Sunday, May 24, 2015

TravelIndonesia #6 - Historical Island Adventure ke Pula Edam, Pulau Kelor dan Pulau Onrust

Saya sudah pernah mendengar mengenai Komunitas Historia Indonesia dari teman-teman relawan Komunitas Taufan dan Berbagi Nasi. Konon, mereka sering ikut kegiatan KHI di museum-museum yang sepertinya seru sekali.
 
Ketika 2 minggu yang lalu saya like Facebook page KHI, mata saya berbinar-binar melihat event terbaru yang mereka promosikan: Historical Island Adventure yang ke-14! Event ini pun hanya dilakukan sekali dalam setahun. Dipandu oleh pendiri KHI sendiri, Kang Asep Kambali dan arkeolog kenamaan Indonesia, Pak Candrian Attahiyat. Alhamdulillaah saya dan Mikail dapat tempat di petualangan seru yang langka ini :)
 
Dan di hari Sabtu tanggal 23 Mei, kami pun sudah berangkat dari rumah jam 05.00 setelah sholat subuh. Meeting point Muara Kamal ternyata kurang dikenal, meski kami pergi dengan taxi. Sayang sekali, organizer event pun kurang paham daerah tersebut. Kami berputar-putar dari Muara Angke, Muara Baru sampai akhirnya dengan susah payah bertanya kanan kiri, kamipun menemukan tempat tersebut meski terlambat 10 menit dari jadwal keberangkatan perahu.
 
Grup kami yang ber-20 pun beranjak dari dermaga Pelelangan Ikan Muara Kamal dengan perahu kayu, mirip dengan yang dipakai untuk island hopping di Pulau Harapan. Tujuan pertama kami adalah Pulau Edam, dan perjalanan kesana memerlukan waktu 2 jam.

 
Pemandangan sunrise dalam perjalanan ke Pulau Edam

 
Pak Can dan Kang Asep bergantian menjelaskan tentang riwayat Pulau Seribu yang ternyata jumlah pulaunya hanya 114 buah. Pak Can bercerita tentang rencana pembangunan waduk raksasa yang memakan habis laut hingga 6 km dari garis pantai Jakarta. Belum lagi rencana reklamasi teluk Jakarta yang dampaknya yang bisa membahayakan pulau-pulau berisi situs bersejarah di sekitarnya. Meski begitu, menurut Pak Can, pembangunan dan pelestarian harus berjalanan berdampingan dan disikapi dengan baik. Semoga Pak Gubernur yang terhormat dapat mengambil jalan tengah yang bijak dan bermanfaat bagi semua pihak.


Rencana reklamasi untuk pembangunan apartment dan mall Pluit City di Teluk Jakarta










PULAU EDAM
Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Edam, yang juga dikenal dengan sebutan Pulau Damar besar atau Pulau Monyet. Pulau ini berdiri di atas koral dan karang yang terus bergerak. Oleh karena itu, pulau Edam terus berubah bentuk seiring dengan pergerakan koral. 
 
Di pulau yang diberi nama seperti kota penghasil keju di Belanda ini, terdapat mercu suar terbesar kedua setelah mercu suar Anyer. Bangunan putih setinggi 65 meter ini dibangun pada tahun 1879 atas perintah Z.M. Willem III. Hingga kini, bangunan yang memiliki 16 lantai itu masih memiliki peranan penting untuk menerangi jalan para pelaut dan dirawat oleh Departemen Perhubungan.
 
Mercu suar Edam dengan pemandangan yang indah
 
 

Pengunjung diperbolehkan naik dengan melepas alas kaki. Garam di alas kaki bisa merusak tangga besi bangunan
 
 
Pulau Edam dipenuhi dengan pepohonan rindang yang tumbuh cepat. Pak Can mengajak kami berkeliling pulau sambil melarang kami menyentuh batu atau tulang yang kami temukan. Menurutnya, pulau ini juga merupakan tempat pengasingan warga pesakitan korban wabah Lepra, hingga virusnya bias membahayakan pengunjung bila menyentuh barang yang terkontaminasi. 
 
Konon menurut sejarah, Pulau Edam merupakan tempat dikuburnya Abel Tasman, penemu Tasmania dan Australia. Namun sampai sekarang makamnya belum ditemukan. 
 
Yang pasti, di pulau ini terdapat makam Ratu Banten Syarifah Fatimah yang dibuang VOC setelah pemberontakan besar-besaran terjadi di masa pemerintahannya. Ratu Syarifah merebut kekuasaan dari suaminya sendiri, Sultan Zainul Arifin yang akhirnya dibuang VOC ke Ambon. Ratu Syarifah mengangkat keponakannya, Syarif Abdullah yang saat itu berusia 4 tahun, untuk dijadikan sebagai putra mahkota. Syarif Abdullah muda pun diasingkan ke Banda Naira, Ambon karena ditolak oleh pemberontak. Namun beliau hidup mewah dibiayai oleh VOC hingga 39 tahun.
 
Tidak diketahui pasti yang mana makam sang Ratu di kompleks pemakaman yang direnovasi warga ini
 
Yang seru lagi, di pulau ini banyak terdapat bunker milik penjajah Jepang. Bunker-bunker ini merupakan tempat bersembunyi dan menyimpan senjata yang dibangun di bawah tanah.  
 
Bunker bawah Tanah
 
 

PULAU KELOR
Puas berkeliling di Pulau Edam, kami meneruskan perjalanan berjarak 2 jam lagi ke Pulau Kelor. Pulau kecil yang memiliki sejarah cukup pilu ini tadinya akan dijadikan pulau untuk bertahan dari serangan Inggris di abad ke-17. Sebuah benteng bundar pun dibangun dengan arsitektur cukup baik dengan bak penampungan air di tengahnya dan bentuk bundar agar dapat melihat musuh dari view 360 derajat. Menurut Pak Can, di abad ke-17, VOC masih belum mengenal sistem pengecoran. Bangunan ini pun dibangun dengan bahan batu bata merah dengan ukuran besar yang diproduksi di Tangerang.
 
