatan dodol, pemancingan warga dan saung-saung yang nyaman. H. Royani menceritakan sejarah Jakarta hingga kami ternganga. Betapa miskinnya ilmu sejarah kami mengenai tempat dimana kami lahir, berkegiatan, dan hidup di dalamnya.

Pengrajin dodol
Ciliwung jaman dahulu merupakan jalan kedatangan tamu, sedangkan Cisadane adalah jalur perjalanan raja, jelas H. Royani sambil menikmati makan siang bersama pengunjung. Cisadane dan Ciliwung di hulu letaknya berjajar, oleh karena itu daerah hulu tersebut dinamakan Pajajaran.

Pak H. Royani (jaket merah) bercerita tentang sejarah Ciliwung
'Di Ciliwung dulu banyak pasirnya', lanjut H. Royani. Jaman dahulu, orang yang dibilang kaya di Jakarta adalah yang paling banyak perahunya. Perahu-perahu tersebut digunakan sebagai pengangkut pasir yang dibawa untuk pembangunan Gelora Bung Karno.

Dodol dibungkus-bungkusi untuk dibawa pulang pengunjung. Dodol duren Betawi! Yuuuumm!
Dan tahukah Anda?
  • Asal kata Ragunan adalah dari nama Pangeran Wiraguna, seorang karyawan VOC yang diambil oleh Pangeran Fatahillah sebagai ahli pembuat irigasi dan jembatan.
  • Asal kata Balekambang adalah ketika jaman dahulu Pangeran Wiraguna naik kuda putih dari rumahnya ke Kedung Eran, beliau sering mandi di sebuah bale-bale yang mengambang di sungai.  
  • Asal kata Batuampar adalah ketika Pangeran Wiraguna menaiki kuda ke condet, beliau melewati daerah yang dibangun dengan batu yang diamparkan.
  • Kata Pasar Minggu bukan karena pasar tersebut buka hanya hari Minggu. Nama Minggu diambil dari Ki Minggu yang mewakafkan tanahnya untuk pasar. Sebelumnya, nama pasar itu adalah Pasar Sawo.
  • Setelah Belanda kalah oleh Jepang, mereka mencoba masuk lagi bersama sekutu. Banyak dari orang-orang Belanda tersebut yang bersembunyi di Depok yang dijadikan villa pengungsian. Hingga kini, sering ada sebutan Belanda Depok
  • Daerah Pejaten berasal dari kata Pejatian, karena daerah tersebut dulunya banyak kayu jati. Pejaten pun dahulu merupakan daerah Condet.
  • Sebagian besar wilayah Jakarta dulunya adalah rawa-rawa, termasuk juga Pancoran dan sekitarnya. Hingga nama daerah Rawa Belong, Rawa Jati dll memang betul daerah rawa yang diuruk menjadi perumahan.

Dari saung KPC Gema bersuci, kami bergerak ke pemberhentian terakhir yaitu KPC Munggang asuhan Bang Kodir. KPC ini sudah banyak dijadikan percontohan karena sudah memiliki fasilitas Eco-wisata yang sangat mendukung seperti Outbound track, taman baca, dan aula yang cukup besar.

Disana saya berjumpa dengan Bunda Arifah Handayani, pemilik Smart Parenting Group yang inspiratif.

Luar biasa pengalaman saya hari ini. Semoga Allah berikan saya jalan untuk berkarya bersama orang-orang hebat ini.


Lets save our Ciliwung, together!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...