Wednesday, March 11, 2015

TravelIndonesia #3 - Semarang | Umbul Sidomukti, Ambarawa, Goa Kreo, dan Kota Lama

Travel Indonesia kali ini adalah giliran Mikail. Sempat bingung karena ketika browsing, wisata Semarang kebanyakan adalah wisata kota tua yang lebih dinikmati oleh pecinta seni foto. Untungnya, teman saya, Teja menyarankan beberapa tempat wisata baru yang letaknya tak berapa jauh dari kota Semarang.

Ini kali pertama saya berkunjung ke Semarang. Kota kecil ini sangat bersih dan apik. Spot kota kesukaan saya adalah Taman Sri Gunting. Persis seperti di taman Ulu Cami, Turki. Cantik dan unik. Yang paling menyenangkan lagi adalah kota ini memiliki trotoar lebar dan bersih dari penjual kaki lima. Jadi mau pindah ke Semaraaaang :D

Trotoar lebar di kota Semarang

Kami memilih hotel Pandanaran karena dekat dengan Simpang Lima, dan pusat kota. Hotel yang kami pikir kecil, ternyata luas dengan 3 hall besar yang biasa dijadikan aula pernikahan. Kolam renang, gym dan spanya pun cukup bagus. Di hotel juga tersedia club dan karaoke bagi peminat night-lifestyle. Uniknya, telepon di lobi hotel bermodel lama. Mikail sampai terpesona sambil bersungut karena tidak bisa memencet tombolnya.

Telepon model jadul di lobi hotel

Umbul Sidomukti

Kami memulai hari pertama dengan mengunjungi objek wisata yang jauh dahulu. Pilihan pertama adalah Umbul Sidomukti. Objek wisata yang terbilang baru ini terletak di daerah Bandungan, Desa Sidomukti. Kenapa dinamakan Bandungan? Menurut Pak Heri, supir mobil sewaan kami, karena tempat yang terletak di pegunungan ini mirip Bandung :)

Perjalanan dari kota Semarang menuju Bandungan memakan waktu 1,5 jam dengan mobil. Jalanan menuju Umbul Sidomukti seperti di Puncak. Jalan masuk ke lokasi cukup kecil namun masih bisa dilalui mobil. Tempat parkir pun cukup memadai.

Umbul Sidomukti bagi wisatawan lokal dikenal dengan kolam mata air yang indah dan jernih. Selain itu, terdapat juga Flying Fox dan jembatan gantung yang cukup menantang, ATV, camping ground, dan penginapan.

Tempat mandi ada banyak mesti terletak cukup jauh dari kolam. Restaurant dan mushola juga dalam kondisi baik. Ada dua pilihan kolam, kolam anak dan dewasa.

Tiket masuk dan tiket permainan di Umbul Sidomukti cukup murah

Setelah flying fox, kita harus meniti jembatan gantung untuk kembali

The famous kolam renang mata air. Airnya jernih dan dingin




ATV, mainan pilihan pertama Mikail. Rp. 30.000 dua putaran

Kampoeng Rawa, Ambarawa
Dari Umbul Sidomukti, kami bergerak menuju Kampoeng Rawa. Salah satu destinasi wisata lokal yang cukup terkenal, menurut Pak Heri, supir kami. Perjalanan dari Umbul Sidomukti ke Ambarawa memakan waktu 45 menit.

Kampoeng Rawa cukup sepi menurut saya, meski suasana rawa di kaki gunung terlihat asri dan menyejukkan. Jenis permainan yang ditawarkan disana cukup banyak, meski kurang menantang menurut Mikail. 

Permainan yang ada di Kampoeng Rawa

Pemandangan cantik di Kampoeng Rawa

Lagi-lagi Mikail main ATV
Menurut saya yang paling seru adalah menaiki odong-odong ke Benteng Pendem Ambarawa seharga 50 ribu/rombongan. Benteng yang hanya terlihat dari jauh ini terlihat misterius sekali. 
Benteng Williem atau sekarang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem, adalah benteng peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1840 untuk membangun hubungan dengan kerajaan Mataram semasa masa kekuasaan King Williem I di Jawa Tengah. Ambarawa sendiri dahulu merupakan jalur perdagangan antara Semarang dan Surakarta.

Benteng masih bisa dikunjungi sebagai obyek wisata yang diminati fotografer. Sedangkan LaPas Ambarawa yang terkenal itu masih berfungsi sebagai LaPas hingga saat ini.
Benteng pendem dan Penjara Ambarawa

Keliling kota Semarang
Puas berkeliling, kami pun kembali ke kota Semarang pukul 16.00. Satu jam setibanya di Kota Lama, kami melihat bus double decker merah yang langsung menarik perhatian kami. Otomatis kami langsung mencari parkir dan mencari informasi mengenai bus ini.

Semar Jawi - Semarang Jelajah Wisata
Bus ini bernama Semar Jawi. Beroperasi dari hari Selasa - Minggu. Bus hibah dari Telkomsel ini baru beroperasi tahun ini. Berada diatasnya seperti di luar negeri deh. Cukup dengan Rp. 10.000 saja, dan kita dapat menikmati 30 menit berkeliling Kota Lama dan mendengarkan sejarah kota Semarang yang kaya dari travel guide. Keren sekali!

Tamasya sambil menikmati sosis bakar
Kota Lama, Semarang bisa jadi merupakan tempat favorit fotografer. Di sore hari, sekitaran Kota Lama sangat teduh, ramai, dan suasananya amat menyenangkan. Taman Sri Gunting pun tertata rapih, bersih dan rindang. Berada di samping Gereja Blendhuk, membuat taman ini makin menawan.

Taman Sri Gunting tempat Bus Semar Jawi parkir
Setiap Minggu ke-2 setiap bulannya, di Kota Lama digelar pasar barang antik. Banyak juga dijual kaos-kaos bertulisan nyeleneh ala guyonan kuno dengan harga terjangkau. Rasanya ingin berlama-lama disana.

Pasar barang antik di samping taman Sri Gunting, Kota Lama
Lawang Sewu
Keesokan harinya, kami memulai perjalanan agak lambat, karena Mikail ingin berlama-lama menikmati kolam renang di hotel. 

Perjalanan kami dimulai dari Lawang Sewu karena dekat dari hotel. Tiket masuknya hanya Rp. 10.000. Sepertinya semua tempat wisata memiliki tiket masuk dengan harga yang sama :)
Saya sempat enggan memasuki tempat wisata yang satu ini karena banyak yang bilang angker. Namun menurut Pak Heri, kini Lawang Sewu sudah tidak angker lagi dan bebas didatangi kapan saja. Mungkin sudah direnovasi dan dipercantik ya.

Cantik dan megah
Lawang Sewu ini sebelumnya merupakan kantor NIS, perusahaan kereta api milik Belanda. Ternyata Semarang adalah kota pertama dimana kereta api mulai beroperasi di tahun 1904. Wow! Gula adalah komoditas termahal dari Semarang yang diekspor kemana-mana. Saking berharganya, gula ini dihargai lebih mahal dari emas di jaman dahulu. Hingga, tanjung tempat kapal-kapal berlabuh untuk mengekspor gula disebut sebagai Tanjung Emas.




Sam Po Kong
Menurut sejarah Klenteng Sam Po Kong merupakan bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksmana Tiongkok beragama Islam bernama Cheng Ho. Tempat ini biasa disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu.

Sayang sekali tempat ini adalah sebuah klenteng, padahal Laksmana yang patungnya berada disana pun sebenarnya beragama Islam.

Meski begitu, klenteng ini pun dilengkapi sebuah mushola yang cukup besar. Sebuah toleransi beragama yang luar biasa!





Mushola di Klenteng Sam Po Kong

Gua Kreo
Meski sudah berangkat agak lambat, menyetok oleh-oleh Lumpia kesukaan Mikail, dan mengunjungi 2 tempat wisata, tetap saja waktu masih terlalu awal untuk menunggu di airport. Pak supir pun menyarankan kami untuk menempuh 30 menit perjalanan ke Desa Wisata Gua Kreo. 

Gua Kreo, menurut sejarah merupakan tempat Sunan Kalijaga mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Tempat ini terkenal dengan banyaknya monyet yang berkeliaran. Perjalanan menuju ke gua cukup jauh, kami pun urung untuk turun karena waktu terbatas untuk kembali ke Bandara.

Di lokasi yang sama, sedang dibangun Waduk Jatibarang yang fungsinya sebagai tempat penyimpanan air kota Semarang, pencegah banjir, dan sebagai PLTA. Di masa depan, ketika waduk ini sudah berfungsi, Goa Kreo akan menjadi tempat wisata yang mumpuni karena akan juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas wisata di waduk yang besarnya hingga 46,50 hektar tersebut.

Bercengkrama sambil diliatin kawanan monyet. Seru mungkin ya?

Waduk Jatibarang yang belum selesai dibangun sejak 2009

Perjalanan panjang menuju Gua Kreo
Kami menikmati kota Semarang, sampai ingin pindah ke kota tenang dan bersih ini. See you next time, old town!

--------

Hotel Pandanaran
http://www.pandanaransemarang.com/

Informasi wisata Kota Semarang
http://seputarsemarang.com/

Umbul Sidomukti
http://www.umbulsidomukti.com/

Kampoeng Rawa
http://www.kampoengrawa.com/

Bus Semar Jawi
Twitter: @semarjawi
FB: Semar Jawi


2 comments:

  1. Wah, main ke semarang ya mbak? Lain kali kabari saya kalau main atau lewat di semarang ya. Travellingnya seru-seru sekali. Saya tinggal di Kendal 30 menit dari Semarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh Mba Dian di Kendal toh?
      Aku sebenarnya pengen bgt ke Kendal, karena temanku yg namanya Dian juga, anaknya suka ikut olahraga motor crossing di Kendal.
      Keren banget!

      InsyaAllah kalau aku ke Solo dan Kendal, aku kabari kamu ya Mba.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...