Sayang, tak lama setelah dibangun, benteng dan segala isi pulau ini hancur lebur diterpa tsunami dan hempasan abu vulkanik gunung Krakatau yang meletus di tahun 1883. Bangunan yang belum sempat digunakan ini pun kini menyisakan keindahan sunyi yang masih dinikmati banyak orang.
 
Menurut penduduk lokal, situs cantik ini sering dipakai sebagai lokasi pemotretan 'nude pictures' :D
 
Oh dan ternyata, Pak Can adalah sang pemberi nama Benteng Martello, yang tadinya tanpa nama itu loh!

Benteng Martello


Pak Can menjawab pertanyaan para pengunjung yang penasaran
 
Perjalanan kami diliput Kompas TV loh :)

PULAU ONRUST
Pulau terakhir yang kami kunjungi adalah Pulau Onrust. Pulau yang arti namanya adalah 'Tanpa istirahat' ini memang adalah pulau yang sangat sibuk. Di pulau ini, pekerja-pekerja terus sibuk membongkar muat barang komoditi dan banyak juga terjadi perbaikan kapal setiap harinya pada abad ke-17.
 
Onrust yang juga dikenal dengan nama Pulau Kapal adalah pulau pertama tempat penjajah Belanda menginjakkan kaki dari Banda Naira, Ambon untuk menaklukkan kerajaan Jayakarta. Kapal-kapal VOC berlabuh kesini dari Belanda dengan membawa batu bata dari Belgia agar kapal tidak kosong, dan kembali dengan palawija dan kekayaan bumi negri Jawa.
 
Pulau sebesar 14 hektar ini merupakan  pulau yang penting bagi VOC saat itu. Pulau yang tadinya direncanakan menjadi pulau koloni, akhirnya digunakan menjadi pulau pertahanan menghadapi serangan Inggris. Seluruh bangunan di pulau ini sempat porak-poranda diserang Inggris, dibangun lagi dan dihancurkan lagi dengan serangan lain oleh Inggris dari tahun 1800 sampai 1816.
 
 
Di tahun 1911, pulau ini kemudian diubah fungsikan menjadi sanatorium TBC dan rumah sakit haji untuk mengkarantina calon haji sebelum dan sesudah keberangkatannya. Rumah sakit besar dua lantai yang dibangun terburu-buru itu memiliki struktur bangunan yang kurang kuat. Terdapat 1500-an barak-barak yang dibuat permanen dengan lubang hingga tempat tidur bisa digeser di atasnya.
 
Barak-barak yang kokoh
 
Tahun 1933-1940 pulau ini menjadi penjara bagi tahanan pemberontak kapan Zeven Provincien. Pemberontak yang merupakan warga Indonesia tersebut mengambil alih kemudi kapal yang akhirnya dikalahkan oleh serangan udara VOC. Para tahanan yang masih hidup ditahan dan dikuburkan di sudut Barat pulau ini.
 
Di tahun 1942, penjajah Jepang menjadikan pulau ini sebagai penjara tahanan kriminal berat. Penjara tersebut kini direnovasi dan dijadikan museum, meski sayangnya dibuat terlalu modern hingga mengurangi estetikanya.
 
Setelah Indonesia merdeka, pulau ini dijadikan tempat pengasingan gelandangan dan pengemis, serta Rumah Sakit Karantina penyakit menular. Saat itu Jakarta dijangkiti Leptospirosis yang dibawa oleh kencing tikus dari pengiriman beras. Saking takutnya, di sekeliling pulau ini pun dibangun sebuah pagar besi untuk menghindari datangnya tikus.
 
Setelah tahun 1965 pulau ini terbengkalai, hingga di jaman Soeharto, bahan-bahan dari seluruh bangunan di pulau ini yang hamper seluruhya hancur diperbolehkan untuk diambil dan dimanfaatkan untuk membangun rumah warga.
 
Seluruh bangunan di pulau Onrust hancur dan bahan bangunannya diambili warga sekitar
 
Pulau Onrust akhirnya dinyatakan sebagai pulau bersejarah dan mulai direstorasi tahun 1972. Pulau ini pun mengalami abrasi yang cukup signifikan hingga luasnya berkurang setiap tahunnya.
 
Pulau yang diberi nama seperti nama kota di Belanda itu memiliki rahasia lain. Konon katanya, tanah pulau ini mengandung Blue Clay atau Tanah liat biru yang ternyata tidak baik untuk kesehatan bangsa Eropa, hingga bangsa Belanda yang tinggal disini tak ada yang berumur panjang.
 
 
Ayunan di pohon Pulau Onrust
 
 

Bersama Pak Candrian Attahiyat yang luar biasa


Mikail yang kecapekan digendong Kang Asep, pendiri KHI dan sejarawan Indonesia. Hebat euuuy!

Terimakasih Komunitas Historia Indonesia, Pak Candrian, dan Kang Asep atas ilmunya. Semoga makin membuat kami mencintai Indonesia. Sejarah adalah memori yang membuat kita mencintai Negara kita. Jangan pernah lupakan sejarah!
 
 

 
-----------
 

Komunitas Historia Indonesia
www.komunitashistoria.com/
FB Page: Komunitas HISTORIA INDONESIA Community
Youtube Channel: Komunitas Historia Indonesia
Video Historical Island Adventure: Youtube 

Bahan bacaan:
Kisah Ratu Banten
Sejarah Pulau Edam, Jakarta.go.id
Sejarah Pulau Onrust, Jakarta.go.id

 


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget