Tuesday, April 14, 2015

TravelIndonesia #5 - Pengalaman pertama hiking di Gunung Papandayan, Garut

Saya memang lebih suka gunung daripada laut. Tapi, kalau disuruh manjat gunung saya lebih memilih untuk main air di pulau hingga terbakar matahari. 

Berhubung trip naik gunung kali ini diadakan oleh grup Lazy Traveler yang tak diragukan kenyamanannya, saya pun mendaftar dan dengan pede membawa Mikail serta untuk melakukan TravelIndonesia yang kelima. Dan benar saja, trip dikemas bersama seapik dan senyaman mungkin hingga kami tinggal membawa perlengkapan pribadi dan melenggang naik gunung dengan santai. 

Perjalanan dimulai hari Sabtu tanggal 11 April 2015 pukul 06.00. Grup kami yang terdiri dari 9 orang memulai perjalanan dari pelataran parkir RS. UKI ke kota Garut dengan Elf sewaan. Perjalanan kami hingga ke Camp David, awal pendakian Papandayan memakan waktu kurang lebih 7 jam.

Selain mobil sewaan, pendaki juga bisa menaiki bus Jakarta-Garut dari Terminal Cililitan seharga Rp. 45.000, kemudian melanjutkan dengan angkot seharga Rp. 20.000/per orang hingga desa Cisurupan, dan menyewa mobil bak hingga ke Camp David untuk memulai pendakian. Tiket masuk untuk camping seharga Rp. 7.500/orang.

Di Camp David tersedia musholla dan toilet. Tersedia juga beberapa warung yang menyediakan makan bagi grup pendaki. Terlihat banyak warung-warung yang rusak di area parkir ketika kami datang. Kemungkinan besar dirusak warga yang tidak suka kompetisi.

Kami menikmati makan siang yang sudah disiapkan untuk tim kami di sebuah warung kecil. Setelah sholat dan bersitirahat sejenak, kami pun memulai perjalanan.

Camp David, tempat memulai pendakian
Gunung Papandayan terletak di desa Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2665 mdpl ini tercatat sudah meletus setidaknya 4 kali. Letusan terakhirnya adalah di tahun 2004. Gunung ini memiliki beberapa kawah yang hingga kini masih mengeluarkan asap tebal. Kawah yang terkenal adalah Kawah Gunung Nangklak, yang juga jalur alternatif pendaki senior melewati Hutan Mati.

Kami didampingi oleh 3 orang pemandu, dan 1 pemandu yang membantu memasang tenda di lokasi camping. Sementara barang-barang berat dititipkan ke porter untuk dibawa ke atas.

Lebih dari setengah pendakian kami adalah kawah. Asap yang tebal dan bau belerang yang khas tak mengurangi indahnya pemandangan gunung berapi strato ini. Medan pendakian di kawah sangat berbatu, hingga cukup melelahkan bagi saya. Namun tidak untuk Mikail, yang terlihat semangat dan antusias mendaki hingga ke puncak.


Jalur pendakian kawah yang berbatu

Kepulan asap kawah dengan bau menyengat

Pendaki-pendaki yang beristirahat sambil menikmati pemandangan kawah

Untunglah saya bawa anak laki yang mudah melepas hajatnya dimana saja :D
Selesai dari kawah, jalur pendakian mulai terasa lebih curam dan menantang. Hampir setiap 5 meter, saya memilih untuk bersandar pada batu besar dan mengatur debaran jantung yang tak keruan. Pendamping kami dengan sabar menunggu hingga kami siap meneruskan perjalanan. Kesehatan yang utama. Pemandu yang lebih senior yang melihat semangat Mikail langsung mengajaknya mendaki jalur pintas dengan medan curam agar tiba di atas lebih dulu. Spontan, anak kecil ini langsung berlari mengikutinya, sementara saya hanya melambaikan tangan sambil terengah-engah.

Jalur pegunungan yang berliku dan melelahkan

Melewati sungai

Tim kami mulai terpisah meski para pendamping menemani di barisan depan, tengah dan belakang. Akhirnya kami tiba di pos pertama untuk beristirahat. Sempat kaget melihat banyak sekali motor parkir disini. Ternyata motor trail ini bisa naik dari Camp David hingga pos pertama loh. Pantas saja di beberapa trek pendakian terlihat jalur sempit seperti parit yang ternyata jalur motor. 

Di pos ini juga terlihat beberapa pendaki yang mendirikan tenda. Ada penjual jajanan yang ramai diserbu pendaki kelaparan. Banyak juga yang mengisi perbekalan air untuk meneruskan perjalanan. Waktu istirahat kami terpaksa dipercepat karena cuaca berubah mendung, padahal perjalanan kami masih cukup jauh.

Kak Heny berpose dengan motor trail

Gerimis mulai turun ketika kami tiba di area camping, Pondok Saladah. Tenda kami sudah disiapkan oleh pemandu yang menunggu di atas. Berdiri rapih dengan alasnya, hingga kami langsung berebutan masuk diiringi geluduk dan hujan deras. Perjalanan kami menempuh waktu 5 jam!

Hujan semakin deras hingga maghrib. Sementara tas saya yang berisi pakaian bersama perbekalan makanan masih belum tiba. Saya dan Mikail meringkuk berpelukan dengan jaket seadanya. Sleeping bag yang dijadikan selimut tetap tak mengurangi rasa dingin yang menusuk. 

Hujan mulai reda pukul 8 malam. Kehujanan, kedinginan, dan terlambat makan ternyata membuat maag saya kambuh. Alhamdulillaah, pemandu yang baik membuatkan satu tenda kecil lagi untuk saya dan Mikail, lebih kering dan lebih hangat. Porter akhirnya datang membawa barang-barang kami dan makan malam. Mikail dengan sigap berkenalan dengan teman-teman pendaki lain yang menyalakan api unggun, mencari obat maag dan meminta tolong membuatkan teh panas untuk saya. Terharu...

Pondok Saladah, area berkemah
Pemandangan malam hari setelah hujan luar biasa indah. Bulan separuh dan taburan bintang terlihat lebih dekat dari malam-malam yang lain. Saya masih meringkuk di tenda sementara suara Mikail masih terdengar bersenda gurau bersama rekan pendaki lain yang menghangatkan diri.

Sarapan di dalam tenda

Pukul 03.00 dini hari, area kemah sudah ramai lagi dengan riuh rendah suara-suara pendaki yang ingin mendaki Tegal Alun, puncak tertinggi Gunung Papandayan, untuk menyaksikan matahari terbit. Saya memilih untuk tinggal di tenda karena udara dingin yang menusuk.


Kini, di Pondok Saladah sudah ada WC dan tempat mencuci. Pendaki yang ingin menggunakan WC harus rela antri panjang berjam-jam. Pendaki senior pasti lebih memilih untuk 'go natural'. Di banyak spot juga terdapat warung dan jajanan. Menurut para pendaki senior, gunung ini sudah jadi 'mall', tidak asri lagi karena terlalu ramai orang.

WC dan tempat mencuci yang selalu ramai dan antri panjang

Warung dan jajanan
Mas Yasin, pendamping utama tim kami

Hari beranjak siang dan matahari sudah di atas kepala kami, meski angin sejuk masih membuat kami betah berada di tenda. Pengalaman naik gunung pertama saya cukup mengesankan, dan Mikail pun merasakan hal yang sama.

Kami beranjak turun di siang yang terik, namun saya sudah lebih dahulu menyiapkan jas hujan di tas kecil dan menutup backpack dengan rain cover. Jalan turun ternyata lebih cepat daripada naik gunung. Terbukti kami hanya perlu waktu 1,5 jam untuk sampai ke area parkir mobil. Mikail berkali-kali terjatuh karena jalur turun yang berbatu. Alhamdulillaah banyak pendaki yang datang membantu dengan menyemprotkan antiseptik, menawarkan band-aid sampai menyorakinya dengan kata-kata semangat. Saya langsung cinta gunung dan segala isinya.

Cuaca di Gunung Papandayan berubah sangat cepat. Awan mendung mulai terlihat ketika kami menuruni jalur kawah, Tiba-tiba titik-titik hujan langsung berubah menjadi deras ketika kami mencapai kawah. Air turun dengan deras dari puncak gunung membuat jalur turun kami berubah menjadi sungai yang deras. Saya mulai panik, sementara Mikail berlarian kegirangan di aliran sungai dadakan itu. Luar biasa energi anak ini!

Jalur turun

Pemandangan ketika turun terasa berbeda daripada ketika menaikinya. Mungkin karena rasa letihnya juga berbeda ya. Menurut pendaki senior yang sudah ratusan kali menaiki gunung ini, tiap pendakian mereka merasakan sensasi yang berbeda. Setiap kali mendaki pun, alam memberikan pelajaran hidup yang berbeda-beda, menempa jiwa hingga makin dekat dengan penciptanya.

Pengalaman yang luar biasa. Sepertinya saya ketagihan...

Pemandangan dari puncak yang membuat ingin kembali lagi

 -----------------------

Sewa Elf 2 hari Jakarta - Gunung Papandayan
Rp. 2.600.000

HTM camping Rp. 7.500

Pemandu Rp. 500.000
Mas Yasin: 0812-9642-1123

Porter Rp. 200.000/trip

Sewa perlengkapan
Tenda besar Rp. 40.000/hari
Tenda kecil Rp. 30.000/hari
Matras Rp. 10.000
Sleeping bag Rp. 10.000/hari

Reference blog:
Janu jalan-jalan
Winny

6 comments:

  1. Halo mbak nana...
    Tgl 30-31 ini aku berenca pergi ke papandayan dgn sewa elf tp aku googling msh belum nemu persewaannya. Aku boleh minta CPnya ga mbak? Makasih mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Mba, maaf ya baru liat commentmu.
      Udah dapat belum contact Elfnya?
      Ini Blue Sea 021-9036-5090 / 0821-2370-9050.

      Yang kami pakai waktu itu Griya Damai Kita 021-96898911, 0812-81460911, 0858-10325911

      Silahkan

      Delete
  2. Hi Mba,
    Kayaknya seru ya
    Hehehe
    Mohon infonya dong,
    Kalo mau nyewa peralatan camp darimana ya mba?
    Thx ya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Yoan.
      Alat kemping bisa disewa di http://tendaku.net/tenda.php
      Kalau ke Papandayan ini aku sewa tenda dan sleeping bag dari tour operatornya.

      Tanggal 25-27 ini Kapas Tualang ada trip ke Papandayan.
      Kontak Gudhi di 0857-14144-886

      Delete
  3. halo mba nana..
    saya rencana tanggal 25 sept mau ke papandayan. aku boleh tau itu sewa tendanya dipapandayannya atau dibawa dr jakarta yah? kalo boleh saya minta CPnya ya mbak.. terima kasih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Agnes. Sewa tendanya diurus oleh tour operatornya. Banyak penyewaan tenda dan sleeping bag juga on the spot tp mesti tau harganya.
      Kapas Tualang kebetulan ada trip ke Papandayan 25-27 Sep ini.
      495.000 incl. Transportasi PP, makan 5x, tenda dan sleeping bag.
      Kontak Gudhi di 0857-14144-886

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...